Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Perang Besar III


__ADS_3

Sabrang yang sedang berjalan kearah pertarungan Gardika dan Pendekar Hibata tersentak kaget saat salah satu prajurit Saung Galah melesat cepat kearahnya dan melepaskan tapak Naga terbang yang menjadi jurus kebanggan pendekar Kuil suci.


"Dia bukan prajurit Saung Galah," merasa dinding es abadi tak akan mampu menahan serangan tenaga dalam itu, Sabrang memutuskan menangkis dengan tangan kanannya.


Ledakan akibat benturan tenaga dalam menggema di udara dan membuat lubang yang cukup besar di sekitar Sabrang. Prajurit itu tampak terkejut karena begitu mudahnya terlempar sedangkan Sabrang tidak bergeser satu jengkal pun.


Prajurit itu mendarat di tanah dan hampir tersungkur andai tidak menggunakan pedangnya sebagai tumpuan.


"Tidak mungkin, bagaimana dia bisa menangkis serangan tapak Naga terbang," ucap Pendekar itu dalam hati.


Wajahnya telah berubah sepenuhnya, tak ada lagi senyum percaya diri yang tadi diperlihatkannya. Seingatnya hanya beberapa orang yang mampu menangkis jurus itu dan Agam salah satunya.


"Kemampuan Hibata tidak bisa diukur dan begitu misterius, tak disangka mereka mendukung Malwageni," ucapnya kembali.


Gardika yang mendengar ledakan besar langsung melompat mundur dan keluar dari pertarungan. Dia langsung menoleh kearah Sabrang dan menemukan pendekar muda itu tidak terluka sedikitpun.


"Dia semakin kuat," ucapnya dalam hati.


"Apa pendekar Kuil suci dilatih untuk menyerang dengan cara tidak pantas?" Ejek Sabrang pelan.


"Kami hanya tau menang apapun caranya," pendekar itu tiba tiba menyerang, tapi di waktu yang bersamaan Sabrang juga bergerak maju.


Melihat pertarungan dengan kekuatan besar itu para prajurit di sekitarnya berlari menjauh, mereka tidak ingin mati konyol terkena serangan yang bisa mengenai mereka kapan saja.


"Dia tidak hanya kuat tapi gerakannya sangat cepat," umpat pendekar itu saat semua serangannya mampu di hindari dengan mudah.


Sabrang terus menghindari serangan sambil sesekali menyerang balik, gerakannya yang sangat lincah membuat pedang lawannya berkali kali menebas udara, Sabrang benar benar mempermainkan pendekar itu.


Melihat semua serangannya dapat dihindari dengan mudah, pendekar itu menjadi kalap, kini serangannya menjadi tidak beraturan dan hanya mengandalkan kekuatan. Celah demi celah terlihat jelas di hadapan mata bulan.


"Pertarungan sudah berakhir sejak kau memutuskan mengikuti amarahmu," Sabrang meningkatkan kecepatannya sebelum bergerak memutar dan menghantam pendekar itu dengan jurus yang sangat dikenalnya.


Beruntung Pendekar itu masih sempat menggunakan perisai tenaga dalam untuk meredam efek serangan. Namun dia sangat terkejut ketika tapak Naga terbang mampu menembus perisai tenaga dalamnya dengan mudah dan membuat tubuhnya terlempar.


"Kau! bagaimana bisa menggunakan jurus Naga Terbang milik Kuil suci?" teriak pendekar itu kesal.


"Jadi jurus ini bernama Tapak Naga Terbang? aku sampai terkejut dengan efek serangannya yang begitu besar," balas Sabrang takjub.


"Berani sekali kau menggunakan jurus milik kami, aku benar benar harus membunuhmu," Pendekar itu mengalirkan tenaga dalam sebelum bergerak menyerang.


Menyadari pertarungannya menjadi pusat perhatian pasukan Saung Galah termasuk Gardika membuat Sabrang memiliki ide menekan mereka tanpa bertarung, dia kemudian menggunakan ajian inti lebur saketi dan mengaktifkan mata bulan untuk memberi peringatan agar tidak bermain main dengannya.


Aura besar yang meluap dari tubuh Sabrang langsung menekan sekitarnya yang membuat beberapa prajurit bahkan tak sadarkan diri karena tidak kuat dengan tekanan di tubuh mereka.


Sabrang menatap pendekar itu dan tersenyum kecil sebelum melempar dua pisau tumbuk lada kearahnya.


"Kau pikir serangan lemah itu bisa membunuhku? akan kuperlihatkan seberapa kuat pendekar Kuil suci," Pendekar itu sedang bersiap menangkis serangan pisau terbang yang bergerak dengan kecepatan tinggi saat bayangan Sabrang terlihat bergerak lebih cepat dari kedua pisau itu dan menusuk tubuhnya dengan pedang es.


"Kau? bagaimana bisa lebih cepat dari pisau itu?" ucap pendekar itu terkejut, darah terlihat mulai mengalir dari mulutnya.


"Serangan yang bisa kau lihat dengan mata terkadang hanya sebuah pancingan dari kekuatan besar yang sedang mengintai dirimu. Begitu juga dengan Malwageni, kau mungkin menganggap kami lemah tapi kalian hanya melihat permukaannya saja. Hari ini aku bersumpah akan kuperlihatkan seberapa besar kekuatan tersembunyi Malwageni," Tubuh pendekar itu membeku seketika sebelum hancur menjadi serpihan es yang membentuk pelangi di area pertarungan.


Semua terdiam dan menatap takut ke satu arah termasuk para pendekar Hibata, mereka bahkan tidak bisa melihat kapan Sabrang bergerak hingga sudah muncul di hadapan lawannya.


"Yang mulia...," ucap mereka bersamaan.


Sabrang menoleh kearah Gardika dan ratusan pasukannya dengan wajah dingin.


"Jika kalian masih ingin bertarung aku akan dengan senang hati melayani kalian," ucap Sabrang datar, tak lama kemudian puluhan energi keris bermunculan di udara.


"Kami pantas mati Yang mulia tapi seluruh pasukan Saung Galah hanya menjalankan perintah pangeran Pancaka yang diangkat sendiri okeh Malwageni," Gardika berlutut tiba tiba diikuti seluruh pasukan Saung Galah.


"Apa sekarang kalian akan menuruti perintahku?" balas Sabrang.


"Hamba siap menerima perintah Yang mulia," jawab Gardika cepat.


***


"Jadi Yang mulia masih hidup?" tanya Mahawira lega, dia sempat mendengar kabar dari Candrakurama jika Sabrang terkubur di reruntuhan gunung padang.


"Benar tuan, kami memang sengaja merahasiakannya untuk sementara waktu karena sedang menyelidiki hubungan kuil suci dengan Arkantara," jawab Tungga Dewi pelan.


"Syukurlah jika beliau selamat, aku sebagai ketua sekte Api dan Angin siap bergabung bukan hanya karena kakang Kurama Gusti ratu," ucap Mahawira sopan.

__ADS_1


"Terima kasih tuan, itu sangat membantu kami disaat Yang mulia dan tuan Patih belum bergabung. Aku akan mengingat semua kebaikan kalian," balas Tungga Dewi.


"Gusti ratu, Tantri izin menghadap," terdengar suara seorang wanita dari luar tenda.


"Masuklah," balas Tungga Dewi.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Wulan Sari yang juga berada di dalam tenda.


"Hampir semua wanita dan anak anak yang tinggal di sekitar ibukota sudah mengungsi masuk kedalam keraton Gusti ratu tapi sebagian besar pria menolak karena ingin ikut berjuang bersama mempertahankan Malwageni, hamba tidak bisa berbuat banyak karena mereka terus memaksa," ucap Tantri pelan.


"Menolak? mereka bisa terbunuh karena lawan yang dihadapi adalah prajurit terlatih," sahut Mentari khawatir.


"Kita tidak bisa berbuat apapun Tari, alasan mereka ikut berperang sama dengan yang kita rasakan, apa kau bisa dicegah untuk tidak ikut perang saat tanah leluhur kita diinjak injak? sekarang yang terpenting adalah tetap melindungi mereka jika perang benar benar terjadi di ibukota," jawab Tungga Dewi pelan.


"Tapi mereka..." belum sempat Mentari menyelesaikan ucapannya, Arung muncul dengan langkah tergesa gesa.


"Gusti ratu, Telik sandi kita melihat belasan kapal besar yang penuh dengan prajurit perang sudah merapat di Dermaga Karang Sari," ucap Arung cepat.


"Belasan? mereka benar benar menyerang dengan kekuatan penuh," Wajah Tungga Dewi tampak berubah, dia tidak menyangka Saragi akan membawa pasukan sebesar itu.


"Kita dalam masalah, sebagian pasukan sudah bergerak untuk menghadang serangan Saung Galah walau ditambah para pendekar dari sekte aliansi kita tetap kalah jumlah," balas Arung cepat.


"Tidak masih ada sedikit harapan dengan catatan prajurit Saung Galah mau bergabung dengan kita," sahut Paksi sambil menunjukkan gulungannya.


"Jalur dari kadipaten Karang anyar sedikit lebih sulit karena harus melewati tebing curam yang berbatasan dengan ibukota, kita bisa memanfaatkan keadaan alam ini untuk menahan mereka sementara waktu sambil menunggu kabar dari Hibata," ucap Paksi melanjutkan.


"Menyerang ratusan ribu pasukan dengan prajurit kita yang tersisa sama saja bunuh diri tuan, walau kita mengenal daerah hutan itu dengan baik tetap tidak akan bisa banyak membantu. Selain itu kita belum tau apakah Hibata berhasil membujuk pasukan Saung Galah untuk bergabung," sahut Arung cepat.


"Kita tidak punya pilihan lain, saat ini kita kalah segalanya dan sedang terkepung dari berbagai arah, jika kita tidak melakukan sesuatu maka Arkantara akan sampai ke ibukota besok pagi dan itu artinya keraton akan jatuh.


Hanya itu satu satunya cara dan aku siap memimpin pasukan walau ini adalah misi bunuh diri. Masih ada harapan walau kecil sekalipun asal keraton sebagai simbol sebuah kerajaan tidak berhasil mereka rebut dan kita berharap Hibata berhasil mengajak Saung Galah bergabung kembali," jawab Paksi.


"Tapi tuan..."


"Cukup! aku tau kalian semua sedang panik tapi aku yang memutuskan semuanya," Tungga Dewi memotong ucapan Arung karena situasi mulai memanas, dia tidak ingin kekuatan Malwageni terpecah.


"Arina, apa kau punya usul?" tanya Tungga Dewi yang melihat gadis itu tetap diam walau situasi semakin genting.


"Kali ini aku setuju dengan yang dikatakan tuan Paksi, misi bunuh diri ini adalah satu satunya cara menahan mereka sementara waktu tapi apa hanya ada satu jalur ini saja menuju Ibukota?" tanya Arina.


"Sebenarnya ada jalur lain tapi sedikit memutar dan itu pasti membutuhkan waktu tempuh yang lebih lama. Mereka tidak akan mungkin mengambil jalur itu," jawab Paksi cepat.


"Bukan mereka tapi kita yang mengarahkannya," ucap Arina pelan.


"Mereka tidak mungkin tertipu dengan siasat kecil itu, aku yakin para utusan yang kirim lebih dulu akan menjadi petunjuk jalan mereka," balas Paksi.


"Bukankah dalam perang hal kecil kadang menentukan?" sahut Arina kembali.


"Jelaskan rencanamu?" potong Tungga Dewi cepat.


"Selama aku tinggal di keraton aku mendengar jika tuan Ciha menguasai jurus yang dapat memanipulasi tempat, kita bisa gunakan itu untuk mengarahkan mereka ke jalur yang lebih jauh sambil berharap tuan Patih segera datang bersama Yang mulia.


Kita akan menempatkan pasukan di dekat jalur ini untuk menyergap mereka jika sudah hampir sampai ibukota. Saat ini kita kekurangan pasukan tempur tapi jika mendengar laporan Tantri kita bisa menggunakan para penduduk untuk ikut berperang. Rencana ini memang tidak akan bisa menghentikan mereka tapi setidaknya memberi kita waktu lebih lama dari jalur tempuh di jalan utama," ucap Arina menjelaskan.


"Tapi itu tidak akan jauh beda dengan jalur utama, mungkin hanya akan menahan mereka sedikit lebih lama," Paksi yang mulai paham rencana yang dibuat Arina kembali bertanya.


"Tidak, jika kita memanggil nona Lenny dan pasukannya kita bisa memperlambat sedikit gerakan mereka karena nona itu terbiasa berperang dari tempat persembunyian," balas Arina.


"Jika kita menarik pasukan Wijaya ke Karang sari untuk menahan Arkantara maka pasukan Saung galah yang akan dengan mudah mencapai ibukota. Kita benar benar kalah jumlah pasukan," ucap Arung kesal.


"Tuan Arung, dalam perang apapun semua kerajaan pasti berjudi dengan siasat masing masing dan membaca setiap detail langkah yang diambil oleh lawan. Kini, kita melonggarkan penjagaan dari wilayah Saung Galah karena percaya Hibata akan menyelesaikan tugasnya dengan baik.


Rencana ini memang sangat beresiko andai Hibata tidak berhasil dengan misinya tapi ini jauh lebih baik daripada kita berdebat dan membiarkan Arkantara semakin dekat," jawab Arina pelan.


"Hibata pasti berhasil karena Yang mulia yang memimpin kali ini," Emmy tiba tiba muncul dan memotong pembicaraan.


"Yang Mulia?" ucap mereka bersamaan, ada semangat baru yang begitu meluap saat mereka mendengar Sabrang sudah bergerak.


"Saat dalam perjalanan ke ibukota kami bertemu dengan para pendekar Hibata dan Yang mulia memutuskan ikut bergabung dengan mereka untuk mengajak mereka bergabung kembali.


Tuan Patih juga akan segera bergabung setelah menyelesaikan sesuatu di kuil suci jadi mari kita berjuang mempertahankan Malwageni sampai mereka kembali dan menghancurkan Arkantara. Yang mulia juga berpesan jika dia sangat percaya pada Gusti ratu untuk memimpin perang kali ini," jawab Emmy tegas.


Semangat tempur kembali meluap dalam diri Tungga Dewi setelah mendengar pesan yang disampaikan Emmy.

__ADS_1


"Arina jelaskan rencanamu secara detail," perintah Tungga Dewi cepat.


"Baik Gusti ratu," Arina kemudian menjelaskan secara cepat semua rencananya untuk menjebak pasukan Arkantara.


Tungga Dewi tampak mengangguk mengerti sebelum memberi perintah.


"Aku ingin paman Paksi dan Ciha membantu Arina menjalankan semua rencana itu. Arung yang akan memimpin pasukan gabungan bersama tuan Mahawira dan ibu selir untuk menyergap mereka dititik ini dan sisanya membantuku menjaga Ibukota agar tetap berdiri kokoh.


Kita semua berkumpul di sini mungkin dengan tujuan yang berbeda dan sebagian dari kalian tidak memiliki kepentingan apapun pada Malwageni tapi perang ini bukan hanya soal dua kerajaan. Jika sampai pasukan Kuil suci mencapai ambisinya, cepat atau lambat Nuswantoro dan kalian semua akan diburu oleh mereka jadi untuk kali ini kumohon dengan sangat bantuan kalian," ucap Tungga Dewi.


"Hamba menerima perintah Gusti ratu," semua pendekar dari berbagai aliran yang ada di ruangan itu berlutut bersamaan.


"Pergilah dan kembali dalam keadaan hidup, aku akan menunggu kalian semua sambil menjaga ibukota dengan nyawaku," suara Tungga Dewi meninggi.


"Baik Yang mulia," teriak mereka bersamaan.


"Emmy, pergilah ke hutan di dekat perbatasan dengan Saung Galah dan katakan pada Lenny ada perubahan rencana, aku ingin kau membawa mereka dan bertemu dengan Arung di titik ini," ucap Tungga Dewi cepat sambil menunjuk titik yang dibuatnya tadi.


"Hamba mengerti Gusti ratu," balas Emmy cepat.


"Paman, cepatlah kembali," ucap Tungga Dewi dalam hati.


***


"Kau tak akan bisa mengalahkan aku sampai kapanpun, sekuat apapun kau berlatih tetap akan kalah dengan bakat yang diberikan alam, kau tidak belajar dari pertarungan kita sebelumnya," Naradipta tersenyum dingin sambil menatap Lingga yang sudah terluka cukup parah.


"Bakat? kalian yang dianugerahi bakat selalu menganggap remeh orang orang sepertiku tapi hari ini akan kubuktikan jika aku bisa melampaui kalian semua," Lingga kembali menyerang dengan jurus jurus andalannya, sorot matanya menatap tajam lawan yang sangat membanggakan bakat alami.


Lingga sudah bertekad untuk membuktikan jika ilmu kanuragan tidak hanya soal bakat, pengalaman bertarung dan kerja keras juga menentukan kualitas seorang pendekar.


"Hei bodoh, tubuhmu sudah hampir mencapai batasnya dan kau bisa mati akibat jurusmu sendiri," ucap Kemamamg bingung. Lingga seharusnya bisa melarikan diri dan meminta bantuan yang lainnya tanpa harus mengikuti prinsipnya mengorbankan diri.


"Apa kau tidak marah saat berada di bawah bayang bayang Naga Api? apa kau bisa diam saat semua orang mengejekmu dan membandingkan dengan seseorang yang memang terlahir dengan bakat besar?


Aku tidak akan tinggal diam, walau harus berlatih ribuan tahun, aku akan melampaui mereka semua. Setidaknya jika aku mati, aku akan mati dengan semua kebanggan itu dari pada harus hidup dengan semua ejekan.


Kau tau, bocah pengguna Naga api itu awalnya adalah musuh besarku tapi si bodoh itu dengan seenaknya memberiku tempat untuk kembali tanpa ada ejekan yang dulu sering kudengar. Jika aku tidak bisa mengalahkan pendekar ini dan membantunya lalu untuk apa aku hidup."


Lingga kembali merubah gerakannya namun Naradipta dengan cepat menangkis setiap serangan dan menyerang balik. Dia memutar pedangnya sebelum menghantamkan ke titik buta Lingga.


"Apakah aku akan mati kali ini?" Lingga yang sudah tidak bisa bereaksi hanya menatap ayunan pedang Naradipta yang berusaha memotong tubuhnya.


Namun tiba tiba tubuhnya seperti mau meledak saat energi Kemamang memenuhi tubuhnya dengan cepat.


Lingga tersentak kaget saat melihat gerakan Naradipta tiba tiba melambat, dia bahkan masih bisa menarik pedangnya dan menangkis serangan itu.


Ledakan besar melempar tubuh keduanya, terlihat wajah Naradipta mulai berubah.


"Bagaimana dia bisa menangkis serangan cepat milikku?" ucapnya sebelum tubuhnya membentur pepohonan.


Kondisi Lingga tidak lebih baik, akibat ledakan dua kekuatan itu diapun terlempar cukup jauh sebelum tubuhnya jatuh ke sungai.


"Sial, tubuhku tak bisa digerakkan," umpat Lingga kesal.


"Mau sampai kapan kau tergeletak seperti orang lemah seperti itu, bangun dan kalahkan dia! jangan sampai aku kehilangan tuanku kembali dalam waktu cepat bodoh!" teriak kemamang kesal.


"Jadi kau sudah menganggap aku tuanmu?" tanya Lingga pelan.


"Tidak jika kau mati di tempat ini," jawab kemamang sinis.


Lingga terkekeh mendengar jawaban Kemamang, dia bangkit dan berjalan keluar sungai dan menatap tajam Naradipta.


"Hei Kemamang, jika saat ini aku adalah tuan yang kau pilih, apakah aku bisa memintamu menggaruk punggungku yang gatal?" tanya Lingga tiba tiba.


"Kau! Aku adalah ruh terkuat bukan pelayanmu bodoh!" bentak Kemamang kesal, dia mulai menyesali keputusannya memilih Lingga.


"Begitu ya, maka tunjukkan padaku seberapa kuatnya Iblis Kemamang," ucap Lingga sambil mengalirkan tenaga dalam ke tubuhnya.


"Kau dalam masalah kali ini," umpat Lingga sambil menatap Naradipta.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jangan lupa Vote kayak mantan lu yang udh melupakan lu dan bahagia dengan mantannya yang kayak Kesemek gantung.

__ADS_1


__ADS_2