
Sabrang masih berdiri diatas batu yang mulai ditelan lahar panas perlahan, dia menatap sekitarnya seolah ingin menjadi saksi runtuhnya tempat yang paling dicari didunia. Sebuah tempat yang dibangun karena terobsesi dengan Telaga khayangan api yang digambarkan sangat detail oleh kitab misterius Paraton.
"Pedang pusaka Megantara dan Telaga khayangan api ya, semoga tempat itu tidak pernah ada didunia ini?". Sabrang menggeleng pelan. Dia tidak dapat membayangkan kekacauan apalagi yang akan terjadi jika Telaga khayangan api tersebar didunia persilatan jika tiruannya saja sudah hampir menghancurkan dunia persilatan.
"Apa tidak ada cara lain untuk pergi dari sini?". Tanya Naga api tiba tiba.
Sabrang tersenyum kecil "Kau bisa lihat sendiri, sepanjang mata memandang hanya lautan Lahar panas yang terlihat. Apa ada ilmu kanuragan yang bisa terbang lama? jikapun aku memaksakan menggunakan seluruh tenaga dalamku, mungkin hanya setengah perjalanan aku bisa melayang setelah itu tubuhku akan jatuh dan habis terbakar karena tidak ada pijakan lainnya". Sabrang menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.
"Kini aku hanya berharap mereka semua selamat terutama Mentari. Gadis bodoh itu begitu setia mengikuti orang tak berguna sepertiku".
"Dan pada akhirnya aku tak pernah bisa merebut Malwageni". Sabrang tertawa keras, dia berusaha melepaskan semua beban yang ada di kepalanya. Suara yang terdengar lirih itu kalah oleh suara ledakan ledakan yang semakin sering terdengar diseluruh penjuru Dieng.
***
Jika pertempuran dua pendekar terkuat telah berakhir namun tidak dengan tim Wardhana yang masih terus menekan pendekar Iblis petarung. Semangat berkobar dalam diri mereka secara mengejutkan mampu menekan para pendekar Iblis petarung. Sikap berani mati semua pasukan angin selatan demi sang Raja muda keturuan terakhir trah Dwipa itu membuat mereka seolah kesurupan.
Ditambah Strategi perang yang diterapkan oleh Wardhana membuat dua pendekar itu terpojok. Wardhana menerapkan strategi Wukir Sagara Wyuha (strategi perang dengan susunan pasukan berbentuk bukit dan samudera). Wardhana mengatur pasukan angin selatan bagai ombak disamudra yang terus menekan dari segala arah dan menempatkan para pendekar sekte sebagai penyerang cepat yang bertugas memecah konsentrasi pendekar iblis petarung saat gelombang ombak angin selatan terus menekan. Ditambah kehadiran Suliwa dan Wijaya membuat mereka makin kuat.
Kunci strategi Wardhana terdapat pada Lingga dan Mentari. Mentari menggunakan Segel bayangannya untuk membatasi gerak para pendekar iblis petarung dan Lingga yang memiliki ilmu kanuragan paling tinggi bertugas sebagai penutup serangan.
"Sekarang". Teriak Mentari ketika berhasil menangkap bayangan salah satu iblis petarung. Mentari menancapkan pedangnya pada bayangannya sendiri untuk menahan tekanan tenaga dalam pendekar itu. Lingga yang sedang bergerak tak jauh dari pasukan angin selatan langsung melesat menyerang. Mengetahui dirinya diserang, pendekar itu mencoba melepaskan diri dari segel bayangan namun Mentari bertahan sekuat tenaganya. Yang terjadi berikutnya adalah pendekar itu roboh ketanah dengan kepala sudah terpisah dari tubuhnya.
Semua pendekar bergerak serentak bagai sebuah sistem yang terhubung dikepala Wardhana. Saat ini Wardhana seolah menampar semua pendekar jika ilmu kanuragan bukan segala galanya. Para pendekar hebat itu bergerak sesuai perintah Wardhana termasuk salah satu pendekar terkuat dunia persilatan Lingga Maheswara.
Semua padu pada satu strategi Sang naga yang tertidur dari Malwageni yang tanpa sadar hari ini, Dieng telah membangunkan Naga yang sudah lama terlelap itu. Kecepatan berfikir, perubahan strategi ditengah perang dan menghadapi lawan yang jauh lebih kuat darinya membuat pemikiran dan sikap Wardhana menjadi matang. Dieng seolah berterima kasih pada trah Dwipa yang telah menjaganya dengan mengasah ahli strategi terbaik Malwageni untuk bersiap merebut kembali apa yang menjadi hak mereka.
Wardhana kembali memberi tanda untuk menggunakan strategi Kannaya Wyuha (strategi perang dengan susunan pasukan berbentuk lingkaran berlapis). Untuk memojokan satu satunya pendekar Iblis petarung kepinggir sungai sesuai rencana Wardhana.
Ketika nyawa pendekar itu sudah diujung pedang dia terlihat menatap geram Wardhana yang juga terluka parah. Luka Wardhana sebenarnya cukup parah namun kesetiaannya pada Sabrang membuatnya seolah menggunakan Ajian pembakar sukma dan memaksa tubuhnya bergerak sampai ambang batas.
"Bagaimana aku bisa kalah oleh sekumpulan pendekar rendah itu?. Tidak, bukan mereka yang menjadi otak semua ini namun orang itu. Kepintarannya membuat semua bergerak atas perintahnya. Apakah dia pernah membaca kitab pengetahuan paraton?". Pendekar itu menahan amarah pada Wardhana sebelum jurus pedang tunggal terbang kelangit milik Lingga mengoyak tubuhnya.
Wardhana tersenyum puas sambil menancapkan pedangnya ketanah untuk menopang tubuhnya yang sudah mencapai batasnya.
"Aku telah menepati janjiku pada anda Yang mulia, tak satu jengkalpun aku mundur dan mempertahankan gerbang kedua. Cepatlah datang Yang mulia". Ucap Wardhana khawatir. Dia mulai melhat aliran Magma dikejauhan, Andai Lahar panas itu tidak tersumbat dan mengalir ke gua Danau kehidupan mungkin mereka sudah mati saat ini.
Namun sepertinya danau kehidupan telah terisi penuh ditandai dengan mulai mengalirnya lahar itu ketempat lain yang lebih tinggi.
"Memang seharusnya seperti itu fungsi Danau kehidupan, bukannya membuat kita melawan takdir". Gumam Wardhana dalam hati.
"Sora, kau masih bisa bergerak?". Wardhana memanggil Lembu sora.
Sora mengangguk pelan, dia berusaha berjalan walau tubuhnya telah mencapai batasnya. Lingga dan lainnya yang mendengar ucapan Wardhana ikut mendekat.
"Kau punya rencana cadangan untuk keluar dari sini?". Lingga bertanya pelan. Dia menatap air sungai yang terlihat mulai mendidih, tak mungkin mereka bisa berenang di air panas seperti itu.
"Kau lihat air dipinggir sungai itu". Wardahan menunjuk pinggir sungai yang aliran airnya terlihat aneh. "Aku sudah memeriksanya sebelum air sungai itu panas ( Baca Chapter 190 ). Ada susunan batu yang aku yakin mengarah ke laut. Mereka menutup celah itu menggunakan susunan batu untuk meredam tekanan air laut yang akan masuk. Aku yakin saat ini air laut masih dingin, jika kita bisa menghancurka sekat itu air laut akan masuk kesini dan sedikit bisa meredam panasnya air sungai ini. Itu satu satunya kesempatan kita untuk keluar dari sini". Ucap Wardhana pelan.
__ADS_1
Ciha yang berdiri tak jauh dari Wardhana terlihat sangat kagum pada kemampuan Wardhana membaca situasi dengan cepat.
"Aku akan menghancurkannya, tubuhku dilindungi serat pelindung bintang langit sepertinya tidak masalah jika aku menyelam sebentar". Ucap Lingga sambil melangkah mendekati Sungai.
"Tunggu'. Wardhana menghentikan langkah Lingga. "Kita tidak akan pergi tanpa Yang Mulia raja". Ucap Wardhana tegas.
"Baik, kita tunggu sebentar lagi. Jika sampai waktunya dia tidak kembali kita akan pergi dengan atau tanpamu. Kita tak mungkin mengorbankan mereka semua hanya karena kesetiaanmu". Ucap Lingga tak kalah tegas.
***
Sabrang membuka matanya ketika ledakan terdengar besar. Dia sedang berdiri sambil memejamkan matanya untuk menikmati detik detik akhir hidupnya namun ledakan yang cukup besar membuatnya terkejut. Ledakan yang berasal dari gerbang ketiga memuntahkan batu batu besar yang sepertinya sudah tersumbat lama. Sabrang tidak berusaha menangkis atau menghindar karena menurutnya percuma. Jika dia bisa menghindar pun tak ada jalan untuk keluar.
"Ayah". Gumam Sabrang dalam hati.
Namun sesuatu terjadi, kobaran api merah meluap dari tubuh Sabrang dan menghancurkan batu yang terarah padanya.
"Apa yang kau lakukan Naga api? kau hanya memperlambat kematianku saja". Sabrang menggeleng pelan.
"Dasar bodoh! lihatlah jalan yang dibuat alam untukmu, jika kau masih tidak melihatnya aku akan membenamkan kepalamu kelahar itu agar kepalamu bisa berfikir". Sabrang tersentak kaget setelah mendengar amarah Naga api. Dia menoleh kebelakang dan menemukan beberapa batu yang dimuntahkan oleh ledakan besar tadi. Batu batu raksasa itu seolah memberi jalan.
Sabrang tersenyum lembut sambil menatap kesekelilingnya. "Ayah, sepertinya aku belum bisa menemuimu saat ini". Tepat setelah Sabrang selesai bicara Tubuhnya melesat diantara bebatuan menuju gerbang kedua.
***
"Kita tidak ada waktu lagi, aku akan menghancurkan sekat itu sekarang juga". Lingga melesat kearah Sungai yang semakin mendidih. Lingga memutuskan bergerak sekarang bukan karena takut mati namun setelah mengembara bersama Sabrang dia sedikit bisa menghargai hidup orang lain dan dia tidak mau semua orang ikut terkurung di Dieng.
Wardhana hanya diam mematung, dia juga setuju dengan keputusan Lingga namun hati kecilnya tertanam kesetiaan pada Sabrang.
Perlahan air laut menetralkan suhu air sungai yang sempat mendidih.
"Ayo kita pergi". Ucap Lingga setelah memeriksa suhu air yang hangat.
Suasana saat itu sangat canggung, beberapa pendekar terlihat kaku dan tidak enak jika harus meninggalkan Wardhana namun jika tidak cepat pergi maka mereka akan terkubur di sana.
"Pergilah tuan, tak perlu sungkan. Aku sudah memutuskan tidak akan bergerak satu jengkalpun tanpa perintah Yang mulia raja". Wardhana menancapkan kembali pedangnya, Dia lalu menatap kearah Kertasura dan Pasukan angin selatan. "Kalian boleh pergi, aku tidak akan memaksa siapapun untuk tinggal bersamaku".
"Kami akan menemani anda menunggu Yang mulia". Ucap Kertapati tegas.
Beberapa pendekar sudah mulai masuk dan menyelam kedalam air. Mereka berpacu dengan waktu karena Lahar panas sudah mendekat.
"Sekarang giliranmu". Lingga berbicara pada Mentari yang bediri tak jauh darinya.
"Aku tak akan pergi tanpa Tuan muda". Ucap Mentari dingin. Dia dari awal sudah memutuskan tidak akan keluar Dieng tanpa Sabrang.
Ledakan yang sangat besar mengguncang Dieng membuat air lahar mengalir lebih cepat. Semburan batu batu besar melayang diudara. Wardhana mematung menatap batu batu yang beterbangan dihiasi lahar panas.
"Tempat ini akan runtuh". Gumam Wardhana dalam hati sambil menoleh kearah Lahar yang sudah beberapa langkah jaraknya dari kakinya. Dia sudah pasrah dengan keputusan yang dia yakini.
__ADS_1
Jantung Wardhana hampir berhenti saat melihat sesosok yang diselimuti kobaran api melesat cepat kearahnya. Dia sangat mengenali sosok tubuh yang selalu ingin dia jaga bahkan dengan taruhan nyawa sekalipun.
Sabrang melesat dan mendarat tepat dihadapan Wardhana, seketika api ditubuhnya menghilang berganti bongkahan es dikedua tangannya.
"Hembusan dewa es abadi". Sabrang membentuk semacam bendungan es untuk menahan lahar yang mendekat. Seketika suasana menjadi dingin walau hanya bertahan beberapa saat.
"Kenapa kalian belum pergi?". Umpat Sabrang pada Wardhana.
"Hamba siap menerima perintah Yang mulia raja". Wardhana dan seluruh pasukan angin selatan berlutut dihadapan Sabrang.
"Tuan muda". Mentari ikut berlutut sambil meneteskan air mata.
Sabrang menggeleng pelan "Dasar bodoh!, Ayo kita pergi". Perintah Sabrang pada pasukannya.
"Hamba menerima perintah". Suara teriakan pasukan angin selatan mengisi tempat yang sebentar lagi akan hancur.
"Kupikir kau sudah mati". Ucap Lingga sinis saat Sabrang melewatinya.
"Aku tidak akan mati sebelum mencabut nyawamu". Sabrang menjawab dingin.
"Aku akan menantikannya".
Mereka semua segera keluar dari tempat paling misterius itu. Heningnya malam dan Air laut yang mulai pasang ditambah suara ledakan ledakan dari dalam gua menyambut mereka didepan gerbang pertama. Mereka semua berhenti sesaat didepan gerbang pertama dan menatap bulan purnama yang selama empat hari ini tidak bisa mereka lihat.
Malam ini mungkin akan menjadi malam terakhir akses menuju Dieng akan tertutup selamanya. Sebuah ledakan meruntuhkan tebing bukit kelam saat mereka sudah cukup jauh dari tebing itu.
Runtuhnya tebing itu seolah ikut mengubur segala misteri yang mungkin masih banyak terdapat didalamnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
CATATAN AUTOR :
Waw!!! Akhirnya Eposode tentang Dieng berakhir di Episode ini. Banyak yang bertanya apakah PNA akan segera berakhir. Saya akan tegas menjawab TIDAK!.
Novel PNA saya buat dengan menggabungkan Ilmu kanuragan, teka teki, strategi perang dan sedikit ilmu pengetahuan. Jika teman teman jeli saya sudah sedikit memberi petunjuk dan kepingan kepingan informasi akan kemana arah PNA setelah Dieng berakhir. Saya yakin pasti ada yang menyadari petunjuk yang saya taruh di beberapa Chapter jika membaca secara perlahan.
Hari ini PNA akan up hanya 1 kali, khusus hari ini saya ingin melemaskan otot dan sendi saya sebelum besok akan saya berikan KEJUTAN dari jalan cerita PNA.. Siapkan semuanya untuk mengira ngira apa kejutan jalan cerita untuk besok.
Besok PNA akan update seperti biasa sehari 2 kali...
Khusus yg bertanya tentang Taktik Wardhana yang saya gunakan di Chapter ini
Wukir Sagara Wyuha (strategi perang dengan susunan pasukan berbentuk bukit dan samudera).
Kannaya Wyuha (strategi perang dengan susunan pasukan berbentuk lingkaran berlapis)
Kedua strategi itu karya termasyur Mpu sedah dan Mpu panulu dari kerajaan Kediri pada masa Prabu Jayabaya.
__ADS_1
Terakhir TERIMA KASIH ATAS DUKUNGANNYA DAN SAYA TETAP MEMINTA DUKUNGAN DALAM BENTUK APAPUN.
Kita ketemu besok lagi...