Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pertapa Aneh dari Gunung Sinabung


__ADS_3

Penyelidikan percobaan pemberontakan yang melibatkan selir Anjani belum menemui titik terang, selain Adiwilaga yang terus melakukan perlawanan dengan terus membantah semua tuduhan, belasan pejabat yang terlibat terkesan tidak membuka semua fakta saat itu.


Hal itu dapat dipahami karena bagaimanapun mereka semua terlibat dan berusaha menyelamatkan diri masing masing.


Hal inilah yang membuat Adiwilaga terus melakukan perlawanan karena yakin tak ada yang akan benar benar membuka masalah itu demi meyelamatkan diri mereka sendiri.


Arung bukan tidak tau jika ada yang mereka sembunyikan, dia bahkan beberapa kali melakukan tekanan dengan melakukan penyiksaan pada pejabat yang menjadi saksi kunci untuk mengaku namun lagi lagi Adiwilaga melawan dengan mengatakan Arung telah memaksa mereka mengaku atas apa yang tidak dilakukan.


Wardhana yang mendapat laporan dari Arung mengenai masalah ini segera bertindak, dia mengumpulkan semua pejabat yang diduga terlibat di aula utama.


Wardhana juga secara mengejutkan mengundang Pangeran Pancaka dan Mandaka untuk hadir dalam pemeriksaan itu.


Hal ini tentu membuat semua orang terkejut, bagaimana mungkin Wardhana juga memeriksa Pancaka dalam situasi saat ini karena jika tersinggung, Pancaka bisa berbalik mendukung Adiwilaga.


Pemeriksaan oleh pejabat kerajaan adalah penghinaan terbesar bagi para pangeran yang merupakan keturunan langsung raja, namun Wardhana bergeming, dia tetap meminta semua yang dipanggilnya hadir atau akan langsung di dakwa terlibat.


"Apa yang sebenarnya direncanakan olehnya, bukankah aku sudah membantu semua rencananya," umpat Pancaka kesal saat berjalan menuju aula utama bersama Mandaka dan puluhan prajurit yang menjaganya.


"Pangeran sebaiknya anda tidak memenuhi panggilan itu, apa yang dilakukan oleh tuan patih adalah sebuah penghinaan bagi anda, bukankah seorang pangeran memiliki keistimewaan, hamba yakin mereka tak akan berani memanggil paksa anda," ucap Mandaka yang berjalan di sampingnya.


"Apa kau pikir aku punya pilihan lain? kau sudah lihat sendiri bukan bagaimana paman Wardhana mampu meruntuhkan kekuasaan yang dibangun Adiwilaga dengan mudah. Kau pikir dia tidak akan melakukan hal yang sama padaku? aku yakin dia akan melakukan itu juga padaku jika tidak mendukungnya.


Satu yang kupelajari dari masalah ini, Wardhana bisa berubah menjadi Iblis kejam yang bisa membunuh siapa saja tanpa pikir panjang ketika perintah itu datang dari kakang Sabrang, kesetiaannya benar benar mengagumkan."


Mandaka terdiam mendengar ucapan tuannya itu, dia juga merasakan bagaimana kejamnya Wardhana menekan para pejabat itu dengan menyiksa mereka di dalam penjara utama. Beberapa pejabat bahkan lebih memilih bunuh diri karena tidak kuat dengan semua tekanan yang diciptakan Wardhana.


Ketika langkah kaki Pancaka mulai memasuki gerbang aula utama, dia melihat Wardhana menyambutnya sambil tersenyum lembut.


"Senyum palsu itu benar benar membuatku muak," umpat Pancaka dalam hati.


"Selamat datang pangeran, maaf hamba tidak bisa menjemput anda," sapa Wardhana sopan.


"Tidak perlu berbasa-basi, kuharap paman tau apa yang sedang paman lakukan ini," jawab Pancaka ketus sambil memasuki ruangan. Puluhan pejabat tampak sudah hadir termasuk Adiwilaga dan Pandita.


"Mohon jangan marah pada hamba pangeran, hamba hanya ingin nyonya selir tidak lagi menanggung dosa pemberontakan yang mungkin tidak dilakukan dan mohon dibaca gulungan hamba ini," jawab Wardhana sambil menyerahkan sebuah gulungan pada Pancaka.


"Mungkin?" Pancaka hampir terbawa emosi saat mendengar Wardhana menyebut kata mungkin, dia merasa itu sebuah ancaman jika tidak mau bekerja sama.


Pancaka memutuskan terus melangkah masuk dan tidak menghiraukan ucapan Wardhana, dia sadar patih Malwageni itu sedang berusaha memancing emosinya.


Setelah membisikkan sesuatu pada Arung, Wardhana duduk di kursinya dan memulai pemeriksaan.


"Maaf tuan patih, apa anda tidak keterlaluan, seorang pangeran memiliki Hak istimewa karena beliau adalah anak raja. Memeriksanya bersama kami adalah sebuah penghinaan bagi simbol kebesaran Malwageni. Aku mohon untuk tidak melibatkan pangeran," Adiwilaga mencoba mencuri simpati Pancaka.


"Memeriksa pangeran? aku mengundang beliau untuk ikut memeriksa kalian sebagai kepala pejabat pemeriksa karena kasus percobaan pemberontakan ini juga pasti menyangkut pendanaan dan aku yakin ada uang kerajaan didalamnya," jawab Wardhana tenang.


"Kau!" Adiwilaga hampir berteriak karena kesal namun dia sadar itu akan semakin menyulitkannya.


"Sial kau Wardhana, kau gunakan kasus pendanaan sebagai tameng untuk menyamarkan pemeriksaan Pangeran. Kau benar benar sudah gila berani mengancam Pangeran," ucap Adiwilaga dalam hati kesal.

__ADS_1


"Pangeran," bisik Mandaka yang dibalas tanda agar dia tetap diam.


"Aku sangat tersanjung paman sudi mengundangku kemari sehingga pekerjaanku bersama ratu Tungga Dewi sangat terbantu tapi apa tidak sebaiknya pemeriksaan dilakukan secara terpisah?" ucap Pancaka pelan.


"Hamba mohon maaf pangeran tapi pemberontakan tidak pernah lepas dari pendanaan yang dilakukan dalang utama jadi menurut hamba semua harus di satukan. Selain itu setelah hamba membaca laporan Arung, semua seolah menyudutkan nyonya selir, hamba hanya ingin mendengar keterangan jelasnya," pancing Wardhana.


Wajah Pancaka berubah seketika, dia menatap tajam para menteri dihadapannya kesal.


"Mohon maaf tuan patih, anda seolah berusaha membuat permusuhan antara kami dan pangeran, mohon hentikan pemeriksaan penuh kepalsuan ini karena seingat kami tak ada yang menyalahkan nyonya selir. Itu hanya tipu muslihat Arung," sambar Adiwilaga yang disambut riuh menteri lainnya.


"Tipu muslihat Arung?" Wardhana membuka catatan yang di berikan Arung dan membacanya.


"Tuan Pandita menyangkal terlibat pemberontakan karena dia hanya diperintah oleh Adiwilaga. Hampir semua pejabat menyangkal terlibat sedangkan tuan Adiwilaga bertahan jika dia tidak terlibat dan hanya diminta menyiapkan pasukan untuk keperluan menjaga perbatasan, dia tidak mengetahui jika akan digunakan untuk memberontak.


Dalam pemeriksaan lanjutan hampir semua prajurit itu mengakui jika diminta nyonya selir untuk mengepung keraton diam diam," Wardhana terus membacakan laporan pemeriksaan yang dilakukan Arung sampai selesai.


"Apa ini pengakuan kalian dihadapan Arung?" tanya Wardhana dingin.


"Benar tuan patih tapi..." belum selesai Adiwilaga bicara Wardhana memotong ucapannya.


"Berarti laporan yang dibuat Arung benar, ini semua adalah pengakuan kalian sendiri tanpa di paksa oleh tim pemeriksa. Ketika semua pejabat menyangkal terlibat langsung dan hanya menjalankan perintah atasannya, aku memutuskan mencari siapa yang berada di puncak pimpinan dan nama anda muncul di pikiranku.


Tapi, anda juga membantah dengan mengatakan dijebak tentang pengerahan pasukan saat itu. Jika hamba boleh membaca arah catatan ini, semua berusaha melemparkan kesalahan pada nyonya selir yang tidak lain adalah ibu anda pangeran karena saat itu Adiwilaga adalah orang kepercayaan beliau," ucap Wardhana.


Suara riuh para menteri menjadi hening saat Wardhana selesai bicara, tidak ada yang menyangka keterangan mereka digunakan Wardhana untuk mengadu domba dengan Pancaka.


"Catatan yang anda pegang itu adalah catatan pemeriksaan nyonya selir yang di pimpin oleh tuan Adiwilaga, hampir sama dengan laporan yang diberikan arung, mereka mengatakan jika semua prajurit itu mengakui jika diminta nyonya selir untuk mengepung keraton diam diam.


Suasana menjadi riuh kembali, mereka tidak menyangka Warta masih hidup karena setelah pemberontakan itu dia hilang bagai ditelan bumi.


Adiwilaga yang terlihat paling pucat, seingatnya saat itu dia sudah memerintahkan anak buahnya untuk menjebak dan membunuh Warta.


"Bagaimana dia masih hidup?" ucap Adiwilaga dalam hati.


"Apakah itu benar paman? jadi tuan Warta masih hidup?" tanya Pancaka dingin, dia benar benar tidak menyangka ibunya dijadikan kambing hitam atas kerakusan mereka untuk berkuasa.


"Hamba pastikan itu, saat ini dia aman bersama Yang mulia, kita hanya perlu menunggu Sora menjemput dan mengungkap semuanya," jawab Wardhana.


"Baik, jika dia masih hidup dan bisa membuktikan ibu tidak bersalah maka aku sendiri yang akan memohon pada ibu ratu untuk menghukum mati semua yang terlibat dalam kejahatan ini," Wajah Pancaka mengeras menandakan dia sedang menahan amarah.


"Menghukum mati semua yang terlibat?" semua menteri terlihat panik, terlebih Arung membawa pasukan dalam jumlah besar untuk mengepung aula utama seolah tidak akan membiarkan siapapun mencoba melarikan diri.


"Mohon ampun pangeran, hamba benar benar tidak terlibat dan hanya diperintah oleh orang kepercayaan tuan Adiwilaga. Hamba mempunya bukti dan saksi kejadian saat itu, mohon anda berbelas kasih," suara bergetar Pandita mengejutkan semuanya.


Situasi menjadi ramai, mereka seolah saling menyalahkan dan secara tidak sadar saling membuka aib masing masing. Bayangan kematian yang berada di depan mata memuat mereka semua panik.


"Panggil ulang semuanya dan catat keterangan mereka, pastikan jangan ada yang terlewat. Saat ini dinding kokoh yang dibangun Adiwilaga telah hancur sepenuhnya, aku ingin semua laporan ini besok pagi sudah ada di mejaku," ucap Wardhana pada Arung.


"Baik tuan," ucap Arung takjub, dia benar benar kagum pada semua rencana Wardhana yang mampu menghancurkan dinding kokoh Adiwilaga dengan mudah.

__ADS_1


Arung kembali teringat percakapannya dengan Wardhana kemarin saat dia melaporkan perlawanan Adiwilaga.


"Saat ini hanya pangeran Pancaka dan Warta yang dapat meruntuhkan semua pertahanan mereka," ucap Wardhana sambil berfikir.


"Warta? bukankah anda mengatakan dia ditemukan tewas setelah pemberontakan itu?" tanya Arung bingung.


"Dia memang sudah tewas namun saat itu hanya orang kepercayaan Yang Mulia Arya Dwipa yang mengetahui masalah tewasnya Warta. Aku hanya ingin menggunakan namanya untuk menekan mental mereka, kemunculan Warta yang mengetahui semua kejadian itu akan membuat mereka panik dan aku yakin pada akhirnya mereka akan saling menyerang," jawab Wardhana.


"Tapi bagaimana dengan pangeran? memaksa dia datang ke aula akan menjatuhkan harga dirinya dan jika tersinggung, dia bisa berbalik mendukung Adiwilaga."


"Arung, satu hal penting yang harus kau pelajari saat berperang adalah sifat dan kebiasaan lawan karena itu adalah titik paling lemah mereka. Pangeran bukan orang yang berani mengambil resiko, aku sudah melihatnya sendiri saat dia memutuskan berbalik mendukungku.


Situasi saat ini pasti juga dibacanya dan kita dalam posisi di atas, aku yakin pangeran tidak akan pernah mau berseberangan denganku," ucap Wardhana sambil tersenyum.


"Aku benar benar kagum pada anda tuan, membaca kekuatan dan kelemahan lawan dari sifat dan kebiasaannya bukan pekerjaan mudah dan membutuhkan pemikiran yang tajam, andai anda memiliki bakat ilmu kanuragan sebesar Yang mulia mungkin saat ini nama Wardhana sudah berkibar di seluruh Nuswantoro," ucap Arung dalam hati sambil melihat Adiwilaga yang sudah pasrah. Dia duduk sambil menatap langit aula utama seolah berkata sudah waktunya meninggalkan dunia ini.


***


Sudah hampir seminggu Sabrang berlatih ilmu pedang Sabdo Palon dibawah bimbingan Wahyu Tama. Dia berlatih keras siang dan malam bisa kembali secepatnya ke keraton.


Namun ada yang berbeda kali ini, Sabrang tampak lambat dalam mempelajari jurus pedang itu, gerakannya yang sangat rumit dan memerlukan tenaga dalam yang tidak sedikit membuatnya harus berhati hati karena jika salah bergerak, tenaga dalam itu akan melukai dirinya sendiri.


Satu yang Sabrang akhirnya pahami, jurus pedang Sabdo Palon seperti sebuah jurus terlarang. Gerakannya memang mematikan dan sulit di hindari lawan bahkan oleh Wahyu Tama sekalipun namun sedikit saja salah bergerak energi Naga api yang mengalir mengikuti gerakannya bisa melukai tubuhnya sendiri.


"Jurus ini benar benar menakutkan," Sabrang mengakhiri latihan malam itu dengan bermeditasi untuk menyembuhkan beberapa luka dalam akibat salah gerakan.


"Untuk jurus serumit ini kau sangat mengagumkan sudah berada pada tingkat tiga dari sembilan belas tingkatan jurus," Wahyu Tama duduk disebelah Sabrang sambil membuka kitab Sabdo Palon.


"Tapi sepertinya kita harus menghentikan sementara latihanmu, ada beberapa hal yang masih belum aku pahami tentang jurus tingkat empat ini. (Mengayunkan pedang bersamaan dengan jiwamu yang semakin kuat, tak ada pedang yang tajamnya melebihi kekuatan hati, menghancurkan musuh dengan kelembutan karena kekerasan akan merusak makna pedang).


Kita tidak akan bisa melangkah ke tingkat Empat jika tidak bisa memecahkan arti tulisan ini," ucap Wahyu Tama pelan sambil menyerahkan kitab itu pada Sabrang.


"Mengayunkan pedang bersamaan dengan jiwamu?" Sabrang mengernyitkan dahinya bingung.


"Apa tidak ada cara lain kek untuk mempelajarinya?" tanya Sabrang penasaran.


"Aku tidak yakin tapi ada satu orang yang sebenarnya mungkin bisa memecahkan masalah ini," jawab Wahyu Tama ragu.


"Siapa dia kek?" tanya Sabrang cepat.


"Aku pernah mendengar seorang pertapa aneh yang hidup di sebuah gunung, kabarnya dialah yang menciptakan beberapa jurus pedang aneh bagi para pendekar di dunia persilatan daratan Swarna Dwipa.


Anehnya, dia tidak menguasai satupun ilmu kanuragan atau jurus pedang ciptaannya sendiri namun pemahamannya tentang makna pedang jauh di atas semua orang," jawab Wahyu Tama.


"Daratan Swarna Dwipa?"


"Mereka menyebutnya Pertapa aneh dari Gunung Sinabung."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Bonus chapter akan meluncur malam ini ya.. jangan lupa Vote


__ADS_2