
Delapan Tahun kemudian…………………..
Seorang anak berlari ke arah ruang latihan Sekte Pedang Naga Api dengan wajah yang terlihat kesal. Umurnya sekitar Sembilan tahun, dia tidak mempedulikan beberapa orang yang mengejar di belakangnya. Begitu sampai di tempat latihan dia menoleh mencari seseorang.
“Kakek aku sudah bosan latihan mengambil air terus. Sudah hampir satu tahun aku mengambil air di sumur,” anak itu berkata sambil menghampiri lelaki setengah baya.
“Kapan aku belajar ilmu silat?” tanya anak itu sambil merajuk pada ki Ageng, tetua Sekte Pedang naga api.
"Kau pasti bolos latihan lagi hari ini?” Ki Ageng menatap tajam Sabrang.
Beberapa saat kemudian kakak seperguruan yang mengejarnya tiba ditempat latihan.
“Maaf guru kami tidak berhasil menahannya, dia lari seperti kerasukan setan,” ujar Satria sambil mendengus kesal.
Satria adalah kakak seperguruan Sabrang. Ilmu silatnya sudah di tahap Pendekar rendah tingkat delapan. Satria tidak habis pikir saat mengejar Sabrang walaupun, dia sudah menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, tetapi kecepatan sabrang jauh di atasnya.
“Latihan apanya, aku hanya disuruh angkut air tiap hari, apa pendekar tugasnya mengambil air?” tanya Sabrang masih meluapkan emosinya.
__ADS_1
Melihat kejadian itu Ki ageng hanya tertawa kemudian menasehati Sabrang,
“Sabrang ilmu silat itu gampang dipelajari, tetapi kau harus membentuk pondasinya terlebih dahulu. Kau harus mempunyai tubuh yang kuat dan stamina yang bagus. Itulah gunanya latihan fisikmu.”
Ki Ageng pun cukup terkejut melihat perkembangan sabrang. Dia sangat paham kemampuan ilmu meringankan tubuh Satria, tetapi selalu tertinggal jauh jika mengejar sabrang.
“Bakat memang tidak pernah menipu yang mulia.” Ki Ageng bergumam dalam hati.
Ki Ageng memang sudah menyadari dari awal jika Sabrang memiliki bakat yang luar biasa. Jika dia tidak mengingat pesan ratu Sekar Pitaloka untuk menjauhkan Sabrang dari dunia persilatan. Mungkin sudah dari kecil dia mengajari ilmu sekte Pedang naga api.
“Entah sampai kapan hamba bisa menjaga Sabrang Yang mulia, takdir sepertinya punya jalannya sendiri,” gumam Ki Ageng
"Dasar anak keras kepala, baiklah ikut denganku! Akan kuajari kau satu jurus, tetapi ingat janjimu untuk lebih giat berlatih dan untuk kalian kembalilah berlatih!” seru Ki Ageng pada Satria dan temannya.
“Baik guru kami mohon diri,” pamit Satria lega melihat gurunya tidak marah atas keteledoran mereka.
***
__ADS_1
Di halaman belakang tempat latihan, Ki Ageng mengambil dua buah ranting pohon dan melemparkan salah satunya ke arah Sabrang. Sabrang menangkap ranting itu dengan semangat.
“Lihat dan dengarkan kakek baik-baik! Ilmu pedang sekte kita menitik beratkan pada kelenturan, kecepatan dan penempatan posisimu. Saat kau menghadapi lawan yang cukup tangguh perhatikan gerakan kakimu terutama, langkah terakhir sebelum pedangmu mengenai lawanmu!” Ki Ageng mempraktekan dasar dari jurus Pedang api abadi pada Sabrang menggunakan ranting di tangannya.
“Gunakan kecepatanmu di saat yang tepat. Kau harus tau kapan saat harus melambat, kapan harus meningkatkan kecepatanmu. Semua tergantung sikap dan kecepatan lawanmu. Menyatulah dengan pedangmu, rasakan kehadirannya dan saat semua kecepatan, ketepatan dan kelenturan bersatu dalam irama pedangmu maka jurus ini hampir tidak ada celah.”
Ranting tersebut mengenai pohon di depannya, terlihat bekas sayatan di batang pohon tersebut. Sabrang memperhatikan dengan seksama dan merasa takjub melihat kehebatan jurus pedang api abadi.
“Apa kau paham Sabrang? Atau kakek terlalu cepat memperagakannya?” Ki Ageng bertanya karena Sabrang hanya diam tidak berkomentar.
“Tidak Kek, aku bisa mengingatnya. Tapi kenapa tidak ada peningkatan suhu di sekitar kita, Kek? “.
Sabrang pernah melihat kakeknya mempraktekan ilmu Pedang api abadi di ruang latihan dan ketika itu suhu ruangan menjadi naik. Sejak saat itu dia ingin belajar ilmu tersebut.
“Apa kakek tidak akan mengajariku ilmu tersebut?” Sabrang sedikit protes.
Ki ageng tersenyum kecil dan berkata, “Sabrang kau tidak akan bisa memahami angka delapan jika angka satu saja belum kau pahami. Pedang api abadi ini membutuhkan tenaga dalam yang besar dan kematanganmu dalam berpikir. Itulah kenapa kakek menyuruh mu mengambil air setiap hari untuk melatih fisikmu . Belajarlah tahap demi tahap agar pondasimu kuat.” Ki Ageng melangkah dan duduk di sebuah batu.
__ADS_1
“Sekarang coba tunjukan apa yang kau pelajari dari gerakan kakek tadi!” Sabrang mengangkat ranting pohon dan mulai mengayunkan seperti yang diperagakan ki Ageng.