Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Perjanjian Darah dengan Pusaka Bilah Gelombang


__ADS_3

"Kabut ini menekan energiku," Naga api terus melepaskan energinya dan berusaha masuk kedalam pikiran Sabrang.


Kobaran api merah kembali menyelimuti tubuh Sabrang namun hanya bertahan sebentar sebelum kembali mengecil dan menghilang.


"Anom, cari cara untuk mengatasi kabut ini atau Sabrang akan berubah dan kita tidak akan bisa menghentikannya lagi. Aku bisa saja melepaskan separuh kekuatanku tapi gua ini tidak akan bertahan dan kita semua akan terkubur di tempat ini," teriak Naga Api sambil terus menekan energi aneh yang mulai menguasai Sabrang.


"Aku juga sedang berusaha tapi baru kali ini aku melihat kabut aneh seperti ini."


"Sial, andai saja di tempat terbuka, sudah kubakar habis kabut sialan ini," Naga api mencoba meningkatkan energinya namun getaran gua akibat tekanan kekuatan Dewa Api membuat Naga Api menarik kembali energinya.


"Siapa kau sebenarnya?" ucap Sabrang terbata bata, tubuhnya terasa lemas karena pria tua itu terus menyerap energinya.


"Kau boleh memanggilku Rabing, aku adalah ruh pusaka Bilah Gelombang, sudah lama aku menunggu kedatanganmu," balas Rabing sambil tersenyum.


"Menungguku?" tanya Sabrang bingung.


"Dengan tubuh sembilan Naga yang kau miliki, kau harusnya mendapatkan pusaka yang jauh lebih kuat dari api bodoh itu dan akulah yang paling pantas mengikutimu," jawab Rabing percaya diri.


"Mengikuti aku? kau terlalu bermimpi, aku tidak akan pernah membuang Naga Api," Sabrang mulai bisa menarik sedikit energi Naga Api dengan ajian Inti Lebur saketi, terlihat kobaran api mulai menyelimuti tubuh Sabrang dan berusaha menyerang Rabing.


"Kau tidak pernah belajar Iblis api, sampai kapanpun kau tidak akan pernah menang melawan Air," gelembung gelembung air mulai bermunculan di sekitar tubuh Rabing dan memadamkan api yang menyelimuti Sabrang seketika.


"Air?" Sabrang tersentak kaget saat tubuhnya basah oleh air.


"Aku tidak pernah meminta persetujuan tuanku, suka tidak suka suatu saat kau akan menjadi tuanku," salah satu gelembung udara yang berasa di sekitar Rabing berubah menjadi pisau air.


Rabing kemudian mencengkram lengan Sabrang dan menggoreskan pisau itu jarinya.


Sabrang berusaha berontak namun tak berhasil, tubuhnya terasa kaku dan tidak bisa digerakkan sama sekali.


Darah mulai menetes dari tangannya yang terluka oleh sayatan pisau air, Rabing terlihat menampung tetesan darah itu dengan telapak tangan dan meminumnya.


"Apa yang kau lakukan!" teriak Sabrang panik.


"Kau sudah melakukan perjanjian darah denganku, Saat purnama merah darah menyelimuti Nuswantoro dan diantara tumpukan mayat pendekar yang membusuk, aku akan mendatangimu dan kita akan menguasai dunia," ucap Rabing sambil tersenyum licik.


"Perjanjian darah? jangan seenaknya menentukan sesuatu, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menjadi tuanmu!" teriak Sabrang kesal.


"Percuma saja kau menolaknya, aku yang menentukan siapa tuanku bukan kau!" Tubuh Rabing mulai menghilang bersamaan dengan kobaran api yang tiba tiba menyelimuti tubuh Sabrang kembali.


"Dia lebih kuat dari perkiraanku, tunggulah saatnya Iblis api, saat perjanjian darah ini aktif, kau akan kuhancurkan," Rabing menghilang tepat ketika sosok Naga Api muncul dipikiran Sabrang.


"Hei bodoh, apa kau baik baik saja?" suara Naga Api menyadarkan Sabrang, dia membuka matanya dan melihat tangan kanan yang tadi tersayat dalam pikirannya.


Sebuah luka sayatan kecil yang darahnya masih menetes mengejutkan Sabrang.


"Luka ini?" Sabrang tampak bingung, dia tidak menyangka luka yang tadi dalam pikirannya benar benar ada di tangannya.


"Hei, kau baik baik saja?" bentak Naga Api.


Sabrang hanya mengangguk, dia masih bingung dengan situasi yang baru saja dihadapinya.


"Hei nak, apa terjadi sesuatu saat kabut itu menyelimuti tubuhmu?" tanya Amon bingung, dia menatap lengan kanan Sabrang yang terluka dengan wajah bingung.


"Tidak, aku hanya merasa tadi tubuhku tak bisa digerakkan," jawab Sabrang cepat.


"Kabut ini sepertinya penyebab tubuhmu tak bisa digerakkan, aku tidak tau tempat apa ini, tapi kabut ini semacam segel pelindung, untung saja aku tidak terlambat," jawab Anom pelan.

__ADS_1


Butuh waktu bagi Anom untuk menekan energi kabut aneh itu, tapi akhirnya dia menyadari mengapa energi Naga Api tidak bisa menekan kabut aneh itu.


Segel Kabut abadi mengandung air yang merupakan musuh alami Api sehingga mampu menekan Naga Api.


"Sebaiknya kita memeriksa tempat ini, sepertinya gua ini baru dibuka," Sabrang melangkah masuk hati hati.


Aura hitam pekat milik Anom menyelimuti tubuh Sabrang untuk mencegah efek kabut yang memenuhi gua itu.


Gua cahaya surga ternyata cukup dalam, ini terbukti dengan belum terlihatnya ujung gua walau Sabrang sudah melangkah cukup lama.


Sebuah pemandangan indah menyambut Sabrang saat dia sudah hampir berada di ujung gua. Puluhan pohon rimbun berwarna hijau terlihat di ujung gua.


"Hutan di dalam gua?" Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Tidak salah lagi, energi besar yang tadi kurasakan berasal dari tempat ini, aku masih bisa merasakan sisa sisa energi besar itu," ucap Naga Api.


Pandangan Sabrang kemudian terhenti di sebuah batu besar yang sangat mirip dengan batu pemujaan.


Sabrang berjalan mendekati batu besar itu dan menemukan lubang kecil di atasnya. Dia menyentuh lubang itu dan merasakan hawa aneh yang masih tertinggal dan belum menghilang.


"Benda apapun yang dicuri dari tempat ini awalnya berada di atas batu pemujaan," ucap Sabrang pelan.


"Mungkinkah mustika merah delima?" tanya Anom tiba tiba.


"Mustika merah delima?" tanya Sabrang terkejut.


"Tempat ini sepertinya sudah cukup lama terkubur dan tidak ada udara atau cahaya sama sekali yang dapat masuk tapi kau lihat pepohonan di dalam sini sangat subur. Hanya energi Mustika merah delima yang mampu membuat tempat ini subur," jawab Anom.


"Begitu ya, jika benar mustika merah delima yang dicuri maka pelakunya pasti pasukan kuil suci. Jadi pendekar yang kemarin bertarung denganku adalah salah satu pendekar Kuil suci," balas Sabrang pelan.


"Aku harus cepat menemui paman, semoga tidak terlambat," ucap Sabrang dalam hati.


***


"Utusan kerajaan Arkantara ingin menemuiku?" Pancaka tampak terkejut saat seorang prajurit Saung Galah melaporkan jika di gerbang keraton ada seorang pria yang mengaku utusan kerajaan di ujung Swarna Dwipa itu.


"Benar Yang mulia, hamba sudah memeriksa tanda pengenalnya," balas Prajurit itu pelan.


"Mengapa dia ingin menemui aku dan tidak langsung ke Malwageni?" ucap Pancaka bingung, dia terlihat berfikir sejenak sebelum memerintahkan membawa utusan itu keruangan pribadinya.


"Bawa utusan itu ke keruangan ini dan jangan sampai Andini tau."


"Baik Yang mulia, hamba mohon diri," prajurit itu menundukkan kepalanya sebelum melangkah pergi.


"Yang mulia? aku hanya raja ciptaan paman Wardhana," Pancaka tersenyum sinis setelah kepergian prajurit itu.


Pancaka sadar jika saat ini dia sedang dimanfaatkan oleh Wardhana untuk mengatasi gejolak di keraton Saung Galah setelah takluk pada Malwageni.


Kedekatannya dengan beberapa menteri Suang Galah yang masih memiliki pengaruh besar dimanfaatkan Wardhana untuk meredam situasi keraton sampai dia menemukan cara yang paling tepat untuk menyingkirkan mereka.


Awalnya, Pancaka menerima dengan senang hati walaupun tau sedang dimanfaatkan karena dia bisa menyusun kekuatan untuk lepas dari Malwageni suatu saat namun perkiraannya salah. Lagi dan lagi dia kalah langkah dari orang kepercayaan Sabrang itu.


Wardhana memasang dua kekuatan besar di keraton Saung Galah untuk mengekang semua pergerakan Pancaka dengan menunjuk Andini sang Putri mahkota menjadi menteri dan Adiwangsa, pemimpin pemberontak menjadi patih tertinggi Saung Galah menggantikan Jaladara.


Dengan terbentuknya dua kelompok yang memiliki tujuan berbeda itu, Pancaka tidak bisa leluasa membuat suatu kebijakan terlebih jika berhubungan dengan Malwageni.


Wardhana diam diam menjanjikan tahta Saung Galah pada keduanya andai Pancaka gagal dalam memimpin. Itulah sebabnya mereka berusaha mencari semua celah kelemahan Pancaka.

__ADS_1


Pancaka tidak diam begitu saja, walau dia tau sedang dimanfaatkan tapi itu jauh lebih baik daripada kehilangan tahta untuk kedua kalinya.


Pertarungan kepentingan yang sebenarnya diciptakan oleh Wardhana itulah yang tanpa sadar mengekang gerakan mereka bertiga dan berhasil menekan gejolak yang terjadi di keraton.


"Apakah lahir dari seorang selir raja adalah sebuah kesalahan?" ucap Pancaka dalam hati.


"Yang mulia, utusan Arkantara meminta izin menghadap," terdengar suara asing dari luar.


"Masuklah," balas Pancaka dari dalam.


Seorang pemuda muncul dari balik pintu dan memberi hormat pada Pancaka.


"Hamba adalah Respati, utusan dari Arkantara, mohon terima hormat hamba," ucap pria itu sopan.


Pancaka mengangguk sebelum mempersilahkan utusan itu duduk.


"Sepertinya anda salah tujuan tuan, Saung Galah kini berada di bawah kekuasaan Malwageni, jika kalian ingin menawarkan sesuatu sebaiknya menemui paman Wardhana," ucap Pancaka.


"Tidak Yang mulia, sejak awal hamba diperintahkan untuk menemui anda," jawab Respati.


"Menemui aku?" tanya Pancaka bingung.


"Yang mulia Saragi merasa kerajaan sebesar Saung Galah tidak seharusnya berada di bawah kekuasaan Malwageni, dengan kekuatan militer dan kemampuan anda dalam memimpin seharusnya kalian bisa berdiri sejajar dengan mereka," jawab Respati hati hati.


"Kau! apa kau sadar sedang mencoba melawan Malwageni?" bentak Pancaka tiba tiba.


"Hamba mohon maaf jika perkataan ini membuat anda tersinggung tapi tidak ada kerajaan manapun yang dengan sukarela tunduk dibawah kekuasaan orang lain.


Hamba sudah mendengar bagaimana anda mampu meredam situasi keraton setelah Saung Galah ditaklukkan, hal yang tidak bisa dilakukan oleh tuan Wardhana sekalipun dan ini menunjukkan potensi besar dalam diri anda. Jika anda terus berada di posisi ini, potensi besar itu akan terkubur perlahan," balas Respati.


Pancaka tersenyum kecil sambil menatap tajam utusan Arkantara itu.


"Apa kau berusaha mempengaruhiku untuk melawan kakakku sendiri?"


"Hamba tidak berani Yang mulia, itu adalah penilaian hamba terhadap anda. Melihat anda mengingatkanku dengan Yang mulia Saragi dan hamba mohon maaf jika terlalu lancang."


Pancaka terdiam setelah mendengar pujian Respati, dia pun sebenarnya merasa Sabrang tak lebih baik darinya tanpa Wardhana disisinya.


"Aku sangat tersanjung dengan pujian anda namun semua tidak semudah itu karena yang aku hadapi adalah ahli siasat perang terbaik saat ini, aku tak mungkin berperang jika hasilnya sudah pasti kalah," ucap Pancaka pelan, dia tanpa sadar mulai masuk perangkap Arkantara.


"Memang sangat disayangkan melihat anda berada di posisi ini, tapi jika anda berkenan kami bisa mengulurkan bantuan pada anda."


"Bantuan?"


"Arkantara saat ini sedang mencari sahabat sebanyak banyaknya dan sepertinya Malwageni tidak menyambut baik maksud kami. Jika Saung galah dalam kesulitan, sebagai sahabat kami akan membantu," balas Respati pelan.


"Aku sangat menghargai uluran tangan kalian tuan tapi sepertinya aku butuh waktu untuk berfikir," ucap Pancaka sambil tersenyum.


Pancaka merasa dia harus memperhitungkan semua kemungkinan karena lawan yang akan dihadapinya adalah Wardhana.


"Hamba mengerti Yang mulia," jawab Respati.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Bonus chapter di Malam minggu saya undur dan kemungkinan besok atau lusa menunggu PNA naik sepuluh besar kembali...


Selamat bermalam minggu dan selamat meratapi nasib kejombloan ekwkwkw

__ADS_1


__ADS_2