
"Tapak Dewa Es Abadi," Sabrang tiba tiba merubah serangannya, pedang di tangannya menghilang dan berganti menjadi hawa dingin yang begitu pekat. Tak sampai satu detik, lengannya sudah hampir menjangkau tubuh Moris yang selalu bergerak lebih cepat darinya.
"Kau lupa kita memiliki bakat yang sama Kakang?" dinding es tiba tiba terbentuk dan menahan gerakan tangan Sabrang.
"Perisai es?" belum hilang rasa terkejut Sabrang, dinding es itu retak dan hancur seketika bersamaan dengan meluncurnya tangan kanan Moris.
"Tapak Dewa Es Abadi."
Jurus keduanya berbenturan dan menciptakan bongkahan es besar yang menjulang tinggi ke atas.
Udara di sekitar area pertarungan turun dengan cepat dan di saat bersamaan muncul serpihan serpihan es di udara.
Hawa dingin yang keluar dari kedua lengan mereka beradu dan untuk sesaat waktu seolah terhenti.
Ketika bongkahan es hampir menutup tubuh keduanya, Moris bergerak lebih dulu, dia mengalirkan energi Cakra Loji untuk melepaskan tangannya yang terkunci bongkahan es.
"Jurus ini..."
Aura Cakra Loji yang meluap dari tubuh Moris menghancurkan bongkahan es yang ada disekitar mereka.
Moris merubah gerakan tangannya dan memunculkan sepasang pedang di kedua tangannya. Dia bergerak cepat dan menyerang dengan gagang pedangnya diantara serpihan es yang beterbangan di udara.
Sabrang mencoba melompat mundur namun gerakan Moris lebih cepat darinya. Gerakan halus itu kembali terlihat oleh mata bulan Sabrang.
Merasa tidak bisa menghindar, Sabrang memunculkan kedua pedangnya dan berniat menggunakan jurus yang sama.
"Tapak Dewa Mencengkeram Langit" ucap keduanya bersamaan. Saat kedua gagang pedang itu hampir berbenturan, Moris kembali berubah gerakannya, dia menarik sedikit gagang pedangnya dan memutar sebelum menebas dengan cara menyilang.
"Jurus Pedang kembar mengoyak angin."
Sabrang tersentak kaget, dia menarik paksa serangannya dan menangkis serangan itu.
Kedua pusaka itu kembali beradu, namun Sabrang yang dalam posisi tidak siap terlihat oleng dan hilang keseimbangan.
Seolah mengetahui gerakan lawan, Moris menghentakkan kakinya ke tanah.
"Hentakan Dewa Bumi."
"Sial!" tubuh Sabrang terlempar beberapa langkah ke kebelakang.
Melihat Sabrang mulai tersudut, Moris tidak menyianyiakan kesempatan. Dia melesat cepat dengan jurus tikaman nya.
"Aku mengerti sekarang, gerakan aneh itu..." ucap Eyang Wesi tiba tiba.
Sabrang mengatur kembali kuda kudanya di udara dan menangkis serangan cepat itu."
Tangkisan itu membuka celah pertahan Moris. Menggunakan gagang pedang, dia berusaha menjangkau tubuh lawannya.
"Tapak Peregang Sukma," Sabrang menggunakan gagang pedang untuk mengalirkan jurus tapaknya, hal yang sering dilakukan adiknya selama pertarungan.
Kecepatan serangan dan posisinya yang sedikit menguntungkan membuat Sabrang yakin serangan kali ini mampu mengenai lawannya. Namun dia salah, adiknya sudah bisa membaca gerakannya. Moris menyambut serangan itu dengan tangan kirinya yang kembali diselimuti hawa dingin.
"Tapak Dewa Es Abadi."
Serangan mereka kembali beradu dan menghempaskan tubuh Sabrang kebelakang dengan bongkahan es menyelimuti tubuhnya.
Serangan cepat keduanya membuat Minak Jinggo takjub, hanya dalam hitungan detik mereka telah melepaskan belasan serangan yang sebagian tidak terlihat oleh mata bulannya.
"Arya Dwipa, kau melahirkan keturunan yang mengerikan," ucap Minak Jinggo.
"Sial! dia cepat sekali," umpat Sabrang sambil menghancurkan bongkahan es di tubuhnya.
"Kau tak akan bisa mengalahkan aku kakang, karena aku memiliki kekuatan Cakra Loji," ejek Moris.
"Aku sudah sering mendengar ancaman itu dan sekarang aku masih bisa berdiri di hadapanmu! Kembalilah Moris, masih belum terlambat untuk menyegel mahluk itu atau aku akan melumpuhkan mu dan menyelamatkan dunia persilatan sendirian," balas Sabrang cepat.
"Menyelamatkan dunia persilatan? Apa kau bercanda kakang? aku bahkan belum menggunakan mata pedangku selama kita bertarung. Andai sejak awal aku menggunakan pedang ini dengan benar, tubuhmu saat ini sudah hancur!" balas Moris.
Sabrang menggeleng pelan sambil menatap adiknya itu, dia merasa Moris sudah benar benar tersesat akibat dendam masa lalunya.
"Apa yang dikatakannya benar nak, harus aku akui dia memang lebih kuat dari kita. Mata bulan itulah yang membuat gerakannya sulit terbaca. Aku tadi melihat mata itu mampu memanipulasi waktu dalam area kecil, hanya disekitarnya. Itulah yang membuat serangannya sangat cepat," ucap Eyang Wesi khawatir.
"Memanipulasi waktu dalam area kecil?" tanya Sabrang bingung.
"Berbeda dengan jurus Ken Panca yang hanya bisa memperlambat waktu, Moris mampu menggabungkan jurus pedangnya dengan dimensi waktu. Dia bisa memperlambat dan Mempercepat bahkan menghentikan waktu dalam area kecil hanya disekitar pedangnya. Dia telah menguasai ruang dimensi berkat Cakra Loji, itulah sebabnya semua serangan yang kau buat tak bisa melukainya," jawab Eyang Wesi.
"Jadi menurutmu ruang dimensi ini yang membuatnya semakin kuat?" tanya Naga Api tiba tiba.
"Benar, selama kita bertarung di tempat ini, tak ada sedikitpun kesempatan untuk menang. Kita harus mencari cara menariknya keluar dari tempat ini. Hanya itu satu satunya cara untuk mengalahkannya," jawab Eyang Wesi cepat.
__ADS_1
Kini dia sudah mengerti mengapa energinya tidak bisa menghancurkan jurus mengendalikan waktu milik Moris seperti yang dia lakukan pada Ken Panca.
"Energi milikku tidak akan berpengaruh pada jurus menghentikan waktu dalam area kecil," tambah Eyang Wesi mulai khawatir.
"Jadi aku perlu menariknya ke dunia kita untuk mengalahkannya bukan? Baik...akan kucoba," ucap Sabrang sambil bersiap menyerang dengan jurus pedang Sabdo Palon.
"Jangan gunakan jurus itu! apa kau tidak ingat bagaimana dia mampu meniru jurus tapak Dewa Es Abadi milikmu? Dia memiliki bakat meniru sepertimu, Jika sampai Moris berhasil meniru jurus pedang tertinggi Sabdo Palon maka tamatlah kita," ucap Eyang Wesi.
"Tidak kek, jika dia memang memiliki bakat meniru jurus, aku justru ingin Moris menguasai semua jurus milikku termasuk Sabdo Palon. Ayo, tunjukkan padaku bakat itu," Sabrang kembali bergerak, dia menoleh kearah Minak Jinggo sesaat yang dibalas anggukan sebelum menarik semua energi Naga Api dan Anom bersamaan.
"Kau masih bersikeras melawanku kakang? Baik, aku akan melawanmu dengan seluruh kekuatanku agar ayah tau dia telah salah memilih," Moris memutar pedangnya sebelum menyambut serangan. Kali ini, dia menggunakan mata pedangnya untuk menyerang karena tekadnya untuk membunuh kakaknya itu sudah bulat.
"Hei nak, Hentikan. Apa kau sudah gila? Naga Api, bicaralah!" teriak Eyang Wesi panik. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika Moris benar benar menguasai jurus pedang tertinggi itu.
"Jika kau membanggakan Arya Dwipa maka aku akan tetap memilih anak ini. Dia dan Moris mungkin sangat kuat dengan tubuh sembilan Naga sempurna dan Mata Bulan tapi satu yang tidak mereka miliki dan itu ada didalam tubuh Sabrang. Tuanku justru akan semakin kuat saat berhadapan dengan lawan yang ilmu kanuragannya jauh di atas dia. Hari ini kau akan melihat kenapa aku memilihnya!" balas Naga Api cepat sambil mengerahkan semua energi Dewa Apinya.
"Naga Api, Anom jika rencanaku kali ini tidak berhasil dan aku tak mampu bertahan, kau tau yang harus kau lakukan," ucap Sabrang sebelum mengayunkan pedangnya.
"Jangan terlalu banyak bicara, konsentrasikan saja pikiranmu dalam pertarungan bodoh! Aku akan melindungi dirimu apapun caranya!" balas Naga Api.
"Jurus Pedang Sabdo Palon tingkat dua..." Ayunan Pedang Sabrang membelah udara dan bergerak cepat menyerang lawannya.
"Jurus yang sangat mengerikan, darimana dia mempelajari jurus ini," Moris memilih bertahan lebih dulu, mata bulannya merekam setiap detail gerakan Sabrang dan membuat simulasi dalam pikiran Moris.
Untuk beberapa saat, Moris terlihat terdesak. Setiap serangan itu dihindarinya dengan bersusah payah, beruntung dia memiliki mata bulan yang hampir sama dengan Arya Dwipa sehingga dalam beberapa detik dia sudah bisa menghafal semua gerakan itu.
Sabrang tidak berhenti di situ, menggunakan Ajian Inti Lebur Saketi dia terus melepaskan jurus andalannya tanpa jeda.
Jurus Pedang Sabdo Palon...
Jurus Pedang Jiwa...
Jurus Pedang Cahaya Merah masalembo
Bahkan jurus pedang yang sudah lama tidak digunakannya karena dilarang oleh Wahyu Tama, Tarian Pedang Api Abadi terus digunakannya bergantian membuat Moris semakin tersudut..
Sabrang mulai terlihat unggul untuk pertama kalinya sebelum Moris merubah gerakannya tiba tiba dan melepaskan energi Cakra Loji yang semakin kuat karena terus menyerap energi alam.
"Inilah waktunya, semoga..." ucap Sabrang dan Minak Jinggo bersamaan.
Minak Jinggo mengalirkan energinya ke dua titik secara bersamaan, Mata bulannya dan Cakra Mahkota.
"Aku akan membuktikan Mata milikku jauh lebih kuat dari Arya Dwipa, andai aku memiliki tubuh sekuat mereka," Minak Jinggo mulai memfokuskan matanya ke arah pertarungan Sabrang.
"Kuda kuda Jurus pedang Sabdo Palon? Jadi kau sudah berhasil meniru jurus milikku ya. Gunakanlah semua jurus itu Moris sampai kau mengerti jika sebenarnya itu kelemahan terbesar kita," Sabrang menyilang kan kedua pedangnya saat Moris mulai menyerang. Dia terlihat memaksakan mata bulannya untuk mengikuti serangan adiknya itu.
"Apa yang sebenarnya kau pikirkan nak? dengan serangan sekuat itu kau tak akan bisa bertahan lama. Harusnya kau tidak terburu buru," ucap Eyang Wesi lirih.
Tak ada yang bisa dilakukan lagi olehnya kecuali membentuk perisai energi sekuat mungkin untuk melindungi tubuh Sabrang dari serangan serangan mematikan Moris.
"Pada akhirnya pertarungan melawan adiknya ini akan menjadi akhir dari sebuah awal kekuatan barunya. Dia akan menjadi yang terkuat jika mampu melewati pertarungan ini. Pengalaman bertarungnya selama ini membuat dia sadar jika bakat meniru yang dianggap sebagai sebuah anugrah justru menjadi kelemahan terbesarnya.
"Kemampuannya dalam meniru jurus milik orang lain mungkin akan membantunya dalam beberapa pertarungan tapi semakin banyak jurus rumit yang ditiru justru akan mengacaukan gerakannya sendiri. Jurus aslinya perlahan akan melemah karena reflek tubuhnya secara tidak sadar akan tercampur dengan jurus tiruan dan pengalaman bertarungnya selama ini telah mengajarkannya hal itu.
"Itulah sebabnya dia memancing Moris meniru semua jurus rumitnya untuk mengacaukan gerakan adiknya itu. Memang akan sangat berbahaya jika musuh mampu menguasai jurus Sabdo Palon tapi itu setimpal dengan apa yang akan di peroleh Sabrang setelah pertarungan ini. Seperti yang sering kukatakan, dia akan berkembang tanpa batas dalam pertarungan. Itulah tuanku!" jawab Naga Api penuh percaya diri.
"Berkembang tanpa batas ya... Dia memanfaatkan kekuatan lawan dan menjadikannya sebagai kelemahan, aku mulai mengerti mengapa Arya Dwipa lebih memilihnya daripada Moris dengan mata bulan sempurna," balas Eyang Wesi sambil menggeleng pelan. Kekaguman sang pusaka penjaga waktu itu terlihat semakin besar pada Sabrang.
"Tugas kita saat ini adalah memastikan dia selamat sampai kelemahan Moris Muncul!" Naga Api mengerahkan semua energinya di pertarungan terakhir ini, dia sadar serangan jurus Sabdo Palon akan jauh lebih mematikan di tangan Moris dan mata bulannya. Sampai Sabrang menemukan celah itu, dia harus memastikan tuannya selamat.
"Jurus pedang Sabdo Palon tingkat dua : Cahaya penghancur Iblis," Gerakan aneh Moris kembali menyulitkan mata bulannya.
Sabrang merubah gerakannya, dia terlihat berusaha menghindar sekuat tenaga.
Energi Keris, Perisai energi Api semua digunakan untuk menangkis serangan pedang Moris yang semakin menggila.
Kedua pedang Moris seolah memiliki jiwa dan bergerak mengikuti Sabrang, serangan itu benar benar mengunci langkah Sabrang.
Satu tebasan, dua tebasan diikuti belasan tarian Pedang Sabdo Palon mengincar tubuh Sabrang.
Sabrang benar benar tersudut, hampir semua tebasan mata pedang Moris tak bisa dihindarinya. Hanya perisai energi gabungan kekuatan Megantara, Naga Api dan Anom yang menyelimuti tubuhnya yang mampu mengurangi efek serangan sehingga tubuh Sabrang tidak hancur.
Jurus Pedang Sabdo Palon di tangan Moris yang memiliki tubuh sembilan Naga sempurna dan Energi Cakra Loji jauh lebih mematikan.
Perputaran energi pelindung Sabrang mulai goyah saat tubuhnya hampir mencapai batasnya dan Moris memanfaatkannya dengan sempurna.
"Tapak Dewa Naga mencengkram langit," Moris mendekat dengan sempurna memanfaatkan celah pertahanan yang melemah, dia mendorong gagang pedangnya yang membuat Sabrang terdorong beberapa langkah sebelum melompat di udara.
"Gawat! Jurus Pedang Sabdo Palon tingkat Akhir!" teriak Naga Api saat merasakan energi Cakra Loji meluap dari pedang kembar Moris.
__ADS_1
"Gerakannya mulai kacau... Aku bisa merasakannya," Sabrang berusaha membentuk kembali perisai tenaga dalamnya namun tiba tiba tubuhnya merasakan sakit yang luar biasa sebagai tanda Ajian Inti Lebur Saketi mulai menyakiti tubuhnya.
Sabrang menoleh kearah Minak Jinggo, dia seolah memberi tanda untuk melakukan sesuatu.
Saat energi Pedang Moris hampir membunuh Sabrang, lubang dimensi terbentuk sebelum Rubah Putih muncul dengan golok pusaka nya.
"Ledakan tenaga dalam Iblis," Rubah Putih menangkis serangan itu untuk beberapa saat sebelum Minak Jinggo menghisap energi itu kedalam matanya.
"Sialan kau Minak Jinggo! menarik tubuhku tiba tiba dan menggunakan sebagai perisai, beruntung aku sudah menyempurnakan Ledakan Tenaga dalam Iblis," umpat Rubah Putih.
"Yang mulia ada dua?" ucap Wardhana bingung saat melihat Moris. Rombongan Mentari dan Tungga Dewi muncul tak lama kemudian. Mereka menatap Sabrang dan Moris bergantian.
Mentari langsung berlari kearah Sabrang dan memeriksa lukanya. "Yang mulia, dia..."
"Adikku," jawab Sabrang sambil mengatur nafasnya.
"Adik anda?" tanya Mentari bingung.
"Tak ada waktu menjelaskannya, tolong katakan pada paman untuk menyiapkan sesuatu di Bukit Cetho," Sabrang membisikkan sesuatu di telinga Mentari.
"Bukit Cetho?" Wajah Mentari berubah seketika, dia kembali teringat dengan ramalannya yang melihat Sabrang hampir tewas sebelum kemunculan pendekar aneh berambut putih. (Baca Chapter 342).
"Tapi Yang mulia..."
"Lakukan saja yang aku minta, itu satu satunya cara menghentikan adikku," potong Sabrang cepat.
"Jadi semua pecundang sudah berkumpul di gerbang kesembilan? sepertinya sudah saatnya aku melepaskan Iblis Iblis Loji ke dunia persilatan," Moris membuka gerbang dimensi dan melepaskan ratusan pendekar yang sudah berubah menjadi Iblis Loji ke dunia persilatan.
"Gawat, Jaya Setra dan yang lainnya," ucap Layang Yuda panik.
"Dewi bawa mereka semua kembali ke dunia persilatan dan hentikan Iblis Loji itu, aku akan menghadapi adikku ini bersama Minak Jinggo, bukan begitu?"
"Ba..baik Yang mulia," jawab Minak Jinggo terkejut.
"Minak Jinggo?" tanya Rubah Putih bingung.
"Kakek, Iblis Loji menjadi lebih kuat karena Cakra Loji terus menyerap energi alam, hanya kau yang bisa memimpin mereka semua menghentikan para Iblis Loji itu atau akan banyak orang tewas, serahkan sisanya padaku," jawab Sabrang cepat.
"Kau yakin bisa menghadapinya?"
"Sepertinya begitu jika Naga Api masih memiliki cukup energi," jawab Sabrang.
"Kau meremehkan Dewa Api?" balas Naga Api sinis.
"Kau pikir aku akan membiarkan mereka pergi?" Moris mulai merapal jurus pedang Sabdo Palon kembali.
"Dewi, sekarang!" teriak Sabrang cepat.
"Baik Yang mulia!" Tungga Dewi mulai menggunakan jurus ruang dan waktunya namun sebuah energi pedang muncul di dekatnya.
"Sialan kau Moris, jangan sentuh dia!" Sabrang kembali bergerak dan di saat bersamaan Minak Jinggo melesat kearah Tungga Dewi.
Mereka mencoba menjauhkan Moris dari Tungga Dewi yang sudah mulai menghisap mereka satu persatu.
Saat semua sudah menghilang dan menyisakan Tungga Dewi, energi pedang itu menancap tepat di kepalanya.
Tungga Dewi tersentak kaget karena dengan serangan sekuat itu dia tidak merasakan sakit sedikitpun.
"Berjuanglah Gusti ratu," tubuh Tungga Dewi perlahan menghilang saat Mata bulan Minak Jinggo menariknya tepat waktu sebelum energi pedang itu menancap di kepalanya.
"Terima kasih Jinggo!" balas Tungga Dewi.
Wajah Moris berubah seketika saat gerakan Sabrang berbeda dari biasanya, perlahan namun pasti Sabrang mulai bisa mengimbangi kecepatannya.
"Tidak mungkin... Apa yang terjadi," Moris melompat mundur, dia berusaha memahami apa yang baru saja terjadi.
"Apa kau akan diam saja Minak Jinggo? bukankah sudah saatnya kita melempar dia ke dunia persilatan?" ucap Sabrang tiba tiba.
"Jadi anda sudah mengetahui jati diriku Yang mulia?" tanya Minak Jinggo terkejut.
"Sayangnya belum tapi pasti akan kubuka siapa kau sebenarnya."
"Begitu ya... jika kita berhasil selamat, aku yang akan mengatakannya sendiri pada anda Ketua," Mata bulan Minak Jinggo kembali aktif dan seolah terhubung dengan milik Sabrang. Dia bisa melihat pertarungan dari dua sisi.
"Ayo kita bawa dia ke Bukit Cetho," ucap Sabrang sambil bergerak menyerang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kemarin Pedang Naga Api tidak Update karena kesibukan, hari ini sebagai permintaan maaf saya gabungkan 2,5 Chapter menjadi satu.
__ADS_1
Hanya tersisa 5 Chapter lagi sampai cerita ini selesai, jadi mohon dukungannya....
Selamat bermalam minggu dan jangan lupa meratapi nasib