
(Sekte Rajawali Emas)
Lasmini melangkah menuju Aula utama untuk bertemu dengan Sudarta, ada tugas khusus yang akan diberikan untuknya.
"Kencana ungu?" Lasmini mengernyitkan dahinya. "Bukankah mereka sekte yang sangat tertutup?".
Sudarta mengangguk pelan, Selama ini Sekte Kencana ungu memang sangat menutup diri dari dari dunia persilatan. Bahkan tak ada yang tau apakah mereka aliran hitam atau putih. Karena setiap pendekar yang berkunjung akan berakhir dengan pengusiran baik secara halus maupun secara paksa.
"Mereka mengirimkan pesan pada kita meminta bantuan mendesak" Sudarta menyerahkan sebuah gulungan kepada Lasmini.
"Bukankah ini aneh? Kenapa mereka tiba tiba meminta bantuan pada kita? Apakah ini bukan jebakan?".
Sudarta memejamkan matanya sesaat. Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Aku tidak tau apa yang mereka rencanakan tetapi seperti kata tuan Wijaya kita membutuhkan banyak dukungan untuk melawan Majasari dan pendukungnya. Jika mereka benar membutuhkan bantuan kita bukankah ini satu kesempatan untuk menjalin satu kesepakatan dengan mereka?".
"Aku mengirimu karena kau salah satu pendekar terbaik disini. Jika ini memang jebakan kau bisa langsung mengatasinya".
Lasmini mengangguk pelan, dia memahami maksud Sudarta mengirimnya.
"Baik tetua aku akan pergi ke Sekte Kencana ungu".
"Kau tidak akan pergi sendirian Lasmini, tuan Wijaya akan menemanimu. Gunakan kuda terbaik di sekte kita agar kalian segera sampai".
"Baik tetua" Lasmini melangkah pergi.
.........................
(Sekte Kencana Ungu)
__ADS_1
Seseorang melangkah pelan menuju sebuah kamar tak jauh dari Aula pertemuan. Sikapnya yang waspada seolah tak ingin ada seorangpun mengetahui dia menuju kamar tersebut.
"Sudah ada kabar dari Rajawali Emas?". Seorang wanita bertanya penasaran.
"Belum ada jawaban dari mereka nona, Sangat sulit buat mereka percaya pada kita setelah apa yang kita lakukan selama ini". Seorang pria membuka penutup kepalanya kemudian melangkah duduk dihadapan wanita tersebut.
Wanita tersebut mengangguk pelan, dia memahami jika Rajawali emas memutuskan tidak membantunya.
"Sepertinya sudah tidak ada harapan bagi Kencana Ungu, aku ingin kalian pergi dari sini segera biar aku yang akan mengulur waktu".
"Tidak nona Nilam sari, kami akan berjuang bersama mu".
Nilam sari menatap Indra sena kagum. Dia sangat memahami kesetiaan Indra sena padanya.
Nilam sari memejamkan matanya, dia merasa jika hidupnya tak akan lama lagi. Semua berawal saat ayahnya yang merupakan ketua Sekte Kencana Ungu tanpa sengaja menemukan kitab Kuno ilmu kanuragan milik sektenya.
Ayahnya memutuskan mempelajari kitab tersebut. Setelah berhasil mempelajarinya kemampuan ayahnya meningkat berkali kali lipat. Saat itulah perangai ayahnya berubah jauh. Dia tidak segan segan membunuh siapapun yang tidak sependapat dengannya.
Nilam sari merasa jika ayahnya hanya diperalat Lembah tengkorak dan berniat menyelamatkan kitabnya. Dia lalu memutuskan meminta bantuan pada Rajawali Emas.
"Pergilah, masih ada beberapa hari sampai hari perjanjian dengan Lembah tengkorak. Ku harap Rajawali emas mau membantu kita". Indra sena mengangguk pelan dan melangkah pergi meninggalkan nilam sari seorang diri.
..............................
"Hei nona kau dari tadi tak bicara apa apa? Sejak meninggalkan Harimau buas kau jadi pendiam". Sabrang mendekatkan wajahnya ke wajah Mentari membuat wajah mentari merah merona.
"Aku.... aku tidak apa apa tuan, aku hanya terlalu lelah sejak kejadian di Harimau buas". Mentari memalingkan wajahnya. Jantungnya berdeguk kencang saat berada di dekat Sabrang. Itu yang membuatnya tak dapat banyak bicara seperti kemarin.
"Baiklah jika demikian, kita akan mencari penginapan untuk beristirahat sejenak". Sabrang berjalan cepat sambil memegang tangan Mentari agar bisa mengimbanginya. Wajah Mentari semakin memerah melihat tangannya dipegang seenaknya oleh Sabrang.
__ADS_1
"Silahkan masuk tuan pendekar, ada yang bisa kami bantu?".
Seorang pelayan menyapa Sabrang dan Mentari dengan ramah.
"Kami butuh 2 kamar untuk menginap malam ini nona".
Pelayan tersebut mengangguk pelan "Baik akan aku siapkan khusus untuk pasangan kekasih ini" Pelayan tersebut menggoda Sabrang dan Mentari.
Sabrang duduk bersila di kamarnya, dia berlatih meningkatkan tenaga dalamnya. Masih jelas dalam ingatannya saat dia terluka parah oleh Pendekar Iblis hitam. Seseorang yang digambarkannya sebagai kobaran api menganggapnya lemah.
Sabrang menyadari bahwa ilmu nya masih rendah. Dia merasa belum mampu memimpin para pendukung setia ayahnya untuk merebut Malwageni.
"Apakah yang selama ini bicara pada ku adalah pedang ini, tapi apa mungkin pedang dapat berbicara?".
"Apa katamu? Sekte Kencana ungu meminta bantuan pada Rajawali emas? Dan kau percaya kabar tersebut?" Terdengar pembicaraan dua orang pria melewati kamarnya.
Sabrang membuka matanya mendengar nama Rajawali Emas. Kebaikan tetua Rajawali Emas memberikannya pil untuk meningkatkan tenaga dalamnya tak akan dilupakan oleh Sabrang.
Sabrang memutuskan melangkah keluar mencari udara segar. Dia ingin bertanya tentang letak Sekte Kencana Ungu. Dia melangkah mendekati pelayan yang tadi menyapanya.
"Nona apakah letak Sekte Kencana Ungu jauh dari sini?".
"Masih sehari perjalan dari sini tuan, namun jika ditempuh dengan kuda hanya membutukan waktu seperempatnya saja" pelayan tersebut menjelaskan pada Sabrang.
"Tapi lebih baik tuan mengurungkan niat tuan jika ingin pergi kesana. Mereka tak pernah mau menerima tamu dari luar. Bahkan beberapa hari yang lalu kudengar beberapa pendekar Sekte Merpati putih diusir secara paksa bahkan ada yang terluka parah".
Sabrang mengernyitkan dahinya mendengar Kencana Ungu tidak pernah menerima tamu. Namun tadi dia mendengar kabar jika mereka meminta bantuan pada Sekte Rajawali Emas. Sabrang merasa aneh dengan Undangan tersebut, dia curiga jika ini untuk menjebak Rajawali Emas.
"Aku harus memastikan jika ini bukan jebakan untuk Rajawali Emas. aku harus membantu mereka".
__ADS_1
Sabrang melangkah keluar menatap langit yang penuh bintang, dia baru menyadari jika dunia persilatan begitu carut marut. Bahkan sesama aliran putih pun kadang saling menyerang hanya demi kepentingan pribadi.
"Ayahanda, Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku mampu mengemban beban ini seperti Ayahanda Menanggung beban Malwageni dahulu".