Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Rencana Berbahaya Sabrang II


__ADS_3

"Ken Panca dirasuki oleh tetua suku Sungai Kuning?" tanya Wulan tak percaya.


Wardhana mengangguk pelan, "Sejak awal kemunculannya aku sudah curiga ada yang tidak beres dengannya tapi kemudian apa yang dilakukan Ken Panca saat ikut bertarung dan mempertaruhkan nyawa melawan Lakeswara membuatku melupakan semua kecurigaan itu sampai akhirnya dia muncul di keraton dan membawaku ke sisi gelap alam semesta," jawab Wardhana pelan.


"Kau harus sangat berhati hati kali ini karena mencurigai leluhur Yang Mulia sama saja dengan bermain api, Apa dia sudah tau masalah ini?"


"Cukup sulit menyampaikan masalah ini pada beliau tapi harus aku lakukan sebelum semuanya terlambat dan itulah alasanku sebenarnya datang ketempat ini."


Wardhana kemudian menjelaskan apa yang baru saja terjadi padanya termasuk kemunculan Jaya Setra yang merupakan keturunan langsung peradaban terlarang. Dia juga menjelaskan jika Setra menawarkan kerjasama untuk menghadapi Li Yau Fei yang saat ini sedang mengincar tubuh Sabrang.


"Dan kau percaya begitu saja padanya pada orang yang hampir membunuh Ciha?" tanya Wulan pelan.


"Aku mungkin belum sepenuhnya percaya padanya tapi semua yang dia ceritakan padaku hampir sama dengan dugaan ku selama ini tentang keanehan Ken Panca. Aku memang tidak bisa menjamin jika suatu saat dia menjadi lawan tapi setidaknya untuk saat ini kita memiliki musuh yang sama," jawab Wardhana.


"Lalu apa yang akan kau lakukan pada Ken Panca?"


"Awalnya aku sudah menyiapkan rencana untuk menjebaknya bersama Lingga dan tetua Wulan Sari tapi sepertinya ilmu kanuragan Li Yau Fei yang merasuki tuan Ken Panca jauh lebih tinggi dari yang kami perkirakan. Tuan Jaya Setra bahkan mengatakan jika dia dan Yang Mulia bergabung pun belum tentu mampu menghadapinya karena pengguna ajian Ulat Sutra Abadi akan memiliki semua ilmu kanuragan orang yang dirasukinya.


"Li Yau Fei telah merasuki pemimpin suku Lemuria dan istrinya yang memiliki Ilmu kanuragan tinggi dan kini berada di dalam tubuh Ken Panca, kau bisa membayangkan seberapa kuat dia saat ini. Aku sebenarnya masih memiliki satu rencana cadangan namun kita memerlukan semua kekuatan untuk menghadapinya dan aku menjamin ini tidak akan mudah."


"Rencana cadangan?" tanya Wulan kembali.


"Kedatangan suku Iblis petarung di Nuswantoro sepertinya bukan suatu kebetulan dan kemungkinan karena melihat catatan leluhur mereka. Bentuk Lembah merah dan Dieng yang hampir sama menandakan mereka pernah datang ketempat ini untuk mencari sesuatu dan aku yakin itu adalah ruangan di bawah batu persembahan dan itu artinya Li Yau Fei juga mengincar sesuatu yang ada di dalam ruangan itu. Kita bisa memanfaatkan celah itu," jawab Wardhana sambil menjelaskan rencana yang sudah dibuatnya bersama Jaya Setra.


"Tapi apa mungkin kita bisa masuk diam diam ke ruangan itu karena saat ini Ken Panca juga berada di sisi gelap alam semesta dan bukankah kau tadi mengatakan jika belum berhasil memecahkan kunci untuk membuka batu persembahan?"


"Aku memang belum bisa memecahkan semua misteri yang menyelimuti batu persembahan itu tidak terlalu sulit untuk memecahkannya jika kita melihat pola batu berundak Gunung Padang dan Kuil Khayangan, dengan sedikit bantuan dari tuan Setra yang mengetahui kebiasaan peradaban terlarang aku sudah memiliki gambaran di mana tuas itu berada," jawab Wardhana yakin.


"Jadi dia juga tidak mengetahui dimana kunci ruangan batu persembahan?" tanya Wulan bingung.


"Tak ada satupun orang dari peradaban terlarang yang tau tentang kunci ruangan itu karena apa yang tersembunyi didalamnya adalah harta terbesar milik leluhur mereka, Latimojong dan yang sebenarnya diincar oleh Li Yau Fei adalah apa yang disembunyikan didalam ruangan itu, bukan Lemuria," balas Wardhana.


"Harta terbesar Latimojong?" tanya Wulan pemasaran.


"Untuk saat ini mungkin hanya Li Yau Fei yang mengetahui apa yang terkubur didalam ruangan itu tapi jika melihat dia sampai melakukan semua hal gila ini termasuk berpindah tubuh beberapa kali untuk bertahan hidup, aku yakin itu jauh lebih berharga dari kitab Sabdo Loji."


***


Setelah menancapkan keris penguasa kegelapan dan Pedang Naga Api di hadapannya, Sabrang menatap Mentari cukup lama seolah ini adalah pertemuan terakhir mereka.


"Tari, apa kau sudah siap?" tanya Sabrang lembut.


Mentari hanya mengangguk pelan tanpa bicara satu patah katapun, walau dia berusaha tenang tapi kedua tangannya terlihat sedikit bergetar dan itu dilihat Sabrang.


"Apa kau gugup? tenang saja, aku akan baik baik saja karena Naga Api tak akan membiarkan sesuatu terjadi padaku. Anom dan Siren akan menjaga tubuh kita selama berada di alam bawah sadar jadi konsentrasikan saja pikiranmu pada semua yang dikatakan Naga Api," ucap Sabrang sambil memejamkan matanya perlahan.


"Berjanjilah anda akan kembali Yang mulia," ucap Mentari tiba tiba.


Sabrang tak menjawab ucapan Mentari, dia takut tidak dapat menepati janjinya kali ini.


"Naga Api, apa aku bisa bicara pada Siren sebentar?" ucap Sabrang dalam pikirannya.


"Kau yakin akan melakukan ini? kita masih punya waktu beberapa hari sampai kau benar benar mengantuk, apa tidak sebaiknya kita mencari cara lain karena..."

__ADS_1


"Hubungkan aku dengan Siren tanpa diketahui Mentari," potong Sabrang cepat.


"Kau tidak harus melakukan ini, aku bisa mencari cara lain untuk mendeteksi keberadaan Iblis sialan itu," Naga Api masih bersikeras pada pendiriannya.


"Dengar Naga Api, harusnya kau adalah orang yang paling mengerti betapa sulitnya mencari keberadaan Rabing saat ini. Jika kau sangat khawatir padaku maka lakukan apa saja agar aku selamat dan hubungkan sekarang aku dengan Siren!" bentak Sabrang kesal.


Naga Api terdiam sebelum terdengar suara seorang wanita dalam pikiran Sabrang.


"Apa ada yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Siren pelan.


"Aku punya satu permintaan sebelum tertidur, jika Tari tak berhasil masuk alam bawah sadarku tepat waktu, kau harus merasuki tubuhnya dan menghancurkan tubuhku sebelum Iblis itu berhasil menguasai sepenuhnya. Apa kau bisa mengabulkannya?" tanya Sabrang pelan.


Siren tampak terkejut dengan permintaan Sabrang, dia menoleh kearah Naga Api yang dibalas anggukan pelan.


"Hancurkan kami tanpa sisa dengan kekuatan tongkat cahaya putih, aku tak mungkin bisa menemukan orang sebodoh dia," jawab Naga Api tegas yang menandakan dia siap hancur bersama Sabrang.


"Baik, aku akan melakukannya jika kau tidak bisa kembali," balas Siren cepat.


"Pada akhirnya, iblis terkuat yang dikenal sangat liar telah memilih setia pada tuannya, kembalilah secepatnya agar aku tidak menggunakan kekuatanku," ucap Siren dalam hati.


Setelah memastikan semua persiapan selesai, Sabrang memusatkan pikirannya untuk mencoba tidur dan disaat bersamaan tubuh Mentari mulai diselimuti kobaran api sebelum masuk kedalam tubuhnya dengan cepat.


Keris Penguasa malam dan Tongkat Cahaya Putih bergetar hebat sebelum melayang dan berputar di udara sambil melepaskan energinya masing masing untuk melindungi gubuk kecil yang dibangun Sabrang itu.


Namun satu yang tidak mereka sadari, belasan pendekar yang mengenakan pakaian serba hitam sedang bergerak kearah mereka dengan kecepatan tinggi.


"Sepertinya tuan Li Yau Fei benar, mereka sudah memulainya, aku dapat merasakan energi Iblis api keluar dari tubuh tuannya, kita harus cepat dan pastikan wanita itu mati," ucap salah satu pendekar itu sambil menambah kecepatannya.


***


"Aku tak menyangka kau datang sendiri menemui aku, sepertinya kau sangat percaya diri pada kemampuanmu," ucap Rabing dingin.


"Matanya berubah? apa ini wujud aslinya?" tubuh Sabrang terasa remuk saat aura hitam menekannya.


"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku? kau mungkin bisa mendapatkan tuan yang jauh lebih kuat dariku, kenapa begitu memaksaku untuk menjadi tuanmu?" tanya Sabrang pelan.


"Tuan? aku berubah pikiran, yang aku inginkan sekarang adalah tubuhmu," tubuh Rabing tiba tiba menghilang sebelum muncul dihadapan Sabrang dan mencengkram lehernya dengan cepat.


"Kau seharusnya bisa lari dan mengulur waktu dengan tidak tidur tapi justru sengaja mendatangiku. Hari ini, kuambil tubuhmu," mustika air yang berbentuk pisau tiba tiba muncul di udara dan dengan cepat melesat ke tubuh Sabrang.


"Sial, dia tidak bisa diajak bicara," Sabrang berusaha melepaskan diri dari cengkraman Rabing tapi sama seperti sebelumnya, ada sesuatu yang menekan tenaga dalamnya.


'Tidak mungkin, seharusnya aku bisa menggunakan kekuatanku karena masih berada di alam bawah sadar, apa yang sebenarnya dia lakukan dengan tubuhku," umpat Sabrang kesal sambil terus berontak.


Saat pisau air itu hampir mengenai tubuh Sabrang, tiba tiba Mentari yang seluruh tubuhnya diselimuti kobaran api muncul dan menangkis pisau itu.


"Tari..." ucap Sabrang terbata bata, nafasnya sudah mulai tersengal karena cengkraman Rabing dilehernya semakin kuat.


"Iblis api? jadi ini rencana kalian," Rabing mengarahkan lengan kirinya kearah Mentari dan detik berikutnya tubuh Mentari bergerak sendiri seperti terhisap oleh lengan Rabing.


"Tak akan kubiarkan sedikitpun kau menyentuh Yang Mulia," Mentari menarik energi Naga api untuk memaksa tubuhnya bergerak, dan saat jarak mereka berdua sudah sangat dekat dia merubah gerakan pedangnya.


"Jurus pedang Embun perusak hati," Mentari mengayunkan pedang Naga Api sekuat tenaga. Kobaran api merah tampak meluap dari pedangnya dan melesat kearah Rabing.

__ADS_1


"Kau lupa jika aku adalah musuh alami terkuat untukmu, Naga Api," Rabing membentuk perisai air dari gelembung gelembung air disekitarnya dan dalam sekejap kobaran api itu menghilang.


Rabing kemudian menarik beberapa gelembung air di udara dan melemparnya kearah Mentari.


Melihat gelembung yang bergerak kearahnya berubah menjadi pisau, Mentari kemudian melompat di udara dan membentuk perisai es untuk menahan semua serangan yang terarah padanya.


Setelah mampu menghindari semua serangan Rabing, Mentari melompat mundur beberapa langkah untuk mengatur kembali kuda kudanya namun betapa terkejutnya dia saat kakinya menyentuh air.


"Air? dari mana semua air ini berasal?" ucap Mentari bingung saat melihat area pertarungan sudah dipenuhi air.


Belum sempat dia berfikir, tiba tiba tubuh Mentari tidak bisa digerakkan saat air mulai mengurungnya.


"Naga Api, lakukan sesuatu!" teriak Mentari panik.


"Tak ada yang bisa dilakukan si bodoh itu karena sampai kapanpun api tak akan mungkin menang dari Air," mustika air kembali terbentuk di udara.


"Yang mulia!" teriak Mentari panik.


***


"Apa kau yakin kita tidak salah jalan?" tanya Minak Jinggo kesal saat Wicaksana kembali menghentikan langkahnya.


"Sepertinya tidak, tapi seharusnya kita sudah dekat dengan Trowulan," jawab Wicaksana bingung saat menyadari kembali ketempat awal mereka.


"Sepertinya katamu? kita sudah berputar dua kali dan kau dengan mudahnya mengatakan sepertinya?" bentak Minak Jinggo.


"Apa kau tidak bisa diam? aku sedang berusaha mengingat petunjuk Ibu ratu tentang Trowulan bodoh. Jika kau merasa pintar kenapa tidak kau saja yang menjadi penunjuk jalan?" balas Wicaksana tak mau kalah.


"Kau!" Minak Jinggo hampir mencabut pedangnya andai Elang, Tantri, Gendis dan Winara tidak muncul dan memisahkan mereka berdua.


"Apa kalian tidak bisa sekali saja tidak bertengkar disaat misi pertama kita hah? " bentak Tantri.


"Misi? apakah menjemput orang beramai ramai seperti ini bisa dikatakan misi? kenapa tidak meminta satu orang untuk menjemputnya? saat ini kita sedang dipermainkan oleh nenek kejam itu," balas Minak Jinggo kesal.


"Ibu ratu meminta kita menjemput Yang mulia bersama sama tujuannya agar kita bisa saling mengenal. Apa kalian berdua tidak berfikir sampai situ? jika saat ini ada musuh menyerang dan kalian terus bertengkar, kita semua bisa mati," ucap Tantri tak mau kalah.


"Musuh menyerang? siapa yang berani menyerang di wilayah kekuasaan Malwageni? berpikir pun..." Minak Jinggo menghentikan ucapannya saat kabut putih tiba tiba menyelimuti area sekitarnya.


"Sepertinya kita tidak salah jalan, didepan sana ada sebuah gubuk yang bentuknya sama dengan ciri ciri yang Ibu ratu katakan tapi aku tidak merasa mendengar jika gubuk itu dikepung para pendekar aneh," ucap Winara dari atas pohon.


"Pendekar aneh?" tanya Tantri bingung.


"Aku merasakan gubuk itu dijaga oleh dua aura besar tapi sepertinya ilmu kanuragan pendekar aneh itu sedikit lebih kuat," Winara melompat turun.


"Pendekar Aneh dan aura yang melindungi gubuk itu? jangan jangan...Yang mulia dalam bahaya," balas Tantri cepat sambil meminta mereka semua mendekat.


"Winara, tunjukkan di mana gubuk itu dan gunakan segel milikmu untuk menyembunyikan gerakan kita. Elang, kau besama Gendis akan bergerak dari sisi kiri dan kalian berdua ikuti aku," balas Tantri cepat sambil menjelaskan rencananya.


"Akhirnya aku akan bertarung kembali setelah disiksa nenek kejam itu," ucap Minak Jinggo dalam hati.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Bonus sudah meluncur.....

__ADS_1


__ADS_2