
Emmy terbangun dari tidurnya saat mendengar seseorang sedang berlatih, dia berusaha menajamkan matanya karena hari masih sangat gelap.
"Yang mulia?" ucapnya pelan, udara dingin malam itu membuat tubuh Emmy malas bergerak.
Mereka memang tidur di bawah pohon setelah Darin tidak mengizinkan masuk ke gubuknya. Hal inilah yang sempat memancing emosi Emmy dan hampir menghancurkan gubuk itu andai Sabrang tidak menahannya.
"Kakek tua itu benar benar kejam, awas saja nanti, akan kuberi pelajaran kau," umpat Emmy kesal.
Emmy kemudian duduk dibawah pohon sambil memperhatikan Sabrang berlatih, dia merasa kasihan melihat seorang raja mendapat perlakuan seperti ini dari Darin.
Sabrang menyudahi latihannya saat menyadari Emmy terbangun, dia mengatur nafasnya sesaat sebelum melangkah mendekati wanita itu.
"Kau sudah bangun? maaf jika aku mengganggu tidurmu," ucap Sabrang lembut.
Emmy hanya mengangguk kecil, dia masih tidak habis pikir dengan sikap Sabrang yang seolah tak berusaha meyakinkan Darin untuk mengajarinya setelah perjalanan panjang yang mereka tempuh.
"Anda benar benar akan pergi?" tanya Emmy pelan.
"Setiap orang memiliki alasan tersendiri termasuk tetua Darin dan kita tidak bisa memaksakan kehendak. Sebaiknya kita kembali dulu ke Malwageni dan membicarakan masalah ini dengan paman Wardhana," jawab Sabrang.
"Tapi dia benar benar keterlaluan Yang mulia, dia bahkan tidak mengizinkan kita masuk," balas Emmy kesal.
"Ada hal yang tidak bisa kita paksakan, seperti keraton Malwageni yang tidak bisa dimasuki semua orang. Tetua Darin pasti memiliki alasan mengapa melarang kita masuk. Hentikan semua keluhanmu, bukankah kita sudah terbiasa tidur di alam terbuka?"
"Baik Yang mulia raja Malwageni," ejek Emmy sambil memalingkan wajahnya.
"Kau ini..." Sabrang menggeleng pelan.
"Tetua sebenarnya adalah orang baik, tapi untuk beberapa hal dia memang sangat kaku, mohon jangan tersinggung," ucap Arsenio sambil memberi hormat.
"Orang baik? berkat kebaikannya itulah kami tidur di alam terbuka," jawab Emmy sinis.
"Emmy..." suara Sabrang terdengar sedikit meninggi yang membuat Emmy terdiam.
"Maafkan atas sikap lancang istriku tuan," balas Sabrang pelan.
"Jangan terlalu sungkan tuan, aku juga tidak bisa memahami sikap tetua Darin kali ini. Kalian adalah orang pertama yang diizinkan naik ke puncak gunung tapi entah mengapa dia justru mengusir kalian kembali," jawab Arsenio.
"Orang pertama?" tanya Sabrang terkejut.
"Benar, setidaknya setelah kami memutuskan tinggal di gunung ini untuk menjaganya," balas Arsenio.
"Anda sudah lama mengenalnya?" tanya Sabrang kembali.
"Dua puluh lima tahun lalu, kami adalah sekumpulan anak nakal yang selalu mencuri untuk bertahan hidup, hingga suatu hari para prajurit kerajaan Arkantara mengejar kami sampai ke kaki gunung Sinabung.
Di sanalah aku dan sembilan orang temanku bertemu dengan tetua Darin. Dia menyelamatkan kami dari kejaran para prajurit dan mendidik kami menjadi pendekar tangguh, sejak saat itulah kami memutuskan tinggal di gunung ini untuk menjaganya."
"Seperti yang kuduga, dia memang orang yang baik," jawab Sabrang pelan.
"Aku tidak tau apakah ini hanya kebetulan tapi sepertinya anda adalah orang yang sudah lama di tunggu olehnya," balas Arsenio.
"Orang yang ditunggu?"
"Tetua sepertinya memiliki kemampuan untuk meramal dan dia pernah mengatakan padaku bahwa suatu saat akan datang seorang pendekar muda yang akan menjadi cahaya bagi dunia persilatan," jawab Arsenio.
"Cahaya? pria tua itu hanya menipumu," umpat Emmy.
"Emmy..." Sabrang menggelengkan kepala.
Sabrang sebenarnya masih ingin bertanya lebih banyak namun suara ayam hutan yang mulai saling bersaut menandakan pagi mulai datang dan dia harus segera turun gunung untuk kembali ke Malwageni.
__ADS_1
"Tuan, sepertinya pagi sudah tiba, aku harus segera pergi untuk kembali ke Jawata. Senang berkenalan dengan anda," Sabrang bangkit dari duduknya dan mengajak Emmy untuk berkemas.
"Aku akan mengantar anda sampai kaki gunung," jawab Arsenio.
Sabrang menatap gubuk kecil itu sesaat, dia menundukkan kepalanya untuk memberi hormat sebelum melangkah pergi.
Tanpa Sabrang sadari, Darin terus menatap kepergiannya dari jauh, wajahnya terlihat ragu saat hendak memanggil pemuda itu.
"Suatu saat, mungkin aku akan mengajarimu nak tapi aku ingin melihat dulu jalan mana yang akan kau pilih. Kau adalah pemuda yang baik namun tubuh itu mungkin akan merubah sifatmu perlahan. Jika kau bisa menunjukkan padaku bahwa kau berbeda, aku akan membuatmu menjadi pendekar tanpa tanding," ucap Darin pelan.
***
"Mengirim utusan ke Malwageni?" Saragi tampak terkejut saat mendengar rencana Agam.
"Benar Yang mulia, sudah saatnya Arkantara mulai menaklukkan tanah Jawata tapi musuh kita kali ini berbeda karena mereka memiliki ahli siasat terbaik. Kita bisa saja langsung menyerang namun hamba yakin kerugiannya pun tidak sedikit dan perang akan berlangsung sangat lama.
Hamba ingin mengirim utusan untuk menawarkan kerja sama dan diam diam mengukur kekuatan mereka sebelum menyerang. Kabar terakhir yang kudengar, raja mereka sudah cukup lama menghilang dan itu bisa di manfaatkan untuk mencari kelemahan mereka," jawab Agam pelan.
"Apa paman patih yakin rencana ini akan berhasil?"
Agam mengangguk pelan, "Saat ini Saung Galah sudah takluk pada mereka tapi hamba yakin masih banyak prajurit Saung Galah yang setia pada raja yang lama. Kita bisa memanfaatkan mereka untuk membantu kita menaklukkan Malwageni Yang mulia."
"Beri aku waktu untuk berfikir paman karena menyerang Jawata jelas membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk mengerahkan pasukan," ucap Saragi sedikit ragu. Letak Jawata yang cukup jauh jelas akan menguras tenaga prajuritnya, belum lagi biaya yang harus dikeluarkan dan juga berperang di medan tempur yang belum dikenali memiliki resiko kegagalan cukup besar.
"Hamba mengerti kekhawatiran anda Yang mulia, tapi kita tidak harus berperang dalam waktu dekat, para utusan yang akan dikirim memiliki tugas mengawasi pergerakan Malwageni, dan saat mereka mulai lengah kita baru menyerang," Agam terus meyakinkan Saragi.
"Begitu ya..." Saragi tampak berfikir sejenak sebelum mengangguk pelan.
"Sudah saatnya Arkantara menguasai Nuswantoro dan dengan kemampuan yang anda miliki hamba yakin anda adalah raja yang tepat untuk mewujudkannya," balas Agam.
Mendapat pujian dari Agam, Saragi tersenyum bangga.
"Baik, aku akan menyetujui rencana yang paman katakan tapi aku ingin penyerangan dilakukan jika semua sudah benar benar matang," jawab Saragi.
"Semua sudah semakin dekat, kalian semua akan membayar atas apa yang dilakukan pada ayah," ucap Agam dalam hati.
"Ketua?" seorang pendekar menyambut Agam di gerbang keraton.
"Sudah saatnya bergerak, kirim tiga orang pendekar kuil suci untuk mengunjungi Malwageni dan katakan jika Arkantara ingin menjalin hubungan kerjasama dengan mereka.
Selama berada di sana, pergilah diam diam ke Cahaya Surga untuk mengambil mustika merah delima terakhir yang tersimpan di tempat itu. Sudah saatnya tuan Mandala bangkit," ucap Agam sambil tersenyum dingin.
"Baik ketua," jawab pendekar itu cepat.
***
"Maaf tuan, aku hanya bisa mengantar sampai sini. Sekali lagi mohon maaf atas ketidaknyamanan anda selama berada di gunung Sinabung," ucap Arsenio sopan.
Sabrang tersenyum kecil sambil mengangguk pelan, "Terima kasih sudah mengantarku dan tolong sampaikan permintaan maaf kami pada tetua Darin."
Arsenio mengambil dua buah pisau dari pinggangnya dan menyerahkan pada Sabrang.
"Itu adalah pisau Tumbuk Lada, walau bukan pusaka sehebat pedang Naga Api aku yakin suatu saat akan berguna," ucap Arsenio pelan.
"Tuan, aku tidak bisa menerima ini?"
"Anggap saja permintaan maaf kami jadi mohon diterima," jawab Arsenio.
Sabrang tampak ragu tapi setelah Arsenio memaksa, dia akhirnya mengalah.
"Sekali lagi terima kasih, kami mohon diri," ucap Sabrang sebelum melangkah pergi.
__ADS_1
Arsenio menatap kepergian Sabrang dan Emmy sambil menarik nafas, entah mengapa dia begitu tertarik pada Sabrang.
"Memberikan pusaka pada orang yang baru dikenal, aku benar benar tidak mengerti jalan pikiranmu," Darin muncul dari balik pohon.
"Alasannya mungkin sama saat anda mengijinkannya naik ke puncak gunung tetua," balas Arsenio pelan.
"Dia bukan pendekar biasa, suatu saat tangannya itu akan berlumuran darah," jawab Darin.
"Lalu kenapa anda tidak langsung membunuhnya? anda mengajarkan aku jika manusia memiliki hak penuh untuk memilih jalan hidupnya sendiri, apa itu tidak berlaku untuk pendekar muda itu?" tanya Arsenio sinis.
"Aku mengerti perasaanmu tapi kau tidak akan mengerti seberapa bahaya dia, jika aku boleh memilih, aku lebih baik menghadapi Mandala dari pada anak itu."
"Anda belum menjawab pertanyaanku tetua, jika anda yakin pendekar itu akan menghancurkan dunia persilatan, kenapa anda membiarkannya hidup?"
Darin terdiam setelah mendengar pertanyaan Arsenio.
"Jika pencuri seperti aku saja masih diberikan kesempatan kedua, kenapa anda tidak bisa mempercayainya? Saat pertarungan malam itu, kami semua bisa terbunuh jika dia mau tapi tidak dilakukannya. Saat ini pendekar Kuil suci sudah semakin kuat, aku tidak tau sampai kapan bisa menjaga gunung suci ini, kuharap anda berubah pikiran," Arsenio melangkah pergi meninggalkan Darin.
"Kau tidak akan meng..." Darin tidak melanjutkan ucapannya saat merasakan ada energi besar mendekat, dia menatap sekelilingnya dengan penuh kewaspadaan.
"Tetua?" Arsenio yang juga merasakan aura itu berlari mendekati Darin.
"Menghindar!" teriak Darin saat belasan energi pedang melesat cepat kearah mereka.
"Sial, siapa yang berani menyerang gunung ini?" Arsenio melompat menghindar.
Ledakan demi ledakan terus terjadi saat energi pedang itu seolah mengejar Darin dan Arsenio.
Mereka bergerak lincah diantara pepohonan sambil terus mencari siapa orang yang menyerang.
"Guru dibelakang anda," teriak Arsenio saat sebuah energi pedang mengarah cepat ke Darin.
"Perisai tenaga dalam," Darin membentuk dinding tenaga dalam untuk menangkis serangan itu namun energi lainnya datang dari arah berbeda.
"Bawa teman temanmu naik ke puncak gunung, aku akan mencoba mencari dimana pengecut itu bersembunyi," Darin mencabut pedangnya dan mulai menangkis setiap energi pedang yang mengarah padanya.
"Kau ingin menyerangku dengan jurus lemah seperti ini?" aura besar tiba tiba meluap dari tubuh Darin, dia mulai mengalirkan tenaga dalam ke pedang pusaka nya.
"Jurus pedang pelindung," Darin memutar pedangnya, sebuah ledakan besar kembali terjadi akibat benturan energi pedang.
Ledakan besar itu membuat debu beterbangan sehingga memudahkan Darin bersembunyi dan mencari dimana musuhnya.
Sesosok bayangan akhirnya terlihat oleh Darin, dia tersenyum kecil sebelum melepaskan jurusnya.
"Sial," seorang pendekar terpaksa keluar dari persembunyiannya, dia melompat menghindari serangan cepat yang mengarah padanya.
Namun saat dia berusaha menghindar, Darin tiba tiba muncul di dekatnya.
"Kau pikir bisa bersembunyi dariku," Darin memukul pendekar itu sekuat tenaga.
Tubuh pendekar itu terlempar beberapa langkah, namun saat Darin akan menyerang kembali empat pendekar lainnya muncul dan langsung menyerangnya.
"Perisai tenaga dalam," benturan tenaga dalam kembali terjadi yang membuat mereka semua terdorong mundur termasuk Darin.
"Kekuatan anda begitu mengerikan untuk seorang pertapa tua yang tidak pernah turun gunung," ucap salah satu pendekar misterius itu.
"Aku sedang tidak menerima tamu, sebaiknya kau pergi sebelum aku berubah pikiran," jawab Darin kesal.
"Mohon bersabar tuan, aku datang untuk menawarkan kerja sama," jawab pendekar itu.
"Kerjasama katamu? setelah kalian berusaha membunuhku?" ejek Darin.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Bonus chapter malam minggu akan update malam hari....jadi ditunggu ya..terima kasih atas semua dukungan Votenya....