Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Jebakan Wardhana III


__ADS_3

Jaladara tak dapat menyembunyikan kemarahannya, Sudah dua kali Majasari mencoba menyerang Saung galah dalam waktu yang berdekatan.


Jaladara menatap salah satu Komandan prajurit Ligung yang duduk dihadapannya.


"Kau sementara ku tunjuk sebagai penanggung jawab di Kadiapaten Ligung sampai yang mulia menemukan seseorang untuk menggantikan Singgih namun jangan pernah kau berpikir untuk mengulangi kesalahannya, aku sendiri yang akan memenggal kepalamu".


"Hamba tidak berani tuan patih" Bongkeng berlutut di hadapan Jaladara.


"Tangkap semua yang terlibat dengan Majasari dan jembloskan kepenjara, aku sendiri yang akan menentukan hukuman untuk mereka".


"Baik tuan, Hamba mohon diri".


"Tunggu, Panggilkan orang dari Malwageni aku ingin bicara dengan mereka sebelum aku mengurus Singgih".


"Baik tuan patih".


Tak lama Gundala muncul bersama Wardhana, mereka menundukan kepalanya sebelum duduk dihadapan Jaladara.


"Aku mengijinkan kalian menggunakan Gunung Raja di selatan Kadipaten Ligung, tempat itu cocok untuk tempat berlatih sekaligus tempat bersembunyi kalian sementara waktu". Jaladara berkata pelan sambil menatap Wardhana.


"Terima kasih atas kebaikan tuan patih" Wijaya kembali menundukan kepalanya.


"Lalu informasi apa lagi yang kalian miliki?".


Ketika Wijaya hendak mengatakan sesuatu Wardhana memberinya tanda untuk memberinya kesempatan bicara, Wijaya mengangguk tanda setuju.


"Tuan patih apakah anda akan diam saja dengan kejadian hari ini?" Wardhana mencoba memancing emosi Galadara kembali.


"Apa maksudmu?".


"Majasari telah menginjak injak Saung galah dua kali bahkan dalam waktu yang berdekatan, bukankah kalian telah dipermalukan berkali kali?".


"Kau mencoba memancing emosi ku? Aku telah berperang ratusan kali bahkan mungkin saat kau masih bocah, Jangan mencoba bermain main denganku dan memancing di air keruh" Suara Jaladara meninggi.


"Anggap aku sedang memancing anda, tapi apa yang aku katakan semua kenyataan bukan? Bahkan kalian tak akan bisa berbuat apapun tanpa rencanaku".


Gundala tersentak kaget mendengar Wardhana mengejek Saung galah, ini tidak ada dalam rencana pikirnya.

__ADS_1


"Apa yang dia rencanakan?" Wijaya menatap Wardhana yang tetap tenang.


Wajah Jaladara memerah, dia tersinggung dengan apa yang dikatakan Wardhana.


"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?" Jaladara mencoba menahan amarahnya. dia harus berhitung untuk berhadapan dengan Wardhana, walaupun Jaladara merasa mampu menumpas mereka namun pikirannya akan terbagi di tengah situasi yang sedang memanas saat ini dengan Majasari, itu akan merugikan Saung galah.


"Aku memiliki informasi jika mereka akan mencoba memanfaatkan ulang tahun Putri mahkota Saung galah untuk membuat kekacauan di keraton Saung galah".


Raut wajah Jaladara seketika berubah "Hati hati kau bicara tentang Putri mahkota, beliau di jaga Pasukan Topeng Galah aku yakin tidak ada yang bisa menembus penjagaan pasukanku".


"Sudah tugas kami sebagai ahli siasat untuk membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin seberapapun kecilnya kemungkinan keberhasilannya, itu juga yang terjadi dengan Majasari. Apakah anda yakin aku tidak dapat menembus penjagaan kalian?" Wardhana menatap Jaladara.


Jaladara terdiam sesaat "Lalu apa yang kau rencanakan?".


"Mereka kini akan berpikir seribu kali untuk melakukan kekacauam di Saung galah setelah kekalahan beruntun, namun siapa yang tau reaksi mereka saat ini. Aku akan merebut Kadipaten Rogo Geni sebagai titik awal merebut kembali Malwageni".


Jaladara tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Bagaimana Wardhana begitu yakin akan merebut bekas kadipaten Malwageni tersebut dengan kekuatannya saat ini.


"Kau tidak sedang bercanda? apa kau pikir itu akan berjalan mudah? kau mungkin bisa mengusir mereka dari kadipaten ku namun Rogo geni berada di wilayah Majasari mereka tak akan membiarkan kau mencoreng wajah mereka".


"Apa aku terlihat sedang bercanda? aku akan melalukan sesuatu yang menurutku bisa ku jangkau tuan. Akan luberikan jalan untuk anda membalas dendam pada mereka sekaligus akan kurebut Rogo geni dari tangan mereka" Wardhana berbicara tanpa keraguan membuat Jaladara mengernyitkan dahinya.


***


"Hamba menghadap yang mulia" Seorang pria setengah baya berlutut dihadapan Airlangga, Raja dari kerajaan Majasari.


"Bangunlah" Suara Airlangga terdengar pelan namun penuh wibawa.


"Baik yang mulia".


"Kau tau kenapa aku memanggilmu?".


"Hamba mohon ampun yang mulia, hamba tidak dapat menebaknya" Pria tersebut menunduk.


"Kau adalah ahli siasat terbaik saat ini ditanah Nusantara, aku membutuhkan bantuanmu kali ini" Airlangga menatap Paksi dengan tajam.


"Tapi yang mulia...." Paksi tak berani melanjutkan perkataannya.

__ADS_1


"Kau telah menjalani hukuman akibat kesalahanmu dulu, Aku mengasingkanmu ke pulau terpencil agar kau paham arti kesetiaan padaku! kini saatnya kau membalas kebaikanku".


"Terima kasih atas kebaikan yang mulia, semoga anda panjang umur" Paksi menundukan kepalanya.


"Majasari mengalami dua kali kekalahan dari Saung galah aku ingin kau membalaskan kekalahan ini, Hancurkan mereka".


Paksi mengernyitkan dahinya, setau dia Saung Galah tidak mempunyai ahli siasat yang baik bagaimana mungkin Majasari dipukul mundur sampai dua kali.


"Seorang ahli siasat salah satu kerajaan yang kutaklukan membantu mereka, tak kusangka Malwageni memiliki orang seperti dia".


"Wardhana" Paksi bergumam pelan membuat Airlangga sedikit terkejut.


"Kau mengenalnya?".


Paksi tersenyum kecil "Bukan hanya mengenalnya yang mulia namun aku beberapa kali berhadapan dengannya, jika memang dia lawan yang harus dihadapi aku akan membantu yang mulia raja ada yang harus diselesaikan antara kami berdua".


Airlangga mengangguk pelan "Baiklah, ku harap kau tidak mengkhianati ku lagi atau kali ini kau akan kehilangan kepalamu"


"Hamba akan melakukan yang terbaik untuk Yang mulia".


"Dua purnama lagi Putri Saung galah akan berulang tahun. aku ingin membuat kekacauan di keraton Saung galah sebagai pengalih perhatian sehingga pasukan tempur kita dapat bergerak bebas untuk menaklukan Saung galah. Jika kau berhasil aku akan memberi imbalan yang besar padamu".


"Hamba akan memastikan Wardhana bertekuk lutut pada Yang mulia".


Tak Lama setelah Paksi pergi Tunggul umbara, Mahapatih kerajaan Majasari datang menghadap.


"Apa Yang mulia yakin akan menggunakan dia lagi?" Tunggul umbara terlihat cemas.


"Aku tau apa yang ada dipikiranmu Patih, Sifat rakus dan liciknya tidak akan pernah hilang, namun saat ini hanya dia yang dapat membantuku menaklukan Saung galah. Aku tidak tau apakah dia akan menghianatiku lagi atau tidak, untuk itu aku ingin kau membunuhnya setelah penaklukan Saung galah berhasil. Berikan kekayaan yang banyak padanya untuk meredamnya semantara waktu".


"Baik yang mulia".


***Sekali lagi saya mengharapkan dukungan teman teman semua baik dalam bentuk like maupun Vote 🙏


Kunjungi juga novel ke dua Saya berjudul


"Tentang kita (Komedi Romantis)"

__ADS_1


Terima kasih dan semoga sukses selalu untuk kita semua***


__ADS_2