Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Nagara Siang Padang


__ADS_3

Sekte Angin Biru berdiri kokoh di atas sebuah bukit yang dikenal dengan nama Bukit Angin Biru. Nama itu didapatkan saat sekte aliran putih itu di pimpin oleh Bahuwirya yang merupakan ayah Brajamusti.


Di bawah pimpinan Bahuwirya, Sekte Angin Biru menjadi yang terbesar di dunia persilatan kala itu. Iblis hitam dan Lembah tengkorak bahkan memilih menghindar jika harus berhadapan dengan Angin Biru.


Sejak saat itulah bukit yang dulunya adalah sebuah hutan bernama Glagah Wangi berubah nama menjadi bukit Angin Biru sebagai pengakuan dunia persilatan akan kehebatan mereka.


Dibawah pimpinan Brajamusti sebenarnya Angin Biru tidak terlalu buruk namun dia lebih memilih menarik diri dari dunia persilatan sejak kematian murid kesayangannya yang misterius.


Kematian yang hingga kini masih menjadi misteri itu lah yang merubah semua kebijakan Angin Biru. Brajamusti baru muncul kembali di dunia persilatan saat Mantili meminta bantuannya untuk melawan Masalembo.


Kini, setelah menunjuk Wardhana menjadi ketua sekte Angin Biru yang baru, Brajamusti lebih banyak menghabiskan waktu di Gua angin yang terletak di belakang bukit itu.


Sebuah gua besar dan megah yang sebenarnya hanya boleh didatangi oleh para ketua sekte. Brajamusti meminta secara khusus pada Wardhana untuk diizinkan tinggal di gua itu sambil menunggu ajal menjemput.


Gua itu menjadi spesial bagi Brajamusti karena di tempat itulah murid kesayangannya ditemukan tewas.


Sempat terjadi perdebatan tentang kematian Layana namun Brajamusti menggunakan kedudukannya untuk menutup kasus itu.


Banyak yang mempertanyakan mengapa Layana bisa ditemukan tewas di tempat yang paling dilarang didatangi selain ketua sekte.


"Jika kau masih hidup, mungkin saat ini kau sudah menggantikan aku nak," ucap Brajamusti pelan.


Brajamusti terus berjalan menyusuri lorong gua itu untuk membunuh rasa bosannya, hal yang tidak pernah dia lakukan selama menjadi ketua sekte.


"Apa yang sebenarnya kau cari ditempat ini dan siapa yang membunuhmu?"


Brajamusti semakin tertarik dengan gua itu karena dia tidak menyangka jika ada sebuah ruangan di ujung gua yang dindingnya dilapisi emas.


"Ada ruangan seperti ini di ujung gua? mengapa ayah tidak mengatakan apapun padaku," ucapnya dalam hati.


Wajah Brajamusti berubah seketika saat melihat salah satu sudut ruangan yang terbuat dari emas itu terlihat sedikit rusak seperti dipukul oleh benda keras.


"Layana? apa mungkin?" Brajamusti berjalan cepat mendekati dinding itu dan merabanya.


Brajamusti menekan salah satu tuas yang ada di dinding itu cukup kuat sebelum sebuah pintu di sisi yang berlawanan mulai terbuka.


"Ruang Rahasia di sekte Angin Biru?" Brajamusti melangkah masuk perlahan dengan hati hati.


"Gerbang suci Nagara Siang Padang?" Brajamusti mengernyitkan dahinya saat membaca beberapa catatan di dinding gua.


"Aksara palawa? jika tulisan ini menggunakan Aksara Palawa berarti kemungkinan tempat ini jauh lebih tua dari Telaga khayangan api dan Masalembo," ucap Brajamusti semakin tertarik.


"Glagah wangi dan Trowulan akan menjadi kunci menuju Gerbang suci Nagara Siang Padang. Lepaskan semua Nafsu dan ambisi maka suara alam akan menuntunmu menuju Nagara siang padang."


"Glagah wangi? bukankah dulu bukit ini bernama Glagah wangi? apa ini ada hubungannya dengan Masalembo? tapi jika tempat ini ada hubungan dengan Masalembo, Angin biru sudah bernasib sama dengan tapak es utara.


Apa mungkin mereka juga tidak tau mengenai gerbang suci ini? jika bukan mereka lalu siapa lagi?" ucap Brajamusti dalam hati.


Pandangan mata Brajamusti terhenti saat melihat sebuah pisau kecil yang tergeletak di tanah.


"Bukankah itu adalah pisau kebanggaan Angin biru yang kuberikan pada Layana? jadi dia benar benar masuk ketempat ini?"


Brajamusti terus mengelilingi setiap sudut ruangan untuk mencari petunjuk lainnya namun tak berhasil. Hanya tulisan kecil yang sudah dia baca diawal tadi yang ada di ruangan itu.


"Ruangan ini sangat aneh, bagaimana mungkin hanya ada catatan kecil itu di ruangan sebesar ini."

__ADS_1


Setelah memastikan tidak ada petunjuk terlewat, Brajamusti melangkah keluar dan kembali menutup ruang rahasia itu. Dia terus memikirkan kata kata yang ada didalam ruangan itu.


"Negara siang padang? aku seperti pernah mendengar nama itu tapi dimana?"


Brajamusti tiba tiba menghentikan langkahnya saat teringat salah satu jurus pedang kebanggan Angin Biru.


"Jurus pedang energi suci tingkat II : Gerbang suci penghancur. apa mungkin ini hanya kebetulan atau?" Brajamusti melangkah keluar gua dengan cepat dan menuju gerbang utama sekte Angin Biru.


"Guru, apakah anda akan pergi?" sapa salah satu muridnya sopan.


"Aku akan ke keraton Malwageni untuk bertemu dengan ketua selama beberapa hari, pastikan tidak ada yang masuk gua angin selama aku pergi," pinta Brajamusti pelan.


"Baik guru," jawab murid itu cepat.


***


Mentari terlihat anggun saat mengenakan pakaian kebesaran milik Sekar Pitaloka, beberapa kali dia terlihat menarik gaun itu seolah ingin tampil sempurna hari itu.


Tak lama pintu kamarnya diketuk dan terdengar suara Sabrang memanggilnya dari luar.


Mentari yang sejak awal berdiri di dekat pintu langsung membukanya dan menundukkan kepalanya.


"Hormat pada Yang mulia," sapa Mentari sopan.


Sabrang tampak takjub saat melihat kecantikan Mentari.


"Bagaimana kau bisa secantik ini Tari," ucap Sabrang lembut.


Mentari langsung menundukkan kepalanya untuk menutupi wajahnya yang memerah setelah mendengar pujian Sabrang.


Sabrang tersenyum lembut sebelum mengulurkan tangannya.


"Kau sudah siap?" tanya Sabrang tiba tiba.


Mentari hanya mengangguk dan menyambut uluran tangan Sabrang.


"Harusnya kau tidak menggunakan gaun itu karena akan sulit bergerak di hutan," ucap Sabrang sambil terkekeh.


"Ma...maaf Yang mulia, hamba akan mengganti pakaian terlebih dahulu jika anda tidak berkenan," Mentari melepaskan genggaman tangan Sabrang dan bersiap masuk kembali ke kamar sesaat sebelum Sabrang menyambar tubuh Mentari dan menggendongnya.


"Begini lebih baik, kita harus cepat karena sepertinya hujan akan turun," Sabrang melompat ke salah satu bangunan dan bergerak cepat diantara bangunan sebelum melompat ke salah satu pohon besar yang ada di luar dinding keraton.


"Yang mulia," wajah Mentari semakin memerah, dia memberanikan diri memeluk tubuh Sabrang.


Sabrang terus bergerak menuju desa Trowulan yang sudah hancur akibat pertarungannya dengan Lakeswara beberapa waktu lalu.


Sabrang berhenti di sebuah bangunan baru yang berada di dekat bekas danau. Bangunan itu terlihat mewah walaupun ukurannya cukup kecil. Terdapat dua kamar yang sudah dilengkapi tempat tidur.


Beberapa prajurit angin selatan yang berjaga di tempat itu langsung berlutut setelah melihat kedatangan Sabrang dan Mentari.


"Hormat pada Yang mulia," ucap mereka bersamaan.


"Yang mulia ini?" Mentari tampak bingung setelah melihat bangunan mewah itu.


"Aku meminta paman Wardhana membangun gubuk kecil ini didekat makam ayahmu agar kau bisa datang kapan saja jika ingin bertemu ayahmu," jawab Sabrang.

__ADS_1


Wajah Mentari tampak bahagia dan tanpa sadar dia kembali memeluk Sabrang sambil terus mengucapkan terima kasih.


"Bukankah kita sebaiknya membersihkan makam ayahmu terlebih dahulu?" ucap Sabrang kemudian.


"Ah maaf Yang mulia," Mentari langsung melepaskan pelukannya dengan wajah merah.


Sabrang hanya tertawa melihat tingkah selir kesayangannya itu.


Baru beberapa menit Mentari terlihat membersihkan makam ayahnya, langit yang dari awal sudah menghitam akhirnya menumpahkan air hujan.


Sabrang dan Mentari berlari menuju bangunan kecil yang baru dibangun sebagai hadiah untuk Mentari.


"Sial, sepertinya kita akan menginap di tempat ini, andai saja aku bisa menggunakan jurus ruang dan waktuku," ucap Sabrang pelan.


Mentari tersenyum kecil sambil menggerakkan kedua tangannya untuk menghilangkan rasa dingin akibat guyuran hujan.


Sabrang yang melihat tubuh Mentari sedikit bergetar karena kedinginan langsung membuka jubahnya dan menutupi tubuh Mentari.


"Racun di tubuhmu?" Sabrang tampak terkejut sambil menatap telapak tangannya.


"Energi tongkat cahaya putih mengikat semua racun di tubuh hamba dan menyimpannya di satu titik, itulah yang dikatakan guru Wulan pada hamba," jawab Mentari sambil mengulurkan tangan kirinya yang menggunakan sarung tangan putih.


"Jadi racun itu berada di tangan kirimu?" tanya Sabrang pelan.


"Benar Yang Mulia, hamba masih bisa menggunakannya dengan menariknya menggunakan tenaga dalam jika dibutuhkan," balas Mentari.


"Syukurlah," ucap Sabrang sambil memeluk tubuh Mentari.


"Maafkan aku jika selalu merepotkanmu Tari," bisik Sabrang pelan.


"Mohon jangan berkata seperti itu Yang mulia," balas Mentari.


Sabrang memejamkan matanya sesaat ketika wewangian ditubuh Mentari masuk ke hidungnya, dia memeluk erat tubuh wanita yang sangat dicintainya itu sebelum kedua tangannya memegang wajah Mentari lembut dan mendekatkan ke wajahnya.


Mentari memejamkan matanya saat Sabrang ******* bibirnya lembut.


Guyuran air hujan yang menyiram bumi Malwageni seolah mencegah mereka keluar dari bangunan mewah yang berada di tengah reruntuhan desa Trowulan.


Sebuah desa yang menjadi awal pertemuan Arya Dwipa dengan Wardhana itu menjadi saksi dua manusia melepaskan hasrat duniawi mereka.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Nagara Siang padang atau kini yang lebih dikenal dengan Gunung padang adalah situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum di Jawa Barat. Tepatnya berada di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur.


Lokasi dapat dicapai 20 kilometer dari persimpangan kota kecamatan Warungkondang, dijalan antara Kota Kabupaten Cianjur dan Sukabumi. Luas kompleks utamanya kurang lebih 900 m², terletak pada ketinggian 885 m dpl, dan areal situs ini sekitar 3 ha, menjadikannya sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara.


Berbagai temuan tim terpadu penelitian mandiri Gunung Padang melakukan uji radiometrik karbon (carbon dating, C14). Menariknya, hasil uji karbon pada laboratorium Beta Miami, di Florida AS menerka bahwa karbon yang didapat dari pengeboran pada kedalaman 5 meter sampai dengan 12 meter berusia 14.500-25.000 tahun. Itu membuktikan bangunan di bawah permukaan situs Gunung Padang terbukti secara ilmiah lebih tua dari Piramida Giza.


Berdasarkan juru kunci di sana, dulu namanya bukanlah gunung padang. Nama situs ini dulunya adalah Nagara Siang Padang.


Menurut sang juru kunci, nama Nagara Siang Padang memiliki filosofi tersendiri. Masih berdasarkan sang juru kunci gunung padang, situs ini merupakan tempat berbagai ilmu. Mulai dari ilmu sejarah, arkeologi, antropologi, sosiologi hingga geologi.


Piramida Gunung padang akan menjadi panggung utama Pedang Naga Api kali ini...


Berikan Vote terbaik jika menurut kalian PNA menarik .....

__ADS_1


__ADS_2