Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pengorbanan Sekar Pitaloka


__ADS_3

"Kita terlambat..." ucap seorang pria yang muncul di udara saat melihat ratusan pendekar mati terbunuh.


"Tidak...Jika melihat kondisi tubuh Sabrang, seharusnya masih ada waktu beberapa detik untuk merubah keadaan, semoga...," Sekar Pitaloka melompat ke salah satu pohon besar dan bersiap menggunakan jurusnya.


Saat Sekar Pitaloka sedang mempersiapkan sesuatu, empat pendekar tiba tiba muncul dan bergerak dengan kecepatan tinggi kearahnya diikuti sepasang tombak yang berputar di udara.


"Winara, gunakan segel terbaikmu untuk melindungi Ibu ratu, sisanya ikuti aku. Kita harus menjauhkan Ken Panca dan para pendekar Lembayung merah dari ibu ratu agar dia bisa mempersiapkan semuanya," Tantri melompat ke salah satu pohon sebelum menyambar sepasang tombak milik Winara.


"Aku mengerti, beri aku waktu beberapa detik untuk memulainya," jawab Winara cepat.


"Semoga ibu ratu berhasil," ucap Tantri dalam hati sambil bergerak maju.


Namun betapa terkejutnya dia saat gerakannya tiba tiba terhenti di udara bersamaan dengan munculnya Ken Panca dihadapannya.


"Apa kalian pikir bisa menghentikan aku?" Ken Panca mengayunkan pedangnya sekuat tenaga.


"Tantri!" Elang yang berdiri tak jauh dari gadis itu tampak berusaha menggerakkan tubuhnya sekuat tenaga namun tak berhasil.


"Ce..cepat sekali..." Sabetan pedang Ken Panca hampir saja memenggal kepala Tantri andai Lakeswara terlambat menggunakan jurus ruang dan waktu untuk memindahkan tubuh gadis itu.


"Jurus ruang dan waktu?" Ken Panca langsung menoleh kearah Lakeswara yang sudah bersiap dengan pedangnya.


"Sebaiknya kalian cepat menggunakan segel itu dan melindungi Sekar Pitaloka, aku akan mencoba menahannya sementara waktu," ucap Lakeswara sebelum bergerak menyerang.


"Lakeswara Dwipa... kau berhutang satu tebasan padaku," Ken Panca bergerak menyambut serangan itu.


"Winara, mereka mulai mendekat! apa kau tidak bisa mempercepat segel itu...!" teriak Gendis saat melihat puluhan pendekar Lembayung Merah bergerak kearah mereka.


"Aku sedang berusaha!" balas Winara cepat.


"Cepatlah, kita tidak akan bisa bertarung sambil melindungi tubuh Ibu ratu," Gendis melempar belasan pisau terbangnya sambil bergerak maju diikuti Tantri dan Elang.


"Kirana, pinjamkan aku kekuatanmu!" Tantri melempar sepasang tombak kembar ke udara sambil meningkatkan kecepatannya.


"Kalian pikir bisa bertindak seenaknya?" Elang melompat tinggi di udara sebelum melepaskan energi pedang yang cukup besar.


"Berpencar! Bunuh mereka semua," teriak salah satu pendekar Lembayung merah sebelum menyambut serangan Elang.


Ledakan yang cukup besar kembali terdengar di udara ketika pendekar itu berhasil menahan serangan Elang.


Serangan Elang menjadi penanda bahwa perlawanan mereka belum habis. Para pendekar muda itu menjadi harapan terakhir untuk membalikkan keadaan.


Walau mereka sadar misi kali ini hampir mustahil mengingat perbedaan kekuatan yang cukup besar tapi ada setitik harapan dalam rencana Wardhana yang memelihara api semangat mereka.


"Lakukan apapun untuk menjaga Ibu ratu," teriak Tantri penuh semangat


Aura aneh tiba tiba menyelimuti tubuh Sekar Pitaloka saat ajian mengendalikan waktu miliknya mulai aktif. Tubuh Sekar mulai bergetar hebat karena hampir semua energi kehidupan dalam tubuhnya terserap habis oleh aura itu.


"Sabrang... Berjuanglah dan pastikan kau menghentikan rencana gila Ken Panca, Sepertinya sudah saatnya ibu bertemu ayahmu. Ibu yakin dia akan bangga padamu nak," Sekar Pitaloka mulai membuka matanya bersamaan dengan berhentinya waktu untuk beberapa detik.


Ken Panca yang sedang bertarung dengan Lakeswara tersentak kaget saat mengenali aura aneh yang keluar dari tubuh Sekar Pitaloka.


"Aura ini...tidak mungkin..." Ken Panca langsung bergerak cepat kearah Sekar Pitaloka namun Lakeswara tidak tinggal diam, dia memaksakan tubuhnya bergerak untuk menghentikan Ken Panca.


"Kenapa harus bersusah payah mendekatinya? bukankah kau menguasai jurus mengendalikan waktumu? ah aku tau...jurus itu memerlukan tenaga dalam yang sangat besar dan kau sudah menggunakannya saat berhadapan dengan Sabrang bukan?" ucap Lakeswara mengejek.


"Jadi wanita itu juga menguasai jurus mengendalikan waktu, kalian benar benar membuatku terkejut," balas Ken Panca sambil mengangkat tangannya di udara.


"Energi keris penguasa kegelapan? Gawat!" Lakeswara langsung menoleh kearah Sekar Pitaloka dan menemukan puluhan energi keris sudah melayang di atas kepalanya.


"Sepertinya aku lebih pintar darimu," ucap Ken Panca sebelum menarik energi keris itu.


"Tidak!!!!" Lakeswara bergerak secepat mungkin kearah Sekar Pitaloka namun semua sudah terlambat, energi keris penghancur kini hanya berjarak beberapa jengkal dari tubuh Sekar Pitaloka.


Saat semua merasa harapan benar benar hilang, Minak Jinggo muncul dan menangkis serangan energi keris penghancur.


"Jurus Api Abadi tingkat dua : Tarian Api abadi," Ledakan besar terjadi saat jurus Minak Jinggo menangkis energi keris penghancur.

__ADS_1


"Aku hampir terlambat," ucap Minak Jinggo lega sebelum tubuhnya dan Sekar Pitaloka terlempar.


"Ibu ratu..." Elang melompat mundur sambil memutar tubuhnya, dia menyambar tubuh Sekar Pitaloka dan bergerak menjauhi lokasi pertempuran namun langkah Elang akhirnya terhenti saat belasan energi keris yang entah datang dari mana menembus tubuhnya.


"Tidak... sejak kapan..." Elang masih bisa melihat darah segar keluar dari tubuhnya sebelum tersungkur bersama Sekar Pitaloka.


"Dasar bodoh! Apa kau tidak bisa melihat serangan semudah itu," teriak Minak Jinggo sambil bergerak mendekat.


"Deggg" Langkah Minak Jinggo terhenti saat merasakan sakit yang luar biasa.


Diantara kesadarannya yang mulai menipis, Minak Jinggo merasakan sesuatu yang aneh. Tubuhnya seperti terhisap oleh sesuatu tanpa bisa melawan sedikitpun.


"Jurus apa lagi ini?"


Tidak hanya Minak Jinggo, semua pendekar yang berada di area pertempuran merasakan hal yang sama termasuk Ken Panca.


Aku berhasil...." ucap Sekar Pitaloka sebelum kesadarannya mulai memudar.


Pandangan mata Sekar Pitaloka perlahan gelap, senyum kecil terbentuk di sudut bibirnya saat merasakan waktu bergerak mundur.


Sekar Pitaloka kembali mengingat pertemuan diam diamnya dengan Wardhana dan Rubah Putih setelah serangan pendekar Angin selatan di hutan larangan.


"Kau bertemu dengan pendekar peradaban terlarang?" tanya Sekar Pitaloka terkejut.


"Benar ibu ratu, tuan Setra menyelamatkan hamba saat diserang oleh para pendekar yang dia sebut sebagai Lembayung Merah di hutan larangan," Wardhana kemudian menjelaskan semuanya termasuk tawaran kerja sama dari Setra dan kelompoknya.


"Kau yakin bisa mempercayainya?" tanya Sekar Pitaloka khawatir.


"Hamba belum begitu yakin Ibu ratu tapi saat ini kita tidak punya pilihan lain," jawab Wardhana pelan.


Sekar Pitaloka menarik nafasnya panjang dan memejamkan matanya sebelum mengangguk pelan.


"Tidak ada pilihan lain ya, aku tak menyangka ucapan putus asa itu keluar dari mulutmu... Lalu bagaimana selanjutnya?" tanya Sekar Pitaloka.


"Mohon maafkan hamba ibu ratu..." Wardhana kemudian mengambil kitab Sabdo Loji yang diberikan Jaya Setra dan menjelaskan semua rencana yang dia buat secara perlahan.


"Dan yang paling mengerikan adalah kemungkinan Ken Panca saat ini sudah menguasai jurus Mengendalikan waktu," ucap Wardhana.


"Jurus mengendalikan waktu? apa jurus itu benar benar ada?" tanya Rubah Putih cepat.


"Aku tidak tau tuan tapi di beberapa bagian Kitab Sabdo Loji memang menyinggung tentang kemungkinan mengendalikan waktu walau tidak secara langsung. Namun terlepas dari ada atau tidaknya jurus itu kita tetap harus mengantisipasi segala kemungkinan untuk memenangkan pertempuran kali ini," jawab Wardhana.


"Apakah ada cara untuk melawan atau membatalkan jurus itu?" tanya Sekar cepat.


"Sayangnya tidak ada Ibu ratu, satu satunya cara untuk menghadapi pengguna jurus Mengendalikan waktu adalah menggunakan jurus yang sama di waktu yang tepat."


Wajah Sekar langsung berubah seketika, sangat mustahil mempelajari isi kitab Sabdo Loji dalam waktu singkat.


"Lalu bagaimana kita bisa mempelajari jurus itu dalam waktu singkat? memahami isi kitab Sabdo Loji bukan hal mudah," balas Sekar Pitaloka.


"Hamba sudah mempelajari sebagian isi kitab ini dan sepertinya kunci dari jurus terlarang itu ada di beberapa lembar terakhir yang selama ini dianggap tidak penting. Jika kita mengikuti petunjuk yang tersirat dari beberapa kata terakhir ini sepertinya kemungkinan itu ada," ucap Wardhana pelan sambil menunjukkan kitab itu.


"Membutuhkan energi murni ya..baik, jika memang jurus itu ada, aku akan berusaha menguasainya secepat mungkin saat melatih Sabrang di dimensi Naga Api," jawab Sekar Pitaloka cepat.


"Mohon maaf Ibu ratu tapi untuk kali ini hamba sudah meminta Wulan untuk mempelajarinya..."


"Wulan? dia tidak akan berhasil...energi murninya sudah tercampur dari darah ibunya... hanya aku saat ini yang paling mungkin menguasai jurus itu."


"Hamba akan mencari cara untuk..."


"Cukup Wardhana, kau seharusnya orang yang paling mengerti jika saat ini hanya aku yang bisa mempelajari jurus itu," potong Sekar tiba tiba.


"Ibu ratu... hamba..." jawab Wardhana sambil menundukkan kepalanya.


"Apa kau pikir aku tidak tau ada harga yang harus dibayar dari jurus mengerikan itu?"


Wardhana hanya diam sambil menundukkan kepalanya, dia benar benar tidak ingin mengatakan apapun tentang jurus berbahaya itu pada Sekar Pitaloka.

__ADS_1


"Dengarkan aku Wardhana, aku tau kau berusaha melindungi aku tapi saat ini yang terpenting adalah mencegah kehancuran dunia persilatan. Apa kau akan mengorbankan semua orang hanya karena ingin melindungi aku? sekarang, katakan semuanya padaku."


"Jurus mengendalikan waktu memungkinkan penggunanya memundurkan waktu beberapa menit tapi jurus itu akan menyerap energi kehidupan penggunanya..." Wardhana menggantung ucapannya.


"Kematian....harga yang pantas untuk jurus mengerikan itu," Sekar Pitaloka menarik nafasnya panjang sebelum melanjutkan ucapannya.


"Apa jurus itu bisa digunakan setiap waktu?"


"Untuk pengguna yang memiliki energi murni cukup besar mungkin jurus itu bisa dilakukan sampai tiga kali, tapi..."


"Aku tau... sekarang katakan padaku bagaimana mempelajari jurus itu," potong Sekar Pitaloka.


"Kau tak harus melakukan ini Sekar, kita masih bisa mencari cara lain karena setiap jurus pasti memiliki kelemahan," Rubah Putih berusaha mencegah.


"Apa kau tidak mendengar ucapan Wardhana? jurus itu hanya bisa di hadapi dengan jurus yang sama. Aku sudah memutuskan... jadi tolong hargai keputusanku."


Sekar Pitaloka terus tersenyum sebelum kesadarannya benar benar hilang.


"Terima kasih Wardhana, aku akan membawa kitab mengerikan ini mati bersamaku agar tak ada lagi Ken Panca lainnya... tolong jaga anakku."


***


Mata Sabrang tiba tiba terbuka bersamaan dengan rasa sakit yang menjalar di hampir seluruh tubuhnya. Dia mengernyitkan dahinya bingung saat melihat semua orang disekitarnya mematung termasuk Ken Panca yang berdiri tak jauh darinya.


"Apa terjadi sesuatu padaku? aku seperti pernah mengalami pertarungan ini," ucapnya dalam hati sambil mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi padanya.


"Jurus mengendalikan waktu tidak bisa dihentikan tapi bisa di cegah. Jurus itu hanya bisa digunakan beberapa kali dalam satu pertarungan, jangan biarkan Ken Panca memusatkan energi di matanya. Totok semua titik Cakra dalam tubuhnya secepat mungkin sebelum dia berhasil mengumpulkan kembali tenaga dalamnya. Pastikan kau berhasil atau dia tidak akan bisa dihentikan lagi...Ibu sayang padamu..." suara Sekar Pitaloka tiba tiba terdengar dalam pikiran Sabrang bersamaan dengan waktu yang kembali berputar.


"Ibu..." Sabrang langsung menoleh ke sekitarnya untuk mencari keberadaan ibunya.


"Sepertinya kau datang tepat waktu," ucap Ken Panca sambil tersenyum.


Hentikan semua ini kek... aku yakin keturunan Dwipa tidak akan semudah itu kalah, lawan dan jangan biarkan orang lain menggunakan tubuh kakek seenaknya," ucap Sabrang pelan.


"Auranya benar benar mengerikan, jadi kau sudah berhasil menyatukan energi murni dan kekuatan Iblis api ya..." ucap Jaya setra dalam hati, wajahnya tampak lega karena Sabrang datang tepat waktu.


"Keturunan Dwipa? Kau membuatku tertawa nak, kalian hanya sisa sisa suku atlantis yang dibuang karena dianggap tidak memiliki bakat besar seperti lainnya," Ken Panca tertawa mengejek, wajahnya masih terlihat tenang seolah tidak terganggu sama sekali dengan aura Sabrang yang terus menekannya.


Sabrang tidak menjawab ejekan Ken Panca, suara ibunya masih terngiang jelas dalam pikirannya.


Sabrang mengaktifkan mata bulannya untuk melihat titik cakra yang tersebar di seluruh tubuh Ken Panca.


"Totok semua titik Cakra dalam tubuhnya secepat mungkin? Aku tidak tau darimana ibu mengirim pesan padaku tapi sepertinya aku mengerti titik lemah jurus yang ibu sebutkan itu."


Sabrang tiba tiba bergerak, gerakan cepat yang bahkan sulit dilihat orang yang berada disekitarnya. Hanya ledakan besar yang terjadi sepersekian detik setelah Sabrang bergerak yang membuat semuanya sadar jika pertarungan kembali dimulai.


"Menarik..." ucap Ken Panca saat tubuhnya merasakan tekanan tenaga dalam yang sangat besar.


***


"Kita sudah hampir sampai... Winara, persiapkan segel tanah untuk membuat perlindungan, sisanya ikut aku. Apapun caranya kita harus melindungi Ibu ratu," ucap Tantri sambil meningkatkan kecepatannya, dia berusaha mengejar Sekar Pitaloka yang berada didepannya.


"Baik... tapi aku butuh waktu untuk mempersiapkan segel itu," jawab Winara cepat.


"Ibu ratu kita harus..." Tantri menghentikan ucapannya saat melihat tubuh Sekar Pitaloka tiba tiba terjatuh ketanah.


"Ibu ratu!" teriak Tantri panik sambil bergerak mendekat.


"Ibu ratu.." Tantri langsung memeriksa kondisi Sekar Pitaloka dan mengalirkan tenaga dalamnya untuk menyelamatkan wanita itu.


"Tantri apa yang terjadi?" tanya Gendis cepat.


"Ibu ratu... sudah tewas," jawab Tantri lirih.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Semoga kalian paham dengan penjelasan kali ini... Sekar Pitaloka menggunakan jurus mengendalikan Waktu untuk memundurkan waktu sebelum Sabrang tewas dan memberi petunjuk cara mengalahkan Ken Panca.

__ADS_1


__ADS_2