
Ardhani dan puluhan pendekar Lembayung Hitam hanya bisa mematung saat tiba di keraton dan melihat pemandangan mengerikan dihadapan mereka. Ratusan pendekar Lembayung Merah terlihat meregang nyawa dengan tubuh hancur.
Seorang pendekar yang bergerak dengan kecepatan tinggi langsung menjadi pusat perhatian mereka, dia terlihat begitu menikmati pembantaian itu.
"Apa-apaan ini..." suara Ardhani tertahan, dia benar benar terkejut pria itu mampu membunuh puluhan pendekar Lembayung Merah dengan begitu mudah.
Kelompok Lembayung Merah bukan pendekar biasa, sebagai salah satu kelompok pelindung peradaban Lemuria, mereka dilatih dengan sangat keras oleh Sanjaya, pemimpin tertinggi peradaban itu.
Arung yang juga berada di area pertempuran langsung memerintahkan pasukannya untuk mundur karena takut pasukannya akan ikut menjadi korban.
"Mundur! Jauhi area pertempuran!" teriak Arung cepat.
Seolah tidak perduli menjadi pusat perhatian, pendekar itu terus bergerak dan membunuh siapapun yang berada dalam jangkauannya, entah itu pendekar Lembayung Merah ataupun prajurit angin selatan.
"Lakeswara benar benar mengerikan, bagaimana dia bisa menikmati semua ini?" ucap Arung saat melihat senyum pemimpin tertinggi Masalembo itu merekah diantara tumpukan mayat dan semburan darah yang membasahi tubuhnya.
"Pusatkan tenaga dalam di Cakra Mahkota lalu..." Lakeswara terlihat menggerakkan tangannya saat belasan pendekar bergerak menyerangnya.
Gerakan para pendekar yang berusaha menyerangnya tiba tiba terhenti saat waktu berhenti berputar.
Wajah Lakeswara tampak kecewa sebelum ayunan pedangnya dengan cepat membunuh semua yang ada disekitarnya.
"Sial, aku masih belum bisa menggunakan jurus mengendalikan waktu, apa ada yang terlewat olehku?" umpatnya dalam hati.
"Dia benar benar Iblis, hentikan dia!" teriak salah satu pendekar Lembayung Merah yang tersisa.
"Majulah semuanya, aku membutuhkan kalian untuk menguasai jurus itu," tubuh Lakeswara kembali menghilang dan muncul tepat dihadapan para pendekar Lembayung Merah yang mulai ketakutan.
"Hentikan orang itu apapun caranya, dia hanya seorang diri!"
Belasan pendekar Lembayung Merah yang tersisa membentuk formasi tempur dan mengurung Lakeswara dengan cepat.
"Formasi angin utara menghancurkan batu karang? Menarik.. jadi formasi itu milik kalian," Lakeswara menggunakan jurus pedang Masalembo untuk menghancurkan formasi itu.
Meskipun gerakannya sedikit terbatas karena tekanan formasi lawan tetapi dengan kecepatan dan mata bulannya, Lakeswara mampu menghancurkan formasi terkuat Lembayung Merah.
Saat salah satu pendekar Lembayung Merah goyah dan berusaha keluar diri dari formasi, Lakeswara tidak menyianyiakan kesempatan itu, dia merubah gerakannya sebelum melepaskan aura yang cukup besar untuk menahan gerakan lawannya.
"Membusuk lah di ruang dimensi ruang dan waktuku!" Sebuah lubang dimensi tiba tiba terbuka dan menghisap semua yang ada disekitarnya.
"Dia...terlalu kuat," satu satunya pendekar Lembayung Merah yang tersisa berusaha melarikan diri namun Lakeswara dengan cepat mencengkeram lehernya.
"Tu..tuan, tolong jangan bunuh aku," ucap pendekar itu terbata bata.
"Kau begitu takut mati ya? baik... katakan semua hal yang kau ketahui tentang kitab Sabdo Loji dan Ajian ulat sutra maka aku akan membiarkanmu hidup," jawab Lakeswara pelan.
Pendekar itu terdiam sesaat sebelum mulai bicara, dengan terbata bata, dia menjelaskan semua yang diketahuinya mengenai kitab Sabdo Loji dan Ajian Ulat sutra abadi.
Pendekar itu juga menjelaskan tentang kemungkinan ada sebuah ruangan dimensi waktu yang menyimpan kekuatan besar melebihi Iblis Api dan semua ruh batu satam.
"Gerbang kesepuluh? apa tempat itu benar benar ada?" tanya Lakeswara pelan.
"Aku pernah mendengar tuan Sanjaya dan nyonya Purwati membahas ruangan itu sebelum tuan Li You Fei tiba di nusantara, tapi mereka juga tidak tau di mana tempat itu," jawab pendekar itu cepat.
"Jadi Ken Panca mengincar kekuatan itu?"
"Benar, tuan Li You Fei membutuhkan kekuatan itu untuk membangkitkan kembali peradaban kami tapi untuk mengendalikan kekuatan itu dibutuhkan tubuh istimewa," jawab Pendekar itu cepat.
__ADS_1
"Aku mengerti, itulah sebabnya dia berusaha mengincar tubuh Sabrang," balas Lakeswara.
"Tidak tuan, tubuh pengguna Naga Api itu tidak akan mampu menahan kekuatan besar yang tersegel di gerbang kesepuluh, tuan Li You Fei hanya ingin menggunakan tubuhnya sebagai perantara untuk membuka segel ruangan lima pusaran air."
"Ruang Lima pusaran air?" tanya Lakeswara tertarik.
"Kudengar ada seorang pendekar yang memiliki tubuh sempurna sembilan Naga memilih moksa dan mengurung diri di tempat itu, tubuh pendekar itulah satu satunya yang bisa menahan kekuatan besar yang terkurung di ruang kesepuluh."
"Begitu.. Jadi Ken Panca hanya ingin memanfaatkan tubuh anak itu," ucap Lakeswara sambil mengalirkan tenaga dalam ke tangannya.
"Apa kau tau dimana letak ruang Lima Pusaran air?"
Pendekar itu menggeleng cepat saat merasakan energi Lakeswara perlahan masuk ke tubuhnya.
"Tidak ada yang pernah tau apa tempat itu benar benar ada tapi di beberapa catatan peninggalan Latimojong yang berhasil ditemukan tuan Li You Fei mengatakan jika ruangan itu terletak diantara Pertemuan lima unsur kehidupan. Tolong jangan bunuh aku tuan, aku sudah mengatakan semuanya," jawab Pendekar itu panik.
"Aku berubah pikiran," balas Lakesewara sambil tersenyum sebelum menghancurkan tubuh pendekar itu dengan tenaga dalamnya.
"Anda tak harus membunuhnya tuan, dia bahkan sudah menyerah dan meminta pengampunan," ucap Ardhani yang sudah berada di dekat Lakeswara.
"Aku tak pernah suka pada orang yang menyebut diri mereka pendekar tapi memohon seperti anak kecil," Lakeswara menyarungkan pedangnya sambil menoleh kearah Arung.
"Aku sudah menepati janjiku pada Sekar Pitaloka untuk melindungi keraton sebagai bayaran karena mengeluarkan aku dari ruang dimensi. Hanya itu tugasku, sisanya kalian urus sendiri," Lakeswara terlihat tersenyum dingin sebelum tubuhnya menghilang.
"Jurus dimensi ruang dan waktu? apa anda bisa menjelaskan siapa pendekar itu?" tanya Ardhani terkejut.
"Pemimpin tertinggi Masalembo yang juga merupakan leluhur Yang mulia, sebaiknya anda jangan pernah berpikir untuk berurusan dengan orang berbahaya itu," jawab Arung pelan.
"Leluhur tuan Sabrang ya? pantas saja ilmu kanuragannya sangat tinggi," balas Ardhani sebelum menatap kesatu arah saat mendengar suara ledakan yang memekakkan telinga.
"Energi Mustika merah delima? Gawat, kita harus membantu mereka," ucap Ardhani cepat sebelum bergerak ke arah aula utama.
"Baik tuan," jawab mereka bersamaan.
***
"Tetua..." teriak Arsenio panik saat melihat pedang Mandala menembus tubuh Brajamusti hingga tembus ke punggungnya.
Arsenio berniat membantu Brajamusti namun belasan pendekar Lembayung Merah yang mengepungnya tidak membiarkan itu terjadi.
Aura biru yang melindungi tubuh Brajamusti perlahan hancur bersamaan dengan melemahnya energi dalam tubuhnya.
Brajamusti yang begitu percaya dengan perisai energi Dewa perang milik sekte Angin Biru tampak terkejut saat pedang Mandala mampu menembusnya dengan mudah, dengan sisa sisa tenaga dalamnya, dia berusaha mencengkeram lengan lawannya.
"Kau benar benar lemah," Mandala mencabut pedangnya dan menebas tubuh Brajamusti menjadi dua.
"Kalian semua akan mati hari ini!" teriak Arsenio kesal, dia melempar belasan pisau Tumbuk Lada kearah lawannya sambil meningkatkan kecepatannya.
"Perlawanan yang sia sia, sekuat apapun kalian berusaha tidak akan mengubah perbedaan kekuatan diantara kita. Hari ini akan aku tunjukkan..." Mandala menghentikan ucapannya saat merasakan ada aura besar tiba tiba menekannya, dia langsung menoleh kebelakang dan menemukan Rubah Putih yang sedang duduk bersila menatapnya tajam.
"Tenaga dalamnya meningkat cepat..." Tak ingin sesuatu yang buruk terjadi, Mandala langsung bergerak cepat kearah Rubah Putih dan menyerangnya.
Rubah Putih belum bergerak sedikitpun walau jarak Mandala dengannya sudah cukup dekat, dia masih berusaha membiasakan tubuhnya dengan tenaga dalam yang selama ini terkurung karena Cakra Mahkotanya tertutup.
Perlahan namun pasti, Rubah Putih merasakan lagi kekuatan yang dulu dia miliki sebelum terkurung di ruang dimensi. Golok pusaka nya bergetar seolah bereaksi dengan kekuatan lamanya.
Rubah Putih kemudian memejamkan matanya saat tebasan pedang Mandala hanya tersisa beberapa jengkal dari lehernya.
__ADS_1
"Mati kau!" ucap Mandala sebelum sebuah ledakan besar mendorongnya beberapa langkah.
"Tidak mungkin... bagaimana bisa dia bergerak lebih cepat dariku dan menangkis serangan pedangku!"
"Aku hampir lupa pernah memiliki kekuatan ini setelah lama terkurung di dimensi ruang dan waktu," ucap Rubah putih sambil mengarahkan pedangnya ke depan.
"Ledakan tenaga dalam Iblis, aku tak menyangka jurus itu begitu mengerikan di tanganmu, sepertinya aku terlalu meremehkanmu!" balas Mandala sambil menarik energi Mustika Merah Delima.
Tubuh Rubah Putih langsung bergidik saat merasakan tekanan aura mustika itu.
"Apa kau siap Suanggi?"
"Hanya orang bodoh yang berani melawan mustika Merah Delima dan sepertinya kau adalah salah satunya. Jangan sampai terbunuh karena aku tidak ingin melakukan hal merepotkan lagi seperti mencari tuan baru dan melakukan perjanjian darah dari awal."
"Jika kau begitu takut kehilanganku maka bantulah aku," ucap Rubah Putih sebelum bergerak menyerang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Even Geger di Tanah Nusantara
Geger di Tanah Nusantara adalah sebuah cerita dunia persilatan yang mengambil latar tanah Nusantara dengan tokoh utama bernama Elang Sutawijaya.
Memiliki konsep yang hampir sama bahkan sedikit lebih baik dari Pedang Naga Api yang memadukan intrik Dunia persilatan dengan misteri peradaban masa lalu di Nusantara, Geger di Tanah Nusantara sebenarnya tidak memiliki hubungan dengan Pedang Naga Api.
Untuk membuat cerita semakin lebih baik, saya memutuskan membuat suatu even sebagai bentuk terima kasih atas dukungan para reader setia Pedang Naga Api dengan mengirimkan lima chapter pertama kepada reader setia dengan ketentuan :
Bagi yang ingin mendaftar silahkan kirim email melalui DM instagram saya (rickyferdianwicaksono)
Akan ada beberapa pertanyaan mengenai Pedang Naga Api untuk mengetahui jika kalian adalah reader setia PNA
Lima chapter akan dikirim bertahap pada yang terpilih dengan format JPEG atau PDF
Berikan komentar, masukan atau apapun tentang cerita Geger di Tanah Nusantara melalui Email ataupun DM instagram.
Naskah akan dikirim mulai tanggal 25 Februari 2021
__ADS_1
Hanya tersisa belasan chapter lagi perjalanan Sabrang Damar di Pedang Naga Api, jadi mohon berikan dukungan baik dalam bentuk Vote Koin maupun komentar. Terima kasih.....