
"Bagaimana keadaannya guru?" tanya Sabrang khawatir.
"Luka dalamnya sudah parah, energi murni milikku hanya mampu meringankan rasa sakit yang dirasakannya," balas Wulan lirih sambil menatap Wardhana yang tertidur di salah satu ruangan yang ada di gua air terjun lembah pelangi.
Wardhana memang meminta di bawa ke air terjun lembah pelangi setelah Arung menemukan tubuhnya tergeletak di lantai saat dia ingin menghadap.
Wardhana sempat tersadar saat Arung masuk ruangannya dan meminta untuk membawa tubuhnya diam diam ke Air terjun lembah pelangi agar lukanya tidak diketahui para prajurit keraton.
Arung kemudian mengalirkan tenaga dalamnya ke tubuh Wardhana untuk meringankan rasa sakit sebelum membawanya pergi. Setelah bertemu dengan Wulan dalam perjalanan dan mengantarkan Wardhana ke air terjun lembah pelangi, Arung kembali ke keraton untuk menemui Tungga Dewi untuk melaporkan masalah ini.
Betapa terkejutnya Arung saat Tungga Dewi memintanya untuk datang ke sebuah penginapan di dekat gerbang ibukota tempat Sabrang berada.
Arung kemudian menemui Sabrang dan menyampaikan kondisi Wardhana yang tak sadarkan diri di Air terjun Lembah pelangi.
"Bagaimana mungkin paman tidak menceritakan kondisi tubuhnya yang terluka padaku," Sabrang menggeleng pelan, ada rasa penyesalan dalam dirinya.
"Ini sudah menjadi keputusannya Yang mulia, kecintaannya pada Malwageni mengalahkan segalanya. Dia tidak ingin kondisi tubuhnya diketahui banyak orang terutama para prajurit karena takut akan mempengaruhi semangat tempur mereka terlebih dalam situasi seperti ini," jawab Wulan pelan.
"Paman terlalu memaksakan diri, ini semua salahku," balas Sabrang.
"Ikutlah denganku, ada yang ingin aku bicarakan," Wulan mengajak Sabrang menuju ruangan lainnya.
"Arung, tolong jaga paman sebentar," ucap Sabrang sebelum mengikuti Wulan.
"Baik, Yang mulia," jawab Arung cepat.
Wulan masuk ke sebuah ruangan yang lebih kecil dan mempersilahkan Sabrang duduk.
"Dia tidak bisa bertempur lagi, sekali lagi terluka kita akan kehilangan dia," ucap Wulan pelan.
"Separah itukah lukanya? apa tidak ada cara untuk mengobati paman Wardhana guru?"
Wulan menggeleng pelan, "Sebenarnya ada satu tanaman bisa mengobati luka dalam dengan cepat yang hanya bisa hidup di daratan Masalembo bernama Pohon pule, tapi dengan kondisi luka parah yang di derita Wardhana mungkin ramuan itu hanya mampu memperpanjang sedikit umurnya.
Luka dalam yang di deritanya hampir mustahil untuk disembuhkan. Aku tidak tau ini sebuah keajaiban atau bukan tapi dia bisa bertahan dengan luka itu sampai hari ini sudah membuatku terkejut, mungkin semangat juang dan kecintaan pada Malwageni yang tanpa sadar membuat tubuhnya mampu bertahan," balas Wulan.
"Pohon Pule di Masalembo? aku akan pergi mencarinya," jawab Sabrang cepat.
"Tapi itu tidak akan menyembuhkan lukanya."
"Aku tidak perduli, walau tanaman itu hanya mampu membuat paman bertahan satu hari aku akan tetap mencarinya dan membawa ke sini. Kuharap guru mempersiapkan ramuan lainnya dan tunggu aku kembali," jawab Sabrang pelan.
"Apa kau akan pergi sendiri?"
"Tidak, aku akan pergi bersama seorang teman karena ada yang harus aku selidiki tentang sejarah Masalembo, itu permintaan paman kemarin," jawab Sabrang sambil melangkah pergi.
"Cepatlah kembali, aku takut..." Wulan tidak melanjutkan ucapannya.
"Aku tau, guru tenang saja, begitu aku menemukan tanaman itu aku akan langsung kembali."
***
Setelah mempersiapkan keperluan untuk keberangkatannya, Sabrang kembali ke penginapan untuk mengajak Arina dan meminta Emmy membantu Wulan menjaga Wardhana.
Walau sempat mendapat penolakan dari Emmy karena Sabrang akan pergi berdua dengan gadis yang dibencinya, Dia akhirnya mengalah setelah Sabrang memberi pengertian.
Sabrang hanya ingin Wardhana di rawat oleh orang yang dia percaya dan Emmy adalah salah satunya.
Sabrang kemudian menceritakan tujuannya datang ke daratan Masalembo pada Arina dan meminta bantuan untuk menyelidiki kemungkinan kaitan antara Masalembo dengan pendekar Kuil suci.
__ADS_1
"Jadi mereka ada hubungannya dengan orang yang kau sebut Lakeswara itu?" tanya Arina dalam perjalanan.
"Kemungkinan besar seperti itu, paman Wardhana ingin mencari catatan Masalembo yang mungkin terlewat saat kami menyerang mereka, dia yakin ada petunjuk tentang misteri kemunculan pasukan Kuil suci," jawab Sabrang menjelaskan.
Arina yang sudah sedikit mengerti tentang permasalahan yang dihadapi Sabrang, mulai merangkai kepingan kepingan cerita yang didengarnya dengan dugaan keterlibatan pasukan kuil suci di belakang semua kejadian ini.
"Mau sampai kapan kau menggendongku?" ucap Arina saat langkah Sabrang berhenti di tengah hutan larangan.
"Sepertinya di sini jalan masuk telaga khayangan api," ucap Sabrang sambil menurunkan tubuh Arina dari punggungnya.
"Lalu bagaimana kita masuk?" tanya Arina bingung, dia menatap bukit kecil yang ada dihadapannya.
"Aku tidak terlalu ingat karena saat itu aku masuk menggunakan mata bulanku," jawab Sabrang sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kau datang ketempat ini tanpa tau jalan masuk?" balas Arina sedikit kesal, dia kemudian membuka gulungan catatan Wardhana yang diberikan padanya untuk mencari tau jalan rahasia yang dulu ditemukan Wardhana.
Sabrang memperhatikan gadis itu takjub, apa yang dilakukan Arina, kecepatannya membaca situasi dan petunjuk kecil di hutan larangan untuk mencari tau jalan rahasia menuju Telaga khayangan api sangat mirip dengan Wardhana walaupun tidak sepintar orang kepercayaannya itu.
Tapi Sabrang yakin jika Arina berguru pada Wardhana suatu saat mungkin bisa sama hebatnya dengan Wardhana.
"Dia sangat pintar, aku yakin Arung akan menyukai gadis ini," ucap Sabrang sambil tersenyum.
Sabrang masih belum sepenuhnya percaya pada kesetiaan Arina tapi dia yakin Arung mampu mengendalikan wanita yang terkadang suka bertindak seenaknya sendiri itu.
Setelah mengelilingi bukit kecil itu beberapa kali, Arina akhirnya menemukan sebuah celah kecil yang tertutup reruntuhan batu.
"Celah ini bukan terbentuk secara alami, kedua sisi celah tersembunyi ini jelas buatan tangan manusia," Arina menyentuh dinding celah sebelum memanggil Sabrang.
Setelah yakin itu adalah jalannya, mereka masuk kedalam celah itu perlahan. Cukup sulit melewati celah reruntuhan itu, Sabrang terpaksa berhenti beberapa kali karena Arina terlihat kehabisan nafas.
"Ah sepertinya itu ujungnya!" teriak Arina sambil mempercepat langkahnya. Bayangan sebuah kota kuno yang sangat maju membuat gadis itu bersemangat.
Arina memang sedikit berbeda dari gadis seusianya, dia lebih tertarik pada misteri dan sejenisnya. Baginya, mencari petunjuk dan menemukan sebuah peradaban kuno yang lama terkubur jauh lebih mengasikkan daripada hal hal remeh yang biasa di lakukan wanita seusianya.
Puluhan bangunan megah yang sudah hancur menyambut Arina mata Arina terbelalak, dia tidak menyangka ada peradaban yang sangat maju terkubur di dalam gunung.
"Jadi ini yang anda sebut Telaga Khayangan api?" ucal Arina takjub.
Sabrang tersenyum melihat tingkah Arina, dia tidak bisa membayangkan jika Arina melihat daratan Masalembo sebelum hancur.
"Bukan disini tujuan kita, ayo kita harus bergegas," Sabrang menarik lengan Arina dan berjalan kearah danau di tengah telaga khayangan api.
Sabrang menghentikan langkahnya di depan tumpukan reruntuhan, danau yang dulu cukup besar kini telah tertutup bebatuan sepenuhnya.
"Ah sial, andai aku bisa menggunakan mata bulan," umpat Sabrang sambil menggelengkan kepalanya.
"Di balik reruntuhan ini jalan masuknya?" tanya Arina pelan.
Sabrang mengangguk, "Danau ini adalah satu satunya akses masuk ke Masalembo, sepertinya akan sulit masuk ke sana."
Sabrang mengalirkan energi Naga api ke tangannya dan bersiap menghancurkan bebatuan dihadapannya.
"Apa yang anda lakukan Yang mulia, kekuatan anda justru akan menghancurkan lorong rahasia di balik reruntuhan ini dan kita tidak akan bisa masuk," ucap Arina cepat.
Sabrang menarik kembali energi Naga Apinya, "Lalu bagaimana kita bisa masuk tanpa menyingkirkan reruntuhan ini?"
"Reruntuhan ini memang harus di singkirkan tapi tidak semua Yang mulia," Arina mengetuk tumpukan batu itu dengan batu kecil, dia menunjuk sebuah batu yang mengeluarkan suara keras.
"Jika dulu ini adalah sebuah danau, aku yakin saat ini lorong rahasia telah terisi air semua. Suara berdengung yang terdengar saat batu ini di ketuk menandakan ada rongga yang terisi air. Bisakah anda membantuku menyingkirkan batu ini perlahan?" pinta Arina pada Sabrang.
__ADS_1
Sabrang menarik aura Naga Api di tangannya sebelum menyentuh batu itu, beberapa saat kemudian batu itu hancur menjadi debu.
Semburan air akibat tekanan dari dalam mengejutkan Sabrang, tubuhnya tampak basah terkena cipratan air.
"Dari mana kau belajar semua ini?" tanya Sabrang heran.
"Apa aku sudah memenuhi syarat menjadi menteri Malwageni?" balas Arina sambil tersenyum.
"Sebaiknya anda mengambil nafas panjang, tekanan air yang cukup besar ini menandakan lorong rahasia sedikit panjang," Arina mengambil nafas panjang sebelum mulai menyelam.
Tepat seperti dugaan Arina, lorong rahasia di dasar danau itu cukup panjang, butuh waktu beberapa saat sebelum mereka muncul di sungai kecil diantara reruntuhan bangunan Masalembo.
"Ini tempatnya?" tanya Arina ketika melihat puluhan bangunan rusak dihadapannya.
"Benar, di dekat bangunan paling tinggu itu tempat ku bertarung dulu," jawab Sabrang sambil menunjuk bangunan tinggi yang jaraknya cukup jauh dari sungai.
Arina terlihat berfikir sejenak, dia menoleh sekitarnya seperti sedang mencari sesuatu.
"Jika anda ingin mencari catatan sejarah Masalembo, seharusnya kita cukup mencari bangunan yang paling megah karena untuk menyimpan catatan penting, mereka harus memastikan tempat itu aman dan sulit di jangkau musuh.
Sejak awal, entah kenapa aku begitu tertarik pada bangunan besar di atas bukit itu, aku akan mencoba memeriksanya. Anda sebaiknya cepat mencari tanaman obat itu karena jika mendengar cerita tentang kondisinya kemungkinan kita tidak punya banyak waktu," ucap Arina pelan.
"Kau yakin akan baik baik saja sendirian di bukit itu?"
"Apa yang harus aku takutkan? tempat ini sudah lama tidak di tinggali," jawab Arina sebelum berlari menuju bukit kecil yang ada di hulu sungai.
"Aku benar benar kagum pada semangatnya," ucap Sabrang sebelum melompat ke sebuah bangunan tinggi untuk mencari Pohon Pule.
***
Lasmini dan beberapa pendekar Rajawali emas tampak mulai memasuki wilayah ibukota. Mereka terlihat mengantri di gerbang utama untuk menjalani pemeriksaan masuk ibukota.
Saat sedang mengantri, seorang pria tua mendekatinya dan menyapa Lasmini.
"Maaf nona, bisakah kau memberiku sedikit makanan?" ucap pria itu sopan.
Lasmini terlihat memeriksa bungkusan yang dibawanya namun perbekalan makanannya juga habis.
"Maaf kek, perbekalan milikku juga habis, ikutlah denganku, ada sebuah penginapan dekat sini," Lasmini menunjuk sebuah bangunan di dalam ibukota yang terlihat dari pos penjagaan.
Pria tua itu menganggukkan kepalanya, wajahnya sedikit berubah karena sebentar lagi perutnya akan terisi.
Setelah melewati pemeriksaan, Lasmini langsung mengajak pria tua itu ke penginapan dan memesan beberapa makanan.
"Makanlah sepuasnya kek, aku yang akan membayarnya," ucap Lasmini sopan.
"Terima kasih nona, semoga kelak ada yang membalas kebaikanmu," balas pria itu sebelum makan dengan lahap.
"Kakek sepertinya bukan orang sini, apa kakek sedang mencari seseorang?" tanya Lasmini sopan.
"Aku sedang mencari seorang pemuda bernama Damar, tapi entah dimana aku harus mencarinya," jawab pria itu pelan.
"Damar?" Lasmini mengernyitkan dahinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pohon pule atau mempunyai nama latin Alstonia scholaris ini merupakan jenis tanaman keras yang umumnya tumbuh di Pulau Jawa dan Sumatera. Biasanya pula bayak dijumpai pada kawasan terbuka, bersemak, hutan campuran, hutan primer atau sekunder, hutan jati, dan pinggir ladang.
Selain sebagai penghijauan, pohon ini juga dikenal sebagai 'obat herbal' sejak dahulu kala. Mengutip situs Always Ayurveda, pule telah dikenal sebagai tanaman obat ayurveda sejak berabad-abad lamanya.
__ADS_1
Tonik yang terbuat dari pohon pule digunakan sebagai obat penurun demam, membantu memulihkan sistem pencernaan, hingga penyakit kulit.
Ekstrak etanol yang dimiliki pohon kini tengah diteliti secara luas. Pohon ini berpotensi menjadi agen anti-inflamasi yang efektif.