
Suara ledakan diikuti dengan getaran tanah di sekitar dasar jurang gunung Pusaran Angin membuat belasan pendekar Lembayung yang sedang berjaga panik dan kebingungan.
"Suara apa itu? cari dari mana sumbernya..." belum selesai pendekar itu bicara, ledakan kembali terjadi dan menghancurkan beberapa bangunan megah kebanggaan mereka.
Tiga orang pendekar yang kebetulan berada tak jauh dari sumber ledakan terlihat terlempar dengan luka bakar hampir di seluruh tubuhnya.
"Kita diserang! cepat cari pelakunya!" perintah Jaka Wangsa, salah satu komandan pasukan Lembayung merah itu panik.
Kepanikan Jaka Wangsa cukup beralasan karena selain hampir semua pendekar Lembayung tidak ada ditempat, dia sangat mengenal senjata yang menghancurkan bangunan mereka.
Belasan pendekar yang ditugaskan menjaga tempat itu langsung menyebar kesemua sudut kota untuk mencari orang yang menyerang mereka.
"Tuan Jaka, ledakan itu..."
"Bola Petir, hanya kelompok Lembayung Hitam yang bisa membuat ini," potong Jaka Wangsa panik.
"Tapi bukankah tuan Panca sudah mengurusnya?" tanya pendekar itu bingung.
"Aku tidak tau.. tapi ledakan itu jelas Bola petir, apa yang sebenarnya terjadi? harusnya mereka terkurung di Kontilola," jawab Jaka cepat.
Jaka Wangsa terlihat berfikir sejenak sebelum raut wajahnya berubah.
"Wardhana! Mereka berusaha membebaskan..." Jaka Wangsa menghentikan ucapannya saat sebuah tanah liat berbentuk bola menggelinding kearah mereka.
"Bola Petir? menyingkir!" teriak Jaka tepat sebelum ledakan besar terjadi.
Tubuh Jaka dan para pendekar Lembayung terlempar akibat ledakan Bola Petir, sedangkan beberapa orang yang tidak sempat menghindar langsung terbakar dan menjadi abu dalam seketika.
"Temukan mereka sekarang juga!" teriak Jaka Wangsa geram.
"Lama tak berjumpa Wangsa," suara seorang wanita mengejutkan Jaka Wangsa, dia menoleh ke sekitarnya untuk mencari asal suara.
"Cukup sulit mencari dimana kalian bersembunyi selama ini tapi pada akhirnya kita bertemu lagi," Ratih melompat dari atas pohon bersama Arung.
"Ratih? kau..." Jaka Wangsa tampak terkejut setelah melihat wanita yang dulu tergabung dalam kelompok Lembayung Hitam.
"Ada apa dengan wajahmu itu? apa begini cara menyambut teman lama?" Ratih mengangkat kedua tangannya dan bersiap menyerang, tampak enam buah bola petir terjepit diantara selah jari jari tangannya. "Kau masih ingat apa ini?"
"Berhati hatilah, walau kecil bola itu bisa membunuh puluhan orang dalam sekejap," ucap Jaka Wangsa cepat setelah melihat bola bola kecil itu.
"Tuan pergilah, kita tidak punya banyak waktu, kau harus segera menyelamatkan Wardhana? biar aku yang mengurus para pengkhianat ini," Ratih menoleh kearah Arung sebelum bergerak menyerang.
"Berhati hatilah, kita bertemu di gerbang ini lagi," Arung mengepalkan kedua tangannya dan melesat pergi.
Dua pendekar Lembayung berusaha menghentikan Arung namun Ratih dengan cepat melempar bola petir yang membuat mereka mundur seketika.
"Awas ledakan!" ucap Ratih tersenyum sambil terus melempar bola petir nya.
"Ratih, kau tak harus melakukan ini, tuan Li Yau Fei berniat membangkitkan kembali peradaban kita. Aku tau kau masih setia pada tuan Sanjaya tapi saat ini yang terpenting adalah bagaimana membangkitkan kebanggaan kita lagi," ucap Jaka Wangsa sambil menghindari ledakan ledakan bola bola petir yang dilempar Ratih.
"Membangkitkan peradaban kita? kau pikir siapa yang menghancurkannya? kalian semua sudah dibutakan oleh ambisi," balas ratih cepat.
"Bentuk formasi dan jangan lengah, perhatikan setiap gerakan tangannya jika kalian ingin selamat," teriak Jaka Wangsa kesal.
"Kau pikir bola petir hanya bisa dilempar?" Ratih melempar bola petir kearah para pendekar Lembayung. Namun saat lawannya berhasil menghindar, bola itu berputar mengikuti gerakan mereka sebelum meledak tepat dihadapan tiga pendekar Lembayung.
"Duaaaarrr!"
Arung yang sedang bergerak kearah salah satu bangunan bahkan sampai berhenti beberapa saat dan menoleh kearah api merah di kejauhan.
"Wanita itu benar benar menakutkan," ucapnya sebelum kembali bergerak.
"Ada penyusup!" teriak belasan penjaga saat melihat kedatangan Arung.
"Kalian pikir bisa mengurungnya ditempat ini? kesalahan terbesar kalian adalah membawa sang Naga tidur ketempat kalian," Arung mencabut pedangnya sebelum menggunakan jurus pedang kabut.
Tubuhnya tuba tiba berubah menjadi aura hitam pekat.
"Jurus pedang kabut tingkat tiga : Tebasan awan hitam," Arung bergerak sangat cepat dan berhasil membunuh beberapa pendekar Lembayung.
"Bentuk Formasi, aku ingin kepalanya," teriak salah satu pendekar.
"Sepertinya lebih sulit dari yang aku perkirakan, mohon bersabar sebentar tuan Wardhana," Arung memutar pedangnya saat para pendekar itu mengepungnya.
"Sudah lama aku tidak merasakan ini, sangat menyenangkan bisa melihat kembali hujan darah," delapan bola petir tiba tiba muncul dan berputar di udara.
Ratih yang pakaiannya kini dipenuhi darah segar terlihat tersenyum di udara solah menikmati pertarungan itu.
__ADS_1
"Dia sudah gila!" Arung langsung bergerak menjauh saat Ratih menggerakkan tangannya.
"Bola petir hujan darah," bola bola itu meluncur cepat dan meledak menghancurkan semua yang ada disekitarnya.
Para pendekar Lembayung yang berhasil menghindar tak mampu berbuat apa apa ketika Ratih sudah ada didekatnya.
"Kalian lupa jika tugas Lembayung hitam adalah membunuh semua orang yang mencoba mengganggu Lemuria, jadi tak akan kubiarkan satupun hidup," Ratih melempar kembali bola petir yang sudah dialiri tenaga dalam.
Bola bola itu menembus tubuh para pendekar Lembayung sebelum meledak didalamnya.
Darah segar dan potongan potongan tubuh berhamburan di udara, membuat suasana pagi itu begitu mencekam. Arung yang sudah lama terjun di dunia persilatan bahkan merasakan mual saat melihat potongan potongan tubuh itu.
Ratih menarik nafasnya panjang sambil memejamkan matanya seolah menikmati bau anyir itu.
"Mereka benar benar suku yang berbahaya," ucap Arung dalam hati sambil menutup hidungnya.
"Ayo selamatkan tuan Wardhana dan bergabung dengan yang lainnya di hutan kematian," Ratih menepuk pundak Arung sebelum melangkah masuk ke bangunan besar dihadapan mereka.
"Sejak kapan?" ucap Arung terkejut, dia sangat yakin beberapa detik lalu Ratih masih berdiri jauh di depannya.
"Aku sudah tidak sabar bertemu orang yang bisa membuat rencana sehebat ini," ucap Ratih bersemangat.
***
Wardhana terus memperhatikan lorong ruangan dari dalam tahanannya, dia yakin tadi mendengar suara keributan diluar.
"Apakah itu mereka?" ucapnya bingung, dia merasa aneh karena suara pertarungan tadi begitu cepat.
Suara langkah kaki mulai terdengar di kejauhan sebelum pintu utama ruangan di buka.
Wardhana mundur beberapa langkah saat melihat seorang wanita berlumuran darah di seluruh tubuhnya. Namun wajahnya kembali lega saat Arung muncul dibelakang wanita itu.
"Tuan Patih, anda baik baik saja? maaf kami sedikit terlambat," ucap Arung pelan sambil berlari kearah Wardhana.
"Dia?" tanya Wardhana pelan.
"Nona Ratih, salah satu orang kepercayaan tuan Setra," jawab Arung cepat, dia kemudian membuka kunci ruangan Wardhana cepat.
"Anda tak perlu takut tuan, aku datang atas perintah tuan Setra. Semua yang anda minta sudah kami lakukan termasuk mengirim orang ke Kontilola untuk membuka segel yang mungkin mengurung mereka. Jika tidak terlambat seharusnya siang ini mereka akan tiba di Jawata," ucap Ratih pelan.
"Mereka akan segera bergabung, dan tuan Lingga mungkin sudah berada di posisinya. Candrakurama juga sudah menemui Ardhani dari kelompok Kontilola sesuai perintah anda," jawab Arung cepat.
"Kau yakin tak ada yang melihat mereka?"
"Candrakurama adalah satu satunya pendekar yang pintar menyusup, aku yakin semua sesuai rencana yang anda buat," balas Arung.
"Bagus... walau aku sedikit khawatir tapi kalian datang tepat waktu. Ayo pergi, saat ini Ken Panca mungkin sudah berada di markas kelompok teratai merah," ucap Wardhana sebelum melangkah pergi.
Namun baru saja Wardhana berjalan satu langkah, Ratih tiba tiba menarik tubuhnya dan mencekik lehernya.
Wardhana yang sangat terkejut tanpa sadar membuka mulutnya dan tanpa diduga Ratih memasukkan satu bola petir ke tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan!" Arung langsung mencabut pedangnya dan bersiap menyerang.
"Bergerak sedikit saja aku akan meledakkan tubuhnya, kau tentu sudah mengetahui kekuatan bola petir ini bukan?" ancam Ratih cepat.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan? kita harus cepat pergi karena saat ini mungkin tuan Setra juga dalam bahaya, apa kau mau berkhianat?"
"Kita tak akan pergi kemanapun sebelum tuan Wardhana menjawab semua pertanyaanku," balas Ratih dingin.
"Kau!"
"Tenangkan dirimu Arung! saat ini kita membutuhkan semua bantuan yang ada untuk menghadapi Ken Panca," potong Wardhana sambil menoleh kearah Ratih.
"Katakan.. apa yang ingin kau tanyakan padaku."
"Aku mohon maaf jika tindakanku kali ini menyinggung anda, tapi sebagai anggota Lembayung Hitam sudah tugas kami melindungi tuan Setra. Aku tau anda dan tuan Setra sudah menyepakati kerjasama tapi banyak hal aneh yang tidak bisa aku mengerti," balas Ratih pelan.
"Hal aneh?" tanya Wardhana bingung.
"Aku sudah mendengar kehebatan anda meramu strategi tapi yang terjadi kali ini benar benar tidak masuk akal. Katakan, bagaimana anda bisa mengetahui jika orang terdekat anda sudah menjadi bagian dari mereka dan bagaimana anda bisa membaca semua rencana rumit yang mungkin sudah dipersiapkan Li Yau Fei dengan sangat rinci.
"Seingatku setelah pertemuan dengan tuan Setra anda tidak melakukan gerakan apapun sebelum menghilang dari air terjun Lembah pelangi. Anda bisa menggerakkan semua orang bahkan mungkin mengelabui Li Yau Fei hanya dari dalam tahanan ini? aku tidak yakin ada orang sepintar itu jika dia bukan pengkhianat. Tolong jelaskan semua padaku sebelum kita pergi," ucap Ratih pelan.
"Kau mencurigai tuan Wardhana? dia adalah..."
"Tenang Arung, aku akan menjelaskannya semua tapi dengan satu syarat," balas Wardhana.
__ADS_1
"Syarat? apakah anda merasa memiliki posisi tawar saat ini?"
"Seumur hidup aku tak pernah tunduk pada tekanan siapapun, jika kau ingin membunuhku maka bunuh lah!"
Ratih tampak terkejut mendengar jawaban Wardhana, dia merasa orang dihadapannya itu masih memiliki sesuatu andai tak berhasil keluar dari dasar lembah.
"Katakan, apa syaratnya?" ucap Ratih mengalah.
***
"Apa kalian sudah mengerti seberapa besar perbedaan kekuatan kita?" Ken Panca mencengkram leher Wulan Sari dan Mentari bersamaan.
Tubuh kedua wanita itu terlihat terluka parah, Wulan Sari bahkan kehilangan tangan kirinya.
Tongkat Cahaya putih yang merupakan satu dari lima pusaka yang ditakuti Ken Panca sudah patah menjadi dua dan tertancap di salah satu dinding bangunan.
Tumpukan mayat murid Teratai Merah terlihat di setiap sudut sekte membuat bau darah yang sangat menyengat.
Puluhan murid Wulan Sari yang masih bertahan terus berusaha mempertahankan tempat itu walau lawan yang dihadapinya jauh lebih kuat.
"Tari, kau seharusnya pergi..." ucap Wulan Sari terbata bata.
"Tenagaku sudah habis, aku bahkan tak bisa menggerakkan ujung jariku... Yang mulia...." Mentari batuk darah, nafasnya mulai tersengal saat tenaga dalam Ken Panca masuk ke tubuhnya dengan cepat. Dua wanita itu menjerit kesakitan sebelum hilang kesadaran.
Ken Panca melempar tubuh mereka sebelum memerintahkan salah satu pendekar Lembayung untuk mencari keberadaan Sabrang.
Namun betapa terkejutnya dia saat melihat tubuh beberapa pendekar Lembayung terlempar dari ruangan Sabrang ke udara sebelum sesosok tubuh muncul dari ruangan itu dan membunuh mereka semua dengan cepat.
"Dia sudah sadar? bukankah seharusnya racun wanita itu..." Ken Panca semakin terkejut karena sosok yang dilihatnya itu bukan Sabrang.
"Tarian Iblis pedang," Lingga yang mengenakan pakaian milik Sabrang bergerak cepat kearah kerumuman murid Teratai Merah yang sedang bertarung. Dia mendekati Ratna, salah satu murid kesayangan Wulan Sari dan membunuhnya dengan sangat cepat.
"Seorang pengkhianat memang pantas mati dengan tubuh hancur!" umpat Lingga kesal.
"Pengkhianat?" ucap murid Teratai merah hampir bersamaan.
"Dia..." Ken Panca tampak mulai menyadari telah masuk jebakan.
"Apa kau terkejut? sayangnya Sabrang tidak ada di tempat ini Li Yau Fei," Jaya Setra dan para pendekar Lembayung Hitam muncul bersama Wulan, Wijaya, Wahyu Tama.
"Setra...kau masih hidup?"
"Aku tak akan mati sebelum melihatmu mati Li Yau Fei. Ayah sudah memberi kalian tempat tinggal bahkan menganggap kalian saudara tapi kau justru mengambil tubuhnya," jawab Jaya Setra cepat.
"Jadi kalian menjebakku?" Ken Panca tiba tiba tertawa keras sebelum melepaskan aura besar dari tubuhnya. "Apa kalian pikir bisa melawanku? setelah membunuh kalian semua, aku akan menemukan tubuh anak itu."
"Kami semua mungkin tidak bisa mengalahkan Iblis sepertimu tapi setidaknya bisa menahan sampai anak itu siap. Apa kau bisa membayangkan seberapa kuat gabungan jurus Sabdo Loji dan Sabdo Palon?"
"Sabdo Loji?"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di detik detik terakhir Pedang Naga Api ini saya mau ngasih tau jika ada karya baru dengan judul Geger di tanah Nusantara yang akan saya publish setelah PNA tamat... Jangan khawatir, sudah ada 100 Chapter yang saya tabung jadi ABM tetap prioritas utama setelah PNA.
Terbit dimana? tunggu tanggal mainnya....
Sedikit cuplikan pembuka dari cerita Geger di tanah Nusantara.
°°°°°°°°°°
Seorang pria setengah baya tampak berdiri di pinggir jurang sambil memegang sepasang pedang Pengilon Kembar berwarna hitam legam. Mengenakan pakaian serba hitam dengan penutup wajah, dia berdiri dibawah sinar bulan purnama malam itu, diantara tumpukkan mayat para pendekar dunia persilatan dari berbagai aliran yang berhasil dia bunuh.
Tetesan darah diujung mata pedangnya terlihat semakin memerah karena terkena sinar bulan purnama. Walaupun dia berhasil membunuh para pendekar terkuat dunia persilatan saat ini, tak ada raut bahagia diwajahnya.
Aura besar yang meluap dari tubuhnya tak bisa menutupi wajahnya yang sudah menua.
Satu satunya pendekar yang berhasil selamat walaupun terluka parah menatap kagum pria setengah baya dihadapannya yang bergelar Iblis kegelapan itu.
"Dengan ilmu kanuragan yang anda miliki, sepertinya hanya sang waktu yang dapat mengalahkan anda tuan ****** (Namanya sensor dulu sebelum PNA tamat)" ucap pendekar itu hormat.
Pria setengah baya itu menoleh kearah suara sambil tersenyum dingin.
"Apa ini yang kalian inginkan? Hidup hampir abadi dan tersiksa dalam kesunyian diantara kejaran para pendekar yang menginginkan kematianmu? Jika bukan karena ramalan itu mungkin aku sudah mati dengan tenang," Jawab Iblis kegelapan itu.
Ditunggu ya....
Selamat malam minggu.....
__ADS_1