
Tubuh Sabrang kembali terlempar saat sebuah serangan cepat mengenai tubuhnya, beruntung dia masih sempat membentuk perisai es untuk mengurangi efek serangan.
"Jurus menghentikan waktu? tidak mungkin!" ucap Sabrang terkejut saat merasakan waktu disekitarnya terhenti sebelum sebuah serangan keras menghantamnya.
"Bagaimana dia menguasai jurus trah Dwipa dengan mata biasa seperti itu?" Anom tak kalah terkejut.
"Simpan dulu rasa terkejut itu karena masih banyak yang akan aku tunjukan padamu," Agam menarik pedangnya dan kembali menyerang.
"Berhati hatilah nak, sepertinya ada sesuatu yang dia sembunyikan," ucap Anom khawatir.
"Aku tau," balas Sabrang sebelum bergerak menyambut serangan Agam.
Keduanya kembali bertukar jurus di udara, kali ini Sabrang terlihat menyerang dengan hati hati dan sedikit menjaga jarak. Dia masih mengingat dengan jelas bagaimana tubuhnya hampir terbelah menjadi dua andai perisai es tidak muncul tepat waktu saat Agam menghentikan waktu
"Gerakannya selalu berubah ubah," umpat Sabrang kesal.
Pertarungan yang awalnya berjalan seimbang perlahan berubah, Agam yang terus meningkatkan kecepatannya mulai mendominasi dan menekan Sabrang. Kecepatan serangannya sangat sulit dibaca oleh mata bulan.
"Aku benar benar muak melihat mata sialan itu," Agam terus menekan sambil menunggu Sabrang melakukan kesalahan kecil.
"Tarian Iblis pedang?" Sabrang tersentak kaget saat mengenali jurus yang digunakan Agam.
Belum sempat dia menghindar, Agam kembali merubah kuda kudanya dan menyerang jurus lainnya.
"Jurus pedang pemusnah raga," Agam mengayunkan pedangnya dengan cepat.
"Jurus itu?" ucap Sabrang dan Naga api bersamaan.
Sabrang mengeluarkan pedang Pengilon kembar di tangan kirinya dan menangkis serangan itu dengan kedua pedangnya sebelum melepaskan energi Naga Api untuk menekan Agam.
Ledakan akibat benturan dua tenaga dalam besar itu mendorong tubuh keduanya kebelakang beberapa langkah. Agam yang tidak menyangka Sabrang masih memiliki pedang lainnya tampak kehilangan keseimbangan dan ini dimanfaatkan dengan baik oleh Sabrang untuk menyerang balik.
"Pedang jiwa tingkat V : Gelombang penghancur sukma," Sabrang mendekat dengan cepat dan mengayunkan pedang sekuat tenaga.
Namun saat pedang Sabrang hampir mengenai sasarannya, waktu kembali berhenti.
"Selama aku bisa menghentikan waktu sesuka hatiku, tak akan ada yang bisa menyentuhku," ucap Agam sambil melepaskan jurus tarian iblis pedang.
"Dia memancingku mendekat?" Sabrang yang mulai menyadari telah masuk perangkap Agam berusaha menggerakkan tubuhnya namun tak berhasil.
"Naga Api!" teriak Sabrang sebelum kobaran api tiba tiba meluap dari tubuhnya yang memaksa agam menarik serangannya dan melompat mundur.
Tepat setelah waktu kembali berputar, Sabrang bergerak cepat kearah Agam dan menggunakan jurus pedang jiwa untuk menyerang.
Agam tersenyum tipis sebelum melesat menggunakan jurus yang sama.
"Dia bahkan bisa menggunakan jurus pedang jiwa?" ucap Sabrang terkejut.
Kedua pedang kembali beradu dan menciptakan ledakan ledakan besar yang membuat area pertarungan hancur dan setelah bertukar puluhan jurus, mereka sama sama mengambil jarak untuk mengatur nafas. Agam terlihat yang paling kelelahan kali ini, menggunakan jurus menghentikan waktu membutuhkan tenaga dalam yang cukup besar.
Agam terpaksa menggunakan jurus itu karena walaupun Sabrang terlihat kalah dalam hal kecepatan tapi Agam bukan tidak dalam kesulitan.
Serangan serangan cepat yang mengandung energi Naga Api terkadang membuat dia kewalahan dan terpaksa menggunakan jurus menghentikan waktu.
"Dia lebih kuat dari yang kupikirkan, sangat mengejutkan pada akhirnya Naga Api yang terkenal liar dan haus darah benar benar memilihnya sebagai tuan," ucap Agam dalam hati.
Agam masih mengingat dengan jelas ketika pertama kali berhasil menguasai semua ilmu kanuragan yang terdapat di dalam kitab Sabdo Loji, saat itu dia mencari keberadaan Iblis Api untuk menyempurnakan pusaka miliknya.
Agam cukup yakin mampu menaklukkan Naga Api karena ada sebuah ajian khusus yang terdapat di kitab Sabdo Loji untuk menaklukkan keganasan Naga Api.
Namun setelah bertarung selama beberapa hari dengan Naga Api, Ajian Komara Geni tidak terlalu berfungsi karena kekuatan Iblis api semakin kuat setelah menyerap Energi alam selama ribuan tahun.
__ADS_1
Agam bahkan sampai terluka parah sebelum bisa melarikan diri dengan menggunakan jurus menghentikan waktu. Dia akhirnya menyerah dan menganggap jika Naga Api tidak akan pernah bisa ditaklukkan oleh siapapun.
"Naga api, aku merasa hari ini kau jauh lebih pendiam, apa terjadi sesuatu?" tanya Sabrang heran, karena biasanya Naga Api selalu berteriak jika Sabrang melakukan kesalahan dalam pertarungan.
"Sebaiknya kau pergi karena pertarungan ini tak mungkin bisa kau menangkan," jawab Naga Api tiba tiba.
"Apa kau bilang, pergi dari pertarungan?" tanya Sabrang terkejut, dia tidak menyangka untuk pertama kalinya mendengar Naga api ragu memenangkan pertarungan.
"Kau tidak tau seberapa kuat ilmu yang dimilikinya dan ajian Komara Geni adalah ilmu kanuragan miliknya yang paling aku takutkan. Dengan ajian itu dia bisa mengendalikan kesadaran dan kekuatanku sepenuhnya.
"Aku pernah bertarung dengannya ribuan tahun lalu dan merasakan kekuatannya, andai saat itu dia menguasai Ajian Komala geni dengan sempurna mungkin aku sudah menjadi pengikutnya. Kau tau, apa yang dia tunjukkan dalam pertarungan kali ini baru sebagian kecil dari kekuatannya dulu," jawab Naga Api.
"Sekuat itukah dia hingga kau begitu takut?" ejek Sabrang.
"Bukan aku yang harus takut tapi kaliam semua karena jika dia berhasil mengendalikan kekuatanku maka tak ada yang bisa menghentikannya dan semua perjuangan kalian selama ini akan sia sia," balas Naga Api kesal.
"Begitu ya? jadi aku hanya perlu mengalahkannya bukan?" jawab Sabrang sebelum kembali menyerang.
"Dia tidak pernah mendengarkan aku sama sekali," umpat Naga Api.
"Dia memang keras kepala dan terkadang terlalu yakin dengan kemampuannya sendiri tapi bukankah itu yang membuat dia berkembang sejauh ini bukan? dengarkan aku Naga api, mungkin dia adalah lawan terkuat kita selama ini tapi kau harus mengingat kembali apa yang membuatmu yakin memilih Sabrang sebagai tuan. Gunakan keyakinan itu untuk membantu tuan yang kau pilih mewujudkan semua ambisinya," sahut Anom sebelum melepaskan energinya untuk membantu Sabrang.
"Hal yang membuatku yakin memilihnya sebagai tuan?" tanya Naga api pelan.
"Perlawanan yang sia sia, sangat disayangkan aku harus membunuh pemuda penuh bakat sepertimu," Agam menyambut serangan Sabrang dengan hampir seluruh kekuatannya.
***
Saat posisi Sabrang sedang terdesak, keadaan ibukota Malwageni tak jauh lebih baik.
Kabar terdesaknya pasukan Angin selatan yang dipimpin Rubah Putih dan Wira menyebar cepat di Ibukota, Tungga Dewi bahkan harus meyakinkan pasukannya jika masih ada harapan untuk menang agar semangat tempur mereka terjaga.
Tugas Tungga Dewi menjadi berat karena selain harus menjaga konsentrasi pasukannya di saat kabar simpang siur yang sengaja dihembuskan oleh lawan untuk meruntuhkan semangat tempur mereka, dia juga terus menyusun rencana cadangan andai benar kabar Rubah Putih terdesak.
Rengga sejak awal sudah mengirim para telik sandinya untuk menyebarkan kabar kemenangan Arkantara di ibukota untuk mengacaukan situasi, dia ingin pertahanan terakhir yang dijaga Tungga Dewi hancur sehingga memudahkan mereka menaklukkannya.
Arina yang mendengar kabar itu tidak tinggal diam, dia meminta Tungga Dewi menangkap sementara siapapun yang membicarakan kekalahan Malwageni di medan perang.
Tungga Dewi langsung bergerak cepat, dia bahkan melarang pasukannya untuk membicarakan hal itu namun kabar sudah terlanjur menyebar dan ini yang membuatnya kesulitan menekan kabar angin itu.
"Beristirahatlah Gusti ratu, anda belum tidur sama sekali sejak perang dimulai, hamba akan mencoba mencari cara untuk menekan kabar kabar palsu yang akhir akhir ini beredar di ibukota," ucap Arina pelan.
"Tak perlu memikirkan kesehatanku karena semua akan percuma jika kita kalah, kita harus secepatnya mencari cara menyiasati situasi ini agar pertahanan terakhir Malwageni tidak hancur selama mereka semua berjuang bertaruh nyawa," jawab Tungga Dewi pelan.
"Tapi kau juga harus memikirkan tubuhmu Dewi, aku akan berjaga bersama Tari dan Arina," sahut Sekar Pitaloka.
"Tapi Ibu ratu, hamba...," belum selesai Tungga Dewi bicara, Wulan tiba tiba muncul didekat mereka sambil menempelkan jari telunjuk di bibirnya sebagai tanda untuk diam.
Wulan menggunakan Segel Matahari untuk mengelabui prajurit penjaga Malwageni dan masuk diam diam ke tenda utama tempat Tungga Dewi memimpin perang kali ini.
Wulan tidak bicara sepatah katapun dan hanya menyerahkan sebuah gulungan sebelum tubuhnya perlahan menghilang bersama lenyapnya segel miliknya.
"Ada mata mata didalam pasukan Angin selatan," Mentari, Tungga Dewi, Sekar dan Arina saling menatap setelah membaca gulungan yang ditulis Wardhana itu.
Mereka kemudian membaca tulisan utuh di gulungan itu dalam hati.
"Hamba mohon maaf jika merahasiakan taktik perang kali ini Gusti ratu karena situasinya sudah sangat menyudutkan kita. Hamba harus mengecoh semua orang untuk memastikan jebakan hamba berjalan baik karena Pangeran berhasil menyusupkan mata mata dan atas izin Yang mulia hamba mulai menjalankan rencana ini.
"Hamba mempertaruhkan semuanya untuk membalikkan keadaan, tak mudah memang dengan situasi terkepung oleh puluhan ribu pasukan dan para pendekar Kuil Suci yang memiliki ilmu kanuragan tinggi tapi tak ada cara lain selain mempertaruhkan semuanya. saat ini.
"Jika pesan ini sudah sampai di tangan anda, itu artinya hamba berhasil merebut kembali pasukan Saung Galah dan saat ini sedang bergerak ke Trowulan yang akan menjadi pertaruhan nasib Malwageni. Izinkan hamba meminta anda, Ibu ratu, nyonya Selir dan Arina untuk melakukan sesuatu sebagai kepingan terakhir rencana kali ini. Hamba hampir saja melakukan kesalahan yang sama seperti dulu tapi hamba bersumpah untuk menebusnya dan membawa kemenangan pada Malwageni," Tungga Dewi kemudian membagikan empat gulungan kecil yang menyatu dengan gulungan utama sesuai nama yang tertera di atas gulungan itu.
__ADS_1
Setelah membaca dan memahami pesan Wardhana, mereka serentak memasukkan gulungan kecil itu kebalik pakaiannya.
"Dia membagi peran sesuai dengan kemampuan kami atau dengan kata lain Wardhana saat ini sedang menarik potensi terbesar yang kami miliki masing masing untuk memenangkan perang besar ini.
"Yang mulia, pengamatan anda benar benar tepat karena saat ini anak yang dulu anda temukan di sebuah desa kecil Trowulan akan menjelma menjadi ahli siasat terbaik Nuswantoro," ucap Sekar Pitaloka dalam hati sambil mengingat kembali alasan Arya Dwipa berani bertaruh pada seorang anak kecil yang asal usulnya tidak jelas.
"Ibu ratu?" ucap Tungga Dewi pelan yang dibalas anggukan Sekar Pitaloka.
"Lalukan semua rencana Wardhana dan buat mereka menyesal telah mencari masalah dengan kita. Kau yang memimpin kali ini," jawab Sekar setengah berbisik.
Tungga Dewi menatap Mentari dan Arina bergantian sebelum mengangguk dan menyambar pedangnya.
"Saatnya mengejutkan mereka dengan serangan cepat dan mengirim pesan pada dunia jika Malwageni sangat kuat. Ayo pergi!" Tungga Dewi kembali mengikat panji kebesaran Malwageni di tubuhnya dan melangkah keluar diikuti Sekar Pitaloka dan yang lainnya.
"Gusti ratu, anda akan pergi kemana? bukankah yang mulia sudah memberi perintah..." belum selesai prajurit penjaga itu bicara, Tungga dewi menarik pedangnya dan memenggal kepalanya.
Semua prajurit Angin selatan tersentak kaget saat Tungga Dewi tega membunuh prajuritnya dengan kejam.
"Dengarkan titahku baik baik, ini adalah hukuman bagi seorang pengkhianat, siapapun yang berani masih berkhianat maka akan bernasib sama dengannya. Saat ini para ksatria Angin selatan sedang bertaruh nyawa demi mempertahankan setiap jengkal tanah Malwageni dan kita mungkin harapan terakhir dalam perang kali ini. Berjuanglah bersamaku dan bantu Yang mulia mengusir mereka semua," teriak Tungga Dewi.
"Kami siap menerima perintah," ucap para prajurit Angin selatan sambil berlutut dihadapan Tungga Dewi.
Tungga Dewi mengangguk pelan, rasa khawatir yang sempat dia rasakan sebelumnya hilang seketika setelah membaca rencana yang dibuat Wardhana.
"Ibu ratu, sesuai surat paman Wardhana, hamba akan membagi dua pasukan untuk bergerak ke Trowulan dari arah yang berbeda, mohon berhati hati," ucap Tungga Dewi sopan.
Sekar Pitaloka mengangguk mengerti, dia kemudian membawa separuh pasukan bersama Arina dan mulai bergerak kearah Trowulan.
"Dua puluh orang tetap tinggal dan berjaga di gerbang ibukota, sisanya ikuti aku, kita akan memberikan sambutan yang tidak akan pernah bisa mereka lupakan," perintah Tungga Dewi cepat.
"Baik Gusti ratu."
***
Rengga adalah orang pertama yang menyadari perubahan formasi pasukan Angin selatan pimpinan Wijaya.
Formasi Pasukan Angin selatan yang awalnya sudah hancur dan terus tersudut tiba tiba berubah setelah Rubah Putih masuk kedalam formasi dan mengambil alih pimpinan.
Separuh pasukan Angin selatan yang awalnya membentuk pertahanan di garis belakang tiba tiba bergerak ke depan dan langsung menyerang dengan formasi aneh. Sedangkan pasukan yang awalnya berada di garis depan memisahkan diri dan menyebar kedua arah seperti membentuk capit udang.
Dengan kekuatannya Rubah Putih langsung menjadi titik pusat formasi dan disaat bersamaan, Lingga, Wahyu Tama dan Darin muncul dari tebing bersama sepuluh pendekar Hibata yang tersisa.
"Apa kalian marah atas kematian teman teman kalian? jika kalian ingin membalas dendam, mengamuk lah sekarang dan hancurkan mereka semua," teriak Lingga sambil melesat turun.
"Pendekar itu, bagaimana dia bisa selamat dari formasi Diradameta?" Rengga semakin terkejut setelah kemunculan tiba tiba Lingga dan yang lainnya.
Senyum angkuh yang selama peperangan kerap menghiasi bibirnya perlahan menghilang setelah menyadari sesuatu.
"Menggunakan formasi Emprit Neba dan Supit urang secara bersamaan? jangan jangan sejak awal mereka sengaja mengalah untuk memancing kami masuk perangkap tapi dengan pasukan sekecil ini bukankah kau terlalu percaya diri Wardhana?" Rengga yang mulai panik tak mampu berfikir tenang sedangkan Saragi sudah larut dalam kepercayaan diri sehingga terus menyerang dan tidak menyadari jika lawannya merubah formasi.
"Yang mulia," Rengga berusaha memperingatkan Saragi namun puluhan ribu prajurit tiba tiba muncul dari arah belakang dan mengepung pasukan Arkantara.
"Habisi mereka semua!" teriak Wardhana yang berlari paling depan memimpin pasukan bersama putri Andini.
"Wardhana? bagaimana mungkin..." Rengga tersentak kaget saat melihat Wardhana memimpin ribuan pasukan Saung Galah.
"Syukurlah kalian datang tepat waktu, kau benar benar gila Wardhana," umpat Rubah Putih dalam hati.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Chapter Bonus masih dalam perjalanan jadi harap bersabar.. bukan gak mau ngasih bonus tapi menulis chapter perang dengan Arkantara benar benar sulit dan menguras otak, semoga kalian mengerti....
__ADS_1
Selamat bermalam minggu dan selamat meratapi nasib....
Salam PNA.....