
"Bagaimana kalian bisa masuk lebih dulu ke gerbang keempat?" tanya Kawanda bingung saat melihat Sekar Pitaloka dan Wardhana sudah berada di gerbang keempat.
"Jadi ini di gerbang keempat? berarti gerbang terakhir ada di ruangan ini?" ucap Wardhana dalam hati sambil memperhatikan dinding sekitarnya dengan tidak menurunkan sedikitpun kewaspadaannya.
"Aku tidak tau apa yang kalian rencanakan, tapi melepaskan wabah penyakit Pagebluk Lampor sama saja dengan bunuh diri," balas Wardhana pelan.
Kawanda menatap Wardhana sambil mengernyitkan dahinya, dia seperti sedang berusaha mengenali pria dihadapannya.
"Wardhana sang naga dari Malwageni, aku sering mendengar namamu dari tempat persembunyian namun baru kali ini berhadapan langsung," Kawanda menundukkan kepalanya memberi hormat.
"Aku tersanjung namaku dikenal oleh para pendekar Guntur Api, aku berharap bisa meminta petunjuk anda," balas Wardhana sopan sambil memberi hormat.
"Wardhana?" ucap Sekar Pitaloka bingung saat melihat Wardhana memberi hormat pada Kawanda.
"Ibu ratu, harap jangan bergerak terlebih dahulu jika tidak terpaksa, hamba sedang mencoba mencari cara menghadapi mereka," bisik Wardhana saat menundukkan kepalanya.
Wardhana memang mencoba mengulur waktu untuk berfikir, dia sadar saat ini posisinya sedang terjepit. Melawan puluhan pendekar Guntur Api hanya bersama Sekar Pitaloka jelas bukan pekerjaan mudah, terlebih ilmu kanuragannya yang rendah akan menjadi beban bagi Sekar Pitaloka.
Memberi tanda pada pasukannya yang berjaga di atas juga tidak mudah, jarak antara puncak gunung dengan dasar lubang Nagara Siang Padang cukup jauh sehingga sekuat apapun mereka berteriak tak akan mungkin bisa didengar.
Situasi ini memang diluar perkiraan Wardhana, dia berfikir selama gerbang keempat tidak dibuka, semua akan baik baik saja namun para pendekar Guntur Api ternyata membuka paksa gerbang itu.
Wardhana diam diam menggunakan segel udara dan mengalirkannya di puncak gunung, kini dia hanya berharap Ciha datang tepat waktu karena hanya Ciha yang dapat menyadari segel udara.
"Meminta petunjukku? bagaimana jika kita bicara setelah aku membuka gerbang terakhir kuil Nagara Siang Padang," balas Kawanda.
"Ketua, apa tidak sebaiknya...," Kanigara menghentikan ucapannya saat melihat Kawanda memberi tanda padanya untuk diam.
"Maaf tuan, apa anda tidak memikirkan banyak orang akan menderita dan tewas akibat wabah penyakit itu? jika yang ingin anda incar adalah Lakeswara dan Masalembo sebaiknya kita bekerja sama karena lawan kita sama," jawab Wardhana.
"Menderita? kau tak pantas bicara itu padaku, dimana kalian saat kami penduduk desa Tengger menderita akibat percobaan Lakeswara dan Masalembo?
Semua bayi yang lahir di desa itu seperti Iblis yang memiliki mata aneh sepertiku. Mata ini mungkin terlihat seperti mata bulan namun kenyataannya jauh dari itu. Mata ini menyerap semua energi kehidupan kami perlahan sampai kami mati dalam penderitaan.
Dunia ini sudah hancur akibat ulah Lakeswara, dendam pada Masalembo akan terus memicu pertumpahan darah di dunia persilatan karena banyak orang menderita akibat ambisinya. Saat ini satu satunya cara untuk menghentikan kerusakan itu adalah memusnahkan semuanya dan akan kubuat dunia baru tanpa dendam dan pertumpahan darah," jawab Kawanda.
"Dendam benar benar telah membuat anda jauh lebih menakutkan dari Lakeswara, kalian berdua sama sama dirasuki ambisi," Sekar Pitaloka menggeleng pelan.
"Menakutkan? keadaan yang membuat kami seperti ini, apa kau pernah membayangkan bagaimana rasanya menjadi ratusan orang yang menderita akibat percobaan dikubur hidup hidup ditempat ini?
Mata ini membuat kami tidak berani tidur satu detik pun karena dia terus menyerap energi kehidupan, sebentar saja kami tertidur, sesuatu akan merasuki dan menguasai tubuh ini. Apa penderitaan kami belum cukup sampai harus dikubur hidup hidup?" bentak Biantara.
"Aku tau perasaan anda tuan, namun wabah itu terlalu berbahaya jika menyebar," balas Wardhana.
"Jadi menurutmu hanya kami yang pantas menderita akibat Pagebluk Lampor? atas dasar apa kau bicara seperti itu? kau tau tuan patih, mata ini memang menyiksa kami seumur hidup namun masih jauh lebih baik dari efek Pagebluk Lampor.
Aku masih sangat ingat bagaimana penduduk desa yang terjangkit Pagebluk Lampor menderita saat tubuhnya menghitam seperti terbakar api sebelum meregang nyawa dengan wajah hancur. Jadi atas dasar ini kami harus dikubur hidup hidup? aku bisa selamat karena saat kejadian itu sedang berada di luar desa," jawab Kawanda sinis.
Wardhana terdiam setelah mendengar ucapan Kawanda, dia tidak menyangka Lakeswara dan Masalembo bisa sekejam itu.
Wardhana menoleh keatas sambil terus berfikir, saat ini dia benar benar kehabisan waktu.
"Apa Ciha belum sampai? aku harus terus mengulur waktu atau Ibu ratu dalam bahaya," ucap Wardhana dalam hati.
"Aku tak pernah mengatakan kalian pantas menderita akibat Masalembo namun kalian juga tidak memiliki hak menyeret orang tidak berdosa ikut menanggung kesalahan Lakeswara.
Saat ini Lakeswara tersegel di dimensi ruang dan waktu, jika kalian melepaskan wabah penyakit itu kalianlah yang akan mati bukan dia," balas Wardhana pelan.
__ADS_1
Kawanda menatap Wardhana tajam sebelum tertawa lantang.
"Tersegel? kau pikir aku akan membiarkannya berada di dimensi ruang dan waktu saat Pagebluk Lampor mulai menyebar?"
"Kau? jangan jangan?" wajah Wardhana tiba tiba berubah seketika.
"Walau pun mata ini tak sehebat mata bulan miliknya namun jika hanya untuk merusak segel kegelapan abadi kurasa masih mampu."
"Kau gila, apa yang kau lakukan sama saja melepaskan kembali iblis terkuat itu ke dunia ini setelah kami bertaruh nyawa menyegelnya," jawab Wardhana geram.
"Kondisi dimensi ruang dan waktu tidak bisa menahan dia selamanya, percobaan yang mereka lalukan untuk menembus portal pembatas antar dimensi telah merusak dinding pelindung.
Aku sangat kagum padamu tuan Patih walau saat ini kita berhadapan sebagai musuh namun aku minta maaf karena hanya Pagebluk Lamporlah yang bisa menghentikannya, dan jika kau memaksa menghadang kami terpaksa membunuhmu," Kawanda menarik pedangnya sambil menunggu jawaban Wardhana.
"Portal pembatas antar dimensi? apa maksudmu?" tanya Wardhana yang masih berusaha mengulur waktu.
"Kau pikir untuk apa dia membuat percobaan terhadap mata kami dan ramuan yang akhirnya menciptakan wabah Pagebluk Lampor? dia ingin membuka portal pembatas antar dimensi dan membangkitkan Rabing sang iblis air," jawab Kawanda.
"Rabing?" Wardhana mengernyitkan dahinya.
"Apa kau pernah pendengar pusaka Bilah Gelombang yang konon pernah digunakan pendekar penjaga mata angin untuk mengalahkan Naga Api? ruh Rabing lah yang bersemayam di dalamnya.
Setelah berhasil menyegel Naga Api, pendekar Penjaga mata angin memutuskan mengurung Rabing di dimensi itu karena kekuatannya sangat menakutkan.
Itulah yang sejak awal di incar Lakeswara untuk menyempurnakan rencana Masalembo. Mengurungnya di ruang dimensi sama saja memberinya waktu untuk membangkitkan Rabing, kalian benar benar melakukan kesalahan besar," jawab Kawanda.
"Iblis air? api melawan air? pantas saja dulu Naga api tersegel," ucap Wardhana dalam hati, dia mulai menimbang semua ucapan Kawanda.
Jika benar apa yang dikatakan Kawanda, semua keanehan selama Wardhana berada di dimensi Lakeswara terjawab dan mungkin luka aneh Ciha ada hubungannya.
"Jadi apa yang anda pilih tuan patih?" tanya Kawanda kembali.
Wardhana menarik nafas panjang, apa yang dikatakan Kawanda ada benarnya namun melepaskan Pagebluk Lampor justru akan memperumit situasi.
"Maaf tuan, aku tetap pada pendirian awal, Pagebluk Lampor tidak boleh keluar dari Nagari Siang Pandang," balas Wardhana.
"Kau membuatku kecewa," Kawanda menggeleng pelan sebelum memberi tanda pada pendekar Guntur Api untuk menyerang.
"Wardhana, cari cara untuk memberitahu mereka agar turun, aku akan mencoba menahan mereka," Sekar Pitaloka bergerak menyambut serangan beberapa pendekar Guntur Api.
"Ibu ratu? Ciha dimana kau sebenarnya saat ini?" ucap Wardhana dengan nada khawatir.
***
Sabrang tampak mengernyitkan dahinya saat melihat semua kenangan masa kecil dari pertama dia belajar di sekte Pedang Naga Api sampai terakhir melawan Biantara di keraton Malwageni beberapa waktu lalu.
"Apa aku sudah mati?" ucap Sabrang bingung.
"Tongkat cahaya putih adalah pusaka dewa yang diberikan anugrah oleh alam untuk meramal masa depan, bukan untuk menentang kehendak alam namun sebagai peringatan untuk mengembalikan kembali pada jalurnya," Siren Muncul dengan tongkat cahaya putih di punggungnya, penampilannya kali ini sangat berbeda karena dia mengenakan jubah perang dengan ikat kepala berwarna merah dikepalanya.
"Siren?"
"Maaf aku menarik anda dalam dimensi ku karena aku ingin bicara berdua tanpa ada iblis bodoh itu," balas Siren sambil menundukkan kepalanya.
"Bicara denganku?" tanya Sabrang makin bingung.
"Apa anda percaya jika Iblis air dan pusaka Bilah Gelombang selama ini telah menunggu kelahiran seorang pendekar yang bisa membantunya menghancurkan dunia persilatan?"
__ADS_1
"Iblis Air? Bilah Gelombang? aku tidak mengerti maksudmu," jawab Sabrang.
"Aku mencoba melihat masa depan dunia persilatan, dan sekuat apapun aku berusaha penglihatan ku selalu berakhir di akhir peradaban Maja. Aku tidak tau kapan peradaban itu akan muncul dan apakah Maja benar benar ada namun diakhir kehancuran dunia aku melihat dengan jelas seorang pendekar membantai semua manusia tanpa sisa termasuk Rubah Putih dan sebagian orang yang kau kenal.
Kekuatan pendekar itu begitu mengerikan, bakat alaminya ditambah kekuatan Rabing dan Naga Api berada di tubuhnya membuat dia tak bisa dihentikan. Aku bahkan melihat Lakeswara tak berdaya dihadapannya," ucap Siren pelan.
"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan Siren? apa kau menuduhku?" tanya Sabrang kesal.
"Seluruh energi ku mengeras dan aku merasakan takut untuk pertama kalinya saat melihat pendekar itu membantai tanpa ampun dalam ramalanku. Kau tau siapa pendekar kulihat itu? Sabrang Damar, kau lah iblis yang menghancurkan dunia ini," jawab Siren.
"Tidak, tidak mungkin, aku tidak akan melakukan hal gila itu," bentak Sabrang kesal.
"Aku percaya padamu, itulah sebabnya aku mengajak anda bicara," balas Siren cepat.
"Lalu apa yang ingin kau katakan?"
"Aku tidak tau bagaimana anda bisa berubah menjadi Iblis namun melihat anda dirasuki Dewa api tadi aku sadar potensi anda untuk menjadi dewa penyelamat ataupun Iblis pembunuh sama besarnya.
Aku tidak bisa cerita terlalu banyak disini karena si bodoh ini terus menekan kekuatanku, setelah semua masalah di Gunung Padang selesai, mohon bawa Mentari ke ujung tanah Jawata yang berkilauan, kita akan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi padamu dan hubungannya dengan Kitab Sabdo Loji. Sampai saat itu tiba berhati-hatilah pada Roh didalam tubuhmu," ucap Siren sambil tersenyum kecil sebelum tubuhnya menghilang diantara kobaran api.
"Hei, apa yang dia katakan padamu? berhati hatilah pada Iblis betina itu, dia sangat licik," ucap Naga Api.
"Tidak, dia hanya memintaku berhati hati," jawab Sabrang.
"Berhati hati?" Naga Api mengernyitkan dahinya.
Belum sempat Sabrang menjawab, Suara Mentari membangunkannya dari pingsan.
"Tari?" ucap Sabrang yang masih bingung dengan keadaan disekitarnya.
"Syukurlah, anda sudah sadar Yang mulia," Mentari langsung memeluk Sabrang erat seperti enggan melepaskannya.
Sabrang membalas pelukan Mentari sambil mengingat apa yang baru saja terjadi namun sekeras apapun dia mengingat tetap tidak berhasil.
"Tari, Yang mulia, sebaiknya kita bergegas ke puncak gunung padang. Tuan Rubah Putih sudah lebih dulu bergerak karena merasakan ada energi yang sangat besar berasal dari gunung itu," ucap Tungga Dewi sopan.
"Energi besar? ibu?" ucap Sabrang tiba tiba, dia bangkit dari duduknya dan bersiap pergi sebelum tiba tiba berteriak karena merasakan matanya seperti terbakar.
"Yang mulia?" tanya Mentari dan Tungga Dewi bersamaan.
"Gawat, ada yang mencoba membuka segel kegelapan abadi ruang dan waktu, jika sampai Lakeswara bangkit kembali, semua akan semakin sulit," Sabrang bergerak cepat kearah puncak gunung diikuti Mentari dan Tungga Dewi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hantu Rabing
Rabing dipercaya sebagai hantu sungai di kawasan angker. Konon, hantu tersebut menyerupai tikar yang ada di dalam air. Namun, kadang Rabing juga kerap digambarkan sebagai makhluk yang mirip dengan penyu sungai yang cangkangnya lunak.
Dipercaya hantu Rabing kerap menggulung orang yang sedang berenang hingga membuat mereka mati lemas. Orang-orang percaya jika datangnya hantu Rabing bisa diketahui ciri-cirinya. Misalnya saja ketika permukaan sungai tenang, namun di dalam air terasa berputar-putar. Dengan mengetahui itu, maka masyarakat akan lebih waspada.
Hantu yang konon berasal dari Pontianak ini digambarkan mirip tikar yang mengapung di atas air ini akan menggulung korbannya sampai mati.
Dalam cerita Pedang Naga Api, Rabing yang pernah bersemayam di dalam pusaka Bilah Gelombang akan menjadi lawan yang cukup menyulitkan Naga Api di Masa depan.
Rabing saya pastikan hanya akan menjadi Cameo atau peran pembantu di Pedang Naga Api sebelum kemunculannya sebagai lawan terkuat dari semua musuh di trilogi Naga Api lainnya.
Besok akan ada chapter bonus sesuai janji saya.
__ADS_1
Bonus hari ini saya memberikan tips menulis ala Penulis Receh atau Ricky Pake C.. semoga bermanfaat...