Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pertempuran Besar dimulai


__ADS_3

Suasana sekte Bintang langit kali ini tampak ramai, puluhan mayat terlihat bergelimpangan. Walau telah mencabut puluhan nyawa, Tungga dewi tampak belum berhenti. Dia terus memainkan pedang ditangannya dan menghabisi siapa saja yang berada dalam jangkauan pedangnya.


"Kudengar Ilmu kanuragan sangat dilarang di sekte Bintang langit namun sepertinya itu hanya omong kosong, peraturan itu hanya berlaku bagi beberapa anggota agar posisi ketua Bintang langit aman." Tungga dewi menarik pedangnya dan bersiap mengeluarkan jurus pedang pemusnah raga untuk memukul mundur beberapa pendekar yang mengepungnya.


"Apa yang diinginkan Hibata? kami tak pernah memiliki masalah apapun dengan kalian." ucap Andaru yang merupakan ketua Lintang Wakulu.


"Yang aku inginkan adalah kepala kalian semua," Tungga dewi bergerak menyerang, dia melepaskan hampir seluruh tenaga dalamnya.


Tungga dewi ingin secepatnya menghancurkan Bintang langit dan pergi ke Hujung tanah.


Andaru yang sebenarnya menguasai ajian Panca geni tampak tak berdaya dihadapan Tungga dewi. Ilmu pedang pemusnah raga terlihat cocok dengan energi murni Tungga dewi.


Daya hancur pedang pemusnah raga menjadi lebih kuat karena diselimuti energi murni milik Tungga dewi.


Saat Tungga dewi bergerak, beberapa bebatuan disekitarnya melayang akibat tekanan aura yang terus meluap dari tubuhnya.


Semua pendekar yang mengelilingi Tungga dewi bahkan tak sempat melihat ayunan pedangnya.


Melihat Puluhan orang roboh dalam seketika, Andaru berusaha melarikan diri, dia ingin melaporkan pada Birawa dan tetua lainnya tentang kedatangan Hibata namun Tungga dewi tak berniat menyisakan satupun pengkhianat.


Dia berpindah tempat dengan cepat menggunakan jurus ruang dan waktunya.


"Kuharap kau tak benar benar berfikir akan melarikan diri bukan?," pedang Tungga dewi tiba tiba menusuk Andaru dari belakang.


"Kau memiliki jurus yang sama dengannya? siapa kau sebenarnya?" ucap Andaru tersenggal, darah segar mengalir dari tubuhnya.


"Hibata akan menghabisi siapa saja yang memiliki hubungan dengan Masalembo," Tungga dewi menarik pedangnya dari tubuh Andaru.


"Peminum air kehidupan seharusnya tak bisa mati, apa yang sebenarnya kau lakukan padaku". Tubuh Andaru roboh ketanah.


"Maksudmu air Dieng? kalian terlalu mendewakan air itu, Energi murniku mampu menetralkan efek air kehidupan. Air itu tak akan banyak berguna selama aku mengaliri pedang ini dengan energi murniku".


"Kalian akan hancur oleh mereka, Naraya Dwipa pun tak mampu mengalahkan mereka."


"Anda lihat saja dari neraka, bagaimana Yang mulia akan menghancurkan mereka tanpa sisa." ucap Tungga dewi sambil melangkah pergi kearah ruang ketua sekte.


"Ketua" Sembilan pendekar Hibata tiba tiba muncul bersamaan.


"Apa kalian sudah membereskan para pengkhianat Masalembo?".


Salah satu pendekar menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Pergi ke dermaga dan persiapkan keberangkatan kita, kirim pesan pada Taring emas untuk bersiap pergi. Ada yang harus ku bereskan terlebih dahulu, aku akan menyusul kalian segera". perintah Tungga dewi.


"Baik ketua" balas pendekar itu sebelum kembali menghilang.


Beberapa pendekar Bintang langit yang tersisa terlihat menjaga ketat ruangan ketua Sekte, mereka mencabut pedangnya ketika Tungga dewi melangkah mendekat.


"Kita lihat, apa yang kalian sembunyikan dariku," tepat setelah Tungga dewi menyelesaikan ucapannya, tubuhnya menghilang dan muncul didekat mereka.


Kecepatan pedangnya tak mampu membuat para pendekar itu bereaksi. Dalam hitungan detik, pedangnya mampu membunuh mereka semua dan menghancurkan pintu ruangan.


Birawa tampak terkejut setelah pendekar terbaiknya dapat dikalahkan dengan mudah.


"Apa yang sebenarnya Hibata inginkan dari Bintang langit?" ucap Birawa terbata bata.


"Aku menginginkan kepalamu", Tungga dewi bergerak cepat kearah Birawa.


"Kau benar benar gila". Birawa mencoba meraih pedang yang berada dimeja namun dia menghentikan gerakannya saat pedang Tungga dewi sudah berada dilehernya.


"Bergeraklah agar aku tak perlu menggunakan tenagaku untuk menebas lehermu" ancam Tungga dewi.


"Dia seorang wanita?", gumam Birawa dalam hati.


"Tolong jangan bunuh aku, dengan kemampuanmu aku yakin Masalembo akan menerimamu dengan tangan terbuka jika kau ingin bergabung. Kau bisa mendapatkan keabadian jika bersama mereka" bujuk Birawa pada Tungga dewi.


"Jika memang kau ingin membunuhku lalu untuk apa aku bicara?".


"Paling tidak kau bisa kubunuh dengan cepat daripada kau harus mati perlahan".


Raut wajah Birawa kini berubah pucat, awalnya dia yakin Tungga dewi tak akan membunuhnya karena dia memerlukan informasi darinya namun Tungga dewi sepertinya tak segan segan membunuh walau tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.


"Ada kata kata terakhir?," ucap Tungga dewi sambil melepaskan aura dari tubuhnya.


"Aku akan bicara namun tolong lepaskan aku." ucap Birawa tiba tiba.


"Bukankah kau tidak ingin bicara? ejek Tungga dewi.


Birawa mengambil sebuah gulungan perlahan karena ujung pedang Tungga dewi masih berada dilehernya.


"Beberapa hari lalu mereka memberikan ini padaku, harusnya hari ini bintang langit pergi ke Hujung tanah. Tolong lepaskan aku, semua rencana mereka ada di gulungan itu".


Tungga dewi terlihat membaca gulungan itu, raut wajahnya berubah setelah membacanya.

__ADS_1


"Kalian benar benar rendah" ucap Tungga dewi sebelum mengalirkan energi murninya pada pedang ditangannya.


"Kau sudah memiliki apa yang kalian inginkan sekarang....". belum selesai Birawa bicara pedang Tungga dewi sudah memutus urat dilehernya.


"Tak ada satu pengkhianat pada Yang mulia akan kubiarkan hidup". Tungga dewi menyarungkan pedangnya.


"Bintang langit akan tetap datang ke Hujung tanah dengan misi yang berbeda." ucap Tungga dewi sesaat sebelum tubuhnya menghilang.


***


Kabar penjagaan danau Warna warni yang diperketat sekte Api dan angin tersebar cepat di dunia persilatan Hujung tanah.


Kabar ini tentu menggemparkan dunia persilatan karena selama ini sekte Api dan Angin tak pernah memiliki musuh di Hujung tanah. Mereka cenderung netral tanpa ikut aliran manapun.


"Mereka sudah mulai bergerak" ucap Umbara sambil memainkan pisau kecil ditangannya.


"Kau harus berhati hati terutama pada Wardhana, dia bisa berfikir sesuatu yang diluar akal sehat". ucap Gendis memperingatkan.


"Aku diperintah Komandan untuk memimpin misi kali ini, kau tak perlu ikut campur. Semua rencana ku sudah sempurna, saat ini mereka sedang mencoba membuka gerbang itu dan kita hanya perlu membunuh mereka semua setelah barang itu kita dapatkan".


"Apa gerakan mereka tidak terlihat terlalu mencolok?".


"Mencolok? mereka sedang berusaha membuka gerbang itu jadi wajar mereka memperketat penjagaan, semua sesuai rencana ku. Lagipula apa yang bisa dilakukan oleh sekte Angin dan api ditambah mereka berlima?".


Gendis lebih memilih diam dari pada harus berdebat dengan Umbara yang terkenal keras kepala.


Umbara bangkit setelah berfikir sejenak.


"Aku akan membawa seluruh pasukan untuk menyerang mereka, kau tunggu disini sampai pasukan lainnya tiba karena ada beberapa sekte yang belum hadir. Setelah mereka semua datang, bantu aku memusnahkan keturunan terakhir Trah Dwipa".


"Kau masih butuh bantuan ku? bukankah kau tadi mengatakan dia bagian mu?". ejek Gendis.


Umbara tidak menjawab ejekan Gendis, dia memerintahkan salah satu orang kepercayaannya untuk mengumumkan pada para sekte bersiap.


Tak lama kemudian ratusan orang tampak memenuhi halaman sekte Kelelawar penghisap darah. Beberapa pendekar kelas tinggi terlihat berjajar rapih didekat Umbara.


"Hari ini, Masalembo menuntut kesetiaan kalian pada para pemimpin dunia. Aku akan membagi menjadi tiga kelompok untuk menyerang melalui tiga sisi. Keabadian akan kami berikan jika kalian menunjukkan kesetiaan, Hancurkan mereka dan jangan sampai ada yang tersisa satupun, Hidup Masalembo, dunia baru akan berterima kasih pada jasa kalian semua".


"Hidup Masalembo" teriak mereka berbarengan.


"Sudah saatnya pergi" Umbara mengibaskan tangannya, dan dalam hitungan detik ratusan pendekar itu menghilang tiba tiba.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=


Api di Bumi Majapahit akan update besok...terima kasih...


__ADS_2