Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Menyusup ke Ibukota Arkantara II


__ADS_3

"Semua berawal dari penemuan sebuah batu kecil berwarna merah saat aku dan adikku sedang berburu. Beberapa hari setelah adikku menemukan batu merah itu, seorang pendekar datang menemuinya di keraton. Setelah kedatangan pendekar misterius itu, Saragi memohon izin pada ayah untuk meninggalkan keraton selama beberapa hari.


Perangai adikku mulai berubah setelah kembali ke keraton, dia mulai berambisi menduduki tahta Arkantara dan memaksa ayah untuk segera menobatkannya sebagai raja. Hubungan kami yang awalnya dekat menjadi renggang karena dia menganggap ku saingan untuk merebut tahta.


Perlahan namun pasti, dia mulai menyusupkan puluhan pendekar ke dalam prajurit keraton yang belakangan diketahui jik mereka adalah pasukan kuil suci. Dan puncaknya saat ayah tewas, dia merebut tahta kerajaan dan menangkap aku dengan tuduhan ingin memberontak. Aku berhasil melarikan diri dan bersembunyi di lembah ini," Maruli mulai menceritakan pada Sabrang tentang kemunculan pasukan kuil suci.


"Batu merah?" Sabrang dan Emmy saling berpandangan.


"Batu itu hanya sebesar kepalan tanganku tapi aku merasa ada yang aneh dengan batu itu. Aku sempat beberapa kali memegangnya, dan merasa ada aura jahat yang menyelimuti batu merah itu," jawab Maruli pelan.


"Mustika merah delima, apakah anda bisa mengantarku ketempat Saragi menemukan batu itu?" tanya Emmy tiba tiba.


"Aku akan mencobanya walau sedikit sulit karena hutan itu berada tepat di belakang keraton Arkantara. Jika aku boleh bertanya, ada masalah apa kalian dengan pendekar kuil suci?" tanya Maruli.


"Ada sedikit masalah di masa lalu, dan aku harus memastikan sesuatu," jawab Emmy pelan, dia tidak mungkin mengatakan jika kemunculan mereka kemungkinan berhubungan dengan kitab Sabdo Loji.


"Apapun yang akan kalian lakukan, sebaiknya berhati hati menghadapi para pendekar kuil suci. Mereka memiliki ilmu kanuragan yang aneh, setiap orang yang terbunuh saat bertarung dengan mereka selalu memiliki luka yang sama, seluruh tubuhnya dipenuhi luka pedang," ucap Maruli memperingatkan.


"Luka di seluruh tubuh? jangan jangan?" Emmy kembali teringat luka yang didapat Ciha saat berada di dimensi ruang dan waktu.


Maruli menarik nafasnya panjang sambil menatap Sabrang, walau ilmu kanuragan yang ditunjukkan Sabrang kemarin tinggi tapi dia tetap khawatir jika pemuda itu harus menghadapi pasukan kuil suci.


"Beristirahatlah, besok sebelum matahari terbit aku akan mengantar kalian masuk ke ibukota tapi aku tidak menjamin keselamatan kalian setelah didalam ibukota," Maruli menundukkan kepalanya sambil melangkah pergi.


"Yang mulia luka pedang di seluruh tubuh yang dia ceritakan apa berhubungan dengan Ciha?" tanya Emmy setelah Maruli pergi.


"Aku juga berfikir begitu, paman Wardhana pernah berkata padaku saat dia dan Rubah Putih keluar dari dimensi ruang dan waktu, mereka merasa ada satu orang yang ikut keluar dari ruang dimensi itu. Sepertinya pasukan kuil suci dan dimensi ruang waktu memiliki keterkaitan," jawab Sabrang pelan.


"Jika benar orang yang ikut keluar bersama paman Wardhana adalah salah satu pasukan kuil suci, lalu siapa yang mengurung dia di sana?" ucap Emmy sambil berfikir.


"Kita akan mengetahuinya jika berhasil menyelidiki siapa mereka sebenarnya, namun sebelum itu kita akan pergi ke gunung Sinabung terlebih dahulu."


"Gunung Sinabung?" Emmy mengernyitkan dahinya.


"Ceritanya panjang dan banyak hal terjadi setelah kejadian di gunung Padang. Ada orang yang harus kutemui dan menurut guru, dia kemungkinan berada di puncak.gunung Sinabung," balas Sabrang sambil mengajak Emmy untuk beristirahat.


***


Agam Argani terlihat berjalan memasuki ruang latihan yang berada di dalam gua. Dia kemudian meminta beberapa pendekar Kuil Suci yang kebetulan berada di dalam gua untuk keluar.


"Keluarlah, dan jangan ganggu aku untuk beberapa hari ini," ucap Agam yang langsung di balas anggukan mereka.


Agam kemudian duduk di atas sebuah batu sambil memejamkan matanya.


"Luka sialan ini benar benar menghambat perkembangan ilmu kanuraganku, aku harus secepatnya membangkitkan tuan Mandala," Agam mulai mengalirkan tenaga dalam dan memusatkan di bagian perut.

__ADS_1


Setelah rasa sakit yang selalu dirasakannya setiap hari itu mulai menghilang, Agam bangkit dari dari duduknya dan menarik tuas kecil yang berada di dekat batu yang dia duduki.


Saat dia mulai menarik tuas itu, seorang pendekar tampak berlari dari luar gua dengan wajah takut.


"Maaf ketua, aku terlambat," ucap pendekar itu terbata bata.


"Kau selalu terlambat, Aidan. Jika kau tidak menguasai jurus es untuk membekukan tubuh orang itu, sudah kubunuh kau," balas Agam kesal.


"Maaf ketua, ada sedikit masalah yang harus aku selesaikan," jawab Aidan pelan.


Sebuah pintu yang berada di dinding gua terbuka saat mereka berbicara, aura dingin langsung meluap dari dalam ruang rahasia itu.


"Lupakan masalah itu, ayo masuk," Agam melangkah masuk kedalam ruang rahasia yang seluruh dindingnya diselimuti es.


Sesosok mayat tampak terkurung dalam bongkahan es yang sangat tebal. Cukup lama Agam menatap mayat seorang pria itu takjub.


"Sayang sekali dia sudah mati, tubuhnya benar benar istimewa dan sangat cocok untuk menjadi tubuh baru tuan Mandala Rakyan," ucap Agam kagum.


"Bukankah tubuh trah Dwipa selalu istimewa?" balas Aidan pelan.


Agam mengangguk pelan sambil memperhatikan tubuh pendekar itu.


"Mata itu seolah bisa membunuh siapa saja dalam sekejap, aku yakin dengan tubuh ini, tuan Mandala Rakyan akan menjadi pendekar yang tak terkalahkan. Kita beruntung menemukan mayat Naraya Dwipa sebelum membusuk."


"Bagaimana anda bisa mendapatkan tubuh Naraya ketua?" tanya Aidan penasaran.


"Tubuh tujuh bintang dengan mata bulannya, aku tidak bisa membayangkan seberapa besar kekuatan yang akan dimiliki tuan Mandala," jawab Aidan.


"Ketua, Yang mulia Saragi memanggil anda," seorang prajurit tiba tiba berteriak dari luar gua.


"Raja lemah itu selalu menyusahkan ku, jika semua Mustika Merah delima telah kudapatkan, akan kubunuh dia dengan tanganku," Agam mengepalkan tangan geram.


"Pastikan ruangan ini terus membeku untuk menjaga mayat Naraya tetap utuh sampai kita berhasil mengumpulkan semua Mustika Merah Demila," perintah Agam sambil melangkah keluar.


"Baik ketua," jawab Aidan cepat.


***


"Saat ayah masih berkuasa, dia diam diam membangun jalur rahasia untuk keluar dari Ibukota untuk mengantisipasi kemungkinan pengepungan oleh musuh. Ayah membangun jalur bawah tanah yang menghubungkan lembah ini dengan salah satu rumah orang kepercayaannya di ibukota, itulah sebabnya aku memilih lembah ini sebagai tempat persembunyian," Maruli menunjukkan sebuah gua yang berada di lembah itu.


"Apa adikmu tidak mengetahui jalan rahasia ini tuan?" tanya Emmy khawatir.


"Tidak, jalur rahasia ini dibuat hanya untuk raja dan ayah sebenarnya telah menunjukku sebagai pewarisnya sebelum Saragi mengambil paksa tahta Arkantara," Maruli mulai melangkah masuk gua diikuti Sabrang dan Emmy.


"Keraton Arkantara sengaja di bangun di tempat ini karena jalurnya yang cukup sulit. Untuk masuk ibukota hanya ada dua jalur yang bisa ditempuh dan semua sudah dijaga oleh pasukan Kuil Suci, jika tidak ada jalur rahasia ini kalian tidak akan bisa masuk tanpa membuat keributan," Maruli mulai menjelaskan letak keraton Arkantara dan keunikan tempat itu.

__ADS_1


"Sejak Pasukan kuil suci menjadi bagian dari keraton, Arkantara yang tadinya hanya sebuah kerajaan kecil berubah menjadi kekuatan besar yang ditakuti. Seni perang dan ilmu pengetahuan yang dibawa oleh pendekar kuil suci lah yang membuat prajurit Arkantara menjadi sangat kuat.


Namun semua kemajuan ilmu pengetahuan itu tidak diimbangi dengan kehidupan rakyatnya, Saragi memimpin Arkantara dengan tangan besi. Dia akan membunuh siapapun yang mencoba menentangnya termasuk puluhan menteri yang sangat setia pada ayah. Adikku sebenarnya adalah anak yang baik, namun perkenalan dengan pasukan kuil suci merubah semua sifatnya," Maruli menghela nafas panjang.


"Pasukan Kuil Suci, aku semakin tertarik pada mereka," ucap Sabrang pelan, dia berjalan cepat saat melihat ujung lorong itu.


"Seperti yang kukatakan tadi, rasa ingin tau kalian bisa berujung pada kematian, mereka bukan pendekar yang bisa dikalahkan dengan mudah," Maruli mencoba memperingatkan Sabrang.


"Anda tenang saja tuan, dengan kemampuannya saat ini mungkin kuil suci yang harus berhati hati. Dia kini terlihat jauh lebih tenang sehingga semua kelemahannya seolah tertutup. Saat ini aku tidak yakin ada pendekar yang bisa menandinginya," jawab Emmy sambil menatap Sabrang yang berjalan jauh di depan.


Maruli terdiam setelah mendengar ucapan Emmy.


"Sekuat itukah pemuda itu? selain jurus aneh yang kemarin dia gunakan saat menghentikan waktu, aku tidak melihat ada yang spesial darinya tapi kenapa wanita ini begitu yakin dengan kemampuannya?" ucap Maruli dalam hati.


Setelah sampai di ujung lorong, Maruli memukul dinding beberapa kali seolah memberi tanda pada seseorang. Tak lama langit langit gua bergeser dan terlihat seorang pemuda dari atas.


"Pangerang?" pemuda itu tampak bingung saat melihat Sabrang dan Emmy.


"Tenanglah Arga, mereka adalah temanku," ucap Maruli pelan.


Arga mengangguk lega, dia mengulurkan sebuah tali yang sudah dirangkai membentuk anak tangga.


Sebuah penginapan yang cukup besar menyambut Sabrang saat naik keatas, mereka muncul tepat di ruangan kosong dekat dengan dapur penginapan.


"Penginapan Daun hijau adalah penginapan terbesar di ibukota Arkantara, dari sinilah kami bertukar informasi tentang situasi keraton. Puluhan pendekar datang dan pergi setiap saat, tak akan ada yang akan mencurigai kalian," ucap Maruli menjelaskan.


"Arga berikan mereka kamar terbaik yang khusus bagi para pedagang, aku tuan Damar dan istirnya dijamu selama berada di sini," pinta Maruli.


"Baik Pangeran," Arga meminta Sabrang dan Emmy mengikutinya.


"Mari ikut aku tuan," ucap Arga sopan.


Sabrang mengangguk pelan sambil mengikuti Arga dari belakang, sesekali dia melihat belasan pintu kamar yang dilewatinya. Salah satu kamar langsung menarik perhatiannya saat dia merasakan aura besar dari dalam kamar itu.


"Maaf tuan, apakah benar di sini adalah kamar khusus bagi para pedagang?" tanya Sabrang pelan.


"Benar tuan, beberapa kamar ini harganya sangat mahal dan memang kami sediakan untuk para pedagang," jawab Arga bingung.


"Tidak mungkin seorang pedagang memiliki tenaga dalam sebesar ini, aku yakin orang di kamar itu adalah pendekar pilih tanding," ucap Sabrang dalam hati.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kali ini saya mau menjelaskan tentang Naraya yang sempat di sebut oleh Agam. Pasti banyak yang bertanya apakah Naraya masih hidup?


Saya pastikan Naraya sudah mati, jadi yang ada di gua es itu hanya tubuhnya yang akan digunakan oleh Agam untuk membangkitkan Mandala Rakyan.

__ADS_1


Saya juga mau mengucapkan terima kasih pada pasukan sekte TUNA ASMARA yang membantu menaikan kembali rating bintang PNA yang tadi malam diturunkan okeh sekelompok orang tak bertanggung jawab... terima kasih, kalian terbaikkkkk


__ADS_2