Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Negosiasi dengan Gardika


__ADS_3

Gardika melangkah masuk ke Pendopo tamu ditemani dua orang penasehat kepercayaannya, terlihat Wardhana sedang duduk menunggu seorang diri. Melihat kedatangan senopatih Gardika dia bangkit dari duduknya dan memberi hormat pada Gardika.


“Senang bertemu dengan anda Adipati Gardika, hamba Wardana memohon maaf telah mengganggu waktu anda”.


Gardika hanya mengangguk dan mempersilahkan Wardana duduk kembali. Matanya menatap tajam Wardana yang tetap tenang walaupun menerima penyambutan yang kurang bersahabat .


Wardana sudah mengetahui jika misinya meyakinkan Gardika untuk bekerja sama tidaklah mudah mengingat dia tidak mempunyai posisi tawar yang kuat dengan Adipati Gardika.


“Ku dengar anda menawarkan kerjasama dengan ku? Apa yang membuat anda berpikir aku akan menerima penawaran anda?”.


Gardika tanpa basa basi bertanya pada Wardhana. Wajahnya masih datar seolah tidak tertarik mendengarkan penawaran Wardhana.


Dia memutuskan menerima permintaan Wardhana semata mata karena penasaran mendengar Malwageni disebut, bagaimanapun dulu pernah terjalin kerjasama antara Saung galah dengan Malwageni.


Wardhana tersenyum lembut, dia sudah sering menerima sambutan tidak bersahabat saat bernegosiasi dengan lawan maupun kawan saat mewakili Kerajaan Malwageni.


Wardhana merupakan orang kepercayaan Gundala untuk bernegosiasi sebelum kerajaan malwageni di taklukan Majasari.


“Sepertinya anda salah paham tuan, aku datang bukan untuk menawarkan Kerjasama melainkan mengulurkan bantuan yang bisa menguntungkan kedua belah pihak baik untuk Kadipaten Wanajaya maupun untuk Malwageni”.


Raut wajah Gardika berubah seketika, dia tersenyum sinis mendengar perkataan Wardhana.


“Kau membual? Untuk apa aku butuh bantuan kalian? Dan bantuan apa yang bisa diberikan oleh sisa sisa bawahan Arya Dwipa sedangkan kalian tidak dapat melindungi Raja kalian sendiri”.

__ADS_1


Emosi Wardhana hampir terpancing mendengar ejekan Gardika namun dia memutuskan tetap tenang karena Merebut kembali Malwageni adalah prioritas utama saat ini.


“Anda terlalu memandang rendah kami tuan, namun aku bisa memaklumi seorang pemimpin yang berada di ujung tanduk tidak ada yang bisa dilakukan selain memandang rendah orang lain”.


Gardika menggebrak meja, emosinya tersulut mendengar ejekan Wardhana.


“Sepertinya kau tidak bisa memahami situasi yang kau hadapi, satu perintah keluar dari mulutku hidupmu akan berakhir disini. Siapa sebenarnya yang berada di ujung tanduk” Gardika menghardik Wardhana.


“Seperti yang anda katakana kami sudah kehilangan semuanya semenjak Malwageni jatuh, apalah artinya kehilangan nyawaku disini? Berbeda dengan situasi yang anda hadapi tuan......”.


Wardhana sengaja menghentikan pembicaraanya, dia ingin menarik emosi Gardika dan perlahan menguasai situasi.


“Apa maksudmu situasiku berbeda?” Gardika mulai tertarik dengan jalan pikiran Wardhana.


“Anda pasti sudah mendengar tentang kedatangan Pasukan tangan besi kewilayah anda? Apakah anda percaya itu hanya utusan biasa? Malwageni tak akan pernah mengirim Pasukan tempur elitnya hanya untuk menyampaikan pesan”. Wardhana tertawa pelan dan tetap menatap Gardika yang mulai Goyah kesombongannya.


Wardhana mulai bisa bernafas lega karena kini situasi sedikit menguntungkannya.


“Jika aku boleh membaca situasi saat ini kedatangan mereka adalah menawarkan kerjasama dengan anda dengan imbalan yang besar atau jika anda menolak uluran tangan mereka maka akan sangat berbahaya buat Kadipaten wanajaya dan tebakan ku adalah mereka ingin menyuap anda agar membelot dari Saung Galah, apalagi kudengar anda kurang sejalan dengan beberapa kebijakan dari Kerajaan Saung galah”.


“Bukankah anda terlalu dalam mencari tau masalah yang ada di Kadipatenku?”. Gardika sedikit tersinggung Wardhana mencari tau tentang dirinya sampai sejauh itu.


“Aku mohon maaf tuan, kami hanya belajar dari pengalaman kami terdahulu saat tidak menganggap penting informasi sekecil apapun dan anda tau yang terjadi? Malwageni Hancur di tangan mereka. Aku hanya memastikan detail sekecil apapun yang berguna bagi perjuangan kami”.

__ADS_1


“Lalu apa yang kau tawarkan padaku?” Wajah Gardika sedikit melunak, walaupun tidak suka namun apa yang dikatakan Wardhana adalah benar. Saat ini hubungan kadipaten Wanajaya dengan Kerajaan agak renggang.


Jika saat ini Wanajaya diserang Majasari maka Saung galah akan membantu dengan setengah hati. Akan sangat berbahaya untuk kedudukannya sebagai Adipati.


“Saat ini salah satu temanku sedang berada di Keraton Saung galah, dan aku cukup yakin Yang mulai Raja mau bekerja sama dengan kami. Bagaimanapun saat ini masih banyak pengikut setia Yang Mulia Raja Arya Dwipa termasuk beberapa Sekte aliran putih yang disegani di Dunia Persilatan. Saung Galah Akan membutuhkan banyak bantuan jika Majasari menyerang Saung galah mengingat kekuatan Majasari di dukung oleh Iblis hitam dan aliansinya. Anda mempunyai beberapa pilihan tuan”.


“Maksud anda pilihan seperti apa?” Gardika kali ini benar benar telah masuk ke dalam perangkap negosiasi Wardhana.


“Jika anda menerima uluran hadiah Majasari dan membelot dari Saung galah maka Kadipaten Wanajaya tidak akan dihancurkan oleh Majasari namun jika peperangan ini dimenangkan oleh Saung galah akan ku pastikan anda orang pertama yang akan dibereskan Yang mulia”.


“Kau mengancamku?” suara Gardika meninggi.


“Kami tidak akan berani mengancam anda tuan, kami hanya akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang menjadi hak kami walau itu harus berhadapan dengan anda” nada bicara Wardhana sedikit mengancam.


“Atau anda bisa membunuh ku disini dan mengusir Pasukan Tangan besi namun dengan kemapuan anda sepertinya itu hal yang mustahil. Pasukan tangan besi adalah salah satu pasukan elit Majasari dan anda akan membutuhkan bantuan untuk mengusir mereka. Untuk saat ini hanya aku yang dapat memberi bala bantuan dengan cepat. Seperti yang aku katakan tadi saat ini aku sedang menawarkan bantuan yang menguntungkan kedua belah pihak. Keputusan ada di tangan anda tuan”.


Gardika menatap Wardhana kagum, dia dapat bernegosiasi dengan sangat baik saat ini walaupun posisinya tadi sangat tidak menguntungkan.


Namun saat ini situasinya telah berubah Nasib Wanajaya kini berada di tangan Wardhana. Dengan permasalahan yang ada ditambah hubungan yang sedikit renggang dengan Kerajaan Saung galah akan sangat tidak menguntungkan untuknya.


Jika dia mau bekerja sama dengan Wardhana selain dapat mengusir Pasukan Majasari dari kadipatennya, Yang mulia raja pun akan menilai jika Gardika telah membantu mengusir Majasari dari Tanah Saung Galah sehingga hubungannya kembali bagus dengan kerajaan.


"Lalu apa rencana mu untuk mengusir Pasukan tangan besi?".

__ADS_1


Wardhana tersenyum kecil, saat ini dia telah mengendalikan situasi sepenuhnya.


"Aku sepertinya membutuhkan beberapa bantuan dari Senopati" Wardhana tersenyum penuh makna.


__ADS_2