Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Menuju Kota Emas Wentira III


__ADS_3

Sabrang menghilang dari pandangan ketika Dua orang pendekar bertopeng menyerangnya. Anom kembali muncul diudara saat Sabrang memutar lengan kirinya.


"Keris ini bisa muncul dimana saja? aku harus berhati hati". Ucap salah satu pendekar yang terkena serangan Anom namun Sabrang lagi lagi dibuat bingung karena kerisnya seolah hanya mengenai udara, menembus tubuh pendekar itu.


"Apakah itu tubuh ilusi?". Sabrang menajamkan mata bulannya.


Ketika perhatian Sabrang teralihkan, dua orang pendekar menyerangnya dari dua sisi.


Sabrang memutar pedangnya sambil melompat mundur. Dia berhasil menangkis serangan sekaligus mengendalikan Anom yang muncul tepat dibelakang mereka.


Keris penguasa kegelapan lagi lagi hanya menembus tubuh mereka tanpa melukai sedikitpun.


Dua pendekar itu sedikit terkejut karena Sabrang mampu menghindari serangan tiba tiba mereka, padahal mereka cukup yakin telah menyerang titik buta Sabrang.


"Apakah hanya kebetulan?". Gumam pendekar itu heran.


Mereka terus menyerang tanpa memberi Sabrang waktu untuk berfikir. Kombinasi serangan cepat mereka terus berusaha menekan Sabrang yang terlihat dapat menghindari serangan dengan sempurna.


Sabrang bukan tanpa perlawanan, walau masih menahan serangannya untuk mengamati pergerakan lawan namun beberapa kali serangan Anom mampu sedikit menahan mereka walaupun belum bisa melukainya.


Beberapa pendekar yang terkena serangan Anom terlihat melambat dan seperti mematung sesaat sebelum kembali bergerak.


"Sepertinya ada yang aneh saat Anom menembus tubuh mereka?". Gumam Sabrang dalam hati.


Sabrang kembali mengayunkan pedangnya saat dua pendekar menyerangnya. Mereka seolah tidak memberi kesempatan Sabrang untuk berfikir.


Sementara Lingga tak jauh beda dengan Sabrang, dia terus mengulur waktu untuk mempelajari situasinya. Setiap serangan serangan pedangnya seolah hanya menembus udara.


" Tubuh mereka seolah menyatu dengan udara". Arung yang memperhatikan dari atas kapal mengernyitkan dahinya. Jika Sabrang tidak memberinya tugas menjaga kapal mungkin Arung sudah membantunya.


Sabrang khawatir jika mereka berniat merusak kapal yang akan mereka gunakan menuju daratan Celebes.


Pertarungan Sabrang dengan pendekar bertopeng masih terus berlangsung, Sabrang terus meningkatkan kecepatannya untuk mendesak para pendekar itu.


Setiap serangan Sabrang makin tajam dan bervariasi membuat delapan pendekar yang mengepungnya kewalahan untuk mengimbanginya.


Sabrang jelas terlihat jauh lebih unggul dalam pertarungan kali ini, kecepatan dan gerakan pedangnya cukup merepotkan mereka.


"Aku harus memastikan mengapa mereka melambat saat Anom menembus tubuhnya". Gumam Sabrang dalam hati. Dia melompat sambil mengayunkan pedangnya, Kali ini matanya terfokus pada satu orang pendekar yang ada dihadapannya.

__ADS_1


Sabrang berhasil membaca gerakan pendekar itu dan menangkap pedangnya. Dia berusaha menarik pendekar itu mendekat namun pendekar lainnya berusaha menghentikannya.


Sabrang terpaksa melepaskan pedang pendekar itu namun dia berhasil mendekatkan Anom tepat didepan pendekar itu.


Mata bulan Sabrang semakin bersinar dan menatap tajam pendekar itu. " Sekarang Anom". Teriak Sabrang.


Seketika Keris itu menghujam tubuh pendekar itu tanpa bisa bereaksi sedikitpun. Anom menembus tubuh pendekar itu namun tetap tak mampu melukainya.


"Percuma saja berapa kalipun kau mencobanya, tubuhku tak akan pernah bisa terluka". Ucap Pendekar itu congkak.


Namun tanpa dia sadari, saat ini Sabrang sedang tersenyum puas karena matanya berhasil melihat gerakan pendekar itu saat Anom menembus tubuhnya.


" Pantas saja Naga api tak mampu menembus tubuhnya". Sabrang mengarahkan tangannya keudara, tak lama keris penguasa kegelapan melesat kearahnya dan menghilang dalam genggaman Sabrang.


" Hei dengarkan aku". Ucap Sabrang pada Lingga pelan. "Aku tidak tau jurus apa yang mereka gunakan namun tubuhnya seolah menghilang saat pedangku menyentuhnya. Tubuhnya akan kembali normal tepat dua detik setelah serangan. Gunakan waktu itu untuk melumpuhkan mereka".


"Anom, hancurkan mereka!". Ucap Sabrang sesaat sebelum bergerak dengan kecepatan tinggi.


"Apa kau tidak terlalu berlebihan menggunakan Cakra manggilingan untuk menarik energi Banaspati hanya demi menghadapi mereka?". Ucap Naga api.


" Aku harus lebih cepat dari mereka untuk melumpuhkan jurus aneh itu".


"Cepat sekali". Para pendekar itu terpaksa menjaga jarak karena merasakan panas kobaran api yang menyelimuti tubuh Sabrang.


Mereka terpaksa membagi tenaga dalamnya karena tekanan Aura yang dilepaskan Sabrang. Aura itu benar benar menekan semua yang ada didalam gua, bahkan bebebapa batu karang mulai beterbangan.


"Apa kalian mulai kehabisan tenaga dalam?". Ucap Sabrang sinis sambil memutar tubuhnya sedikit dan menggunakan jurus api abadi untuk menarik perhatian mereka.


Gerakan pedangnya dalam sekejap mampu membuat formasi pendekar bertopeng kocar kacir. Saat mereka semua berusaha menjauhi kobaran api, Anom berputar diudara dan membentuk puluhan energi keris.


" Tak ada yang mampu lepas dari mataku". Sabrang tiba tiba muncul dihadapan salah satu pendekar itu dan menghujamkan pedangnya.


Walaupun sedikit terkejut karena kecepatan Sabrang, dia tetap tenang dan berusaha menjauh namun Sabrang terus mendesaknya.


"Satu, dua". Ucap Sabrang pelan sebelum sebuah energi keris tiba tiba menusuk tubuhnya dari belakang.


Raut wajah pendekar itu menjadi buruk saat merasakan sakit yang luar biasa ditubuhnya. Dia berusaha menjauh namun terlambat, Anom mengeluarkan kobaran api dan membakar habis pendekar itu.


" Bagaimana bisa?". Ciha terkejut serangan Sabrang kali ini mampu melukai pendekar itu.

__ADS_1


"Jeda dua detik setelah mereka menggunakan jurus aneh itu, tubuhnya kembali normal. Itu sebabnya dia menyerang membabi buta untuk memastikan waktu yang tepat untuk menggunakan kerisnya. Dia lebih hebat dari perkiraanku". Ucap Arung pelan. Kini wajahnya bisa sedikit tenang karena tak lama lagi dia yakin Sabrang mampu melumpuhkan mereka semua.


" Sebaiknya aku mempersiapkan semuanya untuk berlayar". Arung berjalan santai keruangan kendali kapal.


"Anda telah menjadi pendekar terkuat Yang mulia". Ucap Wardhana pelan.


" Mata bulanmu memang mengerikan". Ucap Lingga kesal, dia memperlambat gerakannya sebelum menarik pedangnya. Para pendekar itu menjadi panik karena Aura hitam menyelimuti tubuh Lingga.


"Saatnya menyelesaikan pertarungan". Lingga mengalirkan tenaga dalam kepusakanya sebelum bergerak maju.


Yang terjadi selanjutnya adalah para pendekar bertopeng itu mulai bergelimpangan ditanah akibat serangan sepasang pendekar yang mungkin saat ini adalah pendekar terkuat ditanah Jawata. Dua detik setalah serangan pertama benar benar dimanfaatkan mereka berdua untuk melumpuhkan musuhnya. Tidak terlalu sulit bagi mereka karena dari awal sudah unggul dalam hal kecepatan.


" Tak kusangka tanah Jawata memiliki pendekar sekuat ini". Ucap satu pendekar yang masih tersisa.


"Sebaiknya lupakan niatmu untuk menyerang". Suara Sabrang mengagetkan pendekar itu. Dia berusaha memutar tubuhnya namun tak pernah bisa dia lakukan karena bongkahan es telah menyelimuti seluruh tubuhnya.


" Sekarang katakan padaku, dari sekte mana kau berasal?". Sabrang memecahkan bongkahan es dibagian kepala pendekar itu.


***


"Sekte Manca api? Kau yakin?". Arung terkejut mendengar Sabrang mengatakan pendekar yang menyerangnya berasal dari Manca api.


" Apa kau mengenal mereka?". Lingga mengernyitkan dahinya.


"Bukan hanya mengenal mereka namun Manca api adalah aliansi sekteku. Mereka adalah sekte terbesar aliran putih di daratan Celebes. Jika benar mereka pelakunya, saat ini sekteku dalam bahaya. Kita harus cepat pergi, aku takut guru dan yang lainnya saat ini tidak menyadari ada musuh dalam selimut".


Kapal besar itu mulai berlayar meninggalkan daratan Jawata menuju Celebes. Semua terdiam dan larut dalam pikirannya masing masing.


Sabrang melangkah mendekati Wardhana yang berada di dek kapal.


"Paman sudah siap?". Tanya Sabrang pelan sambil memandang tanah Jawata yang mulai mengecil.


"Aku akan berusaha semampuku untuk membantu anda Yang mulia". Wardhana menundukan kepalanya.


" Aku tau paman". Sabrang menghela nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya. "Maafkan aku paman, aku selalu menyeret paman masuk kedunia persilatan".


" Anda jangan berkata seperti itu Yang mulia, sudah menjadi tugasku untuk mengikuti anda".


"Terima kasih paman".

__ADS_1


" Yang mulia". Wardhana menunduk tak berani menatap Rajanya itu.


__ADS_2