
"Jadi Megantara adalah pusaka penjaga waktu? Aku benar benar terkejut Latimojong bisa membuat pusaka sekuat itu, sepertinya pertarungan ini akan jauh lebih menarik. Teruslah berkembang agar tubuh itu semakin kuat sebelum aku merebutnya," ucap Ken Panca sambil menjilat kembali darah yang keluar dari mulutnya.
"Kau masih bisa membual ingin merebut tubuhku di saat sudah tersudut? Sudah cukup kau merebut tubuh orang lain dan berbuat seenaknya, sekarang saatnya menghentikan kalian semua," Sabrang kembali bergerak menyerang.
Ken Panca menoleh ke sekitarnya sebelum menyambut serangan Sabrang, tampak para pendekar Lembayung Merah sudah mulai terpojok. Kehadiran Sabrang setelah bangkit kembali benar benar membuat semangat tempur aliansi meningkat.
Sabrang terlihat berbeda, dia jauh lebih tenang dan bertarung dengan penuh perhitungan. Hal itu membuat pihak aliansi bisa berkonsentrasi menghadapi lawannya.
Lingga pun merasakannya, dia yang awalnya bertarung sambil memikirkan sekitarnya kini bisa menyerang dengan tenang, serangan serangannya kini jauh lebih mematikan dan itu membuat Gara semakin terpojok. Dia dipaksa bertahan tanpa bisa menyerang sedikitpun.
"Kalian terlalu lemah, seharusnya dulu aku mengubur kalian semua di puncak Suroloyo," umpat Ken Panca kesal saat melihat pasukannya tertekan.
Sabrang bergerak semakin cepat, beberapa tebasan pedangnya bahkan mampu mengenai Ken Panca walau masih jauh titik vitalnya.
Ken Panca bukan diam saja, dia sudah berusaha melepaskan diri dari serangan Sabrang. Ken Panca bahkan beberapa kali mencoba menggunakan jurus mengendalikan waktu, namun secepat apapun dia menggunakan jurus itu tebasan pedang Megantara mampu mencegah waktu bergerak mundur.
Pusaka pertama di dunia persilatan itu seolah ingin menegaskan kekuatannya untuk menjaga waktu tetap berputar seperti biasanya.
Luka di tubuh Ken Panca mulai mengganggu gerakannya, walau masih menyimpan satu jurus rahasia tapi tak mudah menggunakannya dalam posisi bertahan.
"Sial, selama pedang itu berada ditangannya jurus mengendalikan waktuku tak akan berguna. Aku harus mencari cara untuk keluar dari tekanan ini secepatnya dan menggunakan jurus itu!" ucap Ken Panca sambil terus berusaha menghindari serangan Sabrang yang semakin cepat.
Sabrang merubah gerakannya tiba tiba saat melihat gerakan Ken Panca melambat, dia menarik energi keris yang berputar di udara sebelum mengayunkan pedangnya ke sisi kiri pertahanan Ken Panca.
Sebuah tebasan cepat yang sebenarnya akan digunakan Sabrang untuk memancing lawannya bergerak mundur sebelum menyerang dengan jurus pedang Sabdo Palon. Namun bukannya menghindar, Ken Panca justru menyambut serangan itu dengan pedangnya.
"Dia...?" Benturan dua kekuatan besar itu berhasil melempar tubuh Ken Panca.
Ken Panca bergerak di udara, dia memutar tubuhnya sambil menyilang kan kedua tangannya dan memusatkan tenaga dalam di Cakra Mahkotanya.
"Dia sengaja memanfaatkan efek jurus pedangku untuk melepaskan diri dari tekanan," Sabrang yang melihat Ken Panca akan menggunakan jurus mengendalikan waktu langung bergerak mendekat.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu menggunakan jurus terlarang itu?" Sabrang mengayunkan pedangnya dan mengincar lengan kanan Ken Panca yang sudah bersiap menggunakan jurus Mengendalikan waktu.
Saat tebasan pedang Sabrang hampir memotong lengan Ken Panca, sesuatu yang aneh tiba tiba terjadi.
__ADS_1
Gerakan Sabrang tiba tiba melambat namun di saat bersamaan Ken Panca bergerak sangat cepat yang bahkan tidak bisa di lihat dengan mata bulannya.
"Tidak mungkin...." Ken Panca menghilang di udara, Sabrang menajamkan mata bulannya untuk melihat serangan lawannya itu namun yang dirasakan Sabrang berikutnya adalah belasan serangan menghantam tubuhnya hanya dalam hitungan detik.
Teriakan Sabrang membuat Lingga dan yang lainnya langsung menoleh terkejut, mereka hampir tidak percaya saat melihat tubuh Sabrang hanya mematung di udara.
Setra jelas yang paling terkejut, mata bulannya berusaha mencari keberadaan Ken Panca namun tak berhasil, hanya sayatan sayatan pedang yang entah dari mana mulai menghiasi tubuh Sabrang sebelum terhempas ke tanah.
Tubuh Sabrang membentur tanah dengan kecepatan tinggi dan membuat lubang yang sangat besar bersamaan dengan terdengarnya suara ledakan.
"Jika pusaka itu bisa mencegah waktu berputar kembali maka aku hanya perlu bergerak lebih cepat dari waktu itu sendiri," Ken Panca muncul di udara dengan nafas yang tersengal.
"Dia masih menyimpan kekuatan sebesar ini?" ucap Jaya Setra terkejut.
"Yang mulia!" Elang yang sedang bertarung dengan para pendekar Lembayung Merah langsung bergerak mendekat namun Jaya Setra dengan cepat mencegahnya.
"Elang, menjauh! kau bukan tandingannya," teriak Jaya Setra cepat sambil menyambar tubuh Elang saat sebuah energi pedang melesat kearahnya.
"Cepat sekali..." Setra berusaha membentuk energi pelindung namun tubuhnya terlambat bereaksi.
Saat jarak Energi pedang dan leher Setra sudah sangat dekat, lorong dimensi ruang waktu muncul dan menghisap serangan itu dengan cepat.
"Tuan... serangan itu?" suara Elang bergetar.
"Aku tidak tau, tubuh kita seolah melambat untuk sesaat tapi aku yakin waktu tidak berhenti," jawab Setra bingung.
Sabrang meringis kesakitan, dia mencoba mengatur nafasnya namun tiba tiba darah mengalir dari mulut dan hidungnya menandakan luka dalam yang cukup parah.
"Kakek, apa yang sebenarnya terjadi... Bukankah seharusnya kekuatanmu tidak berpengaruh terhadap jurus terlarang itu?" tanya Sabrang cepat.
"Dia tidak menggunakan jurus itu, aku sama sekali tidak merasakan aura dari jurus mengendalikan Waktu," jawab Eyang Wesi terkejut.
"Tidak menggunakan jurus itu? lalu bagaimana bisa kecepatan ku tiba tiba melambat?"
"Kecepatanmu tidak melambat, bahkan jauh lebih cepat karena aku mengalirkan energi yang cukup besar kedalam tubuhmu untuk mempersiapkan serangan terakhir tapi dia bergerak lebih cepat dari putaran waktu," jawab Eyang Wesi.
__ADS_1
"Bergerak lebih cepat dari putaran waktu?" Sabrang bangkit perlahan sambil mengatur nafasnya, dia merasa beberapa tulang rusuknya patah akibat membentur tanah.
"Ajian Langkah waktu, salah satu jurus tertinggi milik Dewa waktu sang pemimpin Latimojong, aku tidak menyangka dia menguasai jurus itu juga," Eyang Wesi mulai terlihat khawatir.
Eyang Wesi pantas khawatir, kekuatannya memang tidak berpengaruh terhadap jurus mengendalikan waktu tapi apa yang diperlihatkan Ken Panca bukan bagian dari jurus itu. Ajian Langkah Waktu sebenarnya hampir sama dengan ilmu meringankan tubuh namun jurus itu bisa bergerak lebih cepat dengan memanfaatkan kekacauan dimensi waktu.
"Menggunakan Jurus Menghentikan waktu akan membuat dimensi waktu menjadi kacau dan berputar lebih lambat untuk beberapa saat tapi efek itu tidak berlaku bagi penggunanya, itulah yang dimanfaatkan Ken Panca untuk bergerak lebih cepat. Bisa dikatakan ajian Langkah waktu tercipta dengan memanfaatkan efek dari penggunaan jurus Mengendalikan waktu. Kita benar benar dalam masalah kali ini," jawab Eyang Wesi cepat.
"Apa tidak bisa dihentikan?" tanya Sabrang cepat.
"Kekuatanku hanya berfungsi untuk mencegah jurus mengendalikan waktu, satu satunya cara menghentikan dia adalah bergerak lebih cepat darinya dan itu sangat mustahil jika kau tidak menggunakan jurus yang sama."
"Menggunakan jurus yang sama? sepertinya dia menemukan lawan yang tepat, bukanlah meniru adalah keahlian mu?" ejek Naga Api.
"Bagaimana aku bisa meniru jika mataku saja tidak bisa melihat gerakannya?" jawab Sabrang pelan.
"Meniru jurus itu mungkin bisa dilakukan tapi akan menjadi mustahil ketika mata bulannya tidak bisa melihat setiap gerakan secara detail karena semua ilmu yang ada di dalam kitab Sabdo Loji memiliki gerakan yang sangat rumit," balas Eyang Wesi.
"Sabdo Loji benar benar mengerikan, jurus itu bisa merusak keseimbangan alam dan dimensi waktu," ucap Sabrang pelan.
"Apa kau sudah sadar perbuatan kekuatan kita? kau mungkin memiliki pusaka penjaga waktu tapi itu tidak berarti bisa mengalahkan aku karena makna dari Sabdo Loji jauh lebih luas dari daratan manapun. Menyerah lah, mungkin aku akan mengampuni orang orang terdekatmu!" ucap Ken Panca.
"Menyerah? Sepertinya kau harus berusaha keras untuk memaksaku mengatakan itu," ucap Sabrang sambil bergerak menyerang.
"Hei, apa kau tidak bisa bersabar sedikit, menyerangnya tanpa rencana hanya akan membuatmu terbunuh," ucap Naga Api saat melihat Sabrang sudah kembali bergerak.
"Rencana? bukankah kita sudah terbiasa bertarung tanpa rencana? Aku hanya perlu mencari kelemahan jurus ini lebih keras seperti biasanya," jawab Sabrang sebelum menarik energi Eyang Wesi dengan Ajian Inti Lebur Saketi.
"Kau benar benar sudah gila, apa kau tidak lihat bagaimana..." Naga Api tidak melanjutkan ucapannya saat merasakan energi Anom meledak didalam tubuh Sabrang.
"Fokus saja untuk menyerang dan pastikan kau meniru jurusnya, biarkan aku yang melindungi tubuhmu," ratusan energi keris muncul di udara dan mengikuti Sabrang bergerak.
"Anom.. Jangan bilang kau juga sudah kehilangan akal," umpat Naga Api.
"Apa kau ingat kata kata yang dulu pernah kau ucapkan saat memilihnya sebagai tuan? kita sudah kehilangan akal dengan memilih anak ini, lalu apa lagi yang harus kita khawatirkan?" balas Anom.
__ADS_1
"Baik, ayo kita lakukan!" ledakan energi meluap dari tubuh Sabrang bersamaan dengan kecepatannya yang terus meningkat.
"Kau masih belum mau menyerah? sangat disayangkan aku harus merusak tubuh itu sedikit," Ken Panca menyilang kan kembali kedua tangannya di depan.