Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pertaruhan Sabrang Damar II


__ADS_3

Serangan Sabrang yang semakin cepat memaksa Ken Panca menggunakan semua energi Tongkat Cahaya Putih untuk membentuk perisai pelindung agar dia memiliki kesempatan menghindar.


Ken Panca terlihat memaksakan tubuhnya bergerak menghindar, mata bulanya mulai mengeluarkan darah segar menandakan sudah hampir mencapai batasnya. Walau tidak semua berhasil dihindari karena perisai energi tidak mampu menahan serangan Megantara tapi beberapa tebasan yang mengarah ke titik vitalnya mampu dihindari.


Tubuh Ken Panca terlempar beberapa langkah sebelum menyilang kan kembali kedua tangannya. Wajahnya terlihat mengeras menahan amarah dan rasa sakit yang menyebar hampir di seluruh tubuhnya.


Energi Tongkat Cahaya Putih mulai melemah bersamaan dengan munculnya retak retak kecil di tongkat itu.


"Anom bersiaplah, dia akan menggunakan jurus itu lagi," Sabrang sudah berada di dekat Ken Panca, dia mengayunkan pedangnya dan disaat bersamaan memaksa mata bulan melihat semua gerakan yang sedang dilakukan Ken Panca.


"Kau benar benar membuatku muak! Andai aku tidak menginginkan tubuhmu, sudah sejak awal tubuh itu hancur," umpat Ken Panca.


Saat merasakan gerakannya mulai melambat seperti sebelumnya, Sabrang bukannya berusaha menghindar tapi menggunakan ajian inti Lebur Saketi tingkat akhir untuk menarik energi Eyang Wesi dan memusatkan dimata bulannya.


Sabrang seolah tidak perduli dengan serangan Ken Panca selanjutnya karena dia sangat percaya pusaka yang ada ditubuhnya tidak akan membiarkannya terbunuh.


"Sebaiknya kau memiliki rencana lain nak, menarik semua energi milikku dan memusatkan di matamu memang bisa memaksa kekuatan mata itu tapi disaat bersamaan kau membuka lebar celah pertahanan," ucap Eyang Wesi terkejut.


"Aku juga berharap demikian kek, semoga saja tubuhku bereaksi seperi saat itu," jawab Sabrang sambil mengingat pertarungan sebelumnya dengan Agam.


"Bereaksi seperti saat itu?" Eyang Wesi mengernyitkan dahinya.


"Lupakan, aku lebih tertarik pada kedua tangannya kek, bukankah seharusnya lengan kirinya sudah putus?" Tanya Sabrang bingung.


"Itu bukan tangannya, dia membentuk energi Tongkat Cahaya Putih menyerupai sebuah tangan untuk memudahkannya menggunakan ajian Langkah Waktu," Jawab Eyang Wesi.


"Begitu.. pantas saja," Beberapa gerakan aneh akhirnya terlihat tepat sebelum Ken Panca menghilang, Sabrang tampak sedikit terkejut sebelum rasa sakit mulai dirasakannya kembali.


Sabrang sebenarnya sempat melihat Ken Panca muncul di belakangnya namun dia tidak bisa berbuat apa apa, gerakannya terlalu lambat untuk bereaksi dan menangkis serangan itu.


"Dasar bodoh!" kobaran Api tiba tiba menyelimuti tubuh Sabrang dan menyatu dengan energi Anom untuk menangkis belasan serangan yang terus berusaha menghujam tubuh pemuda itu.


Sebuah Ledakan besar kembali terdengar dan bebatuan di sekitar area pertarungan beterbangan di udara.


"Sial kekuatanku tidak bisa menahan semua serangannya, dia terlalu cepat," Naga Api terus melepaskan energinya dan membentuk perisai api yang berputar cepat mengelilingi tubuh Sabrang.


"Perisai apapun tak akan berguna selama aku bergerak lebih cepat dari waktu," Ken Panca merubah arah pedangnya, dengan kecepatan tinggi dia bergerak menusuk dan mengincar jantung Sabrang.


"Gawat! Anom, lindungi tubuhnya!" Naga Api yang berusaha membentuk perisai pelindung semakin terkejut karena Sabrang menarik energinya masuk.


"Hei bodoh! apa yang kau lakukan?" umpatnya cepat.


"Akhirnya... tubuhku bereaksi sendiri seperti waktu itu," ucap Sabrang saat merasakan tubuhnya bergerak.


Sabrang menangkis serangan itu sambil memanfaatkan energi yang tercipta dari benturan kedua pedang itu untuk menjauh, namun belum sempat dia berpikir, Ken Panca sudah berada didekatnya.


Sabrang kembali berhasil menghindari tebasan pedang yang mengincarnya, tubuhnya bergerak lincah menghindari beberapa serangan mematikan seolah memiliki mata di punggungnya.


Ken Panca tampak terkejut, walau tidak semua serangan dapat dihindari, Sabrang mampu selamat dari beberapa serangan mematikan.


"Tidak mungkin, gerakannya sangat lambat tapi dia mampu menghindar di saat yang tepat seolah tau gerakan pedangku."


Ken Panca yang mulai merasakan rasa sakit di tubuhnya tampak geram, dan yang terjadi selanjutnya dia hanya menyerang secara membabi buta seolah sedang di buru waktu.


Mengandalkan jurus Langkah Dewa, Ken Panca tidak membiarkan Sabrang menjauh, tusukan pedangnya yang semakin bervariasi dan mematikan terus mengincar lawannya.


Saat melihat celah terbuka, Ken Panca tidak menyia-nyiakannya, dia langsung bergerak dan mengincar jantung Sabrang.


"Aku mengerti sekarang... jadi jurus itu tidak bisa digunakan terlalu lama ya," tusukan pedang Ken Panca menghujam tubuh Sabrang dan tembus ke punggungnya sebelum tubuhnya menghilang.


"Jurus dimensi ruang dan waktu? bagaimana mungkin..." Ken Panca memutar tubuhnya dan menangkis belasan energi keris yang melesat kearahnya.


"Sial, jurus Langkah Waktu menguras tenaga dalam dengan cepat," Ken Panca memadatkan udara di sekitarnya untuk menahan serangan keris itu, dia melompat mundur dan mencari keberadaan Sabrang.

__ADS_1


"Tiga menit, aku yakin sudah menghitung kau hanya mampu menggunakan jurus itu selama tiga menit," Lubang dimensi tiba tiba muncul di udara dan Sabrang melesat cepat dari dalamnya.


"Jurus pedang Sabdo Palon tingkat dua : Cahaya penghancur Iblis," serangan Sabrang berbenturan dengan Tongkat Cahaya Putih sebelum melempar Ken Panca cukup jauh


Semua yang berada di sekitar Hutan Kematian tersentak kaget tak terkecuali Minak Jinggo yang sebenarnya diam diam mampu melihat pertarungan mereka berdua.


"Gerakannya... Dia sudah berada di titik tertinggi seorang pendekar," ucap Minak Jinggo dalam hati.


"Ajian tanpa Wujud? sejak kapan kau menguasai jurus itu nak?" tanya Eyang Wesi terkejut.


"Ajian tanpa Wujud? jadi ini nama jurus itu?" jawab Sabrang pelan.


"Jangan bilang kau tidak tau jurus itu?"


Sabrang menggeleng pelan, "Aku hanya merasa tubuhku bergerak sendiri..."


Eyang Wesi menatap Sabrang cukup lama, dia kembali teringat ucapan sombong Arya Dwipa saat mereka membuat perjanjian darah.


"Latimojong mungkin telah melakukan kesalahan karena bermain dengan waktu sehingga menciptakan monster monster yang kelak akan bangkit dan membuat kekacauan, tapi aku yakin akan ada seorang pendekar yang mampu menghentikan semuanya. Jik saat itu tiba, bantulah dia menghentikan kesalahan yang di buat Latimojong," ucap Arya Dwipa pelan.


"Harus aku akui, semangat dan pantang menyerah yang kau tunjukkan membuatku kagum tapi mengembalikan kekacauan akibat rusaknya dimensi waktu tidak akan pernah mudah, aku bahkan tidak terlalu yakin akan hal itu tapi kau tidak perlu khawatir, sebagai pusaka penjaga waktu, aku akan berusaha meredam kekacauan ini," jawab Eyang Wesi.


"Pusaka penjaga waktu ya? Kau harusnya sadar, kita semua adalah bagian dari rusaknya sistem dimensi waktu itu sendiri. Mereka menciptakanmu dengan harapan jurus terlarang itu tak bisa digunakan lagi tapi kau lupa sesuatu yang tersegel di batu persembahan bisa bangkit kapan dan tak akan bisa dihentikan hanya oleh kekuatanmu. Satu satunya cara untuk memutus semua ini adalah menghancurkan apa yang ada di dalam ruangan itu bersama seorang pendekar terpilih yang kelak akan muncul."


"Saat Dewa waktu saja tak mampu menghentikan kekuatan itu, lalu siapa lagi yang bisa kita harapan?"


"Aku percaya alam memiliki cara sendiri untuk menyeimbangkan kembali sesuatu yang sudah terlalu jauh melenceng, percayalah padaku," jawab Arya Dwipa sambil tersenyum.


"Pendekar terpilih ya... Arya Dwipa, walau mungkin masih terlalu cepat untuk menilai tapi sepertinya orang yang kau katakan itu adalah anakmu sendiri," ucap Eyang Wesi dalam hati.


"Kau... Aku tidak perduli lagi jika tubuhmu hancur, akan kubunuh kau dengan tanganku!" teriak Ken Panca sambil melepaskan aura yang sangat besar.


"Bagaimana bisa dia masih menyimpan kekuatan sebesar ini saat tenaga dalamnya sudah terkuras akibat ajian Langkah Dewa," ucap Sabrang sambil menggeleng pelan.


"Dia sudah berganti tubuh beberapa kali, wajar jika memiliki tenaga dalam hampir tak terbatas. Sebaiknya kita cepat memikirkan cara untuk melawan jurus itu, kau mungkin bisa menghindari sebagian serangannya tapi jika terus terluka tenaga dalam milikmu akan terkuras habis hanya untuk menekan luka itu," balas Eyang Wesi.


"Dia tidak pernah mendengarkan pendapatku," umpat Naga Api kesal.


"Jurus itu hanya bisa digunakan selama tiga menit, itulah sebabnya aku tadi bisa menggunakan jurus ruang dan waktu dan sepertinya dia membutuhkan waktu untuk memulihkan tenaga dalamnya, itulah alasan setelah serangan pertama dia tidak menyerang lagi. Aku akan memanfaatkan jeda itu untuk menguras tenaganya dan memberi kejutan besar," ucap Sabrang.


"Kejutan? apa mungkin kau..." ucapan Naga Api tertahan, dia seolah tau kejutan yang dipersiapkan Sabrang.


Pertarungan dua pendekar terkuat itu kembali terjadi tapi kali ini mereka menggunakan hampir seluruh energinya, membuat suasana di area pertarungan semakin mencekam.


"Pertarungan ini sepertinya akan segera berakhir..." khawatir efek pertarungan akan meluas, Setra dan Lingga menggiring lawannya menjauh, mereka mengendurkan serangan dan melompat mundur.


"Jadi kau juga merasakannya?" tanya Lingga cepat.


"Aku tidak tau harus bereaksi seperti apa, semoga anak itu bisa mencari kelemahan jurus aneh Ken Panca," jawab Setra.


"Tak perlu memikirkan sampai sejauh itu, tugas kita adalah menghancurkan mereka semua dan biarkan Yang mulia melakukan tugasnya," Lingga tiba tiba meningkatkan serangannya, bola bola api muncul bersamaan dengan kecepatannya yang terus meningkat.


"Harus aku akui, kau adalah salah satu lawan terkuat yang pernah kuhadapi tapi aku tak akan kalah kali ini," ucap Lingga sambil menyerang Gara.


***


"Tarian Rajawali," serangan Sabrang kembali menyudutkan Ken Panca yang kali ini lebih memilih bertahan sampai tenaga dalamnya pulih, dia sadar hanya ajian Langkah Waktu yang bisa mengimbangi kecepatan Sabrang dengan energi Megantaranya.


Rasa sakit di tubuh Ken Panca semakin mengganggu gerakannya, beruntung Tongkat Cahaya Putih masih melindunginya dari serangan serangan mematikan itu.


"Sedikit lagi... bertahanlah Li Yau Fei, satu serangan terakhir dan kau akan mendapatkan tubuhnya," Ken Panca mulai mengalirkan semua tenaga dalamnya di satu titik dan diam diam mengurangi kecepatan untuk memancing Sabrang mendekat.


"Aku tidak tau bagaimana kau tadi bisa menghindari serangan ajian Langkah Waktu tapi keberuntungan tidak akan datang dua kali," Ken Panca merubah gerakannya, dia seolah membuka semua celah pertahanan sebelum menyilang kan kedua tangannya.

__ADS_1


"Ajian Langkah Waktu : Teratai kehidupan," Ken Panca merasakan tubuhnya seperti meledak bersamaan dengan kecepatannya yang meningkat tiba tiba. Mata bulannya bisa melihat Sabrang bergerak begitu lambat sehingga memudahkannya menyerang dari berbagai arah.


Ken Panca memutar tubuhnya, dia mengayunkan pedang yang sudah berisi tenaga dalam kearah Sabrang.


"Kau benar benar menarik, kekuatan tubuhmu bahkan jauh melebihi suku Atlantis. Sudah saatnya menyerahkan tubuh itu padaku."


"Tidak mungkin... bagaimana kau bisa menguasai jurus itu..." Ken Panca tersentak kaget saat pedangnya hanya membelah udara.


Belum sempat dia memahami situasi, belasan serangan terus menghantam tubuhnya tanpa henti.


"Aku tidak akan kalah dengan jurus tiruan seperti itu!" Ken Panca menarik Tongkat Cahaya Putih untuk meningkatkan kecepatannya namun saat dia menoleh keatas puluhan Energi keris muncul dari dimensi ruang dan waktu.


"Energi keris penghancur," puluhan energi keris meluncur cepat kearah Ken Panca dan membenamkan tubuhnya kedalam tanah.


Ledakan yang begitu besar membuat semua yang ada di sekitarnya terlempar dan hampir separuh hutan Kematian rata dengan tanah.


"Bahkan jurus Langkah Waktu bisa dia tiru," ucap Eyang Wesi sambil menggelengkan kepalanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


(Dibalik Layar Pedang Naga Api)


Setelah sholat subuh seorang pria tampan (Baca : Author PNA) terlihat sibuk memainkan jari jemari di layar ponsel butut yang layarnya udah pecah seribu kayak batu akik.


Di temani segelas kopi dia membaca sebuah pesan WhatsApp dari salah satu reader nya.


"Eh kunyit kurang pupuk, itu gimana ceritanya Ken Panca bisa menyilang kan tangannya, bukannya si Lakeswara udah bikin tangan dia Jomblo?"


"Deg"... Hati pria itu bergetar hebat, wajahnya tampak panik saat menyadari kekeliruannya. Dia meletakkan ponsel itu di meja reyot yang menjadi saksi bisu kegalauannya saat nembak cewek tapi ditolak dengan alasan tampangnya kayak cabe setan (Pedes dan bikin sakit mata).


"Gawat, gua kudu nyari alasan yang pas ni biar tetap terlihat pintar," Ucap pemuda itu sambil nyeruput kopi buatan sendiri itu. Iya.. Buatan sendiri...Mau apa lo?


"Tenang Rick.. Lo bisa menciptakan tokoh sepintar Wardhana, masa cuma cari alasan tangan Ken Panca tiba tiba nongol kayak mantan yang dateng dengan senyum manis dan ngasih undangan nikahan gak bisa?" Pemuda itu terus memutar otaknya dan tak terasa kopi Lampung dengan kemasan ekonomis dan kekinian (Kalo mau pesan boleh DM instagram) di gelas besar itupun habis tak tersisa.


Wajahnya mulai berubah bak Buaya darat yang melihat gadis cantik, lugu dan pewaris tunggal sebuah perusahaan besar yang orang tuanya udah sakit sakitan saat menemukan ide untuk mematahkan semua pertanyaan para jomblo yang kebanyakan nanya itu.


Pemuda itu teringat pada cerita Naruto yang sangat digilainya itu.. Ada salah satu adegan yang janggal dalam cerita Naruto Shippuden.


Kematian Nidaime Hokage pada awalnya di ceritakan mati akibat sebuah misi di mana dia dijadikan umpan untuk menghindari kejaran pasukan dari Kumogakure yaitu Kinku.


Tobirama bahkan berpesan jika dia tidak kembali, Sarutobi harus menggantikan dirinya dan dia memang tidak pernah kembali dalam keadaan hidup dan Hokage ketika menggantikannya. Yang aneh adalah penjelasan di Databook Naruto Season menjelaskan jika Tobirama mati secara wajar di Konoha dan Masashi sudah meminta maaf atas Plot Hole itu.


Dan hasilnya? cerita Naruto tetap keren walau ada sedikit kesalahan sang penulis..


"Terus masa gua mesti minta maaf juga..." Pemuda itu kemudian merancang adegan tambahan yang dianggapnya wajar agar lepas dari kesalahannya.


"Aku lebih tertarik pada kedua tangannya kek, bukankah seharusnya lengan kirinya sudah putus?" Tanya Sabrang bingung.


"Itu bukan tangannya, dia membentuk energi Tongkat Cahaya Putih menyerupai sebuah tangan untuk memudahkannya menggunakan ajian Langkah Waktu," Jawab Eyang Wesi.


Pemuda itu bangkit dari duduknya sambil mengepalkan tangannya ke udara.


"Sekarang semua rahasia itu tertutup, untung ilmu ngeles gua tingkat tinggi," Ucapnya sambil tertawa licik.


Seorang Editor Mangatoon dari jauh tampak menatap iba.


"Nyesek gua acc novel lu dulu," umpatnya dalam hati.


\=\=\=


Ah.. Iya ada 1 pertanyaan lagi (Kalo ini serius gua jawabnya bukan hole)


Mengapa Ken Panca bisa menggunakan jurus mengendalikan waktu lebih dari 3 kali? Bukankah kata Sekar hanya bisa digunakan maksimal 3 kali bagi yang memiliki kekuatan besar?

__ADS_1


Jawabannya, Kapan Ken Panca make sampai lebih dari tiga kali? Pertarungan dengan Sabrang dia sudah menggunakan hampir 3 kali tapi setelah itu Sekar memundurkan waktu dan itu artinya dia kembali ke posisi awal...


Dan pertarungan dengan Sabrang dia baru menggunakan 2 kali yang berhasil di patahkan Eyang Wesi, dan yang terakhir kemarin dia menggunakan Langkah Waktu bukan jurus Mengendalikan Waktu... Jelas kan?


__ADS_2