
Sabrang terlihat lincah bergerak dalam kegelapan malam diikuti Wardhana di belakangnya. Ilmu meringankan tubuhnya meredam setiap hentakan langkahnya. Mereka melompat dari satu atap ke atap lainnya bagaikan melayang di udara.
"Pangeran..." Wardhana memberi tanda untuk berhenti disebuah gedung yang penjagaannya sedikit ketat dari gedung lainnya.
"Sepertinya gedung ini ruang penahanannya". Wardhana berkata setengah berbisik.
Sabrang mengangguk kemudian mencoba melihat kedalam gedung dari celah atap tempatnya berjongkok.
Terlihat beberapa ruangan tersekat besi dan 6 orang prajurit penjaga. Wardhana terlihat sedang menghitung prajurit yang berjaga diluar.
"Ahhhkkkk" Tiba tiba Sabrang memegang kepalanya yang terasa sakit. Nafasnya tersenggal dan bola matanya separuh berubah menjadi merah darah.
"Pangeran, anda baik baik saja". Wardhana terlihat khawatir melihat mata Sabrang memerah.
Sabrang tidak menjawab pertanyaan Wardhana, dia kemudian duduk dia atap dan memejamkan matanya untuk bermeditasi.
"Naga api apa yang kau lakukan?" Sabrang bersingut kesal pada Naga api.
"Bukan aku yang melakukannya bocah, kau tau kekuatanku terkurung segel 4 unsur". Naga api berkata pelan.
Sabrang menarik tenaga dalamnya menggunakan Cakra manggilingan dan mengalirkannya keseluruh tubuhnya untuk menekan sesuatu yang mencoba keluar dari tubuhnya.
Perlahan rasa sakit di kepala Sabrang menghilang dan matanya kembali menjadi normal. Sabrang membuka matanya perlahan dan terlihat Wardhana yang menatap cemas padanya.
"Anda baik baik saja Pangeran?".
"Ah aku baik baik saja paman, maaf tiba tiba kepalaku sakit". Sabrang kembali mencoba melihat situasi di dalam ruang tahanan.
"Jika bukan Naga api yang melakukannya lalu apa yang terjadi dengan tubuhku barusan?". Sabrang bergumam dalam hati.
Tak lama beberapa prajurit penjaga terlihat melangkah menuju ruang tahanan. Wardhana memberi tanda pada Sabrang untuk bersiap.
"Ah sepertinya sudah saatnya pergantian penjaga" Salah satu prajurit penjaga berbicara pada temannya. Dia melangkah keluar ruang tahanan diikuti beberapa temannya dibelakang.
"Sekarang" Wardhana melompat masuk melalui celah atap diikuti Sabrang dibelakangnya.
Sabrang melangkah cepat ke arah pintu dan menempelkan telapak tangannya. Beberapa saat kemudian pintu tersebut terlapisi es tebal.
Wardhana melihat setiap ruangan perlahan dan pandangannya terhenti pada seorang pria yang sedang duduk terdiam.
"Tuan" Wardhana berbicara pelan.
Kertapati terkejut melihat seseorang yang dia kenal ada dihadapannya.
__ADS_1
"Tuan Wardhana? bagaimana anda bisa ada disini".
"Ceritanya panjang tuan, kita harus segera pergi dari sini secepatnya sebelum mereka menyadarinya". Wardhana berbisik sambil mencari kunci di ruangan tersebut.
"Ada orang di dalam, pintunya terkunci dari dalam". Seorang prajurit berteriak dari luar.
Sabrang mendekati Wardhana dan memintanya mundur beberapa langkah.
"Sudah tidak sempat" Sabrang memegang besi yang menyekat ruangan tempat Kertapati berada.
"Tuan mohon anda mundur sedikit". Wardhana memberi tanda pada Kertapati untuk menjauhi Sabrang.
Kertapati yang belum mengerti situasinya hanya mengangguk kemudian mundur beberapa langkah sambil menatap Wardhana bingung.
Tiba tiba tubuh Sabrang diselimuti api merah membuat Kertapati menatapnya tak berkedip. Tak lama besi penyekat itupun hancur menjadi abu terbakar api merah.
"Kekuatan apa yang digunakan pendekar muda ini".
"Ayo kita pergi paman". Sabrang melesat ke atap diikuti Wardhana yang menggendong Kertapati di punggungnya.
Mereka melesat cepat dan kembali melompat dari satu atap ke atap lainnya. Beberapa prajurit Sukasari berlarian mengejar mereka.
Langkah Sabrang terhenti ketika dua orang pendekar berdiri di atap menghadangnya.
"Paman tolong mundur sedikit" Sabrang menatap tajam dua pendekar yang ada dihadapannya.
"Sepertinya Iblis hitam tetap iblis hitam, dia mengingkari janjinya" Wardhana tersenyum sinis.
"Sepertinya tidak begitu paman, dua pendekar dihadapan kita adalah pendekar tingkat menengah. Dia hanya ingin memberi kesan wajar dalam penyerangan Sukasari". Beberapa saat setelah Sabrang bicara tubuhnya menghilang dari pandangan membuat dua pendekar Iblis hitam terkejut.
Mereka melompat mundur namun tiba tiba mereka merasakan hawa dingin berasal dari arah belakang. Saat mereka menoleh telapak tangan Sabrang sudah menyentuh tubuh mereka.
"Hembusan Dewa es abadi". Seketika tubuh dua pendekar tersebut terkurung dalam bongkahan es membuat mereka tak bisa bergerak.
Wardhana dan Kertapati mematung melihat kehebatan jurus milik Sabrang. Dua orang pendekar menengah dari Iblis hitam bahkan tak sempat melakukan perlawanan.
"Ayo paman kita harus cepat sebelum mereka berhasil mengejar kita". Sabrang kembali melesat diikuti Wardhana dibelakangnya.
"Siapa pendekar muda itu tuan?". Kertapati bertanya sambil menatap Sabrang yang dengan lincah melompat dari satu atap ke atap lainnya.
"Dia adalah Pangeran Malwageni, anak dari Yang mulia Raja".
Raut wajah Kertapati langsung berubah setelah mendengar perkataan Wardhana. Seorang bayi kecil yang dulu masih berusia sembilan bulan kini telah menjadi pendekar tanpa tanding di dunia persilatan.
__ADS_1
Sebuah tanda siulan dari luar dinding Kadipaten menghentikan langkah Sabrang. Dia menoleh kearah pepohonan dan menemukan Restu melambaikan tangannya.
Merekapun melesat dan menghilang di keheningan malam ditengah puluhan prajurit Sukasari yang berlarian mencari keberadaan mereka.
***
"Ada perlu apa kau ada di wilayahku?" Seorang wanita tua menatap tajam Kumbara yang ada dihadapannya.
"Sumbi kita harus bicara sebentar". Kumbara terlihat menahan amarahnya mendapat sambutan tak bersahabat Sumbi.
"Hidup anak itu tak akan lama lagi, racun ular hitam menggerogoti tubuhnya setiap hari. Hanya Ajian Lebur sukma milik mu yang dapat menyelamatkan nyawanya". Kumbara menunjuk Mentari yang duduk agak jauh darinya.
Kumbara memang memintanya untuk menjauh dari Sumbi selama dia berbicara. Perangai aneh Sumbi dikhawatirkan membahayakan nyawa Mentari.
"Lalu apa urusannya dengaku? mau anak itu mati atau sekarat sekalipun bukan urusanku". Sumbi masih duduk dengan tenang disebuah pohon yang tak jauh dari gua tempatnya tinggal sambil mengunyah daun sirih.
Kumbara menggeleng pelan, tak sulit baginya membunuh perempuan dihadapannya dengan beberapa jurus. Jika saja bukan karena ingin mengobati Mentari mungkin Sumbi sudah terbunuh dari tadi.
"Memang bukan urusanmu namun jika anak itu tidak selamat maka akan banyak pendekar tewas seketika termasuk dirimu".
Sumbi mengernyitkan dahinya, dia menatap Mentari yang duduk di atas batu. Tubuhnya sedikit kurus akibat efek racun Ular hitam. Bagaimana bisa Kumbara mengatakan akan banyak pendekar terbunuh jika dia tewas.
"Apa maksud perkataanmu?" Sumbi menatap tajam Kumbara.
"Kau tentu masih mengingat dengan jelas enam belas tahun lalu saat Naga api bangkit. Kami butuh puluhan tetua sekte baik aliran hitam dan putih untuk dapat mengimbangi Suliwa saat itu. Kini teman pria anak itu adalah pemilik Naga api yang baru dan dia bahkan puluhan kali lebih kuat dari Suliwa dulu.
Saat dia terkena tapak beracun milik Kelelawar hijau Naga api mencoba bangkit memanfaatkan kemarahan pemuda itu setelah melihat nona itu terkena tapak beracun. Kau menyaksikan sendiri betapa mengerikannya saat iblis yang berada di dalam pedang itu bangkit.
Suliwa saat itu hanya menguasai jurus Api abadi namun pemuda itu telah menguasai Energi bumi, aku tidak bisa membayangkan Iblis sekuat apa yang akan bangkit jika nona ini tidak selamat".
Sumbi terdiam sesaat mendengar perkataan Kumbara. Dia sangat terkejut mendengar ada seorang pemuda yang dapat menguasai Energi bumi yang bahkan sampai saat ini kitab tersebut dianggap hanya mitos dunia persilatan.
Sumbi kembali teringat saat murid satu satunya tewas saat mempelajari ajian lebur sukma miliknya.
"Pergilah sebelum aku berbuat kasar padamu. Dengan atau tanpa Ajian lebur sukma dia tetap tidak akan selamat".
Kumbara tiba tiba mengeluarkan aura hitam pekat yang membuat Sumbi terjatuh berlutut tak kuat menerima tekanan pada tubuhnya.
"Ilmunya semakin tinggi sejak terakhir kali aku bertemu dengannya". Nafas Sumbi terlihat tak beraturan dan keringat dingin membasahi tubuhnya. Jika Sumbi tidak mengerahkan semua tenaga dalamnya untuk menahan tekanan aura Kumbara mungkin dia sudah tak sadarkan diri saat ini.
"Kau tau aku bisa membunuhmu saat ini juga". Kumbara menatap tajam Sumbi yang masih berlutut dengan wajah pucat.
"Ajian lebur sukma lebih tepat disebut sebagai kutukan daripada Ilmu kanuragan". Sumbi berbicara pelan sambil mengatur nafasnya, tenaga dalamnya sudah hampir habis menahan tekanan aura Kumbara.
__ADS_1
"Apa maksudmu dengan kutukan?" Kumbara perlahan menarik kembali auranya.