Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Gaun Kesayangan Ratu Malwageni


__ADS_3

Kapal yang dikendarai Arung mulai meninggalkan daratan Jawata menuju Hujung tanah. Arung terlihat mempersiapkan semuanya secara detail kali ini karena lautan menuju Hujung tanah terkenal sangat ganas.


Wardahana dan Ciha terlihat berdiri di dek kapal sambil membuka gulungannya, dia menatap titik yang ditandai sebagai daratan Masalembo.


"Harusnya disini daratan itu berada namun sepanjang aku menatap hanya lautan luas yang kita lihat, apa gambar ini salah?" ucap Wardhana heran.


"Tidak mungkin tuan jika gambar ini salah, mereka sampai menyembunyikan gambar daratan ini itu artinya memang ada yang harus mereka sembunyikan disekitar sini. Apa anda ingat Dieng? tempat itu jauh dibawah lautan dan dekat dengan gunung api bawah laut jadi aku yakin ada gerbang tersembunyi menuju Masalembo".


"Begitu ya" gumam Wardhana dalam hati, dia terus mengamati gambar dalam gulungannya berharap menemukan gerbang seperti yang dikatakan Ciha.


"Apa anda sudah tau dimana letak rumah para dewa terakhir? kabarnya daratan Hujung tanah jauh lebih luas dari daratan lainnya, segel udaraku mungkin hanya bisa menutupi sebagian daratan itu".


"Gambaran letaknya aku sudah memilikinya, kau lihat ini?". Wardhana mengambil gulungan lainnya dan menunjukkan pada Ciha. "Aku menggambar ini saat kita berada diruang rahasia Balidwipa. Setelah menemukan rahasia trah dwipa aku memeriksanya kembali untuk memastikan tidak ada yang tertinggal".


"ini?" Ciha mengernyitkan dahinya.


"Danau dan air terjun, jika kita meletakkannya diatas gulungan ini maka lokasinya ada disekitar hutan ini" Wardhana menitik sebuah lokasi gambar daratan Hujung tanah.


"Perasaanku jadi buruk setelah melihat gambar ini" ucap Ciha sambil memperhatikan gambar yang diberikan Wardhana.


"Apa ada yang aneh dengan gambar ini?" Wardhana mulai tertarik.


"Aku selalu menggambar kemanapun aku pergi termasuk ke Dieng untuk memperbaiki segel saat itu. Coba anda bandingkan dengan gambar yang anda temukan di Balidwipa". Ciha menunjukan gulungannya pada Wardhana.


"Struktur bangunannya sama?" ucap Wardhana terkejut.


Ciha mengangguk pelan sambil menunjukkan salah satu gambar.


"Ini adalah gerbang kedua Dieng, Air terjun dan sungai. Bandingkan dengan gambar yang ada digulungan anda, Semuanya sepertinya dibangun dengan pola yang sama karena menggunakan ilmu pengetahuan yang sama".


"Jadi maksudmu? ini dibangun oleh orang yang sama? tidak mungkin. Kehadiran Pendekar langit merah ada jauh sebelum Iblis petarung datang di Nuswantoro".


"Bukan seperti itu tuan, jika Iblis petarung membangun Dieng dengan kitab Paraton berarti tempat itu juga dibangun dengan kitab Paraton. Aku yakin yang membangun tempat itu adalah pendekar langit merah, namun yang menjadi pertanyaannya adalah kenapa mereka membangun tempat itu tapi bersembunyi di hutan air. Bukankah jauh lebih baik bersembunyi di hutan Daratan Hujung tanah daripada di hutan air?".


"Mereka buka tidak ingin bersembunyi disana tetapi tidak bisa". jawab Wardhana bersemangat.


Ciha mengangguk pelan " Sesuatu yang ada didalam hutan itu sepertinya bukan hanya rumah para dewa namun perkiraanku ada rahasia yang selama ini disembunyikan oleh Pendekar langit merah atas perintah Pemuda misterius itu dengan imbalan ilmu kanuragan dan Paraton. Sepertinya kita semakin dekat ke Masalembo Ciha" ucap Wardhana yakin.

__ADS_1


Wardhana menarik nafas panjang dan terlihat menghitung sesuatu ditangannya.


"Aku salah perhitungan, jika benar yang kau katakan tadi maka kita membawa pasukan terlalu sedikit".


"Maksud anda?" Ciha mengernyitkan dahinya.


"Apa kau akan meninggalkan tempat yang paling penting bagimu tanpa penjagaan?. Jika benar petunjuk terakhir Masalembo ada dihutan itu maka aku yakin mereka tak akan meninggalkan tempat itu tanpa penjagaan seperti daratan lainnya. Semoga Hibata dan Lingga menemukan petunjuk lainnya secepatnya" ucap Wardhana pelan.


Mentari yang dari tadi menemani Sabrang yang mulai mabuk laut tampak berjalan mendekati Wardhana dan Ciha.


Wardhana tampak sedikit terkejut melihat penampilan Mentari yang menggunakan gaun berwarna biru muda. Wardhana tampak mengenali gaun yang dikenakan Mentari.


"Apa Yang mulia sudah tidur?" tanya Wardhana pelan.


Mentari mengangguk pelan "Aku sudah memberinya ramuan yang kubawa dari Tapak es utara, sekarang tubuhnya sudah segar".


"Syukurlah" jawab Wardhana pelan.


"Apa ada yang bisa kubantu tuan?" tanya Mentari tiba tiba.


"Untuk saat ini belum, kami baru bisa memperkirakan lokasinya namun sebenarnya ada satu permintaan pribadiku pada anda nona".


"Aku mendengar Yang mulia mengamuk saat berada di sekte kelelawar hijau saat melihat anda terluka. Tetua Kumbara dan Brajamusti bahkan hampir kehilangan nyawa saat itu karena sesuatu dalam diri Yang mulia mulai bangkit. Aku sebenarnya tidak pantas mencampuri kehidupan Yang mulia namun aku memberanikan diri meminta sesuatu pada anda, tolong dampingi Yang mulia nona". ucap Wardhana pelan.


"Maksud tuan?".


"Anda sepertinya mendapatkan tempat spesial dihati Yang mulia, saat ini umurnya masih begitu muda namun beban yang harus dia tanggung saat ini begitu berat. Kalung yang anda gunakan tak pernah sedetikpun beliau lepaskan dari tubuhnya karena takut hilang atau terjatuh. Kuharap anda mau mengabulkan permohonanku".


Mentari tersenyum kecil sambil menggenggam kalung yang melingkar dilehernya.


"Apa anda meminta hal ini pada Tungga dewi dan Emmy juga?".


Wardhana menggeleng pelan "Aku hanya mengikuti kata hatiku dan hatiku mengatakan anda adalah orang yang paling dicintai Yang mulia".


"Begitu ya" jawab Mentari pelan.


"Anda terlihat cantik dengan gaun itu" ucap Wardhana sambil tersenyum penuh makna.

__ADS_1


"Ah ini, seseorang memberikannya padaku". jawan Mentari dengan wajah memerah.


"Yang mulia memberikannya pada anda?".


Mentari tersentak kaget saat mendengar pertanyaan Wardhana.


"Bagaimana anda bisa tau?" jawab Mentari terbata bata.


"Aku pernah melihat Yang mulia Ratu mengenakan gaun itu saat datang ke Malwageni dan dia mengenakan gaun itu juga saat penobatannya sebagai Ratu malwageni. Patih Wijaya memberikannya pada Yang mulia sebagai barang peninggalan Ratu. Aku semakin yakin anda adalah orang yang dicintainya karena beliau memberikan satu satunya barang peninggalan Ratu".


"Gaun ini milik Yang mulia Ratu?" ucap Mentari terkejut.


Wardhana menganggukkan kepalanya "Simpan gaun itu dengan baik, sepertinya akan sering anda gunakan saat berada di Malwageni kelak".


"Tuan". Raut wajah Mentari semakin memerah.


***


Mahawira tampak berlari menuju ruangan gurunya, raut wajahnya tampak pucat menandakan ada hal penting yang harus segera dia sampaikan pada gurunya.


"Guru" Mahawira langsung membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu seperti yang biasa dia lakukan.


Krisna dan Candrakurama yang sedang berbincang tampak mengerutkan dahinya.


"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu?" protes Candrakurama pada adik seperguruannya itu.


"Maafkan atas kelancanganku guru namun ada hal penting yang harus aku sampaikan".


"Katakan" ucap Krisna pelan sambil menahan Candrakurama yang hendak memarahi adik seperguruannya itu.


"Aku melihat sebuah kapal bersandar di sisi timur yang membawa sekitar empat puluh orang pendekar guru".


"Kapal? apa dia pengguna Naga api?" tanya Candrakurama penasaran.


Mahawira menggeleng pelan "Bukan kakang, aku akan langsung mengenali jika mereka adalah kelompok Naga api. Penampilan mereka sangat aneh namun menakutkan. Aura yang keluar dari tubuh mereka benar benar mengerikan dan dipakaian yang mereka kenakan tertulis nama Masalembo".


Krisna dan Candrakurama saling berpandangan. "Masalembo? aku belum pernah mendengar nama itu". jawan Candrakurama pelan.

__ADS_1


"Sebaiknya persiapkan semua pendekar Api dan angin dan kumpulkan di aula utama sekarang, kita harus bersiap dengan segala kemungkinan".


"Baik guru". jawab Mahawira dan Candrakurama bersamaan.


__ADS_2