
"Lembah merah Dieng?" tanya Rubah Putih bingung saat Wardhana mencoba menjelaskan kemiripan dua tempat itu.
"Dieng adalah sebuah tempat tersembunyi yang berada di Tebing Bukit kelam, hampir sama dengan daratan Masalembo, suku Iblis petarung menggunakan Dieng sebagai tempat persembunyian mereka," jawab Wardhana pelan.
"Jadi maksudmu tempat ini sama dengan Dieng?"
"Itu yang aku rasakan saat pertama masuk ke tempat ini bersama tuan Ken Panca. Posisi sungai, Gunung dan dinding tebing itu langsung mengingatkanku pada suatu tempat yang ternyata adalah Dieng, bahkan celah tebing yang menjadi pembatas dengan hutan larangan hampir sama dengan dengan Tebing bukit kelam yang menjadi gerbang pertama Dieng, yang membedakannya hanya tempat ini tidak tertutup air laut," Wardhana kemudian meminta Rubah Putih membuat perapian di pinggir sungai sementara dia menggambar sesuatu di gulungannya.
Cukup lama Wardhana diam dan larut dengan semua coretan di gulungannya sebelum wajahnya berubah saat menemukan sesuatu.
"Tuan apakah gua yang dulu digunakan untuk menyegel Dewa api berada di sini?" tunjuk Wardhana di gulungannya.
"Bagaimana kau bisa tau? apakah posisi kedua tempat itu benar benar sama?" tanya Rubah Putih terkejut.
"Walau di beberapa bagian ada sedikit perbedaan tapi aku yakin suku Iblis petarung membangun Dieng setelah melihat sisi gelap alam semesta. Ini menjadi sangat mengejutkan karena kupikir mereka membangun tempat itu dengan melihat kitab Paraton, sepertinya hampir semua perkiraan yang aku buat tentang suku Iblis petarung salah," jawab Wardhana pelan, dia terus memperhatikan gulungannya dengan wajah bingung.
"Aku yakin belum pernah mendengar tentang keberadaan suku Iblis petarung dan itu artinya mereka hadir di Nuswantoro setelah aku dikurung di dimensi ruang dan waktu," balas Rubah Putih cepat.
"Aku tau tuan tapi suku Sungai Kuning yang merupakan leluhur suku Iblis petarung sepertinya lebih dulu datang ke Nuswantoro jauh sebelum kalian ada, catatan ini mengatakan mereka sempat bertemu dengan suku Lemuria dan Atlantis," jawab Wardhana sambil mengeluarkan gulungan catatan yang diberikan Paksi.
"Jadi maksudmu?" Rubah Putih langsung menyambar gulungan itu dan membacanya.
"Aku yakin mereka membuat Dieng dengan mencontoh konsep sisi gelap alam semesta, tapi yang menjadi pertanyaan terbesarku adalah kapan mereka menemukan tempat ini karena hampir semua catatan yang kutemukan di Dieng tidak pernah sekalipun menyebut Sisi Gelap alam semesta."
"Sepertinya masalah kali ini akan jauh lebih rumit karena misteri sisi Gelap alam semesta bercampur dengan suku Iblis petarung, sebaiknya kita kembali dulu ke gubuk karena hawa panas sudah mulai menghilang dan tubuhmu akan membeku jika tidak menggunakan tenaga dalam untuk menjaga suhu tubuh," ucap Rubah Putih pelan.
"Apa di sekitar gunung ini ada sebuah gua yang didalamnya terdapat batu persembahan?" tanya Wardhana tiba tiba.
"Gua dan batu persembahan? jika yang kau maksud adalah batu besar yang sepertinya pernah di gunakan untuk bertapa aku bisa menunjukkan tempatnya padamu tapi batu itu tidak berada di dalam gua," jawab Rubah Putih cepat.
"Itu dia, batu itu yang aku cari karena tidak semua tempat disini sama dengan Dieng tapi jika posisi gunung itu letaknya sama dengan Lembah merah, aku yakin di dekat batu itu ada ruang rahasia yang menjadi pusat semua keanehan sisi Gelap alam semesta dan mungkin juga berhubungan dengan peradaban Lemuria," balas Wardhana.
"Tempat rahasia di sisi gelap alam semesta? tidak mungkin... aku cukup lama tinggal dan berlatih ditempat ini sebelum terkurung di dimensi ruang dan waktu, selain hawa panas yang datang tiba tiba di waktu waktu tertentu pada malam hari, tak ada keanehan lain apalagi sebuah ruang rahasia di bawah gunung ini," jawab Rubah Putih tak percaya.
"Apa kita akan berdebat semalaman di sini sampai tubuhku membeku atau kita buktikan langsung tentang ruang rahasia itu. Anda masih ingat bukan jika dibawah gunung padang terdapat ruang rahasia yang sangat besar? apa akan ada yang mempercayai cerita itu jika tidak melihat sendiri?" ucap Wardhana pelan.
"Itu..." Rubah Putih tak mampu menjawab pertanyaan Wardhana namun dia juga masih tak percaya jika di sisi gelap alam semesta tersimpan rahasia besar peradaban terlarang.
"Waktu terus berjalan tuan dan mungkin ruang rahasia itu adalah petunjuk dari semua kejadian di dunia persilatan selama ini," Wardhana kemudian menjelaskan secara singkat tentang rangkaian kejadian aneh mulai dari munculnya kitab Sabdo Loji yang harusnya masih terkubur di puncak Suroloyo sampai munculnya tiba tiba pendekar misterius saat Sabrang bertarung.
"Sejak mengetahui tentang peradaban Lemuria yang menjadi awal semua kejadian di dunia persilatan ini termasuk munculnya Masalembo dan Suku Iblis petarung aku merasa semua saling berhubungan dan mungkin ruangan itu akan menjelaskan semuanya," tutup Wardhana meyakinkan.
__ADS_1
Rubah Putih terdiam sesaat sebelum menganggukkan kepalanya.
"Baik, kita akan menjemput Ken Panca sebelum pergi ke batu itu, aku akan..."
"Tidak tuan, aku merasa ada yang aneh dengan Ken Panca. Aku masih belum tau apa itu tapi sebaiknya kita berdua memeriksa batu itu untuk sementara waktu," potong Wardhana cepat.
"Ada yang aneh dengannya?"
"Tuan Ken Panca adalah orang yang sangat pintar dan sudah tinggal di tempat ini sangat lama sejak meninggalkan Dieng, adalah hal aneh jika dia baru menemukan tulisan yang berisi catatan bom api. Aku merasa..." Wardhana menghentikan ucapannya tiba tiba sambil menarik nafas sebelum melanjutkan ucapannya.
"Tolong tuan, untuk saat ini aku belum bisa menceritakan masalah ini karena bagaimanapun Ken Panca adalah keluarga Yang mulia, jadi aku harus berhati hati."
Rubah Putih menatap Wardhana cukup lama sebelum tersenyum penuh makna seolah tau arah pembicaraannya.
"Baik, aku akan mengantarmu ke batu besar itu, kita hanya punya waktu sampai matahari terbit karena Ken Panca akan menyadari sesuatu jika tidak melihat kita di pagi hari," jawab Rubah Putih sebelum menyambar tubuh Wardhana dan melesat pergi.
"Apa kita tidak bisa pergi dengan cara biasa? jantungku hampir copot setiap pergi bersamamu," umpat Wardhana kesal saat darahnya kembali naik ke kepala.
"Kau harus mulai terbiasa dengan Ilmu kanuragan Wardhana, karena tidak selamanya kami bisa melindungi mu terus," jawab Rubah Putih sambil terkekeh.
"Aku bukan tidak berusaha mempelajari ilmu kanuragan tuan karena selama dalam pelarian aku berlatih ilmu pedang dengan sangat keras tapi seperti yang dikatakan Yang Mulia Arya Dwipa, aku tidak memiliki bakat dalam ilmu pedang."
"Aku selalu dibuat bingung dengan pikiranmu, jika kau curiga sesuatu terjadi pada Ken Panca lalu kenapa kau mau mengikutinya ke tempat ini?" tanya Rubah Putih pelan.
"Aku tidak tau karena sebagian pikiranku masih bersikeras untuk percaya padanya, tak pernah terbayang sedikitpun jika harus mencurigai leluhur Yang Mulia. Namun jika semua kecurigaan ini benar, anggap saja aku sedang mengikuti permainannya dan itulah hal yang paling membuatku takut," jawab Wardhana lirih.
"Sejujurnya cukup sulit bagiku untuk kagum pada seseorang dan kau adalah salah satu orang yang aku kagumi saat ini tapi kau memiliki kelemahan besar bernama Kesetiaan. Kau tak pernah bisa bersikap tegas saat berbenturan dengan masalah yang berhubungan dengan Sabrang dan trah Dwipanya.
"Apa yang kau katakan tentang Ken Panca mungkin hanya sebagian kecil masalah yang berhubungan dengan trah Dwipa. Aku pernah bicara pada tetua Darin dan dia memperingatkan betapa berbahayanya Sabrang jika sampai lepas kontrol. Andai hal itu benar benar terjadi dan aku harus menghentikannya, apa kau tetap akan berpihak padanya?"
"Le...lepas kontrol?" wajah Wardhana berubah seketika, tak pernah terbayang dalam pikirannya mendapat pilihan untuk berseberangan dengan Sabrang.
"Pikirkan kata kataku itu karena kita tidak akan pernah tau apa yang sedang direncanakan alam untuk menyeimbangkan Sabrang yang menurutku saat ini sudah terlalu kuat," Rubah Putih memperlambat gerakannya saat melihat sebuah batu besar berada di tengah tengah dua buah pohon besar.
"Kita sudah sampai, itu batu yang kukatakan tadi," ucap Rubah Putih sebelum melompat ke salah satu pohon besar dan turun tepat di atas batu besar itu.
"Batu ini... hampir sama dengan yang ada di Lembah merah Dieng, aku benar benar tidak menyangka jika suku Iblis petarung pernah datang ketempat ini," ucap Wardhana pelan.
***
"Maaf guru, aku memang bersalah karena membuat kekacauan dan menyerang Yang mulia, tapi mengapa hanya aku yang dihukum? murid sekte Angin biru itu yang memulai pertarungan," ucap Minak Jinggo sambil berlutut dihadapan Ageng.
__ADS_1
"Kau masih berani menyeret orang lain? guru mengajarkanmu ilmu kanuragan bukan untuk pamer apalagi menyerang pendekar yang berasal dari sekte aliansi kita dan yang paling membuatku malu adalah kau berani menyerang Yang mulia!" bentak Ageng kesal.
"Tapi dia yang menyerang aku lebih dulu guru..."
"Diam kau Jinggo!" ucap Ageng sambil memukul lengan kursi hingga hancur.
"Kau sudah sangat keterlaluan, berani sekali kau menyebut Yang mulia dengan panggilan Dia? aku akan membawamu pulang ke Sekte Naga Api dan memberi hukuman berat agar kau sadar dengan kesalahanmu!"
"Guru tidak adil, aku sudah mengaku salah dan menjelaskan semuanya tapi mengapa hanya aku yang dihukum? apa karena ketua sekte Angin biru adalah Patih Malwageni?" Selama ini aku tidak pernah sekalipun membantah ucapan guru tapi yang terjadi padaku hari ini sangat tidak adil," jawab Minak Jinggo cepat, emosinya benar benar sudah memuncak karena merasa di perlakukan tidak adil.
"Kau!" Ageng hampir saja mencabut pedangnya andai Sabrang tidak muncul dari balik pintu.
"Yang mulia?" Ageng langsung berdiri dan menundukkan kepalanya memberi hormat.
"Kakek, maaf jika aku ikut campur tapi bisakah aku saja yang memberi hukuman pada mereka?" ucap Sabrang sopan.
"Tapi Yang mulia, anda..."
"Kakek masih ingat jika aku dulu hampir sama dengannya? kumohon kek untuk kali ini saja biar aku yang mengajarkan juniorku ini, ada sesuatu yang ingin aku pastikan darinya," bisik Sabrang pada Ageng.
"Anda yakin Yang mulia?"
"Sejak awal aku sudah memperkirakan akan terjadi seperti ini karena mereka semua memiliki bakat besar di usia yang sangat muda tapi aku punya satu cara untuk menyatukan mereka semua," balas Sabrang cepat.
Ageng tampak menarik nafas panjang sambil menatap tajam Minak Jinggo.
"Baik Yang mulia, aku serahkan dia pada anda, kumohon untuk jangan pernah sungkan untuk menghukumnya jika dia kembali membuat ulah," jawab Ageng pelan.
"Kakek tak perlu khawatir, aku bisa mengatasinya," ucap Sabrang sambil menunduk sebelum melangkah mendekati Minak Jinggo.
"Aku tau kau tidak suka padaku, tapi saat ini pilihanmu hanya ikut denganku baik baik atau aku harus membekukan lagi tubuhmu," ucap Sabrang sambil tersenyum penuh makna.
"Apa kau pikir aku takut dengan es itu..." Minak Jinggo menghentikan ucapannya saat melihat Ageng menatapnya tajam. "Baik, aku ikut," jawabnya kesal.
"Guru, aku pergi dulu..." Minak Jinggo menundukkan kepalanya sebelum melangkah mengikuti Sabrang.
"Kau terlalu sombong dengan semua bakat yang kau miliki, harusnya kau sadar jika Yang mulia ingin, kemarin kau sudah menjadi mayat," ucap Ageng sambil menatap kepergian Minak Jinggo.
"Anda jangan terlalu khawatir tetua, dia akan mampu mengendalikan mereka semua, aku yakin itu," balas Wulan yang tiba tiba muncul disebelah Ageng.
"Semoga saja nona, walau tidak sekuat Sabrang, anak itu akan menjadi pendekar kuat dan mungkin saja aku akan menunjuknya sebagai ketua sekte Pedang Naga Api suatu saat jika sifatnya bisa berubah," jawab Ageng.
__ADS_1