Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kesepakatan dengan Bidadari Pencabut Nyawa II


__ADS_3

"Kesepakatan? aku mendengarkan," ucap Sabrang sebelum menarik semua aura yang meluap dari tubuhnya.


"Tuan, lalu bagaimana nasibku?" sahut Elang yang masih belum bisa berdiri akibat tendangan maut Gendis di area pribadinya.


"Jika kau masih banyak bicara, aku akan dengan senang hati mengulanginya lagi," ancam Gendis cepat.


"Dasar wanita mengerikan...sesuai dengan namanya," umpat Elang kesal sambil menutup area pribadinya cepat.


Gendis tersenyum saat melihat tingkah Elang yang seperti anak kecil sebelum berjalan mendekati Sabrang.


"Aku tidak tau apa yang ingin anda bicarakan denganku tapi jika itu adalah permintaan bergabung dengan kalian maka aku akan meminta bayangan yang sangat besar dan aku yakin anda memiliki uang sebanyak itu," ucap Gendis pelan.


"Bayaran yang sangat besar? apa yang membuatmu sangat yakin aku akan membayar sebesar itu pada orang yang bahkan jauh lebih lemah dariku?" jawab Sabrang tenang.


"Lemah? ilmu kanuragan yang aku miliki mungkin jauh lebih lemah dari anda, tapi aku bisa mengumpulkan informasi jauh lebih cepat dari semua Telik Sandi terbaik yang kalian miliki untuk mendukung kelompok pendekar yang saat ini sedang anda bentuk.


"Sehebat apapun para pendekar itu, tanpa informasi yang tepat, kalian hanya akan dipermainkan oleh pasukan kuil suci," jawab Gendis sambil menepuk dadanya bangga.


"Pasukan kuil suci? apa yang kau ketahui tentang mereka?" wajah Sabrang mulai berubah, dia tidak menyangka Gendis akan menyebut kelompok yang saat ini menjadi musuh utamanya.


"Tidak terlalu banyak karena selain kemunculan mereka yang cukup misterius di Swarna Dwipa, aku baru mendengar nama mereka saat perang besar kemarin dan sampai hari ini aku belum berhasil melacak keberadaannya. Namun anda tak perlu khawatir karena beberapa hari lalu aku pernah bertemu dengan mereka di sebuah penginapan di kadipaten Rogo Geni, jika aku berhasil melacak keberadaan mereka maka semua akan terungkap," jawab Gendis cepat.


"Kau bertemu dengan pasukan kuil suci beberapa hari lalu? ceritakan padaku! apa yang sedang mereka bicarakan?" wajah Sabrang benar benar berubah sepenuhnya, membuat Gendis menjadi sedikit takut.


"Apa anda selalu menakutkan seperti ini tuan?" balas Gendis pelan.


"Ah maaf, aku hanya sedikit terkejut karena seharusnya mereka saat ini sudah hancur," jawab Sabrang sambil menjelaskan seberapa berbahayanya pasukan Kuil Suci.


Gendis yang belum pernah sekalipun berurusan dengan mereka tampak terkejut setelah mengetahui jika kelompok yang pernah di lihatnya beberapa waktu lalu ternyata sangat berbahaya.


"Tapi aku yakin pernah bertemu dengan mereka," ucap Gendis tak percaya saat Sabrang mengatakan sudah menghancurkan mereka.


"Bagaimana kau tau itu mereka?" tanya Sabrang bingung.


"Saat meninggalkan penginapan sepertinya mereka tak sengaja menjatuhkan gulungan kecil ini dan itu jelas tertulis pasukan Kuil Suci," jawab Gendis sambil menunjukkan gulungan kecil di tangannya.


Sabrang langsung menyambar gulungan itu dan membacanya.


"*Pasukan Kuil suci b**ergeraklah dalam jumlah kecil dan setiap ketua kelompok memiliki tanggung jawab untuk melindungi kelompoknya sampai ketua ditemukan. Jangan buat gerakan mencurigakan sementara waktu*. Fokuskan mencari keberadaan pemuda dengan tubuh segel istimewa untuk menjalankan rencana berikutnya."

__ADS_1


"Jadi masih ada sisa sisa pasukan kuil suci yang mencoba membangun kembali kelompoknya sambil mencari keberadaan Agam," ucap Sabrang pelan sambil meremas gulungan itu sampai hancur. Dia kembali teringat kemunculan pendekar misterius yang menyelamatkan Agam.


"Apa mereka sekuat itu?" tanya Elang tiba tiba, dia terlihat sudah bisa berjalan walau "Pusaka nya" masih terasa sakit akibat tendangan Gendis.


"Tidak hanya kuat, tapi mereka semua memiliki ambisi gila yang ingin menghancurkan dunia ini sebagai awal pembentukan dari apa yang mereka sebut dunia baru, itulah alasanku mengumpulkan kalian semua karena aku tak akan sanggup menghadapi mereka sendirian," jawab Sabrang pelan.


"Jika tuan Naga Api saja tak sanggup menghadapi mereka, bagaimana dengan kami? tanpa bayaran yang besar aku tidak akan pernah mau membahayakan nyawaku," balas Gendis cepat.


"Apa uang sangat berarti buatmu? kau tak akan bisa menikmati uangmu jika pasukan kuil suci itu benar benar berniat menghancurkan dunia persilatan. Kau jauh lebih menyebalkan dari pemuda aneh yang menggunakan segel sebagai mainannya," jawab Elang kesal.


"Pemuda aneh yang menggunakan segel sebagai mainannya? tunggu..." Sabrang kembali mengingat pesan milik pasukan kuil suci yang ditemukan oleh Gendis. "Mereka sedang mengincar Winara."


"Lalu apa bedanya andai aku tidak meminta uang padanya? apa aku bisa menghentikan pasukan kuil suci? jika harus mati setidaknya aku mati dengan banyak uang di dalam pakaianku!" jawab Gendis tak mau kalah.


"Cukup! aku akan membayar berapapun yang kau minta setelah tim ini terbentuk. Elang, bawa nona Gendis ke hutan Larangan dan tunjukkan ini pada orang yang akan menjemput kalian di sana. Aku harus memeriksa penginapan itu dan menjemput Winara sebelum menyusul kalian. Ingat, hindari kontak apapun sementara waktu jika bertemu dengan para pendekar kuil suci dalam perjalanan. Aku akan menjelaskan semua saat kembali," ucap Sabrang sambil menyerahkan lempengan batu kecil pada Elang.


"Tuan... menjemput Winara?" tanya Elang bingung.


"Aku akan kembali secepatnya dan jika kau bertemu lebih dulu dengan Winara di hutan Larangan, bawa dia masuk dan katakan pada siapapun yang ada di air terjun lembah pelangi untuk menyembunyikannya sementara waktu," balas Sabrang cepat sebelum melesat pergi.


"Menyembunyikannya?" Elang masih belum mengerti maksud ucapan Sabrang.


"Kau benar benar bodoh, ikut denganku jika kau penasaran dengan kekuatan pasukan Kuil Suci," jawab Gendis cepat.


"Kita akan kembali setelah melihat pertarungan mereka," jawab Gendis pelan.


***


Agam tiba tiba tersadar dan membuka matanya saat merasakan energi hangat mengalir di dalam tubuhnya.


Dia menatap sekitarnya dan menemukan empat orang pendekar muda sedang bersila dan membentuk lingkaran mengelilinginya.


Aura yang meluap dari tubuh mereka seolah membentuk perisai tenaga dalam yang melingkar melindungi tubuh Agam yang masih belum bisa bergerak.


"Apa yang kalian lakukan pada tubuhku?" ucap Agam pelan, dia terus berusaha menggerakkan tubuhnya namun tak berhasil. Aura yang berasal dari empat pendekar muda itu seolah mengunci gerakannya.


"Kau sudah sadar? jangan memaksakan untuk menggerakkan tubuhmu, para pendekar medis sedang mengobati luka dalam yang sedang kau derita," ucap seorang wanita muda sopan.


"Pendekar medis?" tanya Agam bingung karena ini pertama kalinya dia mendengar nama itu.

__ADS_1


"Aku akan menjelaskan semuanya jika kau sudah pulih, sekarang beristirahatlah agar proses pengobatan lukamu bisa lebih cepat," jawab wanita itu sambil berjalan mendekati Agam dan menyentuh kepalanya.


"Apa yang kau lakukan? lepaskan aku!" teriak Agam sebelum dia merasakan sakit yang luar biasa saat energi wanita itu masuk ke tubuhnya dengan paksa.


"Apa yang kau..." pandangan mata Agam perlahan gelap sebelum kembali tak sadarkan diri.


"Tak baik terlalu banyak bertanya nak, tidurlah dan jadilah lebih kuat saat kau sadar nanti," bisik wanita itu sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.


"Nona, ketua memanggil anda," seorang pendekar menundukkan kepalanya setelah melihat wanita itu keluar dari ruangan tempat Agam berada.


"Ketua? apakah dia sudah..." wanita itu tak melanjutkan ucapannya saat pendekar yang menegurnya tadi seperti kerasukan sesuatu.


"Cepatlah datang ketempat ku bodoh! apa kau ingin membuatku menunggu lama?" suara pendekar itu berubah seketika bersamaan dengan matanya yang berubah merah.


"Ke...ketua? baik aku akan segera menemui anda," jawab wanita itu ketakutan.


***


Sepuluh pendekar tampak bergerak bersamaan menuju Danau Ranu Kumbolo, gerakan mereka yang begitu cepat menunjukkan jika memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi.


Dua orang pendekar tampak memisahkan diri saat hampir sampai di danau indah itu sedangkan delapan lainnya berhenti di pinggir danau sambil menatap sekitarnya.


"Apa ini tempatnya?" tanya salah satu pendekar bingung, dia sudah menggunakan segel udara untuk mendeteksi apapun yang ada di sekitar gunung Semeru namun sampai seluruh gunung sudah ditutupi segel udara tidak ditemukan tanda tanda manusia sama sekali.


"Harusnya memang di sini tempatnya. Respati, jangan turunkan kewaspadaan kalian karena lawan kita kali ini adalah pengguna segel terbaik," balas temannya memperingatkan.


"Tapi kakang, sepertinya dia sudah tidak berada disekitar sini, segel udara milikku tidak mungkin salah," jawab Respati cepat.


"Kau yakin?" pendekar itu tiba tiba mencabut pedangnya dan menangkis dua buah tombak yang terarah pada temannya dengan cepat sebelum menarik tubuh Respati mundur.


"Bentuk formasi dan bersiap dengan serangan berikutnya," teriak pendekar itu cepat.


"Kakang tombak itu?"


"Aku sudah memperingatkan mu beberapa kali jangan terlalu percaya dengan segel kabut karena lawan kita kali ini adalah pemuda dengan bakat segel terbaik," bentak pendekar itu.


"Tidak mungkin...bagaimana segel udara milikku?..." Respati tampak terkejut saat kabut putih tiba tiba menyelimuti danau itu.


"Tetap dalam formasi, aku akan mencari dimana pengguna segel ini bersembunyi," ucap salah satu pendekar itu sebelum tubuhnya menghilang didalam kabut tebal.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Terima kasih atas doa baiknya dan semoga kalian semua juga diberikan kesehatan.. amin....Maaf belum bisa membalas satu satu komentar kalian, badan saya masih lemas


__ADS_2