
"Pergilah ke keraton Majasari dan sampaikan pada Yang mulia raja jika Iblis pedang menarik diri untuk sementara waktu". Kertasura menyerahkan gulungan daun lontar pada Bongkel.
"Baik ketua". Bongkel menundukan kepalanya memberi hormat.
"Berhati hatilah dalam perjalanan, akhir akhir ini banyak bermunculan pendekar hebat misterius".
Bongkel mengangguk pelan sambil menatap Kertasura yang menatap kosong ke atas. Ada rasa khawatir dalam hati Bongkel melihat sikap ketuanya akhir akhir ini.
Beberapa hari terakhir ini Kertasura memang lebih banyak mengurung diri untuk berlatih, sesuatu yang jarang dilakukannya karena ilmunya sudah sangat tinggi bahkan Kertasura saat ini merupakan pendekar terkuat di dunia persilatan.
"Anda mengkhawatirkan Lingga?" Bongkel memberanikan diri bertanya.
Kertasura menggeleng pelan lalu menoleh kearah Bongkel.
"Aku cukup yakin dengan kemampuannya, dia adalah salah satu alasanku cukup yakin dapat menguasai dunia persilatan sebelum Lembah siluman muncul.
Yang aku khawatirkan adalah seseorang dibalik bangkitnya Lembah siluman. Jika tebakanku benar orang itu adalah dalang dibalik bangkitnya lembah siluman maka akupun tak yakin bisa mengalahkannya".
***
"Tapak peregang Sukma". Batara kembali terkena serangan Lingga membuat tubuhnya terpental. Darah segar mengalir dari hidungnya.
"Bagaimana bisa jurusnya mampu menembus Perisai pelindung matahariku". Ucap Batara sambil mengatur nafasnya. Dadanya terasa sesak akibat terkena tapak peregang sukma milik Lingga.
Batara merasa Lingga yang ada dihadapannya saat ini sangat berbeda dengan yang tadi dia hadapi, setelah bertukar puluhan jurus dia mengetahui jika perbedaan kekuatan antara keduanya sangat jauh.
"Kuakui jika ilmu pedang mu merupakan ilmu tingkat tinggi namun pertarungan bukan hanya soal ilmu kanuragan. Kemampuan mu membaca situasi dan insting mu sungguh buruk, sangat menyedihkan jurus pedang bayangan berada ditangan mu".
Biarpun Lingga berkata penuh percaya diri namun sebenarnya dia pun terluka dalam akibat serangan Batara namun dia menyembunyikannya dengan mengalirkan tenaga dalam untuk menekan efek lukanya.
Lingga sebenarnya bisa mengalahkan Batara lebih cepat andai dia menggunakan seluruh tenaga dalamnya namun dia memutuskan menghemat tenaga dalamnya karena tidak tau apa yang akan dihadapinya di dalam gua keramat. Namun berhadapan dengan jurus pedang bayangan memaksanya menggunakan tenaga dalamnya lebih banyak.
Batara kembali menyerang Lingga dengan sekuat tenaga namun kali ini gerakan Batara sedikit melambat karena tekanan tenaga dalam Lingga membuatnya tak leluasa bergerak.
Kali ini serangan yang terarah padanya dapat dihidari dengan mudah oleh Lingga membuat Batara semakin geram.
"Kudengar Lembah siluman begitu mengerikan namun sepertinya aku salah". Lingga tersenyum kecil sebelum kembali memainkan jurus pedannya.
__ADS_1
Batara terlihat makin kesulitan mengimbangi kecepatan gerakan pedang yang datang, pola serangan yang diarahkan padanya selalu berubah membuat Batara dipaksa dalam posisi bertahan.
Batara mencoba melompat mundur untuk menyusun kembali pola serangannya namun Lingga terlihat tak ingin membiarkan lawannya berfikir dan terus menekan kemanapun Batara bergerak.
"Gerakan mu meninggalkan banyak celah" Lingga terus menekan Batara dengan cepat, dalam beberapa kali bertukar jurus Batara dipaksa terus bertahan dari serangan pedang Lingga.
Raut wajah Batara semakin buruk saat semua jurusnya sudah dia gunakan namun dia semakin terdesak.
Beberapa kali jurus pedangnya hampir mengenai Lingga namun serat pelindung yang ada ditubuh Lingga menahan semua serangannya.
"Tarian Iblis Pedang" Lingga menyerang dengan cepat sesaat setelah tubuhnya menghilang dan muncul kembali tepat dibelakang Batara.
Batara berusaha menghindar namun gerakannya yang semakin lambat membuatnya terlambat menghindar sehingga serangan Lingga telak mengenainya. Tubuh Batara kembali terpental beberapa meter membentur sebuah pohon besar.
"Semakin lama dia semakin cepat". Batara mencoba bangkit namun tubuhnya tak mau mengikuti perintahnya, tenaganya sudah terkuras habis.
Lingga menatap Batara yang terluka parah sesaat sebelum mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Mau sampai kapan kau bersembunyi di situ". Lingga mengayunkan pedangnya kesebuah pohon rindang, terlihat energi pedangnga melesat kearah pohon yang dilihatnya.
Sabrang melompat turun bersama Arkadewi sambil tersenyum kecut.
"Ternyata memang harus melewatimu terlebih dahulu untuk dapat mencapai gua keramat".
"Apa yang kau lakukan disini?" Lingga menatap tajam Sabrang. Dia kembali melepaskan aura yang lebih besar untuk menekan Sabrang.
Arkadewi terlihat pucat mendapat tekanan tenaga dalam yang begitu besar.
"Nona sebaiknya kau mundur beberapa langkah". Arkadewi mengangguk pelan kemudian melompat mundur beberapa langkah.
"Aku yang harusnya bertanya padamu, bukankah iblis hitam telah menarik diri dari dunia persilatan?".
"Jika kau berniat mengambil Keris penguasa kegelapan kusarankan untuk melupakannya atau kau akan bernasip seperti dia". Lingga menunjuk Batara yang terluka parah.
"Keris itu milik Malwageni, kau tak berhak melarang orang mengambil apa yang menjadi haknya".
Sabrang mulai menggunakan Energi bumi dan mengalirkannya dalam tubuhnya.
__ADS_1
"Kau bukan lawannya sebaiknya kau berhati hati". Naga api memperingatkan Sabrang setelah merasakan tenaga dalam Lingga begitu besar.
Sabrang tersenyum kecut "Kali ini aku setuju denganmu, setelah melihat pertarungannya tadi aku merasa tak memiliki kesempatan untuk menang jika bertarung dengannya dengan kondisi seperti ini". Terlihat mata Sabrang kembali memerah dan perlahan sakit dikepalanya kembali datang.
"Lalu apa rencanamu?".
"Aku tak berniat bertarung dengannya saat ini walaupun sebenarnya hatiku ingin sekali membunuhnya" Sabrang menatap tajam pendekar dihadapannya yang telah membunuh ayahnya.
"Milik Malwageni? kau membuatku tertawa nak, bahkan ayahmu tak mampu mempertahankan keris pusaka itu". Sesaat setelah Lingga berbicara tiba tiba Sabrang sudah berada didekatnya.
Sabrang menyadari jika pertarungannya dengan Lingga tak dapat dihindari membuatnya memutuskan menyerang lebih dulu. Sabrang bergerak dengan kecepatan tinggi dan langsung melepaskan cakar es utara kearah Lingga.
Dalam waktu singkat mereka telah bertukar puluhan jurus, gerakan cepat mereka bahkan sulit dilihat oleh Arkadewi.
Lingga yang mendapat serangan tiba tiba terlihat tidak siap membuatnya sedikit terpojok. Puluhan serangan Cakar es utara berusaha menembus serat pelindung milik Lingga.
Lingga mencoba mundur untuk mengatur pola serangannya namun dia terlambat menyadari jika Sabrang sudah berada tepat dibelakangnya.
"Cepat sekali" Lingga memutar tubuhnya mencoba menerima cakar es utara dengan tapak peregang sukmanya.
Sesaat sebelum kedua tangan mereka beradu Sabrang merubah gerakannya.
"Gawat dia menipuku". Lingga mencoba menarik tangannya namun sudah terlambat, beberapa detik kemudian kedua telapak tangan mereka beradu.
"Hembusan dewa es abadi". Seketika tubuh Lingga diselimuti bongkahan es tebal. Tubuhnya menjadi kaku tak bisa digerakan.
"Kurang ajar kau!!". Lingga hanya bisa menatap Sabrang yang berjalan menjauhinya dari dalam bongkahan es yang menyelimuti tubuhnya.
Sabrang menoleh kearah Batara yang tergeletak tak jauh darinya. Niat ingin membunuhnya karena membuat Mentari terluka diurungkannya karena Sabrang yakin dengan ilmu kanuragan yang dimiliki Lingga bongkahan es itu tak akan mampu menahannya lebih lama.
"Ayo nona kita harus cepat sebelum monster ini lepas dari jurus dewa es abadiku". Sabrang melesat cepat diikuti Arkadewi dibelakangnya.
"Kemampuannya sangat mengerikan, hanya beberapa waktu semenjak di pulau tengkorak dia sudah meningkat sekuat ini". Arkadewi bergumam sambil menatap punggung pendekar dihadapannya yang dengan lincah melompat dari satu pohon ke pohon lainnya.
"Naga api kau harus membantuku menekan rasa sakit ini". Tangan kiri Sabrang memegang kepalanya yang terasa sangat sakit.
"Aku sedang berusaha". Kobaran api kembali menyelimuti tubuh Sabrang.
__ADS_1