
"Nyonya selir!" Wijaya bergerak cepat kearah Mentari dengan sisa sisa tenaga dalamnya saat empat orang pendekar Cakra Loji berusaha menyerang Mentari yang masih belum bisa menggerakkan tubuhnya.
Beberapa Iblis Loji tiba tiba bergerak dan berusaha menghadang Wijaya, mereka melepaskan serangan tusukan untuk menghentikannya.
Namun Wijaya bergeming, dia bahkan membiarkan serangan itu menghujam tubuhnya untuk mengunci gerakan mereka sebelum memutar pusaka miliknya dan membunuh mereka semua.
"Nyonya!" teriak Wijaya sekuat tenaga.
"Apa semua akan berakhir ditempat ini? Pangeran..." Mentari menutup matanya pasrah, jantungnya berdegup kencang menanti tebasan pedang pendekar Iblis Loji menghantam tubuhnya.
Saat tebasan pendekar Iblis Loji itu hampir mengenai tubuh Mentari, waktu tiba tiba berhenti bersamaan dengan menutupnya lubang dimensi yang ada di seluruh langit Nuswantoro.
"Apalagi ini!" umpat Rubah Putih, dia berusaha menggerakkan tubuhnya sekuat tenaga.
"Sepertinya dia berhasil tuan... Lubang dimensi itu tertutup kembali," ucap Layang yuda pelan sambil menatap lubang dimensi yang mulai menutup.
"Jadi kau benar benar berhasil mengalahkannya ya..." tubuh Rubah Putih tiba tiba terjatuh saat waktu dan semua yang ada di sekitarnya kembali berputar kecuali ratusan pendekar Iblis Loji yang masih mematung.
"Syukurlah...." ucap Wijaya lega sambil menancapkan pusaka miliknya di tanah untuk menahan tubuhnya yang mulai oleng karena kehabisan tenaga. Dia mencabut pedang yang masih menancap di perutnya sebelum roboh ketanah.
"Aku sudah menepati janjiku Yang mulia..." ucapnya sebelum tak sadarkan diri.
Semua terlihat lega karena sepertinya pertempuran besar yang memakan banyak korban jiwa itu telah berakhir. Walaupun mereka sadar Cakra Loji bisa bangkit kembali tapi setidaknya untuk saat ini mereka masih selamat dan bisa menyusun rencana untuk mencegah atau bahkan menghadapi kembali iblis itu suatu saat nanti.
Tak lama, sinar mentari pagi mulai menembus celah celah pepohonan di Hutan Kematian dan menutup malam panjang yang penuh kengerian itu.
Ratih memejamkan mata sambil menarik napasnya panjang saat tubuhnya terkena sinar matahari, entah kenapa dia merasa sinar matahari pagi ini begitu hangat seolah menghilangkan semua dendam dihatinya.
"Apakah alam memang sedang memurnikan kembali dunia ini melalui Cakra Loji untuk mengembalikan keseimbangan yang sudah rusak?"
***
Tubuh Sabrang tiba tiba muncul di udara saat lubang dimensi terbuka dan terhempas dengan sangat keras di puncak Cetho yang menjadi saksi pertarungannya dengan adiknya sendiri, Moris Dwipa.
Sabrang berusaha menggerakkan tubuhnya sekuat tenaga untuk mendekati mayat Moris yang berada tak jauh darinya namun tak berhasil.
"Pada akhirnya, pertarungan hanya akan menciptakan kehancuran dan rasa sakit yang tak pernah berakhir. Andai jurus mengendalikan waktu tak pernah diciptakan, mungkin kita tidak harus berakhir seperti ini, Moris," ucap Sabrang lirih sambil menatap tubuh adiknya yang sudah terbujur kaku.
Sabrang kembali mengingat perjalanan hidupnya yang dimulai dari sekte Pedang Naga Api, saat itu dia terus memaksa ki Ageng mengajarinya ilmu pedang Api Abadi yang diciptakan Ken Panca.
Ilmu kanuragan itulah yang kemudian tanpa sadar membawanya bertemu dengan Naga Api dan menyeretnya ke dunia persilatan untuk menuntut balas atas kematian ayahnya dan hancurnya Malwageni.
"Kau sudah melakukannya dengan baik nak, pertarungan mungkin menciptakan kehancuran dan rasa sakit, tapi beberapa orang memang dipilih alam dan kau adalah salah satunya untuk menyeimbangkan kembali apa yang sudah rusak akibat ulah manusia termasuk dimensi waktu.
"Banyak hal yang sebenarnya ingin aku katakan padamu tapi sepertinya waktu kami tidak banyak, menyegel kembali gerbang kesepuluh membuat kekuatanku habis. Kuharap kelak kita akan bertemu kembali. Terima kasih atas semuanya, suatu kehormatan bagi pusaka penjaga waktu sepertiku bertarung bersama pendekar terkuat sepertimu," Eyang Wesi menundukkan kepalanya sebelum perlahan menghilang.
"Kami?" tanya Sabrang pelan.
"Pemurnian ruh batu Satam," jawab Naga Api tiba tiba.
"Pemurnian? jadi kau juga akan meninggalkan aku Naga Api?" balas Sabrang cepat.
"Aku dan beberapa ruh pusaka tercipta dari energi alam yang diserap oleh Batu Satam selama ribuan tahun. Energi yang sudah terkumpul itu kemudian terpecah menjadi lima ruh pusaka yang memiliki kekuatan berbeda. Jika kekuatan kami menyatu kembali, maka semua akan melebur menjadi satu dan kembali kedalam batu Satam untuk dimurnikan sebelum terlahir dengan ingatan baru," jawab Naga Api pelan.
"Ingatan baru? Jadi kita tidak akan pernah bertemu kembali?"
"Proses pemurnian energi Batu Satam bisa memakan waktu ribuan tahun dan jika kau masih hidup, kuharap kita akan bertemu kembali di puncak Suroloyo walau mungkin saat itu aku tidak akan mengenalimu lagi."
"Dan kita akan bertarung seperti dulu?" Sabrang terkekeh saat mengingat kembali pertemuannya dengan Naga Api setelah terluka akibat bertarung dengan salah satu pendekar Lembah Tengkorak.
"Aku akan menyegel ingatanku didalam tubuhmu, datanglah ke Suroloyo saat kobaran api mulai terlihat di puncak gunung itu dan Taklukkan aku sekali lagi maka sebagian ingatan itu akan kembali padaku," suara Naga Api tertahan, dia kemudian menatap wajah tuannya itu cukup lama.
__ADS_1
"Teruslah hidup tuan, aku akan menunggumu," kobaran Naga Api perlahan membentuk tubuh manusia sebelum berlutut dan memberikan penghormatan tulus untuk terakhir kalinya.
"Naga Api memberi hormat pada anda tuan."
Cukup lama Naga Api bersujud sebelum kobaran apinya mulai menghilang.
"Anom, pastikan dia selamat atau aku akan membakar dirimu kelak."
"Tak perlu khawatir, kembalilah secepatnya," jawab Anom pelan.
"Tuan..."
Sabrang memalingkan wajahnya sampai Naga Api menghilang dari tubuhnya, dia benar benar tidak ingin melihat kepergian ruh yang selama ini selalu bersamanya.
"Naga Api sudah pergi nak...pergi dengan kebanggan tinggi karena pernah melayani dirimu," ucap Anom pelan.
"Aku akan mengalirkan sisa sisa energi milikku untuk mengobati lukamu..."
"Tidak perlu, aku akan membawa tubuh Moris dengan kekuatanku sendiri," Sabrang mengalirkan energi murni dalam tubuhnya untuk memaksa tubuhnya bergerak.
Dengan wajah datar, Sabrang berjalan tertatih mendekati tubuh Moris dan mulai mengangkatnya.
"Ayo kita kembali..." Sabrang mulai melangkah perlahan, dengan sisa sisa tenaga yang dimiliki dia terus berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya.
"Nak, kau tak harus..."
"Cukup Anom, untuk kali ini biarkan aku melakukannya sendiri. Aku sudah berjanji untuk membawa Moris kembali," Air mata yang selama ini tertahan mulai mengalir.
Sabrang bukan pendekar lemah, dia bahkan tidak pernah menunjukkan perasaannya pada orang lain tapi kali ini berbeda. Kehilangan kembali seorang adik yang baru saja ditemuinya dan Naga Api yang selama ini selalu menemaninya benar benar membuat Sabrang hancur.
Sabrang menghentikan langkahnya di sisi selatan bukit Cetho, dia tersenyum kecut saat melihat jalan terjal yang harus dilaluinya untuk sampai ke kaki bukit Cetho.
Sabrang memejamkan matanya saat merasakan angin berhembus di tubuhnya, sinar matahari pagi yang menerpa wajahnya tak mampu menutupi guratan kesedihan yang terpancar dari wajahnya.
Sabrang tiba tiba membuka mata saat telinganya mendengar sesuatu, walau hampir seluruh tenaga dalamnya habis tetapi ketajaman indra pendengarannya tak berkurang sedikitpun.
Sebuah lubang dimensi terbentuk di sisi kanannya sebelum Tungga Dewi muncul bersama Arung.
"Hormat pada Yang mulia," ucap mereka bersamaan sambil berlutut memberi hormat.
"Persiapkan pemakaman di dekat paviliun raja, aku ingin siapapun kelak yang menjadi pemimpin Malwageni mengetahui jika ada seorang ksatria terkuat trah Dwipa yang tewas karena membela tanah leluhurnya," balas Sabrang datar.
"Baik Yang mulia," jawab Tungga Dewi pelan, dia kemudian meminta Arung membawa tubuh Suliwa sebelum membawa Sabrang pergi dari tempat itu.
***
Puluhan prajurit Angin selatan pagi itu terlihat sibuk di gerbang utama keraton, walau Matahari belum benar benar menampakkan sinarnya namun tak menyurutkan mereka untuk mempersiapkan penjagaan berlapis di gerbang utama.
Arung yang mengenakan pakaian perang bahkan beberapa kali mengingatkan para prajuritnya untuk tidak mengizinkan siapapun masuk ke Ibukota hari ini kecuali para pedagang dan tamu undangan, itupun dengan pemeriksaan yang sangat ketat.
Penjagaan berlapis di gerbang utama pagi itu jelas mengejutkan sebagian pendekar maupun pedagang yang akan masuk ibukota karena setelah pertempuran besar dengan Cakra Loji dan para iblis waktu satu tahun lalu, dunia persilatan cenderung damai.
Terlebih setelah Wardhana mengumpulkan semua tetua sekte dari berbagai aliran yang selamat dan mendorong perjanjian damai diantara mereka.
Hampir semua sekte menyetujui ide Wardhana itu karena selain harus berkonsentrasi membangun kembali kekuatan akibat banyaknya pendekar yang gugur saat melawan Iblis Loji, mereka pasti akan berpikir ribuan kali untuk berseberangan dengan Wardhana.
Tak ada yang cukup gila berani melawan orang orang yang berada di belakang Wardhana seperti Rubah Putih dan para pendekar Lembayung Hitam.
Wardhana memang menggunakan waktu satu tahun ini untuk membangun kembali kekuatan setelah luluh lantak oleh Cakra Loji. Dia juga menunjuk Candrakurama sebagai ketua Hibata setelah Sabrang memutuskan mundur dari dunia persilatan.
Dan tepat setahun setelah pertarungan besar dengan Cakra Loji yang menghancurkan hampir separuh sekte di Nuswantoro, geliat Malwageni mengejutkan dunia persilatan.
__ADS_1
Puluhan prajurit dengan senjata lengkap menjaga semua gerbang masuk ke ibukota tanpa terkecuali.
"Pastikan tak ada yang masuk ibukota untuk hari ini kecuali para pedagang, tuan Patih tidak berkenan ada lautan manusia yang ingin mengucapkan selamat di hari pernikahannya," ucap Arung sebelum pergi untuk memeriksa penjagaan di gerbang lainnya.
"Baik tuan," jawab prajurit itu bersamaan.
"Andai Yang mulia hari ini datang, tuan Patih pasti akan sangat senang," ucap Arung dalam hati sambil mengingat kepergian Sabrang satu tahun lalu.
Sabrang memang memutuskan pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri setelah menguburkan Moris di keraton dengan upacara kerajaan, tak ada yang berani mencegah ataupun menanyakan kemana dia akan pergi termasuk Mentari karena mereka sadar Sabrang benar benar hancur setelah kehilangan Ibu dan adiknya bersamaan.
Wardhana sebenarnya ingin menunda pernikahannya dengan Wulan sampai Sabrang kembali namun karena kondisi kesehatannya yang terus menurun setelah luka lamanya kambuh dan atas saran Tungga Dewi dia akhirnya memutuskan menikah dihari yang sama dengan munculnya Cakra Loji satu tahun lalu.
Dan tepat dihari ini semua orang yang berada di keraton terlihat bersuka cita. Mereka mulai bisa melupakan sejenak peristiwa berdarah yang menghancurkan sebagian Nuswantoro, walau sebenarnya masih banyak tanda tanya di kepala mereka.
Tak ada yang menduga sama sekali, Wardhana akan menjatuhkan pilihan pada sosok pendekar Wanita yang dijuluki Dewi Kematian itu.
"Guru terlihat sangat anggun dengan pakaian itu, izinkan aku mengantar anda ke aula utama, nyonya patih," suara Mentari mengejutkan Wulan yang sedang duduk di sebuah kamar yang sengaja dipersiapkan untuknya.
Wulan hanya tersenyum kecil melihat tingkah muridnya itu, dia tampak memejamkan matanya sesaat sebelum bangkit dari duduknya.
"Pakaian ini benar benar merepotkan," umat Wulan kesal.
Mentari terkekeh sambil menggeleng pelan, walau Wulan tampak bersikap biasa tapi dia tau jika gurunya itu sedang gugup.
"Guru jangan terlalu khawatir, Gusti ratu sudah memastikan paman Wardhana menjauhi ruang kerjanya. Dia tidak akan memikirkan hal lain selain orang yang dicintainya," goda Mentari yang disambut tatapan tajam Wulan.
Semua sudah tau jika Wardhana meletakkan kepentingan keraton di atas segalanya. Itulah sebabnya Tungga Dewi sampai mengeluarkan sebuah titah yang melarang Wardhana masuk kedalam ruang kerjanya agar fokus pada pernikahannya.
Belasan dayang terlihat sudah berdiri didepan kamarnya ketika Wulan membuka pintu.
"Selamat Nyonya, izinkan kami mengantar anda ke aula utama," ucap salah satu dayang sambil menundukkan kepalanya.
"Ayo guru kita harus cepat, aku takut paman terlalu lama menunggu dan melarikan diri kembali," Mentari kembali menggoda gurunya.
"Kau!" Wulan hampir saja mengejar Mentari yang berlari menjauh andai dia tidak menggunakan gaun yang membatasi gerak langkahnya. Dia hanya bisa pasrah berjalan pelan untuk membiasakan diri dengan pakaian keraton yang dikenakannya.
Langkah Wulan tiba tiba terhenti sejenak saat melihat puluhan prajurit masih berjaga di depan aula kepatihan.
Cukup lama Wulan menatap gedung megah itu sebelum melanjutkan langkahnya.
"Guru telah memilih orang yang tepat, aku yakin kalian akan menjadi pasangan yang hebat," ucap Mentari yang sudah berjalan disebelah Wulan.
Suasana Aula utama sudah ramai saat Wulan datang, tampak beberapa pembesar keraton hadir untuk menyaksikan pernikahannya. Wajah Wulan semakin memerah setelah melihat Wardhana dan Emmy menyambutnya di depan pintu aula.
"Tuan.." Wulan menundukkan kepalanya memberi hormat.
Wardhana hanya mengangguk, keduanya terlihat canggung sebelum Mentari menyambar tangan keduanya dan menariknya masuk.
"Kalian tak akan mendapatkan apa apa dengan saling menatap di depan pintu," ucap Mentari.
"Hampir saja aku terlambat..." sebuah suara mengejutkan semuanya terutama Mentari.
Suara yang sudah hampir setahun tidak didengarnya itu membuat jantungnya berdegup kencang, dia langsung menoleh dan mendapati Sabrang berdiri di gerbang aula sambil menggendong kedua anaknya.
Seluruh prajurit dan semua yang hadir di ruangan itu langsung berlutut tanpa terkecuali.
"Hormat pada Yang mulia," teriak mereka semua.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Besok, Chapter terakhir Pedang Naga Api bertepatan dengan malam minggu. Malam yang bagi reader PNA adalah malam penyiksaan bak kamp kerja paksa ala Holywood.
__ADS_1
Semoga besok malam tidak hujan agar ending PNA diiringi tangis kegelisahan liat muda mudi dimabuk cinta berkeliaran mencari kang pecel lele yang paling murah untuk mojok.
Sampai juma besok dan nantikan kejutan di Akhir Pedang Naga Api...