
"Bagaimana anda bisa keluar dari Nagara Siang Padang Yang mulia? hamba sudah ratusan kali meminta Arung mencari jalan keluar rahasia dari tempat itu tapi tidak berhasil," ucap Wardhana lirih, dia benar benar merasa gagal sebagai patih melindungi rajanya.
"Ceritanya panjang paman, entah bagaimana cara Naga Api menyelamatkanku karena yang kuingat hanya terbangun di sebuah gubuk dengan tubuh penuh luka. Butuh waktu lama untuk menyembuhkan luka itu tapi berkat bantuan kakek Wahyu, aku bisa pulih lebih cepat," jawab Sabrang pelan.
"Kakek Wahyu?" tanya Wardhana.
"Dia adalah orang yang menemukan tubuhku tergeletak di pinggir sungai," balas Sabrang.
Wardhana mengangguk sambil menarik nafasnya panjang, dia tidak bisa membayangkan bagaimana perjuangan Sabrang keluar dari reruntuhan bangunan raksasa itu.
"Hamba benar benar mohon maaf Yang mulia, hamba memang tidak berguna," ucap Wardhana pelan.
"Jangan berkata seperti itu paman, tak ada yang perlu disalahkan karena ini adalah keputusanku sendiri," balas Sabrang sambil tersenyum.
"Maaf Yang mulia," hanya kata itu yang berkali kali keluar dari mulut Wardhana, sementara Candrakurama hanya diam mendengarkan, mereka berdua seolah masih merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Sabrang.
"Lalu bagaimana keadaan keraton selama aku pergi?" Sabrang mencoba mencairkan suasana.
"Kepergian tiba tiba anda membuat keraton sempat memanas namun Ibu ratu berhasil menguasai keadaan, itulah yang membuat penobatan ratu Tungga Dewi sedikit terlambat. Besok hamba akan mengurus kembali transisi kekuasaan karena anda sudah kembali," jawab Wardhana sambil menjelaskan semua permasalahan yang bersumber dari Adiwilaga.
Wardhana juga menjelaskan situasi keraton Saung Galah setelah mereka berhasil di taklukkan termasuk pengangkatan Pancaka menjadi raja kecil di sana.
"Tidak paman, biarkan Dewi memimpin Malwageni untuk sementara waktu, ada hal yang harus kita lakukan terlebih dahulu. Itulah mengapa aku datang diam diam menemui paman," jawab Sabrang cepat.
"Maksud Yang mulia?" Wardhana mengerutkan keningnya.
"Setelah lukaku pulih, aku berencana kembali ke Malwageni tapi guru memintaku untuk menemui seseorang di Swarna Dwipa dan secara kebetulan aku bertemu Emmy dalam perjalanan," ucap Sabrang.
"Anda bertemu nyonya selir?" tanya Wardhana cepat.
Sabrang mengangguk, dia kemudian menceritakan semua kejadian dalam perjalanannya ke lereng gunung Indrapura hingga sampai menyusup ke ibukota Arkantara, juga mengenai hubungan Pasukan kuil suci dengan kitab Sabdo Loji.
"Jadi kitab Sabdo Loji berasal dari sana?" Wardhana tampak terkejut setelah mendengar cerita Sabrang.
"Benar, di tanah suci dewa itulah Sabdo Loji terkubur sebelum seorang pedagang bernama Mandala mencuri kitab itu dan membawanya ke Jawata."
"Jadi begitu, sekarang hamba mulai mengerti jika Kuil suci adalah dalang di balik semua kejadian ini," jawab Wardhana pelan.
"Itulah kabar yang kudengar paman, mereka mencoba memanfaatkan kerajaan Arkantara untuk menyamarkan tujuan utama mencari mustika merah delima yang kemungkinan besar untuk membangkitkan kembali Mandala," ucap Sabrang.
"Mustika Merah delima?" wajah Wardhana berubah seketika, dia kembali teringat tulisan di kitab Sabdo Loji yang dibacanya. "Jadi mustika itu benar benar ada di dunia ini."
"Paman tau tentang mustika itu?" tanya Sabrang penasaran.
Wardhana menggeleng pelan, "Mustika itu tertulis di kitab kedua Sabdo Loji yang ditemukan oleh Rubah Putih."
__ADS_1
"Kitab kedua? maksud paman kitab Sabdo loji ada dua?"
"Hamba juga terkejut Yang mulia " jawab Wardhana sambil mengambil kitab dari dalam pakaiannya dan menyerahkan pada Sabrang.
"Tidak mungkin, seorang pendekar yang kutemui di Arkantara jelas mengatakan bahwa kitab Sabdo Loji hanya ada satu paman," balas Sabrang bingung.
"Jika yang anda katakan benar berarti ada yang sengaja memalsukan kitab itu untuk tujuan tertentu," ucap Wardhana pelan.
"Lupakan masalah itu sejenak paman, ada hal penting yang harus aku sampaikan pada paman. Saat kembali ke Jawata, kami secara tidak sengaja bertemu dengan utusan Arkantara yang juga menuju Malwageni," ucap Sabrang.
"Utusan Arkantara? bagaimana bisa kerajaan yang selama ini menutup diri tiba tiba mengirim utusan?" balas Wardhana bingung.
"Itu yang membuatku curiga, sepertinya ada maksud tersembunyi dari kunjungan mereka kali ini," jawab Sabrang cepat.
Wardhana terlihat berfikir sejenak, dia mencoba menebak maksud dan tujuan kedatangan mereka.
"Yang mulia, izinkan hamba menerima utusan itu, jika mereka mencoba bermain dengan Malwageni maka akan hamba layani, itulah satu satunya cara mengetahui maksud kedatangan mereka," ucap Wardhana pelan.
"Lakukanlah paman dan pastikan untuk menggagalkan apapun rencana mereka," ucap Sabrang sambil menutup kembali wajahnya.
"Anda akan pergi?" tanya Candrakurama.
"Aku tidak ingin para pejabat keraton mengetahui kemunculanku sebelum utusan Arkantara pergi, sangat beresiko jika mereka mengetahui siapa diriku sebenarnya dan apa yang aku lakukan di Swarna Dwipa.
Untuk sementara waktu aku akan tinggal di penginapan dekat gerbang ibukota. Kita akan bertemu dua hari lagi di tempat ini, aku ingin paman menyampaikan semua maksud dan tujuan mereka di Malwageni," ucap Sabrang sesaat sebelum melesat pergi.
"Candrakurama, aku ingin kau melakukan sesuatu untukku," Wardhana membisikkan sesuatu pada Candrakurama.
"Tuan, itu?" wajah Candrakurama berubah seketika, dia tidak menyangka Wardhana memintanya melalukan hal berbahaya seperti itu.
"Lakukan saja, aku ingin memberi sambutan kecil pada para utusan Arkantara," ucap Wardhana sambil tersenyum dingin.
***
Setelah bertemu Wardhana, Sabrang tidak langsung kembali ke penginapan, dia terlihat bergerak kearah Trowulan untuk mengunjungi makam Guntoro, ayah Mentari.
Sebenarnya Sabrang ingin menemui Mentari dan Tungga Dewi namun situasinya belum memungkinkan, dia harus bersabar menunggu kepulangan utusan Arkantara agar jati dirinya tidak diketahui.
Sabrang duduk termenung di depan makam Guntoro sambil membuka kitab Sabdo Palon.
"(Mengayunkan pedang bersamaan dengan jiwamu yang semakin kuat, tak ada pedang yang tajamnya melebihi kekuatan hati, menghancurkan musuh dengan kelembutan karena kekerasan akan merusak makna pedang). apa maksud kata kata ini?"
Cukup lama Sabrang berfikir sebelum menutup kembali kitab itu, dia benar benar tidak mengerti maksud kalimat yang menjadi pembuka jurus pedang Sabdo Palon tingkat empat itu.
"Sepertinya aku harus mencari kakek Rubah Putih untuk menanyakan hal ini."
__ADS_1
Setelah membersihkan makan Guntoro dan beristirahat sejenak, Sabrang memutuskan kembali ke penginapan, dia ingin segera mencari Rubah Putih untuk menanyakan arti dari kalimat pembuka yang ada pada jurus pedang Sabdo Palon tingkat empat.
Saat Sabrang hampir melewati perbatasan ibukota, dia melihat sesosok tubuh bergerak kearahnya. Sabrang menghentikan langkahnya dan menyembunyikan hawa keberadaannya, dia bersembunyi di salah satu pohon rindang.
"Siapa pendekar itu?" Sabrang mengikuti sesosok tubuh itu dari jauh, wajahnya tampak berubah saat pendekar itu melesat kearah Trowulan.
Pendekar itu tampak memperhatikan sekitarnya, dia sedikit bingung saat melihat bangunan yang dibangun Sabrang untuk Mentari di dekat makam Guntoro.
"Tempat ini sudah banyak berubah, seharusnya Cahaya surga berada di dekat sini," ucap Pendekar itu.
Saat pendekar itu hendak memeriksa sekitarnya, sebuah pusaka melesat cepat kearahnya.
Pendekar misterius itu melompat mundur namun ledakan energi saat pusaka itu menancap tanah membuat tubuhnya terpental beberapa langkah.
"Tongkat Cahaya Putih?" ucap Sabrang dalam hati.
"Apa yang kau lakukan di tempat ini?" teriak Mentari curiga, dia menatap tajam pendekar yang memakai penutup wajah itu.
"Tari, aku merasakannya," ucap Siren tiba tiba.
"Aku tau, dia memang bukan pendekar biasa," jawab Mentari cepat.
"Bukan pendekar itu, aku merasakan energi Naga Api," balas Siren.
"Naga Api?" tanya Mentari terkejut.
"Aku yakin dia berada di dekat kita," jawab Siren.
"Yang mulia?" Mentari menatap sekitarnya berusaha mencari keberadaan Sabrang.
"Apa yang dilakukannya? dia seolah membuka celah pertahanan," Sabrang terlihat khawatir saat pertahanan Mentari terbuka.
Apa yang dikhawatirkan Sabrang terjadi, pendekar misterius itu tiba tiba menyerang saat melihat celah.
"Tari awas!" teriak Siren, dia berusaha melepaskan aura putih untuk melindungi tubuh Mentari namun terlambat, pendekar itu sudah berada di hadapannya sambil melepaskan jurus pedangnya.
Saat Mentari sudah pasrah dan pedang itu hampir memotong lehernya, waktu disekitar mereka terhenti tiba tiba.
"Dia datang, energi ini jelas Naga Api," Siren melihat sesosok tubuh bergerak cepat dan menyambar tubuh Mentari tepat sebelum waktu kembali bergerak.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Saya mohon maaf karena hari ini chapter PNA lebih pendek, pekerjaan saya sedikit menumpuk dan harus diselesaikan malam ini, besok akan saya usahakan lebih panjang.
Sekedar pemberitahuan, PNA kini ada versi Audio oleh Pendekar jomblo bernama Shin. Silahkan kunjungi untuk mendukung sesama Jomblo.
__ADS_1
Suaranya mungkin tidak serenyah Aura kasih tapi saya yakin kalian akan merasakan sensasi berbeda saat mendengar suara yang sering minta hujan di malam minggu itu.
Terima kasih....