Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Awan Mendung Langit Malwageni II


__ADS_3

Lima sosok tubuh terlihat bergerak cepat diantara pepohonan sebelum mendarat di atas atap salah satu bangunan keraton.


Petra memberi tanda untuk menyebar dan mencari paviliun raja sebelum bergerak ke salah satu bangunan yang paling megah bersama dua orang temannya.


Dua pendekar lainnya tampak memisahkan diri dan menuju sisi selatan keraton.


Petra dan dua orang lainnya berhenti di atap bangunan megah itu, ilmu meringankan tubuh yang mereka miliki membuat gerakannya tak menimbulkan suara sedikitpun.


Petra tampak membuka atap bangunan itu sedikit hati hati, tampak Sabrang sedang tertidur lelap. Jubah tidur yang dikenakannya tampak mewah, semua yang melihatnya akan langsung mengenali jika dia adalah Raja Malwageni.


Petra kemudian memberi tanda pada dua temannya sambil menempelkan jari telunjuk di lehernya.


"Bunuh dengan cepat, hanya dia sasaran kita," bisik Petra.


Dia tampak memperhatikan sekitarnya sebelum melompat turun dan masuk melalui jendela ruangan.


Petra menarik pedangnya dan langsung menusuk tubuh Sabrang yang masih belum bergerak.


Sabrang membuka matanya dan langsung mencengkram pedang milik Petra sambil tersenyum dingin.


Wajah Petra berubah seketika, dia merasa ada yang aneh dengan Sabrang, tak ada sedikitpun cipratan darah dari tubuhnya.


"Tapak dewa es Abadi," Sabrang menghantam Petra sekuat tenaga sebelum tubuhnya menghilang.


Ledakan besar akibat tapak dewa es abadi membuat seisi ruangan membeku.


Petra terdorong beberapa langkah dengan sebagian tubuhnya membeku.


Dua pendekar lainnya berusaha membantu dan menghantam es yang menyelimuti Petra.


"Aku terkejut kau tidak membeku seketika, sepertinya apa yang dikatakan Candrakurama benar, kalian bukan pendekar biasa," Sabrang muncul di dekat pintu masuk dan membekukan pintu itu sepenuhnya.


"Kini tak ada yang bisa keluar dari tempat ini, sebaiknya kalian mengatakan siapa kalian?" tanya Sabrang pelan.


"Bagaimana kau tau kedatanganku?" Petra terlihat terkejut dengan reaksi Sabrang yang seolah sudah tau dengan kedatangannya.


"Kalian meremehkan dia, tak akan ada yang lolos dari pengamatannya," Jawab Sabrang pelan.


"Dia?" Petra mengernyitkan dahinya.


***


Dua pendekar yang tadi memisahkan diri dari Petra tampak pucat saat melihat Rubah Putih menghadang jalannya.


"Rubah Putih?" gumam mereka berdua dalam hati.


"Aku benar benar terkejut dapat bertemu kalian kembali. Jika aku tidak salah mengingat, kalian adalah pendekar bunga dosa Masalembo bukan? tak kusangka kalian bisa bangkit kembali setelah aku memenggal kalian dulu," sapa Rubah Putih pelan.


Dua pendekar itu saling menatap satu sama lain, mereka sadar bukan tandingan Rubah Putih namun tak ada jalan untuk mundur, yang bisa mereka lakukan adalah menahan Rubah Putih selama mungkin sambil berharap Petra dan yang berhasil membunuh Sabrang dan membantu mereka.


"Kalian tidak berpikir untuk menunggu batuan datang bukan? karena mungkin teman kalian saat ini tak jauh lebih buruk dari kalian," ucap Rubah Putih pelan.


Wajah mereka berubah seketika saat mendengar ucapan Rubah Putih, mereka sadar kini telah masuk dalam jebakan lawannya.


"Kau sangat menarik Wardhana, aku hanya harus membunuh salah satu dari mereka bukan?" gumam Rubah Putih sambil bersiap menyerang.


Dia kembali teringat akan rencana gila Wardhana saat menerima laporan Candrakurama tentang lima pendekar misterius yang sedang menuju Malwageni.


"Aku akan menunggunya di hutan itu, akan kubunuh mereka semua," ucap Rubah Putih setelah mendengar keterangan Candrakurama.


"Tidak, biarkan dia masuk keraton," ucap Wardhana tiba tiba.


"Apa kau sudah gila? jika mereka adalah pendekar Masalembo maka keraton dalam bahaya. Saat ini Wulan sedang melatih Mentari di air terjun lembah pelangi, akan sangat berbahaya menarik mereka kedalam keraton," jawab Rubah Putih bingung.


"Bukankah kita semua ingin mengetahui dimana persembunyian mereka?" tanya Wardhana.


"Lalu setelah mengetahui persembunyian mereka apa yang akan kau lakukan? Jika Lakeswara benar benar telah bangkit kita bukan lawannya, anak itu belum mampu menghadapinya, kau harus memberiku wakfu melatihnya," balas Rubah Putih.


"Kita tak perlu menghadapinya langsung, aku memiliki rencana, yang terpenting saat ini adalah menemukan tempat persembunyiannya terlebih dahulu. Jika anda meminta waktu padaku maka akan kuberikan namun ikuti semua rencanaku," jawab Wardhana pelan.


"Apa yang sebenarnya kau rencanakan? jika mereka benar pendekar Masalembo, dengan kekuatan mereka mungkin keraton kebanggan mu bisa hancur," Rubah Putih Menggeleng pelan.


"Aku lebih memilih sebagian bangunan keraton hancur daripada kita semua yang hancur. Aku adalah Patih Malwageni, apapun akan kulakukan untuk Yang mulia walau nyawa ini taruhannya.

__ADS_1


Jika semua rencanaku malam ini berhasil, mereka semua akan tertahan sementara waktu termasuk Lakeswara. Aku mungkin kalah jauh dalam hal ilmu kanuragan dari kalian namun aku sangat percaya diri dalam memainkan sisi psikologis manusia, selama Lakeswara adalah manusia selalu ada celah kelemahan dihatinya," jawab Wardhana percaya diri.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Rubah Putih mulai mengalah.


Wardhana membuka gulungan gambar keraton di mejanya.


"Aku mencoba membayangkan menjadi mereka," Wardhana menutup matanya sesaat sebelum melanjutkan ucapannya.


"Jika mereka saat ini berada di Kadipaten Kedaton maka mereka akan melalui hutan ini bukan? hanya ada dua jalan di keraton ini yang bisa mereka susupi, dinding keraton yang berada disebelah aula utama dan gerbang selatan keraton.


Aku yakin mereka akan melewati dua tempat ini karena aku akan menumpuk pasukan di sini," tunjuk Wardhana.


"Jika di titik ini akan ada penumpukan penjagaan maka aku akan melonggarkan penjagaan di dua bangunan ini, paviliun raja dan paviliun Ratu.


Aku yakin mereka tidak ingin terlalu lama berada di keraton untuk menghindari pertempuran besar jika hanya lima orang yang dikirim. Sisi lemah itulah yang ku incar sebagai sambutan untuk mereka, manusia akan cenderung tergesa gesa saat harus secepatnya pergi, akan sangat mudah menipu mereka.


Mereka akan bergerak cepat untuk mempersingkat waktu, dan aku yakin akan ada pemecahan menjadi dua kelompok. Paviliun Raja yang sangat megah jelas akan menarik perhatian mereka, dan sisanya kemungkinan akan bergerak ke paviliun ratu.


Aku akan bicara mengenai masalah ini dengan Yang mulia, jika beliau setuju maka malam ini kita akan mendapat dua keuntungan.


Anda hanya perlu membunuh salah satu dan membiarkan yang lainnya lolos, aku dan Candrakurama yang akan mengurus sisanya," ucap Wardhana menjelaskan.


"Bagaimana jika rencana mu meleset? mereka sangat percaya diri dengan kemampuan ilmu kanuragan yang dimiliki, jika mereka tidak melewati tempat yang kau perkirakan maka Sabrang maupun ratu dalam bahaya," tanya Rubah Putih.


"Sebuah rencana pasti memiliki resiko kegagalan yang cukup besar dan aku pun sudah sering gagal tapi tanpa rencana, kita hanya akan mengantarkan nyawa.


Aku sudah cukup belajar dari pengalamanku, aku akan memasang segel udara di seluruh keraton untuk memastikan pergerakan mereka. Aku sudah memiliki rencana cadangan jika gagal, anda hanya perlu bergerak sesuai perintahku.


Kedatangan mereka memang diluar perkiraan ku namun sekaligus membuatku menemukan cara untuk melacak mereka. Tuan Rubah Putih, inilah saat yang paling tepat untuk mengibarkan bendera perang sekaligus menekan mereka, kupertaruhkan semuanya malam ini," jawab Wardhana.


Rubah Putih diam sambil menatap Wardhana sebelum tertawa keras.


"Sepertinya aku salah, kau jauh lebih menakutkan dari Masalembo. Baik, aku ikuti rencanamu," ucap Rubah Putih.


"Arung, ungsikan seluruh pasukan yang tidak bertugas malam ini ke bangunan belakang keraton untuk menghindari jatuh banyak korban. Perintahkan Sora untuk membawa ratu dan selir ke ruang bawah tanah, aku tidak ingin Yang mulia memenggal kepalaku jika mereka terluka.


Aku bersama Candrakurama akan menunggu dititik ini sampai salah satu dari mereka melarikan diri," ujar Wardhana sambil menutup pertemuan.


"Biarkan aku yang mengaturnya tuan, aku pastikan hanya jalur ini yang bisa dia lewati. Anda harusnya yang paling mengerti, jika kita bisa menguasai sisi lemah seseorang maka semua akan mengikuti irama kita," Wardhana menundukkan kepalanya sebelum pergi menemui Sabrang.


"Mungkin kali ini akan berbeda, aku memiliki apa yang dulu hilang, sebuah rencana," Rubah Putih bergerak menyerang dengan kecepatan penuh.


Sebuah ledakan akibat efek benturan pusaka Rubah Putih dengan dua lawannya seolah membuka pertarungan panjang malam itu, dan sesuai dugaan Rubah Putih, sebuah bangunan kecil yang berada didekat paviliun Ratu hancur seketika akibat efek ledakan tenaga dalam mereka.


Malam itu Wardhana menjalankan rencana gila yang membuat orang menggelengkan kepalanya, dia seolah memberikan keraton Malwageni yang dibanggakannya demi mencengkram Masalembo, lawan yang mungkin mampu membunuhnya dalam sekejap. Namun itulah Wardhana, manusia biasa yang tak memiliki bakat ilmu kanuragan namun akan berubah menjadi iblis saat kesetiaannya pada Malwageni diusik.


***


"Berlatih di ruangan sempit?" Sabrang mengernyitkan dahinya saat Wardhana tiba tiba menemuinya di paviliun selir.


"Hamba mohon ampun Yang mulia, namun itulah permintaan hamba. Anda mungkin bisa meringkus mereka semua namun pertarungan kali ini berada tepat didalam keraton. Hamba takut kekuatan besar anda mungkin bisa menghancurkan keraton ini dan akan timbul banyak korban.


Hamba meminta anda mengurung mereka di ruangan ini dengan jurus es dan melumpuhkan mereka, itu satu satunya cara untuk mengurangi daya rusak di keraton. Jika anda mengizinkan dan rencana hamba berhasil, kita akan menemukan tempat persembunyian mereka sebagai langkah awal perang kali ini," jawab Wardhana sambil menundukkan kepalanya.


Sabrang mengangguk, dia tampak kagum dengan pemikiran Wardhana yang makin matang.


"Paman sudah banyak berubah sejak pertama kali kita bertemu, tak salah ayah memilih paman," gumam Sabrang sambil meningkatkan kecepatannya.


Sabrang dan tiga pendekar Bunga darah tampak bertarung sengit di ruangan kecil yang menjadi simbol Malwageni, Paviliun Raja.


Pisau pisau kecil yang terbuat dari bongkahan es tampak bergerak menyerang Petra dan dua kawannya, walau Petra terlihat mudah menghindarinya, Sabrang terus menyerang sambil melepaskan pisau es.


Sabrang bukan mengincar mereka dengan pisau es itu, dia hanya ingin membaca gerakan lawan sebelum mengaktifkan mata bulannya dan menyerang dengan jurus api abadi.


Pola serangan pisau es yang selalu muncul dari arah yang sama tanpa sadar membuat gerakan lawannya menjadi hampir sama dan mudah dibaca. Sabrang sadar mereka jauh lebih kuat dari Kuntala, menyerang dengan menahan kekuatannya akan sangat beresiko, dia ingin membaca gerakan lawan terlebih dahulu.


Sabrang sedikit terkejut saat Petra merubah gerakannya, dia menyerang tiba tiba dari sisi kiri saat dua temannya berhasil menekan Sabrang.


Sabrang menangkis serangan dua lawan dihadapannya sambil memutar sedikit tubuhnya, dia menciptakan dinding es untuk menghalau Patra yang menyerangnya dari arah berlawanan.


"Sial," Sabrang mengaktifkan Mata bulannya untuk menarik tubuhnya sendiri masuk dalam ruang dan waktu namun terlambat.


"Jurus petir menyambar," pedang Patra menghantam tubuh Sabrang membuatnya terpental dan membentur dinding es yang dibuatnya sendiri.

__ADS_1


"Mau sampai kapan kau tidak menggunakan kekuatanku bodoh, mereka bukan lawan yang bisa dihadapi dengan mudah," umpat Naga Api kesal.


"Diam lah Naga Api, apa kau lupa akan tertidur lama, aku harus membiasakan tanpa kekuatanmu. Tunggulah, ada sebentar lagi aku akan menggunakan kekuatanmu," Sabrang kembali menyerang dengan pisau es.


"Kau terlalu meremehkan Bunga darah Masalembo dengan tidak menggunakan Iblis api ditubuh mu," Petra bergerak lincah menghindari pisau es yang beterbangan kearahnya sambil sesekali menyerang balik.


"Kemampuan kalian tidak bisa memaksaku menggunakan Naga Api," ejek Sabrang sambil terus menyerang.


Benturan benturan keras pedang mereka seolah teredam oleh dinding es yang menyelimuti ruangan itu.


Serangan cepat formasi Bunga Darah Masalembo dihadapi dengan gerakan Sabrang yang semakin cepat dan lincah, mereka seolah memiliki kata di seluruh tubuhnya saat bergerak cepat di ruangan kecil itu.


Beberapa kursi dan tempat tidur Sabrang hancur oleh serangan lawan ataupun serangannya sendiri.


Dalam pertarungan sengit itu, tanpa mereka sadari Sabrang mulai mengaktifkan mata bulannya dan menggunakan ajian inti lebur saketi tingkat pertama untuk mempersiapkan serangan cepat.


"Semua seranganmu sia sia, aku sudah bisa membaca semua jalur seranganmu," Petra mengalirkan tenaga dalam ke pedang pusaka miliknya sebelum menyerang Sabrang.


"Saatnya kau beraksi mata bulan," Sabrang melempar pisau es kearah Petra dan dua pendekar lainnya yang menyerang bersamaan.


Ketika Petra menangkis pisau es itu dan menghindar sedikit kesamping seperti biasa, dia sangat terkejut saat pisau lainnya sudah muncul di jalur lompatannya.


"Pola serangannya berubah?" belum selesai rasa terkejut Petra, tubuh Sabrang bergerak kearah dua temannya yang sedang berusaha menghindar.


Kobaran api tiba tiba meluap dari tubuh Sabrang. Gerakannya yang meningkat cepat membuat dua pendekar itu terkejut, mereka berusaha menangkis dengan sekuat tenaga.


Kedua pedang pendekar itu hanya menebas udara saat Sabrang merubah gerakannya, dia menundukkan kepalanya dan melepaskan aura untuk memperlambat gerakan mereka berdua.


Petra tidak tinggal diam, dia kembali masuk dalam pertarungan untuk mengacaukan gerakan Sabrang.


Sabrang tersenyum kecil sambil merapal kuda kudanya.


"Bukan mereka yang ku incar," Sabrang menghantam dua pendekar Bunga darah dengan sabetan pedangnya yang memutar cepat, sebelum menyambut serangan Petra.


Ketika Petra yakin pedangnya akan mengenai lawannya, dia tersentak kaget ketika Sabrang seolah menghilang.


"Dia menghilang? tidak, itu bukan jurus ruang dan waktu. Kecepatannya yang membuat dia seolah menghilang, gerakannya hampir sama dengan Yang mulia saat bertarung," Petra tampak pasrah saat ayunan pedang Sabrang mendekatinya dengan cepat.


Petra hanya berusaha menahan efek serangan karena dia yakin tidak akan bisa dihindari.


"Jurus pedang Api abadi tingkat dua : tarian api abadi," tubuh Petra terpental dan membentur dinding es dengan keras.


Sabrang menancapkan pedang Naga Api di lantai saat kedua pendekar lainnya ikut menyerang.


Bongkahan es terbentuk dengan cepat dan hampir membekukan mereka andai tidak melompat mundur.


"Tinju Naga Api," Sabrang menghancurkan dinding es yang dibuatnya sendiri.


Diantara serpihan es yang beterbangan di udara, dua buah energi api melesat dan mengenai dua pendekar itu dengan telak.


Ledakan besar akibat tubuh pendekar Bunga darah terdengar sangat keras bersamaan dengan hancurnya dinding es yang menyelimuti ruangan itu.


Ledakan besar itu bahkan terdengar sampai telinga Rubah Putih yang sedang bertarung.


"Sepertinya Wulan mengajarinya dengan sangat baik," Rubah Putih mengambil kesempatan saat lawannya lengah, dia menarik tubuh lawannya sebelum menghujamkan goloknya.


"Kau kalah lagi," Rubah Putih tersenyum dingin.


Merasa memiliki kesempatan, salah satu pendekar lainnya mencoba melarikan diri, dia menyerang Rubah Putih dengan energi pedang sebelum melompat mundur dan melesat kearah barat keraton.


Rubah Putih terpaksa melompat mundur untuk menghindari serangan tiba tiba itu. Dia menatap pendekar yang melarikan diri itu.


"Sekarang giliran mu Wardhana," ucap Rubah Putih pelan.


Ketika Rubah Putih akan beristirahat di atap bangunan itu, dia tersentak kaget saat merasakan tenaga dalam besar menekannya.


"Jangan jangan," Rubah Putih melompat mundur dan menemukan pendekar yang tadi hampir terbunuh bangkit kembali dengan mata yang memerah.


"Jurus Iblis melepas sukma? sial, ini akan sangat menyulitkan," umpat Rubah Putih kesal.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Untuk besok mungkin PNA akan update malam hari karena saya ada acara keluarga yang tidak bisa ditinggalkan, jadi harap maklum dan harap Vote mbang

__ADS_1


__ADS_2