Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Tugas Pertama Hibata


__ADS_3

Wardhana terlihat memasuki sebuah ruangan bawah tanah di sekte Tapak es utara. Beberapa murid sekte Tapak es utara yang sedang berjaga tampak memberi hormat pada Wardhana.


"Apa dia sudah mau bicara?". tanya Wardhana pelan.


"Belum tuan, dia benar benar susah untuk diajak bicara" jawab salah satu pendekar penjaga.


Wardhana menarik nafas panjang sebelum bicara "Biar aku yang bicara padanya, pastikan tidak ada yang masuk apapun yang akan kalian dengar nanti" ucap Wardhana dingin sambil melangkah masuk ruang tahanan.


Para penjaga itu hanya mengangguk pelan tanpa tau maksud perkataan Wardhana.


Wardhana mengambil sebuah kursi kecil disudut ruangan dan duduk dihadapan pendekar Langit merah yang berhasil ditangkap.


Pendekar itu tersenyum dingin sambil menahan rasa sakit diwajahnya.


"Jika kau ingin memaksaku bicara lebih baik lupakan, aku tidak pernah takut mati".


Wardhana tersenyum kecil sambil menaruh pedangnya ditanah.


"Kadang kesetiaan membuat manusia berubah menjadi mahluk yang menakutkan. Aku cukup kagum pada kesetiaanmu pada Langit merah namun bukan kau saja yang memiliki kesetiaan".


"Apa maksudmu?" pendekar itu merasakan Wardhana akan melakukan sesuatu padanya.


"Aku diselamatkan oleh seorang Raja dari keterpurukan masa laluku. Sejak saat itu aku bertekad untuk memberikan seluruh hidupku bahkan jiwaku padanya". Wardhana menarik tangan pendekar itu dan meletakkannya ditanah. Dia dengan cepat menyambar pedangnya dan memotong jari telunjuk pendekar itu hingga putus.


Darah mengalir dari jarinya yang sudah putus, Pendekar itu menjerit sejadi jadinya sambil menahan rasa sakit yang sangat.


"Aku akan melakukan apa saja untuk mendukung Yang mulia mencapai puncak kekuasaan walaupun harus membunuh semua orang didunia ini" ucap Wardhana dingin.


Wardhana yang biasanya tampak ramah kini berubah bagai iblis pencabut nyawa.


"Kau sudah gila" umpat pendekar itu sambil meringis kesakitan.


"Apa itu terasa sakit? aku kecewa padamu, masih banyak yang bisa kulakukan selain memotong jarimu".


Pendirian pendekar itu mulai goyah setelah melihat kekejaman Wardhana padanya. Dia mungkin bisa menahan semua rasa sakit pukulan apapun bahkan dibunuh sekalipun namun dia tampak tidak siap jika harus mati perlahan dengan rasa sakit.

__ADS_1


"Kau mungkin tidak takut mati namun aku tak berniat membunuhmu. Akan kupastikan kau mati perlahan" Wardhana kembali memotong salah satu jari pendekar itu.


Suara kesakitan kembali menggema didalam ruangan itu. Pendekar itu hanya mampu berteriak dan mengumpat kesal.


Wajah Wardhana kini tampak berwarna kemerahan akibat terkena cipratan darah pendekar itu.


"Masih menolak untuk bicara?" kali ini Wardhana menarik pendekar itu mendekat dan menyentuh telinganya.


"Kuharap kau tidak pernah memutuskan bicara karena aku mulai menikmatinya". Wardhana kembali mengayunkan pedang yang diberikan Arya Dwipa padanya.


"Baik, aku akan bicara" teriak pendekar itu ketakutan. Wardhana benar benar menjatuhkan mental pendekar itu.


Seolah tak mendengar teriakan pendekar itu, Wardhana tetap memotong telinganya.


Pendekar itu kembali menjerit kesakitan, jeritan yang bahkan membuat para murid Tapak es utara berdiri bulu kuduknya.


"Aku akan bicara tuan, tolong hentikan" pendekar itu memohon pada Wardhana.


Kali ini Wardhana menghentikan penyiksaannya yang dilakukannya.


"Kami menyembunyikan gulungan tentang telaga khayangan api diruang pusaka Langit merah. Tolong hentikan semua ini" ucapnya terbata bata.


"Lalu dimana letak markas kalian?".


"Hutan air yang terletak pinggir kadipaten Rogo geni, Ada segel embun yang menutupi daerah itu yang hanya aktif saat pagi hari. Waktu kalian hanya beberapa menit sebelum gerbang itu tertutup kembali".


"Tempat yang hanya bisa dimasuki pagi hari? kalian benar benar bersembunyi seperti tikus. Lalu bagaimana kami keluar?".


"Seperti saat kalian masuk, kalian harus menunggu pagi berikutnya".


Wardhana mengangguk mengerti, dia mengambil pedangnya dan bangkit.


"Jangan pernah bermain dengan kesetiaan jika kau masih takut mati". ucap Wardhana sambil melangkah keluar ruang tahanan.


Pendekar itu bernafas lega saat melihat Wardhana keluar ruangan, kali ini dia benar benar ketakutan dihadapan Sang naga tidur dari Malwageni.

__ADS_1


***


Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian Wardhana menemui Sabrang dan menjelaskan rencannya. Wardhana ingin membagi dua tim karena ada dua tempat yang akan dituju. Dia meminta Sabrang memanggil Tungga dewi untuk melakukan tugas pertama sebagai ketua Hibata.


Tak lama Tungga dewi muncul bersama salah satu pendekar Rajawali emas yang baru direkrutnya.


"Markas langit merah?" Tungga Dewi mengernyitkan dahinya saat mendengar penjelasan Wardhana.


Wardhana mengangguk pelan "Letak hutan air berdekatan dengan kadipaten Rogo geni, Aku bersama Yang mulia harus membereskan masalah kadipaten sebelum pergi ke Hujung tanah.


Ada satu gulungan yang kita perlukan untuk melacak Masalembo yang disimpan Langit merah dimarkasnya. Aku ingin anda mengambilnya dan segera menyusul ke Kadipaten".


Wardhana kemudian menjelaskan rencananya dan cara masuk ke markas Langit merah pada Tungga dewi.


"Bawa beberapa pendekar terbaikmu untuk berjaga jaga, aku takut pemuda misterius itu akan muncul disana" ucap Sabrang pelan.


"Baik Yang mulia". ucap Tungga dewi sambil menundukkan kepalanya.


"Apa dia akan baik baik saja Yang mulia?" tanya Wardhana pelan setelah Tungga dewi pergi.


"Dia telah menguasai beberapa tingkat jurus pedang pemusnah raga, ditambah bakatnya yang cukup besar. Saat ini dialah pendekar wanita terkuat tanah Jawata" ucap Sabrang yakin.


***


"Tak kusangka Pendekar langit merah benar benar ada" ucap salah satu pendekar menatap takjub bangunan milik langit merah yang tampak kosong.


Bangunan megah yang dibangun dengan ilmu pengetahuan itu kini tak bertuan sejak Langit merah dihancurkan Sabrang.


"Pendekar muda itu tidak bohong ketua, jika benar yang dikatakannya bahwa Langit merah memiliki kitab ilmu kanuragan ruang dan waktu maka sekte pedang kembar akan menjadi sekte nomor satu didunia persilatan" ucap Hanung, salah satu tetua sekte Pedang kembar.


Baskara yang merupakan ketua Sekte terlihat mengangguk pelan, "Cari kitab itu diseluruh tempat ini, kita punya waktu sampai besok sambil menunggu gerbang itu kembali terbuka. Setelah aku menguasai kitab ruang dan waktu akan kuhancurkan sekte Rajawali emas tanpa sisa. Sudah lama aku memendam dendam pada mereka".


Baskara kembali teringat saat sektenya diserang Sudarta hingga hancur. Dia dan beberapa orang yang berhasil selamat melarikan diri dan menyusun kekuatan kembali.


"Baik ketua" ucap Hanung sambil memberi perintah para pendekarnya untuk menyebar keseluruh penjuru sekte Langit merah.

__ADS_1


__ADS_2