
Mata Sabrang tak berkedip melihat kengerian yang ada dihadapannya. Rumah rumah terbakar habis hanya menyisakan kepulan asap tebal, tubuh bergelimpangan tak bernyawa di sepanjang jalan.
"Kejam sekali" Suara Mentari lirih tak berani menatap lama pemandangan yang ada dihadapannya.
Gayatri mematung melihat tempatnya dilahirkan dan dibesarkan hancur oleh kekejaman Serigala hitam. Air matanya kembali menetes dari sudut matanya.
"Ayo kita periksa dan kuburkan mereka dengan layak". Sabrang berjalan pelan, tangannya mengepal tanda dia menahan emosi.
Tiba tiba Gayatri menjerit histeris membuat sikap Sabrang siaga, mereka berlari ke arah Gayatri menjerit. Terlihat dua kepala tanpa tubuh tertancap di pohon bambu.
"Ayah! Ibu!" Suara Gayatri terdengar memekakan telinga.
Mentari ikut menjerit melihat kengerian yang ada di hadapannya. Sabrang melangkah mendekati pohon bambu dan memindahkan kepala tersebut. Dia menggali tanah dengan pedangnya kemudian menguburkan dengan layak.
Semua terdiam seolah tak ada yang bisa bicara. Wajah Sabrang mengeras menahan emosinya.
"Pergi kalian!!!! Kalian hanya menimbulkan masalah di sini".
Beberapa orang keluar dari persembunyiannya Wajah putus asa terpancar jelas.
Mereka menatap Gayatri tajam, salah satu pria berteriak keras
"Ini semua gara gara kamu!!! Mereka menjadi marah dan melampiaskannya pada kami". Pria tersebut tiba tiba maju menyerang Gayatri. Sabrang bergerak maju memukul mundur pria tersebut.
"Sebaiknya anda tenang tuan, aku tak ingin melukai siapapun" Sabrang menatap dingin pria tersebut.
Pria tersebut mundur perlahan, dia mengetahui kemampuan Sabrang jelas diatasnya.
"Siapa yang melakukan ini" Sabrang bertanya pelan.
"Serigala hitam" pria yang menyerang tadi menjawab tanpa menatap Sabrang, pandangannya masih kearah Gayatri.
"Kalian jangan ikut campur, pergilah!!!" sikap tidak bersahabat masih ditunjukan pria tersebut.
Mentari melangkah mendekati pria tersebut, wajahnya memerah menahan amarah.
"Mau sampai kapan kalian menjadi pengecut? Jika kalian terus seperti ini kalian akan terus ditindas!. Kami hanya ingin membantu".
"Kami tak butuh bantuan kalian, pergilah".
Sabrang menggeleng pelan, dia memahami ketakutan yang terpancar di wajah mereka. Serigala hitam benar benar merontokan semangat mereka, hanya ada ketakutan yang terpancar diwajah mereka.
__ADS_1
"Biarkan saja nona, mereka hanya sekumpulan tikus" Gayatri bangkit dan memegang ranting bambu dihadapannya.
"Aku tak perduli dengan kalian, aku akan melawan mereka".
Sabrang tersenyum melihat semangat Gayatri, dia cukup kagum Gayatri tidak merasa takut sedikitpun.
"Ah kau datang sendiri kemari nona, apa kau sudah putus asa?".
Terlihat 30 orang Pendekar muncul dari arah belakang. Wajah mereka menyeringai menatap Gayatri.
"Kalian akan membayar semua yang telah kalian lakukan pada orang tuaku" Gayatri siap menyerang menggunakan Ranting ditangannya.
"Mundur" Suara dingin Sabrang menghentikan langkah Gayatri. Metari menatap Sabrang sedikit takut. Selama melakukan perjalanan bersama belum pernah dia melihat wajah Sabrang begitu menakutkan.
Sabrang tiba tiba menghilang dari tempatnya berdiri membuat para pendekar Serigala hitam waspada.
"Tarian Iblis Pedang" Sabrang muncul di tengah tengah mereka, pedangnya menyambar yang ada dalam jangkauannya. Beberapa pendekar tumbang meregang nyawa.
"Serang terus" Salah satu pendekar memberi perintah menyerang.
Gerakan pedang Sabrang makin bervariasi dan sangat cepat. Dia mundur beberapa langkah dan dengan cepat maju kembali menyerang dengan sekuat tenaga.
"Hujan Pisau Es Utara" tangan kiri Sabrang mengeluarkan bongkahan es berbentuk pisau. Dia bergerak cepat mendekati dua orang tersisa dan menghantamkan bongkahan es ke tubuh salah satu pendekar tersebut.
Pendekar tersebut terpental jauh, tubuhnya terlihat diselimuti es tipis. Dia menoleh ke arah pendekar yang masih tersisa. Pedangnya dengan cepat menyentuh leher pendekar tersebut
"Katakan dimana letak sektemu atau akan kubuat kau menyesal" Kobaran api mulai menyelimuti tubuh Sabrang membuat pendekar tersebut berlutut memohon ampun.
"Sekte Serigala hitam terletak di balik bukit batok tuan" Tubuh pendekar tersebut gemetar ketakutan.
Semua yang memandang pertarungan Sabrang mematung tak bisa bergerak. Gayatri pun terlihat ketakutan dan tidak berani menatap lama Sabrang.
"Ikat dia, kita akan pergi ke bukit batok setelah menguburkan mereka dengan layak". Beberapa pria yang tadi menyerang Gayatri hanya bisa mengikuti perintah Sabrang. Mereka sadar jika Sabrang ingin membunuh mereka walaupun mereka melawan akan sia sia.
Sabrang menyarungkan pedangnya kemudian menatap langit.
"Paman patih kau harus segera menghimpun kekuatan untuk menghentikan penindasan seperti ini".
Malam itu dilalui Sabrang dengan bermeditasi, dia masih mencoba menekan amarahnya. Akan sangat berbahaya jika dia bertindak dengan penuh emosi.
Tiba tiba tubuh Sabrang diselimuti kobaran api. Mentari yang berusaha mendekatinya untuk memberikan makanan terlihat menjauh, hawa panas yang dihasilkan kobaran api tersebut membuat kulit Mentari seperti melepun.
__ADS_1
"Apa yang terjadi dengan Pangeran? Apa ini yang dinamakan Naga Api" Mentari terlihat cemas namun tak berani mendekat.
"Kau semakin kuat bocah! Luapkan terus marahmu jangan kau tekan" Terdengar Suara Naga Api dipikiran Sabrang.
"Jadi anda yang bernama Naga Api" Sabrang bertanya sopan.
"Benar! Akulah roh Pedang Naga Api, teruslah menjadi kuat atau kau akan terbunuh sebelum sampai ke Tanah Para Dewa".
Sabrang mengernyitkan dahinya "Anda mengetahui tentang Tanah Para Dewa?".
Naga api tertawa keras "Aku pernah kesana bersama tuanku terdahulu, kau tau bocah aku yakin kau akan menyesal pernah datang kesana".
"Aku akan tetap datang kesana apapun yang akan kuhadapi, ada yang harus ku cari".
"Apa kitab Energi Bumi yang kau maksud? Lebih baik lupakan saja kitab itu, tuanku terdahulu bahkan tak mampu menguasainya".
Sabrang menggeleng pelan "Aku yang memutuskan jalan yang kupilih, jika anda tidak ingin membantuku lebih baik diam".
"Kau memang anak yang menarik, baiklah kita lihat saja sampai mana perkembanganmu".
Tiba tiba dipikiran Sabrang tergambar beberapa gerakan jurus pedang. dia sedikit terkejut dengan jurus pedang yang melintas dipikirannya, bagaimana jurus itu bisa hadir dipikirannya.
"Itu adalah sebagian kecil Jurus Pedang pemusnah raga, sebuah jurus kuno yang sangat mematikan. Seiring dengan meningkatnya kemampuanmu maka aku akan mengajarimu tahap selanjutnya Jurus Pedang Pemusnah raga. Teruslah berkembang bocah".
Perlahan kobaran api menghilang dari tubuh Sabrang. Dia membuka matanya dan menatap Mentari yang masih ketakutan.
"Aku akan pergi ke bukit batok, nona sebaiknya tunggu disini akan sangat berbahaya jika nona ikut".
Mentari mengangguk pelan dia sadar hanya akan menjadi beban jika ikut ke bukit batok. Selain itu mentari masih harus mengobati beberapa warga yang terluka.
°°°°°°°°°
● Selamat Malam teman teman terima kasih sudah mendukung Pedang Naga Api sampai saa ini. Saya sebagai juru bicara Pangeran Sabrang tetap membutuhkan dukungan pembaca budiman dan budiwati dalam bentuk Like, Share dan Vote agar rangking Pedang Naga Api terus naik. Jangan salahkan kami jika harus memaksa menggunakan Jurus Segel Bayangan agar bisa mengendalikan pembaca budiman dan budiwati untuk mem vote kami. Bagaimana kami mau menyerang dan merebut kembali Kerajaan Malwageni jika kekurangan Pasukan tempur.
sekali lagi terima kasih atas dukungannya, yang gak dukung juga tetep terima kasih walau dalam hati sedikit "misuh"..
Semoga kalian sehat selalu
Malwageni 17 Februari 2020
Juru bicara Pangeran Sabrang
__ADS_1