
Ketika Matahari masih malu malu menampakkan sinarnya, Daritri tampak sudah berjalan menembus dinginnya udara keraton menuju ruangan Wardhana.
Matanya terlihat sayu menandakan dia tidak tidur semalaman, nafasnya menderu menampakkan ketakutan yang luar biasa. Daritri sadar orang yang akan ditemuinya ini adalah patih yang paling ditakuti di Muswantoro.
Kepintarannya bersiasat sudah dibuktikan dengan meruntuhkan Majasari, sebuah kerajaan terbesar yang saat itu terlihat mustahil dihancurkan.
Langkah Daritri melambat saat berada didepan sebuah bangunan yang cukup besar, dia berhenti sesaat dan menatap puluhan prajurit yang berjaga di setiap sudut bangunan.
Bangunan yang dilihat Daritri itu adalah asrama bagi seluruh dayang kerajaan. Berbeda dari hari biasanya, penjagaan di bangunan itu begitu ketat atas perintah Wardhana.
Daritri menghela nafas panjang sebelum melanjutkan perjalanannya.
"Airin, semoga kau mengikuti semua rencana yang ku buat atau kita berdua dalam masalah," gumamnya dalam hati.
Saat Daritri mulai menjauh dari asrama dayang, dua sosok tubuh yang menggunakan penutup wajah terlihat melesat cepat kearah bangunan itu.
Gerakan mereka yang sangat cepat dan tidak menimbulkan suara menandakan memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi.
"Apa disini tempatnya?" tanya salah satu pendekar pada temannya.
Temannya mengangguk pelan sambil menatap sekelilingnya untuk memastikan tidak ada yang mengikuti mereka.
"Bunuh gadis itu lalu pergi dari sini secepatnya," balas temannya sambil memberi tanda untuk mulai bergerak.
"Kalian membuatku terlalu lama menunggu," sebuah suara mengejutkan mereka berdua.
"Kakang?" ucap pendekar tadi pada temannya.
"Tenanglah, dia hanya seorang diri. Aku akan menghadapinya, kau cepat bunuh gadis itu."
Lingga tersenyum dingin saat mendengar ucapan mereka berdua.
"Kau tidak berfikir untuk menghadapi ku seorang diri bukan?" tanya Lingga sinis, dia kemudian mencabut pedangnya dan siap menyerang.
"Kakang, dia sepertinya bukan pendekar sembarangan, sebaiknya kita hadapi berdua. Setelah melumpuhkannya baru kita mengurus gadis itu," ucap salah satu pendekar sambil mencabut pedangnya.
"Aku hanya butuh satu orang, berarti salah satu dari kalian akan mati hari ini." Tepat setelah Lingga menyelesaikan ucapannya, dia langsung bergerak menyerang.
"Sial," umpat mereka berdua sambil menyambut serangan Lingga.
"Sudah saatnya aku mencoba jurus itu," Lingga tiba tiba merubah gerakannya, dia menarik pedang langit kearah punggungnya sambil melepaskan aura yang cukup besar.
"Dia menyembunyikan kekuatannya, mundur!" teriak salah satu dari mereka.
"Terlambat," Lingga bergerak cepat dan melepaskan jurus pedangnya.
"Pedang penghancur langit." Dua pendekar itu tiba tiba berhenti bergerak, tak ada satupun yang mampu melihat gerakan pedang langit, yang terjadi berikutnya, mereka roboh dengan kondisi yang berbeda.
Salah satu pendekar tubuhnya terbelah menjadi dua, sedangkan yang lainnya sedikit beruntung, dia hanya mengalami patah tulang di beberapa bagian.
"Bagaimana dia bergerak secepat ini?" gumam pendekar itu dengan wajah pucat.
"Siapapun yang memerintahkan kalian kesini, dia melakukan kesalahan besar. Wardhana bukan orang yang bisa dijadikan lawan, aku bahkan lebih memilih menghadapi seratus pendekar seperti kalian dari pada harus menghadapinya," ucap Lingga pelan, dia kemudian memanggil beberapa prajurit di sekitarnya sebelum menendang tubuh pendekar itu dari atas atap.
"Tahan dia dan sampaikan pada Wardhana aku tak sengaja membunuh salah satunya," ucap Lingga sesaat sebelum dia melesat pergi.
"Tak sengaja?" ucap salah satu prajurit sambil menatap ngeri potongan tubuh yang masih berada di atas atap.
***
Daritri terlihat memasuki ruangan Wardhana diantar oleh seorang prajurit Angin Selatan.
"Tunggulah sebentar, tuan patih mungkin sebentar lagi datang," ucap Prajurit itu sambil melangkah keluar.
"Baik tuan, terima kasih," jawab Daritri pelan.
Daritri duduk di kursi yang kemarin dua tempati sambil menatap ruangan megah itu.
Pandangannya terhenti saat melihat tumpukan gulungan dimeja Wardhana. Salah satu gulungan yang berada ditengah tumpukkan bertuliskan Airin.
"Jawaban Airin?" gumamnya sedikit gugup.
__ADS_1
Daritri terdiam untuk beberapa saat, dia menoleh kearah pintu sebelum memberanikan diri membaca gulungan itu.
"Dasar gadis bodoh! sudah kukatakan untuk menjawab sesuai yang kukatakan, untung saja aku melihat jawabanmu," gumam Daritri dalam hati.
Tak lama Wardhana memasuki ruangan bersama Lembu sora dan langsung duduk dihadapan Daritri.
"Apa kau sudah lama menunggu?" tanya Wardhana pelan.
"Tidak tuan, aku baru saja sampai," jawab Daritri.
Wardhana mengangguk pelan, dia kemudian mengambil salah satu gulungan di mejanya.
"Kita mulai saja, ada beberapa pertanyaan terkait sistem kerja para dayang. Kau sudah siap?" tanya Wardhana.
"Hamba akan menjawab semua yang hamba ketahui," jawab Daritri.
"Aku sangat tertarik dengan sistem kerja kalian, jika aku tidak salah setiap dayang akan diganti saat petang bukan? apa kau yang mengaturnya?"
"Benar tuan, hamba yang mengatur semua jadwal pergantian. Hamba ingin gusti ratu dan selir Yang mulia terlayani dengan baik," jawab Daritri pelan.
"Jadi gusti ratu sama sekali tidak terlibat dalam menentukan siapa dan kapan dayang yang bertugas ditempatnya?"
"Tidak tuan, hamba hanya melaporkan pada gusti ratu untuk meminta persetujuannya. Jika gusti ratu tidak setuju, hamba akan merubahnya kembali."
"Kau mempunyai kuasa penuh ya," gumam Wardhana pelan.
"Lalu mengenai keberadaan Airin saat nyonya selir pergi ke hutan malam itu, kudengar dia sudah bertugas pagi hari, mengapa malam itu dia masih terlihat di paviliun selir?" tanya Wardhana kembali.
Daritri terlihat berfikir sejenak, dia kembali mengingat tulisan di gulungan yang tadi dibacanya.
"Saat itu Airin meminta izin padaku untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di paviliun selir, hamba sempat tidak mengizinkannya namun dia bersikeras karena itu adalah peninggalan ibunya yang sudah tewas," jawab Daritri.
"Peninggalan ibunya?" Wardhana mengernyitkan dahinya.
"Benar tuan, sebuah kain putih," jawab Daritri.
"Apa kau begitu mudah mengizinkan seseorang masuk paviliun selir diluar waktu tugasnya hanya dengan alasan seperti itu? bagaimana jika dia berniat buruk? kau yang akan bertanggung jawab jika sesuatu terjadi pada nyonya selir," ucap Wardhana tajam.
"Hamba mohon maaf tuan, Airin memohon pada hamba sambil menangis karena takut kain itu hilang. Saat itu sebagai sesama wanita hamba mengizinkan dengan catatan harus ditemani prajurit yang berjaga."
Daritri mengangguk cepat, dia cukup yakin karena itulah yang dia baca pada gulungan yang saat ini berada digenggaman Wardhana.
"Kau kemarin mengatakan, dalam perekrutan dayang, dirimu membentuk tim bukan? apa kau menyelidiki masa lalu mereka? mengingat dayang selalu berada di dekat gusti ratu dan selir raja," Wardhana menatap Daritri tajam.
"Kami hanya bertugas menyeleksi ditahap akhir tuan, untuk penerimaan awal dan penyelidikan masa lalu berada dibawah kuasa tuan Setya yang saat itu bertugas sebagai ketua tim," jawab Daritri.
"Setya?" Wardhana menoleh kearah Lembu sora, "Kau mengenalnya?" tanya Wardhana.
"Setya adalah prajurit angin selatan yang awalnya bertugas sebagai teliksandi. Setelah pertempuran dengan Majasari, dia diangkat menjadi komandan pasukan Petir Malwageni yang membawahi seluruh teliksandi," jawab Sora.
"Komandan Petir Malwageni? bagaimana orang yang belum pernah kudengar namanya bisa menduduki posisi penting seperti itu?" ucap Wardhana heran.
"Petir Malwageni berada dibawah garis perintah komandan pasukan Api merah tuan," ucap Lembu sora setengah berbisik.
"Aku mengerti sekarang," balas Wardhana pelan.
Malwageni memang terus memperkuat militernya setelah berhasil menaklukkan Majasari. Selain angin selatan dan resimen api yang bertugas menjaga raja, mereka membentuk pasukan api merah untuk mendukung Hibata dalam mengumpulkan semua informasi yang dibutuhkan.
"Sepertinya sudah cukup untuk hari ini, aku tinggal mempertemukan mu dengan Airin," Wardhana menutup gulungan yang ada ditangannya.
"Panggil Airin kemari," pintanya pada Lembu sora.
"Baik tuan," jawab Sora sambil melangkah pergi.
"Aku punya sedikit cerita untukmu mengenai nyonya selir. Sudah tidak terhitung berapa kali aku hampir mati dalam sebuah pertempuran namun aku selalu merasa takut jika menghadapi masalah yang berhubungan dengan nyonya Mentari.
Beliau adalah orang yang selalu menemani Yang mulia dari awal dia mengembara di dunia persilatan sampai saat ini. Begitu besarnya rasa cinta Yang mulia pada nyonya selir, kadang membuatnya terlihat menakutkan.
Aku masih mengingat dengan sangat jelas bagaimana Yang mulia hampir membantai semua orang yang ada di sekte kelelawar hijau karena mereka melukai nyonya Mentari.
Yang mulia tak akan segan membunuh siapapun yang berani mencelakai selir kesayangannya bahkan jika itu aku," ucap Wardhana pelan.
__ADS_1
Daritri terlihat menelan ludahnya saat mendengar cerita Wardhana. Dia bisa membayangkan seberapa besar cinta Sabrang pada Mentari jika Wardhana yang saat ini menjadi orang kepercayaan pun tak segan dibunuhnya.
***
Rubah Putih tampak menatap gunung tinggi menjulang dihadapannya, sesekali dia terlihat memejamkan matanya seolah sedang mengenang sesuatu.
"Sudah sangat lama sejak saat itu namun tak sedikitpun tempat ini berubah," ucapnya dalam hati.
"Sepertinya cukup sampai disini, aku sudah melihat reaksi tubuhmu yang mulai terbiasa dengan tekanan udara sisi gelap alam semesta. Besok pagi kita kembali dan akan kuberi waktu dua hari sebelum kita berlatih," ucap Rubah Putih pelan.
Sabrang yang sedang duduk bersila hanya mengangguk pelan, walaupun dia sudah mulai bisa menyesuaikan diri namun untuk bergerak bebas, tubuhnya belum mampu.
"Aku akan mencari sesuatu untuk dimakan, kau sebaiknya mencari ranting pohon untuk membuat perapian karena suhu ditempat ini pada malam hari sangat dingin," ucap Rubah Putih sambil melangkah pergi.
"Kau masih memikirkan gadis itu?" tanya Naga api tiba tiba saat melihat Sabrang tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya.
"Dia bahkan rela melepaskan posisi ratu yang kuberikan padanya hanya karena ingin aku mengikuti amanah ibu, apa kau pikir orang seperti dia akan mengkhianati ku?"
"Kenapa kau tidak mencari tau sendiri? kau berkata seolah perduli padanya tapi sampai detik ini kau hanya diam tak berusaha membelanya," balas Naga Api.
"Aku bukan tidak ingin mencarinya dan menanyakan langsung apa yang terjadi sebenarnya namun posisiku sebagai raja membuatku tidak bisa melakukannya.
Pengkhianatan pernah membuat ayah terbunuh dan Malwageni hancur, jika aku membela Mentari sebelum mengetahui kebenarannya maka mereka akan menganggap aku melindungi seorang pengkhianat, dan itu bisa membuat keraton kacau.
Sekarang aku mengerti betapa sulit ayah dulu mengatur kerajaan," ucap Sabrang lirih.
"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?"
Sabrang menggeleng pelan, saat ini dia benar benar merasa tersandera oleh kepentingan kerajaan, dia bisa saja membela Mentari terlepas salah atau benar, dengan ilmu kanuragan yang dimiliki, tak akan ada yang bisa menghentikannya.
Namun jika dia melakukan itu maka Malwageni akan kacau dan Saung Galah mungkin akan memanfaatkan situasi untuk menyerang.
Sabrang membuka matanya saat mulai merasakan udara dingin menyentuh tubuhnya.
"Sepertinya hari mulai sore, sebaiknya aku mencari kayu bakar atau kakek itu akan memarahiku," ucap Sabrang sambil berjalan kearah kaki gunung yang tak jauh dari tempatnya duduk.
"Tempat ini benar benar membuatku bingung, aku bahkan tak bisa menggunakan mata bulan. Sedikit saja aku menggunakan tenaga dalam maka nafasku langsung sesak," gumam Sabrang sambil memungut beberapa ranting yang ada disekitarnya.
Setelah dirasa cukup, Sabrang mengikat ranting itu dan memanggulnya. Baru beberapa langkah Sabrang berjalan, dia tiba tiba menghentikan langkahnya saat merasakan sesuatu.
Sabrang tampak bingung, seharusnya tanpa tenaga dalam, dia tidak bisa merasakan kehadiran seseorang.
"Yang mulia," terdengar suara bergetar seorang wanita yang sangat dikenalnya.
Sabrang terdiam, dia berusaha menguasai tubuhnya yang bergetar hebat.
"Apa itu benar kau? katakan padaku bagaimana kau menemukanku?" Sabrang masih belum berani menoleh karena takut jika itu hanya khayalannya.
"Hamba langsung berlari kemari saat merasakan sesuatu," ucap Mentari lirih, air mata mulai menetes di pipinya.
"Jadi aku benar benar tidak sedang bermimpi?"
"Maafkan hamba Yang mulia, kejadian malam itu...," Mentari tidak melanjutkan ucapannya saat melihat lengan kiri Sabrang terangkat seolah memintanya berhenti bicara.
"Jangan mencoba menjelaskan apapun padaku, tak pernah sedetikpun aku mencurigai mu," ucap Sabrang pelan.
"Terima kasih Yang mulia," jawab Mentari pelan.
Sabrang membuang kayu bakar yang ada di pundaknya dan berjalan mendekati Mentari yang masih berlutut.
"Yang mulia," Mentari terus menangis dengan wajah tertunduk.
Sabrang langsung memeluk tubuh gadis yang sangat dicintainya itu, sebuah pelukan erat yang seolah tak ingin dilepaskannya lagi.
"Apa kau tidak percaya padaku? kenapa kau harus lari dari keraton? aku hampir gila memikirkan keselamatanmu," ucap Sabrang pelan.
"Maafkan aku Yang mulia," hanya kalimat itu yang keluar berulang kali dari mulut Mentari.
"Kembalilah ke keraton bersamaku, aku akan mengurus semuanya," ucap Sabrang.
"Tapi Yang mulia..."
__ADS_1
"Tidak ada alasan, aku memintamu bukan sebagai raja namun sebagai tuan muda yang kau temui dulu. Kembalilah bersamaku," balas Sabrang.
Tangis Mentari semakin menjadi, dia terlihat menganggukkan kepalanya berkali kali setelah mendengar ajakan Sabrang.