Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Ilmu yang Sangat Mengerikan


__ADS_3

Sabrang kembali terpental mundur namun kali ini tubuhnya sedikit terlindungi dinding es yang menyelimutinya. Terlihat dinding es tersebut retak terkena tinju milik pria tua tersebut.


"Serangannya benar benar kuat, jika tidak ada pelindung es ini aku pasti sudah terluka parah". Sabrang menoleh ke arah Mentari yang melihat dari kejauhan dengan perasaan cemas.


"Ku akui kau sangat mengagumkan nak, bagaimana tubuhmu bisa menerima hawa panas Pedang naga api kemudian tiba tiba tubuhmu membeku bagai es. Dua unsur yang bertolak belakang namun tubuhmu mampu menerimanya. Aku semakin tertarik padamu".


Pria tua tersebut menghentakan kaki ke tanah, beberapa saat kemudian batu yang ada disekitarnya mulai melayang.


Pria tersebut tersenyum memandang Sabrang "Ku akui perisai es yang kau buat sangat merepotkan namun bukan kau saja yang bisa menggunakan mainan seperti itu".


"Tinju penghancur angin" dalam hitungan detik puluhan batu yang melayang melesat cepat ke arah Sabrang.


Sabrang meningkatkan tenaga dalamnya membuat perisai es yang lebih tebal. Dia merasa serangan kali ini benar benar akan membuatnya terpojok.


Puluhan batu mulai menghantam perisai es Sabrang. Perisai es tersebut seperti dapat membaca arah gerakan batu yang menyerangnya.


Sabrang melompat mundur saat perisainya mulai retak terkena hantaman batu dengan kecepatan yang sangat tinggi.


"Bahkan perisai es ku dapat dengan mudah di hancurkannya". Sabrang mengatur nafasnya, membuat perisai es membutuhkan tenaga dalam yang besar.


"Aku harus melakukan sesuatu" belum sempat Sabrang berfikir tiba tiba pria tersebut muncul dibelakangnya.


"Tapak Naga peremuk tulang".


"Duarrrrrr" terdengar tenaga dalam besar beradu di udara membuat tubuh Sabrang terpental jauh. Dia bangkit kembali, darah mulai keluar dari hidungnya.


Sabrang sedikit bernafas lega karena beberapa detik sebelum serangan pria tersebut mengenainya dia sempat membuat perisai es di punggungnya.


"Es itu merepotkan sekali" gumam pria tersebut.


"Apa hanya ini kemampuanmu anak muda? Kau seperti anak kecil yang bergantung pada naga api. Jiwamu perlahan akan dikendalikannya jika selalu bergantung pada pedangmu".


Pria tersebut kembali menyerang Sabrang cepat. Batu disekitar Sabrang kembali melayang di udara, sadar dalam bahaya Sabrang melompat ke udara.


"Hujan pisau es utara" puluhan es berbentuk pisau melesat cepat ke arah pria tersebut.


Pria tersebut terlihat mengendalikan batu yang beterbangan membentuk perisai di depannya.


Pisau es yang digunakan Sabrang menghantam perisai batu dan hancur berkeping keping.


"Menarik" Pria tua tersebut tersenyum sesaat sebelum merapal sebuah jurus.

__ADS_1


"Jurus langit menekan bumi" Tiba tiba tubuh Sabrang terjatuh cepat ke tanah. Dia merasakan gravitasi disekitarnya menjadi sangat berat.


Tubuhnya bahkan seperti menempel di tanah tak bisa digerakkan. Dia mencoba untuk bangkit namun tidak bisa.


"Kenapa tubuhku tak bisa digerakkan seperti ada batu yang menimpahku".


Mentari mencoba berlari mendekati Sabrang untuk membantunya namun pria tersebut mengarahkan tangannya kearah Mentari.


Sama seperti Sabrang tiba tiba Mentari terjatuh di tanah dan tubuhnya tidak bisa digerakkan.


"Diamlah di sana nona manis, aku sedang bersenang senang" Pria tersebut melangkah mendekati Sabrang.


"Aku tidak tau ilmu apa yang kau kuasai, semua yang kulihat hanya jurus tiruan. Kau sangat menyedihkan".


Pria tersebut kembali merapal sebuah jurus namun tiba tiba gerakannya terhenti.


"Segel bayangan? Kau bahkan menguasai jurus kuno ini. Kau lebih menakutkan dari yang kukira nak".


Pria tersebut mengalirkan tenaga dalam ke seluruh tubuhnya dan beberapa saat kemudian dia mulai bisa bergerak pelan.


"Gawat! Tenaga dalamku tidak cukup menahannya" gumam Sabrang dalam hati. Staminanya sudah benar benar mencapai batasnya.


"Siapa kau sebenarnya nak? Dan apa yang sebenarnya direncanakan Suliwa terhadapmu?".


"Memohonlah padaku nak, mungkin aku akan mengampunimu kali ini".


Sabrang tersenyum kecil memandang pria paruh baya dihadapannya.


"Kenapa tetua begitu ingin aku memohon?".


Kakek itu menatap tajam "Kau jangan menipuku, setiap orang pasti takut mati aku yakin kau pun begitu".


Sabrang memejamkan matanya "Kematianku bukan di tangan anda ataupun yang lainnya, jangan pernah memintaku memohon hal konyol seperti itu".


Tiba tiba tubuh Sabrang mengeluarkan aura hitam pekat membuat pria tersebut terkejut. Dia mundur beberapa langkah, wajahnnya benar benar buruk seperti melihat sesuatu yang sangat mengerikan.


"Dari mana kau belajar ilmu terkutuk itu? Kau sangat berbahaya dari perkiraanku, aku harus membunuhmu"


Sabrang mulai bisa bergerak, dia bangkit perlahan dengan sisa staminanya. Tangan kanannya mulai membentuk sebuah pedang dari es.


"Ini kesempatan terakhirku, ku harap ini berhasil".

__ADS_1


Pria tersebut mulai bisa menguasai rasa terkejutnya dan dia mulai merapal sebuah jurus.


"Maaf nak aku benar benar harus membunuhmu, kau tidak sadar ilmu yang kau gunakan benar benar sangat berbahaya kelak".


Tubuh pria tersebut melesat ke arah Sabrang. Sabrang memejamkan matanya sesaat sebelum tubuhnya menghilang dari hadapan pria tersebut.


"Jurus Pedang pemusnah raga".


Sabrang muncul dibelakang pria tersebut dan mulai menyerang dengan cepat.


"Kecepatan ini? Walaupun belum secepat orang itu tapi aku yakin ini jurusnya".


Sabrang kembali menghilang dari pandangan, membuat pria tersebut mundur beberapa langkah. Namun tiba tiba dari arah kanan Sabrang muncul dan menyerang dengan kecepatan yang mengerikan.


"Gawat aku lengah" Pedang yang terbuat dari Es melesat cepat ke arah tubuh pria tersebut. Namun sesaat sebelum menghantam tubuhnya pedang es hancur berkeping keping.


"Ah sudah kuduga pedang ini tidak mampu menahan jurus yang kugunakan". Sabrang tersenyum sebelum tubuhnya tumbang dihadapan pria tersebut.


Pria tua itu menatap Sabrang yang tidak sadarkan diri dihadapannya. Dia benar benar tidak mengerti anak muda dihadapannya menguasai jurus yang sangat menakutkan.


"Ini bukan jurus tiruan, dia benar benar bisa menguasai jurus itu. Siapa kau sebenarnya nak?".


Pria tersebut berjongkok dihadapan Sabrang, dia diam beberapa saat memandang Sabrang seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Aku benar benar harus membunuhmu sebelum terlambat. Aku sebenarnya hanya ingin mengujimu namun aku benar benar terkejut melihat bakatmu".


Pria tersebut merapal sebuah jurus dan siap menyerang Sabrang yang sudah tidak sadarkan diri.


"Coba saja kau lakukan, aku akan membunuhmu". Mentari mulai bisa bergerak, dia bangkit dan mendekati pria tersebut. Matanya mulai berair dan menatap tajam.


"Kau tidak tau apa apa nona, pergilah, tidak usah ikut campur aku bisa membunuhmu bahkan dengan tangan kiriku".


"Aku tidak perduli kau akan membunuhku berkali kali namun jika kau menyentuhnya aku benar benar akan membunuhmu walaupun aku harus mati".


Pria tersebut menatap Mentari, dia kembali mengarahkan tangannya membuat Mentari kembali terhempas ke tanah.


"Aku akan membunuhmu" Mentari kembali bangkit dengan sekuat tenaga, darah mulai keluar dari hidungnya.


"Nona, kenapa kau rela mati demi dirinya? Kau tidak tau pemuda ini sangat berbahaya apabila dia menyalahgunakan ilmunya". Pria tersebut dibuat heran dengan tingkah Mentari yang mati matian membela Sabrang.


"Aku tidak peduli seberapa bahaya tuan muda, dia orang yang sangat berarti buatku. Anda pun akan melakukan hal yang sama denganku jika orang yang paling berharga bagimu akan dibunuh dihadapanmu".

__ADS_1


Mentari mulai berjalan mendekati pria tersebut, darah kini mulai keluar dari mulutnya. Jurus langit menekan bumi benar benar membuat seluruh tubuh Mentari merasakan sakit yang luar biasa.


"Kau membuat semua menjadi semakin rumit nona" Pria tersebut menggeleng pelan.


__ADS_2