
Tubuh ametung bergetar hebat dia tidak menyangka akan mendapat serangan dari belakang saat sedang bertarung dengan Jaka toro. Sebuah tusukan pedang bersarang tepat di punggungnya.
Ametung kembali tersungkur ke tanah, dia mencoba bangkit kembali. Matanya terlihat penuh amarah menatap Gibran muridnya. Tanpa dia duga murid yang selama ini dia rawat berbalik melawannya.
"Kurang ajar kau murid durhaka menyerangku dari belakang, ku pastikan kau menerima ganjaranmu".
Gibran tersenyum sinis menatap gurunya "Guru aku hanya mengukur kemampuan kita, aku tidak ingin mati konyol di sini. Tuan Jaka telah berjanji akan memberikan Sekte ini padaku jika tunduk pada Iblis Hitam". Gibran menoleh ke arah Jaka yang ada disampingnya. Jaka mengangguk pelan.
"Muridmu ternyata lebih pintar darimu" Jaka tertawa keras menatap tajam Ametung.
"Sekarang tamatlah riwayatmu, maafkan aku guru kuharap anda tidak dendam padaku".
Gibran bergerak cepat ke arah Ametung yang sudah sudah terluka parah akibat tusukan pedang.
"Jurus Pedang Halilintar" Gibran mengeluarkan Jurus Andalan milik Sekte Harimau Buas. saat serangan Gibran hampir mengenai Ametung tiba tiba sebuah pukulan mendarat di tubuhnya. Dia terpental beberapa langkah.
Gibran bangkit dengan penuh amarah, dia menatap tajam ke arah Sabrang yang berdiri tepat dihadapan Ametung.
"Kau tamu sialan!!! Berani ikut campur urusan sekte kami".
"Aku akan selalu ikut campur jika bertemu penghianat sepertimu" Sabrang menatap sinis Gibran.
"Guru aku ingin mengajukan penawaran padamu" Sabrang menoleh ke arah Ametung yang sedang memulihkan kondisinya.
"Aku mendengarkanmu tuan muda" Ametung menatap Sabrang penasaran.
"Aku akan membantu Harimau buas lepas dari cengkraman Iblis hitam namun sebagai gantinya aku ingin guru menemui seseorang dan memberikan dukungan padanya" Sabrang bersiap dengan kuda kudanya.
"Paman Patih Wijaya masih hidup, aku ingin anda mendukung penuh dirinya". Ametung tersentak kaget mendengar perkataan Sabrang.
"Jadi tuan patih masih hidup? Aku akan menyerahkan hidupku padanya tuan muda" Ametung tersenyum kecil, dia merasa mempunya kesempatan menebus kesalahannya di masa lalu.
"Baiklah guru, aku akan memegang kata kata guru hari ini". Tiba tiba tubuh Sabrang melesat ke arah Gibran dengan cepat. Dia merasa harus memberi pelajaran penghianat ini terlebih dahulu.
Mendapat serangan tiba tiba membuat Gibran mau tidak mau menyambut serangan tersebut. Dia menyerang Sabrang dengan sekuat tenaga.
"Kemampuan anak ini lumayan juga" Jaka mengamati pertarungan Sabrang dengan Gibran.
"Cepat sekali anak ini, aku harus berhati hati" Raut waja Gibran berubah menyadari kemampuan yang dimiliki Sabrang.
"Akan kuhancurkan mental dan kepercayaan dirimu" Sabrang tersenyum sinis menatap Gibran.
Sabrang kembali meningkatkan kecepatannya membuat Gibran sedikit kewalahan. Dia mencoba menaja jarak dengan Sabrang sambil sesekali mencoba menyerang.
__ADS_1
"Kecepatan anak ini makin meningkat, kurang ajar ternyata kemampuannya tinggi sekali. Aku harus meminta bantuan tuan jaka" Gibran menoleh kearah Jaka yang memperhatikan mereka.
"Jangan alihkan pandanganmu saat bertarung" Sabrang melesat cepat ke arah Gibran.
"Jurus Pedang Halilintar" Gerakan Pedang Sabrang kembali berubah dengan cepat membuat Gibran tidak siap menerima serangan tersebut.
Pedang Naga Api tepat mengenai tubuhnya membuat Gibran terpental beberapa meter.
Wajah Gibran menjadi pucat pasi, dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Kau!!!!! Bagaimana kau bisa menguasai Jurus Milik Harimau Buas?".
Gibran menatap Ametung gurunya penuh amarah. Namun wajah Ametung tak kalah terkejutnya dari Gibran. Dia tak akan percaya andai tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Bagaimana anak ini bisa menguasai jurus andalan sekte kami? Siapa dia sebenarnya".
"Kau memang tidak berguna, harusnya kubunuh kau dari tadi". Tiba tiba Tubuh jaka kembali mengeluarkan aura membunuh yang besar. Dia menatap Gibran tajam penuh keangkuhan. Gibran menunduk tak berani menatap Jaka.
"Kekuatannya tinggi sekali, aku bahkan merasa terintimidasi" Sabrang menatap Jaka penuh kewaspadaan.
"Ku akui kemampuanmu sangat tinggi anak muda. Sungguh sangat disayangkan aku harus membunuhmu".
Jaka menyerang Sabrang dengan cepat membuat Sabrang mundur beberapa langkah. Serangan cepat Jaka membuat Sabrang hanya bisa dalam posisi bertahan.
"Tapak pencabut Sukma" Dalam hitungan detik Jaka muncul dibelakang Sabrang.
Sabrang melompat kesamping menghindari serangan yang diarahkan padanya.
Jaka kembali menyerang dengan kekuatan penuh. Setiap serangannya mengandung tenaga dalam yang sangat tinggi.
"Tarian Iblis Pedang" Pedang mengarah cepat ke arah Sabrang. Dia melompat mundur beberapa langah bersiap menyambut serangan Jaka.
"Trangggg" suara pedang beradu di udara. Tubuh Sabrang terpental beberapa meter ke belakang. Terlihat darah segar keluar dari mulutnya.
"Kekuatannya sangat mengerikan, bahkan tenaga dalamku tak mampu mengimbanginya".
"Bukan pilihan bijak kau memutuskan menangkis seranganku anak muda". Jaka tertawa penuh kemenangan.
Sabrang mengambil inisiatif menyerang, tubuhnya melesat cepat ke arah Jaka "Tarian Rajawali" Serangan pedangnya makin bervariasi.
"Oh jadi kau berasal dari Sekte Rajawali Emas, pantas saja kemampuanmu lumayan tinggi".
Jaka dapat menangkis semua serangan Sabrang dengan mudah. Jaka kembali meningkatkan kecepatannya dan menyerang dengan sekuat tenaga. Jurus Tarian iblis pedang mendesak sabrang terus mundur kebelakang.
__ADS_1
Nafas Sabrang mulai tidak beraturan, tenaga nya terkuras menangkis serangan Jaka yang sangat cepat.
"Gawat, kemampuannya jauh diatasku. Aku harus melakukan sesuatu".
Tiba tiba sabetan pedang mengenai punggungnya. Dia melompat menjauh beberapa langkah.
"Ku akui kecepatan mu sangat mengagumkan tapi mau sampai kapan kau lari seperti tikus".
Jaka kembali menyerang tak memberi waktu Sabrang bernafas. Beberapa tebasan pedang tak mampu dihindari Sabrang. Tubuhnya kembali mengeluarkan darah segar.
Ametung melihat pertarungan yang tidak seimbang dengan cemas, dia yakin Sabrang tak kan mampu menerima beberapa jurus lagi dari Jaka. Ametung mencoba bangkit tetapi tubuhnya tak bisa di gerakan.
"Larilah anak muda, kau tak punya kewajiban membantu kami, aku sudah sangat berterima kasih padamu.
"Aku harus berhati hati serangannya semakin lama semakin cepat" Sabrang mengatur nafas sesaat.
"Kau membuatku senang hari ini nak, aku akan memberikanmu kematian yang cepat sebagai imbalannya".
Jaka kembali menyerang Sabrang dengan cepat, kali ini pedangnya dialiri tenaga dalam yang lebih besar.
Sabrang bergerak menyambut serangan tersebut. Dia merapal sebuah jurus.
"Tarian Rajawali tak akan mengenaiku dua kali, tamatlah riwayatmu".
Tiba tiba gerakan pedang Sabrang berubah lebih cepat.
"Jurus Pedang Penghancur Tulang tingkat 4" . Jaka tersentak kaget, dia mencoba menghindari serangan cepat Sabrang namun sudah terlambat. Dia mengarahkan pedangnya mencoba menangkis serangan Pedang penghancur tulang.
Belum sempat pedang Jaka menangkis jurus tersebut telah mengenai tubuhnya dan membuatnya terpental beberapa meter.
"Kau!! Jurus itu milik Teratai merah" Jaka tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Anak ini menguasai jurus teratai merah? Bagaimana bisa seperti ini?"
Amarah di wajah Jaka makin membara, dia merasa dipermainkan oleh seorang anak kecil. Jika dia tidak melindungi tubuhnya dengan tenaga dalam mungkin saat ini dia telah terluka parah.
"Apakah jurusku mengenainya?" Sabrang menatap Jaka sambil mengatur nafasnya. Dia hampir mencapai batasnya.
Jaka menghilang dari hadapan Sabrang dan muncul tiba tiba di sebelah kanan Sabrang. Belum sempat mengayunkan pedangnya lengan Sabrang telah dicengram Jaka.
Tenaga dalam Jaka mendesak masuk ke tubuh Sabrang membuat Sabrang menjerit kesakitan. Pedang Naga Api lepas dari genggamannya.
"Kau berhasil membuatku terkejut anak muda. Saatnya melenyapkanmu" Tangan Jaka mengeluarkan asap putih pekat.
__ADS_1
"Tapak pencabut Sukma" Serangan Jaka tepat mengenai punggung Sabrang. Mendapat serangan dari jarak dekat membuat tubuh Sabrang ambruk ke tanah tak sadarkan diri.