Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kebimbangan Wardhana


__ADS_3

Wardhana menyentuh batu besar yang ada dihadapannya setelah Rubah Putih membuat perapian kecil sebagai penerangan. Dia menatap batu yang seolah dirancang untuk posisi tidur namun di bagian atas diberi celah agar darah menetes kebawah.


Wardhana tampak tersenyum lega karena walaupun batu itu terlihat jauh lebih besar tapi dia yakin bentuk dan guratan guratannya sama dengan yang ada di Dieng.


"Walau jauh lebih besar, batu persembahan ini benar benar mirip dengan yang ada di Lembah merah Dieng," ucap Wardhana pelan sambil menyentuh guratan guratan kecil yang ada di batu besar itu.


"Batu persembahan? jadi maksudmu peradaban terlarang melakukan pemujaan dengan mengorbankan seseorang?" tanya Rubah Putih terkejut.


"Sepertinya begitu tuan walau aku tidak yakin ini adalah tradisi asli mereka, tapi batu ini jelas di rancang untuk merebahkan tubuh seseorang yang "terpilih" dan celah ini digunakan untuk menampung darah korban persembahan sebelum mengalir kebawah melalui guratan guratan ini," tunjuk Wardhana pada siring siring kecil di batu besar itu yang mengarah kebawah.


Wardhana terdiam sesaat sebelum berjalan mengelilingi batu itu, dia berusaha mengingat kembali cerita bagaimana Ciha bisa membuka gerbang Lembah merah Dieng tapi karena menganggap masalah telah selesai dengan hancurnya tempat itu, Wardhana tidak terlalu mendengarkan ucapannya.


"Jadi dibawah batu ini benar benar ada sebuah ruangan yang mereka gunakan sebagai ruang persembahan?" tanya Rubah Putih pelan.


"Apa anda akan bersusah payah membawa tubuh penuh darah korban persembahan ke tempat yang cukup jauh dari sini? aku yakin ruang persembahan itu tak jauh dari sini dan jika konsep Dieng meniru tempat ini maka disinilah ruangan itu berada," Wardhana menghentakkan kakinya ketanah.


Wajah Wardhana berubah seketika saat bola matanya mengikuti lekukan kecil yang dianggapnya sebagai tempat darah korban menetes.


"Tuan, bisakah anda mengambilkan aku api itu?" pinta Wardhana sambil menunjuk perapian yang dibuat Rubah Putih, dia terus memperhatikan guratan kecil di batu yang semuanya menuju ke tanah.


"Semoga semua dugaanku kali ini salah," ucap Wardhana dengan suara tertahan, dia sadar jika konsep batu ini sama dengan Dieng maka kecurigaannya pada Ken Panca semakin menguat.


Rubah Putih yang sudah mengetahui maksud dari ucapan Wardhana, langsung menyambar dua buah batang kayu yang terbakar api dan mengarahkannya ke sisi batu.


"Wardhana, hembusan angin itu ada sisi ini," ucap Rubah Putih cepat saat melihat api yang ada ditangannya bergerak seolah tertiup angin dari dalam batu.


Wardhana langsung berlari mendekati Rubah Putih dan memeriksa batu itu.


"Sekarang kita tinggal mencari sesuatu yang berbentuk tuas atau semacamnya di sekitar sini," Wardhana melompat keatas batu dan memperhatikan sekitarnya.


"Ciri khas bangunan punden berundak seperti ini adalah tuas pemicu untuk membuka dan menutup kembali ruang rahasia ini, aku yakin tuas itu berada di dekat batu ini," ucap Wardhana pelan.


"Bukankah kau tadi mengatakan jika tempat ini hampir sama dengan Lembah merah Dieng? seharusnya kau masih ingat dimana letak tuas itu berada?"


"Sayangnya bukan aku yang membuka Lembah merah, aku datang sedikit terlambat," jawab Wardhana cepat.


"Begitu ya? jadi kita hanya harus mencari sesuatu yang berbentuk tuas disekitar sini?" Rubah Putih tiba tiba melompat keatas pohon besar agar pandangannya lebih luas namun sekeras apapun mereka mencari tak ada batu atau tuas disekitar batu itu.

__ADS_1


"Apa anda menemukan sesuatu tuan?" teriak Wardhana sambil menoleh keatas pohon.


Rubah Putih menggeleng pelan, "Tidak ada batu atau apapun yang berbentuk tuas disekitar sini, apa kau yakin Lembah merah terbuka dengan sebuah tuas?"


"Tidak mungkin, aku masih ingat Ciha pernah bercerita jika dia berhasil membuka gerbang Lembah merah dengan sebuah tuas. Apa konsep batu ini sedikit berbeda?" jawab Wardhana pelan sebelum sebuah suara mengejutkannya.


"Ruang Pengetahuan tak akan bisa dibuka tanpa persembahan darah manusia terpilih, Cahaya langit dan unsur kehidupan akan selalu membimbing sang manusia terpilih untuk membuka gerbang merah," Ken Panca tiba tiba muncul dari balik pohon.


"Tuan Ken Panca?" ucap Wardhana pelan sebelum menoleh kearah Rubah Putih.


"Aku terbangun dari tidurku dan menemukan kalian tidak ada di gubuk jadi aku memutuskan mencari kalian karena khawatir," jawab Ken Panca pelan.


"Begitu ya... sepertinya anda tau jika kami akan datang ketempat ini," jawab Wardhana pelan.


"Aku hanya menebak karena tempat ini juga menarik perhatianku," jawab Ken Panca tenang.


"Jadi anda sudah lama mengetahui keanehan batu ini?" kejar Wardhana.


"Tidak juga, aku mulai memeriksa tempat ini setelah menemukan catatan bom api. Batu inilah yang ingin aku tunjukkan padamu," balas Ken Panca yang kali ini terlihat sedikit gugup.


"Dan kata kata yang anda ucapkan tadi...?"


"Gua? Bisakah anda mengantarkan aku ke sana?" tanya Wardhana kembali.


"Tapi batu ini..." belum selesai Ken Panca bicara, Wardhana sudah memotong ucapannya.


"Aku bukan tidak tertarik dengan batu ini tapi anda yang sudah cukup lama berada di Dieng pasti mengerti jika tempat ini adalah tiruan Lembah merah dan pasti cukup sulit membuka gerbangnya. Untuk sementara waktu ini, aku hanya ingin mengumpulkan semua informasi mengenai sisi gelap alam semesta sambil menunggu Yang mulia kembali."


Rubah Putih tampak terkejut dengan jawaban Wardhana yang seolah menyerah, dia masih ingat betul beberapa detik yang lalu orang kepercayaan Sabrang itu begitu bersemangat untuk membuka gerbang batu pemujaan.


"Baik, aku akan mengantar anda ke gua itu," jawab Ken Panca bingung. Sama seperti Rubah Putih, dia juga merasa ada yang aneh pada diri Wardhana yang terlalu cepat menyerah dengan misteri gerbang pemujaan.


"Sepertinya dia sengaja memancingku untuk memecahkan misteri batu pemujaan ini dan itu artinya dia juga belum menemukan tuasnya. Apa yang sebenarnya sedang kau rencanakan?" ucap Wardhana dalam hati sambil mengikuti Ken Panca dari belakang.


"Kali ini sikapnya benar benar aneh, apa dia sudah mengetahui rahasiaku? tidak mungkin, aku sudah sangat berhati hati sejak memutuskan keluar dari sisi gelap alam semesta," Ken Panca terus berjalan dalam kegelapan sambil sesekali menoleh kearah Wardhana dan Rubah Putih.


"Di gua itulah aku menemukan catatan bom api dan juga tentang ruang pengetahuan," tunjuk Ken Panca ke arah kabut putih yang berada di depan mereka, samar samar terlihat mulut gua di balik kabut itu.

__ADS_1


"Gua ini...aku tidak pernah ingat jika ada sebuah gua di tempat ini?" ucap Rubah Putih dalam hati sambil memperhatikan mulut gua yang terlihat semakin jelas saat mereka mendekat.


Sebelum terkurung di dimensi ruang dan waktu, Rubah Putih memang menghabiskan waktunya berlatih di sisi gelap alam semesta dan seingatnya tidak pernah ada gua di dekat batu pemujaan.


"Apa waktu itu aku yang tidak melihat gua ini? tapi bagaimana mungkin...karena hampir semua tempat ini sudah aku jelajahi," ucapnya dalam hati.


"Itu tulisan yang aku maksud," tunjuk Ken Panca saat mereka sudah masuk ke dalam gua.


"Gua ini cukup kecil...," Wardhana mendekati tulisan di dinding gua dan merabanya. "Gua ini seperti sudah terkubur cukup lama dan baru terbuka kembali," ucap Wardhana dalam hati saat merasakan sedikit kelembaban di dinding gua.


"Ruang Pengetahuan tak akan bisa dibuka tanpa persembahan darah manusia terpilih, Cahaya langit dan unsur kehidupan akan selalu membimbing sang manusia terpilih untuk membuka gerbang___merah..." Wardhana memperhatikan kata terakhir yang seperti terpisah dari kalimat utama.


"Merah? mengapa tulisan itu seolah terpisah," Wardhana terus berusaha mengingat cerita Ciha saat berhasil membuka gerbang Lembah merah.


"Gerbang merah? bahkan namanya pun hampir sama dengan tempat yang kau sebut Lembah merah Dieng, aku makin tidak mengerti dengan semua misteri ini," ucap Rubah Putih tiba tiba sebelum melangkah keluar gua.


"Aku yakin tidak akan banyak membantu kalian, sebaiknya aku tunggu dulu di luar," ucapnya pelan.


"Nama hampir sama? Gerbang merah? Lembah merah...tunggu..." Wardhana kemudian menyentuh tulisan "merah" yang terpisah dari kalimat utama sebelum wajahnya tiba tiba berubah seketika.


"Jadi begitu...suku Iblis petarung...." Wardhana menahan nafasnya sebelum memperhatikan sekitarnya.


"Jadi itu alasan Ken Panca mengajakku ke gua ini dan tidak membahas sama sekali tentang batu pemujaan," ucap Wardhana dalam hati.


"Apa anda menemukan petunjuk tentang gerbang pengetahuan itu?" tanya Ken Panca tiba tiba.


"Selain tulisan ini, sepertinya tidak ada petunjuk apapun tuan, sepertinya kita harus memulai penyelidikan dari awal," jawab Wardhana pelan.


"Memulai penyelidikan dari awal ya.. sepertinya kau benar, sebaiknya kita kembali dulu ke gubuk itu dan mulai menyusun ulang misteri ini bersama," jawab Ken Panca pelan sambil menatap pedang yang ada di genggaman tangan Wardhana sebelum melangkah keluar.


Wardhana sama sekali tidak menyadari jika ekspresi wajahnya yang tadi berubah saat menyentuh tulisan di dinding gua terpantul di sarung pedangnya dan itu dilihat sangat jelas oleh Ken Panca.


Wardhana mengangguk pelan sambil mengikuti langkah Ken Panca dari belakang.


"Apa sesuatu terjadi saat dia pertama kali menemukan Dieng?" ucap Wardhana dalam hati sambil menatap punggung Ken Panca.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Haloo... maaf update malam ini agak terlambat.. harap maklum karena kerjaan setelah sakit benar benar menumpuk.. Lebih baik update telat dari pada gak update kan Mblo?...


Hayook Vote


__ADS_2