
"Sebelum kau sampai di Dieng kau harus secepatnya meningkatkan kemampuanmu nak. Kekuatan Naga api yang kau gunakan tadi hanya separuh kekuatannya. Jika segel 4 unsurku tadi tidak berkerja menahan kekuatan Naga api, tubuhmu akan hancur karena tak mampu menerima efeknya". Anom berbicara pelan.
"Aku sudah berusaha semampuku Anom". Sabrang mendengus kesal. Selama ini Sabrang belum pernah mempelajari Ilmu kanuragan sampai sempurna. Dari Jurus api abadi sampai kitab dewa es abadi semua hanya dipelajarinya sekilas.
Sangat sulit untuk menyempurnakan Energi bumi jika dia hanya menguasai beberapa jurus Api abadi.
"Mulai sekarang kau harus berhati hati, tempat yang kau tuju adalah sekte pencipta semua jenis segel didunia ini termasuk segel 4 unsur. Tidak pernah mudah berurusan dengan pengguna segel".
"Apa kau tau cara mengatasi segel kabut?".
"Segel kabut adalah segel yang unik, ilmu segel yang mengelabui pandangan mata. Tak mudah untuk mematahkan segel itu kau harus segera menemukan caranya atau kau tak akan pernah menemukan tempat itu".
Sabrang menarik nafas panjang sambil menggeleng pelan "Sepertinya sangat merepotkan pergi ketempat itu".
Sabrang membuka matanya perlahan setelah berbicara dengan Anom. Terlihat Mentari duduk dihadapannya dengan wajah cemas.
"Anda tidak apa apa tuan?".
"Aku baik baik saja, sekarang ayo kita pergi". Sabrang bangkit dari duduknya dan melangkah pergi.
"Baik tuan".
***
Seorang pemuda berlari dengan kecepatan tinggi menuruni sebuah bukit yang dikelilingi kabut putih. Wajahnya terlihat jelas menampakan kecemasan.
"Bagaimana bisa segel udara bisa bereaksi begitu kuat setelah ratusan tahun tak terjadi apa apa, aku harus secepatnya melaporkan pada guru". Pemuda itu terus melesat tanpa memperdulikan beberapa hewan buas yang mencoba mengejarnya.
Tak lama sebuah lembah nan indah terbentang dihadapannya. Dia berhenti tepat ketika kedua kakinya menyentuh ujung tanah.
Sebuah jurang yang sangat dalam menyambutnya. Jurang tersebut seolah tak ada dasarnya, membuat semua yang melihatnya akan bergidik.
Pria tersebut berjongkok dan merapal sebuah jurus sambil menempelkan telapak tangannya ketanah.
Keajaiban tiba tiba terjadi didepan matanya, sebuah kabut putih muncul dari dasar jurang dan membentuk sebuah jembatan.
__ADS_1
Pemuda itu kemudian berlari kembali diatas kabut tersebut.
"Kau seperti terburu buru Ciha, apa terjadi sesuatu?". Seorang pendekar bertubuh tinggi menyambutnya ketika dia mendarat di tanah.
"Segel udara bereaksi pada sesuatu diluar sana tuan". Pemuda itu mengatur nafasnya. Dia sudah berlari cukup jauh agar segera sampai di tempat ketua Sekte Bintang bulan untuk melaporkan hal ini.
Raut wajah pendekar itu berubah cepat setelah mendengar ucapan Ciha.
"Kau yakin?".
Ciha mengangguk cepat sebelum kembali berlari menuju gedung utama tempat ketua sekte Bintang langit berada.
"Ketua ada yang harus aku laporkan". Ciha berkata dengan terbata bata ketika memasuki ruangan itu.
Langkahnya terhenti ketika dia melihat semua tetua sekte berkumpul di ruangan itu. Dia mengernyitkan dahinya menatap pemandangan yang jarang dia lihat selama ini.
Selama hidupnya Ciha tidak pernah melihat tetua dari 3 kelompok besar Bintang Langit berkumpul. Jika hari ini mereka berkumpul pasti ada sesuatu yang genting.
Sekte Bintang langit di bentuk oleh 3 Kelompok besar yaitu Lintang gubuk, Lintang Wukanjar dan Lintang wakulu.
"Masuklah". Seorang pria paruh baya yang duduk diantara 3 tetua kelompok Bintang langit berkata pada Ciha.
"Ketua, Segel udara bereaksi cukup kuat pada sesuatu diluar sana". Ciha berkata pelan.
Pria itu hanya mengangguk sebelum menoleh kearah Andaru, Ketua dari kelompok Lintang wakulu pencipta Segel udara.
'Segel udaraku tak mungkin salah, dia akan bereaksi pada kekuatan yang berasal dari Dieng. Aku beberapa kali mengaktifkan segel udara untuk memastikannya dan seperti yang dikatakan Ciha ada kekuatan besar berada di dekat sini". Jawab Andaru.
"Mungkinkah itu....". Ketua dari Kelompok Lintang gubuk, Astaguna tidak melanjutkan ucapannya.
"Naga api sedang berada didekat sini". Pria setengah baya itu menghela nafas. Dia adalah Birawa ketua dari Seket bintang langit.
"Maksud anda dia sedang menuju kemari"? Andaru menatap Birawa.
"Aku tidak yakin namun kita harus siap dengan segala kemungkinan".
__ADS_1
"Bukankah terdapat sebuah perjanjian antara Bintang Langit dengan Naga api untuk melindungi tempat ini?". Astaguna mengernyitkan dahinya.
"Mungkinkah Naga api telah menemukan tuannya?". Astaguna kembali bertanya.
"Itu kemungkinan yang paling masuk akal. Dalam perjanjian itu Naga api akan melindungi Bintang langit sampai dia menemukan orang yang dia anggap tuannya. Sebagai bayarannya jika dia telah menemukan tuannya dia akan menagih janji kita untuk membuka Gerbang Dieng. Namun yang menjadi pikiranku adalah Lembah siluman.
Kembangkitan orang itu benar benar diluar prediksiku. Aku sangat mengenal orang itu, dia akan melakukan apa saja untuk membangkitkan pusaka Suling raja setan. Jika kita menuntun Naga api masuk Dieng itu sama saja membantunya menyerahkan kunci Gerbang kegelapan dan jika itu terjadi dunia ini akan hancur oleh kekuatan Suling raja setan". Birawa memejamkan matanya.
Pilihannya kini sangat sulit, jika dia menepati perjanjian dengan Naga api itu sama saja membantu lembah siluman membuka gerbang kegelapan namun jika dia mengingkari janjinya tak akan ada yang bisa menahan kemarahan Naga api.
"Kita hanya perlu berpura pura menepati perjanjian itu, setelah itu aku akan menyegelnya dengan segel 4 unsur dan menguburnya di lembah tanpa dasar. Aku yakin orang itupun tak akan mampu menemukan Naga api di Lembah tanpa dasar". Daniswara yang merupakan ketua dari kelompok Lintang Wukanjar ikut berbicara.
"Kau begitu mudah mengingkari janjimu dengan cara licik seperti biasanya, itu yang membuatku muak padamu". Astaguna memandang Daniswara sinis.
"Ohh apakah Lintang gubuk mempunyai solusi lain? atau mungkin kau bisa menahan orang itu dengan segel bayangan mainanmu itu jika dia benar benar membangkitkan Suling raja setan". Daniswara tertawa mengejek.
"Kau". Astaguna mengepalkan tangannya hendak menyerang Daniswara.
"Cukup! Bukan saatnya kita bertengkar". Birawa menggebrak meja dan menatap tajam keduanya.
"Apa yang dikatakan Astaguna ada benarnya, selama ini Naga api telah melindungi tempat ini dari orang luar yang mencoba masuk kesini, tidak mungkin kita membalasnya dengan hal licik seperti itu. Sementara kita memikirkan caranya aku ingin kau memperkuat segel kabutmu untuk menahan Naga api sementara waktu. Aku ingin kali ini kita bekerja sama menghadapi masalah ini, lupakan dulu permusuhan diantara kalian".
"Baik ketua". Astaguna menganggukan kepalanya.
Ketiga tetua itu menundukan kepalanya dan bersiap meninggalkan aula utama namun tiba tiba Birawa memanggil Daniswara.
"Aku ada perlu denganmu". Birawa berkata dingin.
***
"Jika kau berfikir untuk memiliki Naga api lebih baik lupakan impianmu itu. Kau pikir Segel 4 unsurmu bisa menahan kekuatan Naga api? kau salah besar, tidak akan ada segel yang bisa menahan kekuatan Naga api. Ku harap kau tidak melakukan hal bodoh". Birawa memperingatkan Daniswara setelah dua tetua lainnya pergi.
"Aku akan mengingat pesan ketua". Daniswara berkata pelan kemudian pergi meninggalkan Birawa.
"Ambisimu suatu saat akan menghancurkan Sekte Bintang langit". Birawa menggeleng pelan.
__ADS_1
Daniswara melangkah pelan meninggalkan aula utama sambil tersenyum licik.
"Kau pikir untuk apa aku menciptakan Segel 4 unsur tua bangka. Aku sudah bosan hidup terkurung di sini seperti tikus. Setelah aku mendapatkan Naga api aku akan pergi ke Dieng dan berlatih ilmu kanuragan disana. Aku akan menjadi pendekar terkuat di dunia, setelah itu bahkan Lembah silumanpun akan bertekuk lutut dihadapanku".