
Suliwa tersentak kaget saat menyentuh tubuh Sabrang, dia merasa luka ditubuh Sabrang tidak terlalu fatal.
"Anak ini sepertinya terluka karena jurus itu". Gumam Suliwa pelan. Dia merasa jiwa Sabrang tidak berada ditubuhnya.
"Naga api apa kau pernah mendengar ajian pecah Raga?". Tanya Suliwa tiba tiba.
"Dari mana kau tau jurus itu? Ajian pecah raga hanya dikuasai oleh Iblis api Banaspati". Naga api terlihat terkejut mendengar pertanyaan Suliwa.
"Saat aku menyelidiki Dieng, sebuah mimpi menuntunku kesebuah tempat aneh. Tempat itu seperti sebuah telaga, orang dalam mimpiku menyebutnya Telaga khayangan api. Tempat itu sangat mirip dengan Dieng namun yang membedakannya tempat itu jauh lebih indah dan dipenuhi aura yang menenangkan jiwa. Di sanalah aku sempat membaca kitab Ajian pecah raga. Luka yang dialami Sabrang sangat mirip dengan ciri ciri orang terkena ajian Pecah jiwa". Suliwa menarik nagas panjang, dia tak menyangka luka Sabrang benar benar serius.
"Naga api, apa kau bisa melacak keberadaan jiwa anak ini melalui energi kehidupannya?".
"Jika kugunakan energi kehidupannya, dia akan mati jika jiwanya tak segera kembali".
"Dan sampai kapan kau mau menjaga tubuh tanpa jiwa seperti itu? jika dia terus begitu hanya menunggu waktu sampai dia mati. Kita harus mengambil resiko untuk membawanya kembali".
Naga api terdiam mendengar ucapan Suliwa. "Baiklah, Pastikan kau membawanya pulang".
"Akan kuusahakan sekuat tenaga". Jawab Suliwa mantap.
"Aku akan menggabungkan energiku dengan Anom untuk kau berikan saat bertemu dengannya".
"Baiklah, ayo segera mulai, waktu kita terus berjalan". Ucap Suliwa pelan.
Tak lama kobaran api ditubuh Sabrang mulai menyelimuti Suliwa. Ciha tersentak kaget dan panik, dia berfikir Suliwa terbakar akibat menyentuh Naga api.
"Apa yang kau lakukan disini nak?". Sebuah suara mengagetkan Sabrang yang sedang duduk diruangan aneh berwarna merah darah. Dia sangat mengenal suara itu.
"Kakek guru?". Sabrang terkejut sekaligus senang mendengar suara Suliwa namun dia tidak dapat menemukan dimana Suliwa berada.
"Apa kau menunggu sesuatu?". Tanya Suliwa hangat.
Sabrang menggeleng pelan "Aku tidak tau kek, yang kuingat terakhir adalah sebuah pedang yang diselimuti kobaran api menusuk tubuhku dan saat terbangun aku sudah berada di ruangan ini".
"Sepertinya kau terkena Ajian pecah jiwa, aku belum tau bagaimana Iblis petarung menguasai jurus itu namun kau akan mati jika tak segera kembali keragamu".
"Aku sudah berusaha kek namun selalu gagal, tempat ini sepertinya mengurungku". Sabrang tersenyum kecut.
"Ulurkan tanganmu". Perintah Suliwa pada Sabrang.
Sabrang melakukan apa yang diperintahkan Suliwa, saat kedua tangan mereka bersentuhan energi besar mengalir dalam tubuhnya.
"Aku tidak punya banyak waktu, aku akan menjelaskan tentang ajian pecah raga". Suliwa mulai menjelaskan Ajian pecah raga dan efek yang ditimbulkannya. Siapa saja yang terkena Ajian ini maka jiwanya akan terkurung di dimensi lain dan jika dalam waktu satu hari Jiwanya tidak kembali ketubuhnya maka dirinya akan mati.
"Hanya dirimu sendiri yang bisa menolongmu nak". Ucap Suliwa.
"Diriku sendiri?". Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Kehidupan berasal dari yang memberi hidup dan akan terus hidup. Kau harus bisa berdamai dengan dirimu sendiri, kau harus bisa merasakan energi kehidupan yang tersisa ditubuhmu. Energi itu akan membimbingmu kembali ketubuhmu.....". Suliwa menghentikan ucapannya ketika dia merasakan sakit didadanya.
"Kakek?". Sabrang memanggil Suliwa berkali kali ketika suara Suliwa tiba tiba hilang.
"Nak, waktuku sudah habis. Sekarang semua tergantung padamu, ingat pesanku Kehidupan berasal dari yang memberi hidup dan akan terus hidup. Aku percaya padamu, sekarang semua orang bergantung padamu. Cepatlah kembali". Suara Suliwa menghilang beberapa saat kemudian.
"Kehidupan berasal dari yang memberi hidup dan akan terus hidup". Sabrang mengernyitkan dahinya. Dia merenung di dalam ruangan aneh itu seorang diri sambil sesekali memejamkan matanya.
"Ayah... apa yang harus aku lakukan?". Gumamnya dalam hati.
"Bagaimana keadaanya?". Tanya Naga api ketika Jiwa suliwa telah kembali.
"Semua sudah kulakukan, sekarang semua tergantung pada dirinya sendiri". Ucap Suliwa pelan.
"Apa kau masih percaya padanya seperti saat pertama kali kau memberikanku pada anak itu?".
Suliwa mengernyitkan dahinya, dia baru sadar jika ini pertama kalinya Naga api khawatir pada seseorang.
"Kau tau apa yang kulihat di Telaga khayangan api? Selain kitab Pecah raga, aku melihat sebuah pusaka yang diberinama Pedang Megantara. Yang membuatku tersentak kaget adalah di gagang pedang itu terukir nama Sabrang Damar. Mungkin itu nama orang lain atau hanya kebetulan namun aku yakin anak ini suatu saat akan menjadi pendekar terbesar di tanah Nusantara ini dan tak ada sedikitpun keraguan pada anak itu. Dia akan kembali". Ucap Suliwa yakin.
***
Wardhana menghentikan langkahnya dipinggir sungai besar. Dia melangkah mendekati sungai dan menatap sungai besar dihadapannya cukup lama.
__ADS_1
"Sepertinya anda salah jalan tuan, tidak mungkin Dieng hanya sekecil ini?". Nilam sari mengernyitkan dahinya. Setelah mereka berjalan dari gerbang pertama kini hanya jalan buntu yang mereka temukan.
Wardhana tak menjawan pertanyaan Nilam sari, dia terus mengikuti tetesan darah yang sudah mengering (Darah Ciha saat terluka). Darah itu menghilang dipinggir sungai.
"Sora tunggu disini, ada yang harus kupastikan terlebih dulu". Wardhana melepaskan pedangnya dan menaruh di pinggir sungai.
Mereka semua terkejut saat Wardhana tiba tiba melompat kedalam sungai dan langsung menyelam.
Saat mereka semua mulai terlihat gelisah, Wardhana muncul dari dalam air.
"Apa anda menemukan sesuatu tuan? anda begitu lama menyelam, aku sempat khawatir.
"Aku sudah menemukannya, sungai ini penghubung gerbang kedua Dieng. Ayo cepat kita pergi". Ucap Wardhana. Mereka semua saling bertatapan satu sama lain. Ada perasaan takut dalam hati mereka karena sebentar lagi mereka semua akan memasuki Dimensi lain yang selama ini dicari.
Ketika mereka semua muncul dari dalam sungai, Semua terdiam menatap pemandangan Indah dihadapan mereka. Mereka seolah tak percaya ada tempat seindah ini terutama didalam laut.
"Di dalam lautan ada tempat seindah ini?". Lembu sora bergumam dalam hati. Semua tampak setuju dengan pemikiran Lembu sora, hanya Wardhana yang tampak acuh dan lebih memilih mengamati pinggir sungai.
Wardhana mengernyirkan dahinya saat menatap tanah dipinggir sungai. Ada bekas benda tertancap dipingir sungai dan jumlahnya sangat banyak.
"Pedang? Sepertinya baru dicabut". Raut wajah Wardhana berubah seketika.
"Sebaiknya kita berpisah disini, ingat pesanku besok malam kita bertemu di gerbang pertama.....". Belum selesai Wardhana bicara tiba tiba ratusan pendekar muncul dari sebuah gua dan berlari kearah mereka.
"Tuan". Lembu sora menoleh kearah Wardhana yang mulai menunjukan wajah gelisah sejak masuk pertama kali ke Dieng.
"Tetap pada rencana, tim penyelamat dan tim pelacak berpencar. Aku akan mencari cara menahan mereka". Wardhana menarik pedangnya dan bersiap menyerang. Bersamaan dengan gerakan Wardhana, 2 tim lainnya memisahkan diri dari tim Utama.
"Temukan Yang mulia apapun yang terjadi". Ucap Wijaya saat memisahkan diri. Dia menarik pedangnya dan bergerak memimpin pasukannya.
"Aku akan pastikan walau nyawa taruhannya tuan Patih". Jawab Wardhana.
Tim Bahadur ikut memisahkan diri dan bergerak cepat diantara kerumunan pendekar bermata hitam yang menyerang mereka.
***
Bentuk formasi Tameng selatan". Wardhana yang berada ditengah lautan pendekar Dieng berteriak keras. Tubuhnya sudah dipenuhi darah para pendekar Dieng namun dia merasa mereka tak ada habisnya.
"Tuan Adipati, formasi tameng selatan mulai renggang". Ucap Kertapati pada Wardhana.
"Tahan sebentar lagi, aku sedang berfikir". Ucap Wardhana sambil menebaskan pedangnya. Lengannya mulai bergetar, dia tidak pernah membayangkan akan berhadapan dengan mahluk buas seperti mereka.
"Pertahankan Formasi apapun caranya". Kertapati melompat maju dan bergerak diantara puluhan pendekar yang mencoba merusak formasi angin selatan. "Siapa mereka sebenernya?". Umpat Kertapati dalam hati.
Andai tak ada pendekar sekte Kencana Ungu mungkin formasi angin selatan sudah dari tadi hancur. Mereka bahu membahu sambil bergerak mundur perlahan untuk mengulur waktu.
Korban mulai berjatuhan karena ketimpangan kekuatan, prajurit tempur angin selatan melawan pendekar pendekar terbaik dimasanya jelas bukan lawan yang seimbang. Walaupun sebagian prajurit angin selatan adalah mantan pendekar namun rata rata pendekar kelas menengah.
Wajah Wardhana sedikit berubah saat merasakan hawa panas dari dalam tanah. Walau cuma beberapa detik tapi dia yakin sempat merasakan hembusan hawa panas.
"Sora, Lindungi aku sebentar". Wardhana bergerak mundur perlahan dan disaat yang bersamaan Lembu sora maju melindunginya.
Wardhana menancapkan pedangnya sekuat tenaga kedalam tanah dan menariknya kembali beberapa saat kemudian. Dia menyentuh mata pedang yang menancap ditanah perlahan.
"Benar dugaanku, dibawahku saat ini adalah jalur magma. Jika ini merupakan jalurnya maka kantung kantung magma tak akan jauh dari sini. Aku bisa memanfaatkannya untuk menghancurkan pendekar Dieng ini".
"Sora dengarkan aku! perintahkan pasukan bergerak mundur, kita akan memancingnya kearah sana". Wardhana berteriak pada Lembu sora sambil menujuk kearah jalan yang dilalui Sabrang dan yang lainnya.
"Baik tuan". Lembu sora merengsek kedepan dan memberi perintah pada pasukan digaris depan.
"Tuan Adipati meminta kita mundur perlahan, pertahankan formasi sambil bergerak mundur".
"Baik tuan". Kertapati memberi perintah pada pasukannya untuk bergerak mundur.
***
Kertasura masih terus menghindar dari serangan pendekar Iblis petarung sambil mencari celah kelemahannya . Saat Kertasura terfokus pada gerakan mereka tiba tiba sebuah ayunan pedang mengarah cepat ketubuhnya. Merasa tidak akan sempat menghindar Kertasura menaham serangan itu dengan pedangnya.
Saat kedua pedang itu berbenturan tubuh Kertasura terlempar beberapa meter dan membentur dinding gua.
"Tetua!". Madrim yang juga sedang tertekan tak bisa berbuat banyak saat Ketasura terlempar.
__ADS_1
"Ku akui kemampuamu sangat tinggi, jarang sekali ada pendekar bisa mengimbangi kakak Lian begitu lama". Salah satu pendekar Iblis petarung tersenyum mengejek.
"Bagaimana mereka bisa memiliki ilmu setinggi ini". Gumam Kertasura dalam hati sambil berusaha mengatur nafasnya. Kertasura terlihat kesal, sejak dia mendapatkan pedang langit belum ada yang mampu mendesaknya seperti saat ini.
Kertasura menoleh kearah Madrim yang tak jauh lebih baik darinya, serangan kombinasi 2 pendekar iblis petarung benar benar memojokkan Madrim.
Andai saja mereka bertarung satu lawan satu mungkin masih ada kesempatan bagi Kertasura dan Madrim untuk memenangkan pertarungan namun melawan 2 pendekar terkuat Iblis petarung benar benar membuat mereka tak berdaya.
Lian sebenarnya cukup kagum pada dua pendekar dihadapannya terutama Kertasura dengan pedang langitnya. Sebagai salah satu tetua paling berbakat di suku Iblis petarung, Lian sangat jarang mendapat lawan yang mampu mengimbanginya cukup lama.
"Aku tak bisa berlama lama disini, para tetua menunggu untuk dibangkitakan kembali". Gumam Lian dalam hati.
Mata biru Lian menyala terang sebelum dia kembali menyerang. Kertasura terlihat mengumpat dalam hati saat Lian menyerangnya, dia tau walaupun kemampuan pendekar Iblis petarung hampir setara namun Lian unggul pengalaman. Sudah beberapa kali serangan Lian menghantam tubuhnya.
Lian terus menyerang kertasura dan memaksanya mundur. Sesaat Mata Lian menatap mulut gua sambil tersenyum sebelum kembali menyerang Kertasura dan hal itu disadari oleh Madrim.
"Gawat, dia berniat keluar gua". Gumam Madrim dalam hati.
Kertasura benar benar dibuat kerepotan oleh dua pendekar Iblis petarung. Saat dia mulai menemukan celah pendekar dihadapannya, pendekar satunya tak memberinya kesempatan menyerang. Pendekar itu mengacaukan konsentrasi Kertasura dengan serangan serangan cepatnya.
Setelah berhasil lepas dari kepungan pendekar Iblis petarung, Madrim sedikit bergerak mundur. Dia ingin menggunakan jurus pedang pemusnah raganya.
"Kau pikir jurus mainan itu akan berguna melawanku". Liang terlihat merapal jurusnya. Keduanya mengayunkan pedang bersamaan namun saat jarak keduanya sudah dekat tiba tiba Madrim menarik pedangnya membiarkan tubuhnya terkena serangan pedang Lian. Madrim memutar pedangnya dan mengayunkan kearah mulut gua.
Serangan cepat Madrim merobohkan mulut gua, kini mereka semua terkurung didalam gua.
"Kurang ajar! dari awal kau memang mengincar mulut gua itu". Lian menatap tajam Madrim.
"Sekarang tidak akan ada yang bisa keluar dari sini". Ucap Madrim puas.
"Kalian akan mati ditempat ini! kupastikan itu!". Lian mengeluarkan aura yang lebih besar.
"Sepertinya kau membuat dia marah tuan". Kertasura tersenyum kecut, kali ini mereka benar benar dalam masalah. Terkurung dengan 4 monster masa lalu yang bangkit kembali membuatnya hampir gila.
***
"Nona cepat masuk celah gua itu, aku akan mencoba menahannya sebentar. Kita tak akan bisa bertahan jika terus seperti ini, satu satunya cara adalah masuk gua dan bersembunyi sementara waktu sambil memulihkan kondisi kita". Ucap Wulan sari dengan nafas tersenggal.
Mentari tak menjawab ucapan Wulan sari, dia terlalu sibuk dengan musuh yang terus menyerang mereka tanpa rasa lelah sedikitpun. Mentari bukan tidak ingin masuk celah gua itu namun dia tidak bisa melepaskan diri dari kepungan pendekar yang menyerangnya.
Terlihat Mentari dan Wulan sari sudah hampir mencapai batasnya. Saat semangat tempur mereka semakin melemah dan mulai pasrah puluhan pendekar muncul dari dalam gua.
"Paman Wardhana". Mentari berteriak saking semangatnya setelah melihat bantuan datang. Namun kegembiraan Mentari hanya bertahan sebentar setelah melihat raut wajah Wardhana dan yang lainnya tak kalah lesu ditambah puluhan pendekar mengejar mereka dibelakangnya.
"Kau datang hanya untuk menambah masalah tuan Adipati". Ejek Wulan sari.
Wardhana hanya tersenyum kecut mendengar ejekan Wulan sari.
Kedatangan Wardhana dan pasukannya walaupun tidak terlalu memberikan dampak yang besar namun memberikan sedikit harapan, terlihat dari keadaan mulan sedikit berimbang.
Formasi tempur Pasukan angin selatan yang sudah teruji dalam puluhan kali peperangan ditambah para pendekar dari sekte kelelawar bisa sedikit menahan agresifitas pendekar Dieng.
Wardhana benar benar dibuat memeras otaknya kali ini. Dia tidak menduga lawan yang mereka hadapi kali ini pendekar kelas tinggi Dieng. Strategi perang yang dimilikinya tidak akan berfungsi menghadapi pendekar yang tidak memiliki pikiran seperti mereka.
"Apakah ahli siasat terbaik Malwageni tidak memiliki rencana cadangan?". Tanya Wulan sari.
"Aku tidak terbiasa berfikir sambil bertarung tetua, Andai aku mempunyai waktu beberapa saat untuk menyusun rencana".
"Baik akan kuberikan yang kau minta tapi aku hanya mampu bertahan beberapa saat. Gunakan waktu yang kau miliki untuk berfikir atau kita semua akan mati terkubur disini". Ucap Wulan sari pelan.
Belum sempat Wardhana menjawab, Wulan sari sudah muncul didekatnya.
"Kuharap kau benar benar menemukan cara mengatasi mereka.". Wulan sari merapal jurus andalannya. Dia memutuskan menggunakan sisa tenaga dalamnya untuk bertaruh pada Wardhana.
"Pisau angin peremuk tulang tingkat IV". Wulan sari memutar pedangnya diudara. Tak lama hembusan angin dingin menghantam para pendekar itu. Tubuh mereka terpental dengan lubang hampir disekujur tubuhnya.
"Pergilah ke celah dinding itu, ada banyak batu tulis didalam sana". Teriak Wulan sari.
Wardhana mengangguk cepat, Dia berlari diantara kepungan pendekar Dieng dan masuk kecelah itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Janji sudah Author penuhi ya.. 2 Chapter dijadikan 1.. jadi lumayan panjang.....