Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Ksatria Pisau Tumbuk Lada


__ADS_3

Kota Mahat adalah kota terbesar di ujung Swarna Dwipa yang juga merupakan ibukota dari Arkantara.


Sebagai ibukota kerajaan, wajar jika kota itu menjadi yang terpadat dari kota lainnya di Arkantara. Puluhan pendekar dan pedagang yang berhasil melewati penjagaan berlapis tampak berlalu lalang di kota itu.


Sabrang yang berjalan diantara puluhan orang yang berlalu lalang di kota itu beberapa kali menggeleng pelan saat melihat para prajurit berjaga di sudut sudut kota baik yang mengenakan pakaian kerajaan maupun yang berusaha membaur dengan lainnya mengenakan pakaian biasa memperhatikan setiap orang lewat.


"Bukankah ini terlalu berlebihan? mereka benar benar mengawasi rakyatnya dengan sangat ketat," ucapnya dalam hati.


Pagi itu Sabrang memang ingin memeriksa keadaan kota Mahat terlebih dahulu sebelum menyusun rencana. Dia juga meminta Emmy untuk tinggal di penginapan dan mencari informasi dari obrolan para pengunjung tentang Arkantara.


Setelah puas berkeliling, Sabrang memutuskan mampir ke sebuah penginapan kecil yang cukup ramai, dia ingin beristirahat sejenak sambil mencari informasi yang bisa dia dapatkan di penginapan itu.


Setalah berkeliling kota Mahat, Sabrang sedikit mengerti situasi yang terjadi di ibukota itu. Saragi sengaja menempatkan puluhan prajurit di setiap sudut kota untuk menekan rakyatnya, dia sengaja menciptakan ketakutan agar tak ada yang berani menentangnya.


"Selamat datang tuan, anda ingin memesan kamar atau hanya sekedar singgah untuk makan?" sapa seorang wanita cantik ramah.


"Berikan saja aku makanan hangat nona," jawab Sabrang pelan.


"Baik tuan, mari aku antar ke meja anda," wanita itu menunjuk salah satu meja kosong yang berada di sudut ruangan.


Sabrang mengangguk pelan, dia mengikuti langkah gadis itu sambil memperhatikan sekitarnya.


"Arina," teriak seseorang dari dalam ruangan makanan.


"Iya ibu, sebentar," balas pelayang yang tadi menyambut Sabrang.


"Maaf tuan, silahkan tunggu sebentar, aku akan segera membawakan pesanan anda," pelayan itu bergegas pergi.


"Kota ini di jaga dengan sangat ketat, cukup sulit untuk menyusup tanpa menimbulkan keributan," ucap Sabrang dalam hati, dia menumpahkan minuman kedalam gelasnya dan meneguk dengan cepat.


Satu yang membuat Sabrang bingung adalah walau penginapan itu ramai pengunjung, tapi tak ada satupun yang terlihat saling berbicara, mereka seolah takut oleh sesuatu.


Tak lama, seorang pelayan wanita lainnya datang membawakan pesanan Sabrang, dia menaruh makanan itu di meja hati hati.


"Silahkan tuan, pesanannya," ucap pelayan itu sopan.


"Terima kasih nona," jawab Sabrang cepat.


Sabrang terlihat makan dengan lahap, berkeliling kota pagi itu membuat perutnya lapar.


Setelah menghabiskan makanan, Sabrang memutuskan kembali ke penginapannya. Dia merasa tidak akan mendapatkan informasi apapun dengan situasi setenang itu.


Saat Sabrang sedang membayar makanannya, terdengar teriakan seorang gadis yang tadi menyambutnya.


"Ibu, tolong aku," teriak Arina sambil meronta saat dua orang pria berpakaian prajurit memeluk tubuhnya tiba tiba.


Seorang wanita tua tampak berlari dan memohon pada prajurit itu untuk tidak membawa anaknya.


"Tuan, tolong lepaskan anak hamba, anda boleh mengambil apa saja tapi jangan bawa anak hamba," wanita tua itu berlutut dihadapan dua orang prajurit Arkantara.


"Hei tua bangka! apa kau mau melawan perintah Yang mulia?" salah seorang prajurit menendang wanita itu sampai tersungkur.


Melihat kekejaman mereka, Sabrang mengepalkan tangan dan memunculkan pisau es di tangan kanannya.


"Sebaiknya kau tidak ikut campur nak, jika kau sekarang membuat keributan di ibukota maka semua rencana yang kau buat akan hancur," Anom coba memperingatkan Sabrang.


Sabrang terus menatap tajam para prajurit itu sebelum menarik kembali pisau es kedalam tubuhnya.


"Mereka benar benar pengecut," umpat Sabrang saat melihat pengunjung lainnya hanya diam dan seolah tidak terjadi apa apa saat mendengar teriakan lirih Arina.


Gadis cantik itu terus meronta saat dua prajurit itu menyeretnya keluar dengan paksa, dia bahkan meminta bantuan Sabrang saat berpapasan di dekat pintu keluar.


"Tuan," ucap Arina lirih, dia terus berusaha melepaskan diri tapi tenaganya kalah oleh para prajurit itu.


Sabrang memejamkan matanya sambil mengepalkan tangannya geram, dia bisa saja membunuh dua orang itu dalam sekejap namun apa yang dikatakan Anom benar. Jika dia terlibat pertarungan di pusat kota maka para prajurit lainnya akan langsung mengejarnya dan tidak menutup kemungkinan pangeran Maruli akan ikut terseret.


"Maaf tuan, uangnya," kasir itu menelan ludahnya saat melihat koin perak yang ada di genggaman Sabrang hancur menjadi debu.

__ADS_1


"Ah maaf," Sabrang mengambil kembali koin perak dari sakunya dan memberikan pada pelayan itu.


"Apa kalian semua hanya bisa diam saat melihat gadis itu dibawa paksa? bagaimana jika suatu saat kau yang berada di posisi gadis itu?" tanya Sabrang dingin.


Tubuh gadis itu bergetar hebat dan wajahnya menjadi pucat setelah mendengar pertanyaan Sabrang.


"Apa yang bisa kami lakukan? satu kesalahan yang aku lakukan, mereka akan menghukum semua keluargaku tanpa sisa. Kami bukan terbiasa dengan semua ini tapi mencoba terbiasa, bahkan penduduk asli Mahat tak akan diizinkan meninggalkan ibukota," jawab gadis itu lirih, raut wajah takut tergambar jelas di wajahnya.


Sabrang menarik nafasnya panjang, melihat raut wajah pelayan itu dia mengerti mengapa selama ini tidak ada yang berusaha melawan. Wanita setengah baya yang tadi dipanggil ibu oleh Arina bahkan hanya mematung pasrah, dia memang tidak bicara apapun tapi air mata yang terus mengalir di pipinya menunjukkan kemarahan yang sangat besar.


"Apa kau tau kemana mereka membawa gadis itu?" tanya Sabrang pelan.


"Mereka biasa membawa para gadis ke hutan dekat perbatasan, menyetubuhi dan membunuhnya di sana," pelayan itu menyeka air mata yang mulai keluar dari tubuhnya, dia sadar cepat atau lambat akan berada di posisi Arina.


"Hutan ya?" Sabrang berfikir sejenak sebelum melangkah pergi.


"Apa kau akan membantu gadis itu?" tanya Naga Api dalam pikiran Sabrang.


"Jika aku hanya diam saat melihat orang membutuhkan bantuan, lalu untuk apa aku mempelajari ilmu pedang? jika aku membunuh mereka di hutan itu, sepertinya tal ada akan tau," Sabrang bergerak cepat kearah hutan yang dikatakan pelayan tadi.


***


Arina terus meronta dan berusaha melepaskan diri, mulut kecilnya terus memohon pada dua orang yang membawanya ketengah hutan.


"Tuan, kumohon lepaskan aku," teriaknya berkali kali tapi para prajurit itu tak bergeming, dia melempar tubuh Arina ke dalam semak dan berusaha melucuti pakaiannya.


"Tenanglah nona, aku akan melepaskan mu setelah ini," salah satu prajurit menarik pakaian gadis itu sampai sobek, sedangkan temannya hanya tertawa sambil menghunuskan pedang kearah Arina.


"Ah disini kalian rupanya," Sabrang tiba tiba muncul dibelakang mereka, dia menyentuh punggung dua prajurit itu bersamaan sebelum melepaskan jurus tapak es utara.


"Sejak kapan?" dua prajurit itu berusaha memutar tubuhnya dan menyerang namun terlambat, tubuh mereka sudah membeku seketika.


"Tuan?" Arina mengenali wajah Sabrang.


"Apa kau bisa memakai kembali pakaianmu?" Sabrang menoleh kearah lain.


"Kau telah melakukan kesalahan tuan, melawan prajurit Arkantara hukumannya adalah mati," ancam salah satu prajurit kesal.


"Bagaimana jika tak ada yang mengetahui kematian kalian?" balas Sabrang mengejek.


"Kau?" wajah para prajurit itu mulai pucat, dia mulai merasakan hawa dingin terus mendesak masuk ke tubuhnya.


"Sudah cukup lama nafsu membunuhku menghilang tapi kalian mencoba membangkitkan lagi? Aku memiliki banyak musuh yang sangat kubenci tapi apa yang kalian lakukan lebih hina dari mereka," Sabrang mengalirkan tenaga dalam ke kedua tangannya sebelum menghancurkan bongkahan es itu berkeping keping.


Kedua pendekar itu tersentak kaget saat energi besar masuk kedalam tubuh mereka, rasa sakit yang sangat luar biasa mereka rasakan seiring dengan darah yang mengalir dari mulut, hidung, mata dan telinga mereka.


Pandangan mereka mulai menghilang sebelum roboh ketanah dengan mata terbuka.


Arina yang melihat kedua prajurit itu terbunuh dengan cara yang mengerikan hanya bisa menelan ludahnya, dia tidak bicara sepatah katapun sebelum Sabrang bicara.


"Kau baik baik saja?" tanya Sabrang pelan.


Arina hanya mengangguk, dia terlihat sedikit menjauh saat Sabrang mendekatinya.


"Tak perlu takut, aku hanya ingin memastikan kau baik baik saja," ucap Sabrang lembut.


"Anda sebaiknya pergi tuan, membunuh prajurit Arkantara sama saja menentang Yang mulia Saragi," ucap Arina pelan.


"Selain kau dan aku, apa ada yang tau mereka terbunuh? tak perlu khawatir aku bisa menjaga diriku, sebaiknya kau pergi jauh dan jangan muncul dulu di penginapan," ucap Sabrang sebelum melangkah pergi.


"Maaf tuan, apa yang sedang anda lakukan di sini? bukan aku mau ikut campur tapi anda sepertinya bukan berasal dari Arkantara, jika ada yang bisa kubantu, katakan saja," ucap Arina tiba tiba.


Sabrang menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Arina. "Apa kau tau di mana letak Gunung Sinabung?"


"Gunung Sinabung?" wajah Arina berubah seketika.


"Aku berniat pergi ke gunung itu namun sepertinya semua orang yang kutemui menolak membantuku," jawab Sabrang.

__ADS_1


"Tak akan ada berani mengantarkan anda ke sana tuan, gunung itu terkenal menakutkan. Tak ada yang benar benar bisa mencapai puncak gunung karena menurut kabar yang kudengar ada kekuatan aneh yang melindungi tempat itu. Banyak para pendekar yang tewas ditempat itu oleh kabut beracun, sebaiknya anda mengurungkan niat pergi ke sana," jawab Arina takut.


"Aku menghargai peringatan yang kau berikan tapi aku benar benar harus ke gunung itu, jika kau ingin membantuku cukup tunjukkan di mana letaknya," jawab Sabrang sambil tersenyum.


"Aku bisa saja mengantarkan anda ke tempat itu tapi bukan hanya kabut beracun yang melindungi tempat itu. Konon selain kabut beracun dan aura aneh ada sepuluh orang pendekar yang bergelar Ksatria pisau Tumbuk Lada yang ikut menjaga gunung Sinabung.


Kabar yang kudengar, bahkan Yang mulia Saragi dan Pasukan kuil suci akan berfikir seribu kali untuk naik ke gunung itu karena menurut cerita ilmu kanuragan para ksatria pisau Tumbuk Lada sangat tinggi dan mereka menguasai medan tempur di gunung itu," jawab Arina.


"Ksatria pisau Tumbuk Lada? jika mereka memang penjaga gunung itu maka tidak akan menjadi suatu masalah jika aku datang dengan damai bukan? aku hanya ingin menemui seseorang, hanya itu," balas Sabrang pelan.


"Jangan jangan anda ingin menemui pertapa aneh itu?" tanya Arina penasaran.


"Kau mengenalnya?" tanya Sabrang cepat.


"Semua masyarakat di sini pasti pernah mendengar pertapa itu tapi tak ada yang benar benar yakin apa dia benar benar ada atau hanya cerita karena tak ada yang pernah melihatnya secara langsung."


"Tak ada yang pernah melihatnya? menarik... apa kau bisa tunjukkan di mana gunung itu?"


***


"Boleh aku duduk di sini nona?" seorang pria tua berdiri dihadapan Emmy yang sedang menyantap makanan disalah satu meja penginapan itu.


Emmy menatap pria itu sebelum mengangguk pelan, dia cukup tertarik dengan pria itu karena banyak sekali kursi kosong tapi dia memilih duduk bersamanya.


"Apakah teman anda sedang pergi?" tanya pria itu sopan.


"Teman? dia suamiku," jawab Emmy singkat.


Mendapat jawaban singkat, pria tua itu tersenyum kecil.


"Namaku Lamhot, kau boleh memanggilku kakek," pria itu memperkenalkan diri.


"Emmy," jawab Emmy singkat sambil terus melanjutkan makannya.


"Kamarku tak jauh dari kamar kalian, aku sangat tertarik dengan suamimu itu," jawab Lamhot pelan.


"Tertarik? apa yang membuat anda begitu tertarik dengan pedagang biasa seperti kami," Emmy mulai tertarik pada pria dihadapannya itu.


"Kalian mungkin bisa menyembunyikan dari semua orang tapi tidak denganku. Apa yang membuat Iblis api tertarik dengan tempat kecil ini?"


Emmy langsung menghentikan makannya saat mendengar pertanyaan Lamhot, dia menatap tajam pria itu.


"Tak usah khawatir, aku adalah orang baik yang kebetulan singgah ditempat ini, kalaupun aku mengincar kalian, sangat mustahil bagiku mengalahkan Iblis Api," Lamhot mencoba menenangkan Emmy yang mulai gelisah.


"Anda terlalu merendah kek, dapat merasakan kekuatan Naga Api menandakan anda bukan pendekar biasa. Aku tidak tau siapa anda sebenarnya tapi kami tidak memiliki niat jahat sama sekali di tempat ini," jawab Emmy.


"Aku tau, walaupun pemuda itu memiliki sisi gelap yang sangat kuat tapi tak terlihat sama sekali hawa membunuh dari tubuhnya. Jika aku boleh bertanya, apa kalian juga mengincar pasukan kuil suci?"


"Mengincar juga? jadi anda?" Emmy mulai penasaran dengan sosok dihadapannya.


"Sepertinya tujuan kita sama nona, sebaiknya kita bekerja sama dan kurasa akan saling menguntungkan. Aku mengenal tempat ini dengan baik, dan suamimu memiliki kekuatan yang dapat menandingi pasukan kuil suci, bagaimana?"


"Aku tidak bisa memutuskannya, semua keputusan ada di tangan suamiku," jawab Emmy.


"Aku tau, jika pemuda itu tertarik kalian tau dimana mencariku dan mohon biarkan aku yang membayar semua makanan ini sebagai tanda perkenalan kita," Lamhot bangkit dari duduknya dan melangkah pergi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


PISAU TUMBUK LADA adalah pisau khas Suku Karo merupakan suku asli Indonesia dari Sumatera Utara (Sumut). Pisau Tumbuk lada ada beberapa motif ukirannya dan ada juga yang tidak berukir. Bahan pisau juga berbeda beda tergantung kepada keperluannya.


Kalau Anak Beru mindo besi mersik (piso Tumbuk Lada) kepada kalimbubu maka biasanya bahan besinya terdiri dari 5 negeri (Kerajaan), kemudian dilebur menjadi satu baru kemudian di tempa menjadi pisau.  Arti angka lima disini ialah gelah ertima tendi irumah (agar jiwa dan rohnya tetap berada di rumah).


Bahan–bahan pisau tumbuk lada ialah besi 5 negeri, tanduk kerbau, gading gajah, kayu lemak sawa, kayu petarum (untuk sarungnya), riman untuk rempu (pengikat sembung/sarung, boleh juga pengikatnya (lantap) yang terbuat dari emas, suasa dan perak.


Tumbuk Lada digunakan secara menikam, mengiris dan menusuk dalam pertempuran jarak dekat. Ia boleh dipegang dengan dua jenis genggaman yaitu dengan mata keatas ataupun mata ke bawah tetapi sekarang pada umumnya jadi perhiasan atau pusaka yang dipakai di acara adat, atau untuk keperluan pengobatan, maka diadakan upacara Ngelegi Besi Mersik kepada Kalibumbu.


Mohon koreksi jika salah, dan silahkan Vote jika benar hehehehe

__ADS_1


__ADS_2