
"Tuan muda ada yang ingin bertemu dengan anda" Mentari muncul dari balik pintu.
Sabrang perlahan membuka matanya dan menyudahi meditasinya.
"Hamba menghadap Pangeran" Seorang pria tegap berlutut dihadapannya. Sabrang menatap pria tersebut berusaha mengingat apakah pernah bertemu dengannya.
"Bangunlah paman, kemarilah" Sabrang mengarahkan untuk duduk di sampingnya.
"Ada apa paman? apakah paman Wijaya mengutusmu?".
Pria tersebut menggeleng pelan "Hamba Kurawa, salah satu pengikut tuan Wardhana. Maaf jika hamba lancang ada sesuatu yang ingin hamba sampaikan".
Sabrang mengernyitkan dahinya "Katakan paman".
"Maaf Pangeran beberapa hari ini kami kehilangan kontak dengan tuan Wardhana, hamba sudah kirim orang untuk menyampaikan berita ini pada tuan Patih namun belum ada kabar".
"Paman Wardhana menghilang?".
"Kami belum dapat memastikannya Pangeran namun sampai hari ini kami belum berhasil melacak keberadaan tuan wardhana". Kurawa menundukan kepalanya tak berani menatap Sabrang.
"Kapan terakhir kali kalian bertemu dengannya". Sabrang bertanya pelan.
"Tiga hari yang lalu Pangeran, harusnya tadi malam kami ada pertemuan rutin namun tuan Wardhana tidak hadir".
"Apa tidak ada petunjuk sama sekali yang bisa digunakan untuk melacak paman Wardhana?" Sabrang menarik nafas panjang.
Ini akan menjadi masalah besar bagi kelompoknya jika Wardhana tidak ditemukan. Wardhana adalah ahli siasat terbaik di Malwageni, akan sangat memukul psikologis pasukannya jika kehilangan ahli siasat terbaik seperti Wardhana.
"Hamba belum mendapat petunjuk apa apa Pangeran namun salah satu pedagang kenalan tuan Wardhana mengatakan pernah melihatnya menuju ke arah Kadipaten Ligung".
"Apa paman sudah mencarinya di sana?".
"Kami belum bisa masuk kesana Pangeran, Penjagaan di gerbang kadipaten diperketat karena akan ada perayaan hari jadi kadipaten Ligung dan rencana kedatangan pembesar Saung galah dijadikan alasan penutupan gerbang kadipaten".
"Bukankah itu sedikit mencurigakan paman?" Sabrang bertanya pelan.
"Menurut hamba pun demikian Pangeran namun hamba belum dapat berbuat apa apa. Hamba memberanikan diri bertemu Pangeran ingin meminta petunjuk tentang langkah selanjutnya".
Sabrang memejamkan matanya sambil mengangguk, dia memandang Kurawa sesaat.
"Aku akan mencoba meminta bantuan pada Paman Gardika untuk membawa kita masuk ke Kadipaten Ligung. Jika memang benar akan ada pembesar Saung galah yang hadir dalam perayaan itu aku yakin Kadipaten Wanajaya akan mengirim perwakilannya. Aku ingin paman mengirim orang ke Wanajaya, sampaikan pada mereka aku membutuhkan bantuan untuk masuk ke Ligung".
"Hamba menerima perintah" Kurawa menundukan kepalanya.
***
__ADS_1
Lembu Sora terlihat mulai memasuki Kadipaten Wanajaya. dia bersama tiga orang lainnya memasuki penginapan yang berada tak jauh dari kediaman Adipati Gardika.
"Tajamkan telinga kalian mulai dari sini, aku harap kita mendapat informasi tentang tuan Wardhana" Lembu sora memesan dua kamar untuk mereka.
"Maaf tuan, jika benar tuan Wardhana hilang disini apakah Saung Galah terlibat?".
"Aku belum tau tentang itu namun semua kemungkinan harus kita pertimbangkan. Sementara tuan Patih tidak ada aku yang akan mengambil komando".
"Baik tuan".
"Susah sekali kali ini masuk Ligung, aku sudah mencoba memberi mereka uang namun mereka tidak bergeming dan tetap mengusirku" Salah satu pendekar bersingut kesal pada temannya. Mereka duduk tak jauh dari Lembu sora.
"Kudengar tahun ini mereka akan mengadakan perayaan besa besaran bahkan beberapa pembesar Saung galah akan hadir. Mungkin itu yang membuat mereka memperketat penjagaan". Salah satu temannya coba memberi pengertian.
"Tuan ku dengar hilangnya tuan Wardhana saat menuju ke Kadipaten Ligung bukan? apakah ada kaitannya dengan ini?".
Lembu sora mengangguk pelan "Semua kemungkinan akan kita telusuri namun sampai tuan Wijaya tiba kita jangan melakukan hal yang mencurigakan jika tidak terpaksa".
Tak lama masuk beberapa Pendekar berpakaian serba hitam menggunakan caping, mereka duduk dan memesan beberapa makanan. Lembu sora mengenali salah satu orang sebagai pendekar dari Iblis hitam. Dia mengernyitkan dahinya
"Ada apa sampai Iblis hitam datang kemari" Lembu sora berkata dalam hati.
"Ada yang salah kisanak?" Pendekar yang dikenali Lembu sora berbicara menyadari tatapan mata Lembu sora padanya.
"Ah tidak tuan, aku merasa mengenali anda namun sepertinya aku salah" Lembu sora tersenyum lembut.
Lembu sora mengangguk pelan sambil menempelkan telunjuk dimulutnya.
"Nanti kita bicarakan". Lembu sora sesekali mencuri pandang pada rombongan pendekar berbaju hitam itu.
"Apakah ini ada hubungannya dengan hilangnya tuan Wardhana? Seperinya masalah kali ini tidak sesederhana yang ku pikirkan, aku harus segera menemukan cara masuk ke Kadipaten Ligung".
***
Wardhana menatap kosong makanan yang ada dihadapannya, rasa sakit ditubuhnya membuatnya tidak nafsu makan.
Pikirannya melayang entah kemana, dia menarik nafas panjang sesaat.
"Ku harap mereka cepat menemukanku".
Lamunan Wardhana buyar ketika langkah kaki terdengar mendekat. dia memejamkan matanya seolah sedang tertidur.
"Bangun kau!!!" Singgih berteriak sambil menendang tubuh Wardhana.
Wardhana membuka matanya sambil menatap tajam Singgih.
__ADS_1
"Kau tidak bisa membangunkan orang selain dengan cara kasar?".
"Siksaan ini belum seberapa jika kau masih belum mau bekerja sama dengan kami".
Singgih mengambil kursi dan duduk dihadapan Wardhana.
"Apa yang sebenarnya kau cari? Kau akan diberikan kekayaan yang bahkan belum pernah terbayang olehmu jika mau bekerja untuk Majasari. Mereka benar benar tertarik dengan mu. Apakah kau pikir Malwageni akan bisa kau rebut kembali dengan kekuatan yang kalian miliki saat ini?".
Wardhana tersenyum sinis "Aku bukan orang rakus sepertimu".
Singgih tertawa keras mengejek "Lalu apa yang kau cari? kau akan mati sebagai seorang yang tidak dikenal sebesar apapun jasamu pada Malwageni".
"Manusia rakus seperti mu tak akan pernah paham apa arti kesetiaan pada tanah leluhurmu!".
"Lalu dimana leluhurmu saat ini? apa mereka tidak tau kau mempertaruhkan nyawamu untuk mereka?" Singgih tertawa mengejek.
"Tertawalah sepuasnya karena sebentar lagi tawamu akan berubah menjadi tangisan. Aku sungguh kasian melihatmu".
Raut wajah Singgih berubah mendengar perkataan Wardhana.
"Apa maksudmu?" Singgih menatap tajam Wardhana.
"Apakah kau pikir kami mengusir Pasukan tangan besi dari Kadipaten Wardhana hanya dengan kekuatan yang kami miliki? Kau salah besar. Yang mulia Raja mengirimkan pasukannya membantu kami" Wardhana tersenyum sinis.
Singgih tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. dia merasa Wardhana menyembunyikan sesuatu.
"Kau pikir Saung galah akan diam saja mendengar aku menghilang? Satu yang kalian tidak perhitungkan Saung galah telah setuju untuk bekerja sama dengan kami. Aku tidak bisa membayangkan jika Keraton Saung galah mengetahui kau menahanku sekaligus menyembunyikan pasukan Majasari di kadipatenmu. Mungkin kepala seluruh keluargamu belum cukup untuk meredakan amarah Yang mulia".
Suara Wardhana meninggi seolah mengancam Singgih.
Singgih mematung sesaat, dia tidak bisa membayangkan jika benar Saung galah telah bekerja sama dengan Malwageni.
"Kau mengancamku?" Singgih benar benar menahan amarahnya namun kali ini amarah itu bercampur rasa takut.
"Terakhir kali aku mengancam menghancurkan pasukan tangan besi dan itu kulakukan di Wanajaya".
"Buaggg" Sebuah pukulan Singgih membuat Wardhana tak sadarkan diri.
**○Terlalu banyak yang minta Crazy up namun tidak membantu vote Novel ini. Tidak ada yang membuat saya lebih bersemangat menulis selain dukungan kalian sehingga Pedang Naga Api dapat lebih baik dalam daftar Rangking Mangatoon.
Sekali lagi saya mengharapkan dukungan teman teman semua baik dalam bentuk like maupun Vote 🙏
Kunjungi juga novel ke dua Saya berjudul
"Tentang kita (Komedi Romantis)"
__ADS_1
Terima kasih dan semoga sukses selalu untuk kita semua○**