Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pertempuran di mulai III


__ADS_3

Wajah Damarsunu berubah seketika mendengar keributan dari luar. Matanya menatap tajam Sudawirat.


"Periksa ada keributan apa di luar!!! Bunuh siapapun yang ingin menggangu pertemuanku dengan Tuan Dayun".


"Baik ketua" Sudawirat bergegas keluar mencari sumber keributan di luar.


"Maafkan aku tuan Dayun, ada sedikit gangguan di luar ku harap tidak mengurangi kenyamanan anda di tempat ini". Damarsunu tersenyum kecil menenangkan tamunya yang mulai gelisah


"Ah tidak apa tetua, aku yakin itu hanya keributan kecil" Dayun mengambil kitab Golok terbang di meja dan memasukannya ke sakunya.


Dia harus siap dengan segala keadaan dan tidak mau ambil resiko kehilangan kitab tersebut.


Saat tangannya bergerak memasukan kitab tersebut ke sakunya tiba tiba seseorang menyambar kitab tersebut. Seseorang yang berasal dari Sekte Kencana ungu. Dia kemudian melompat mundur dan memasukan ke sakunya.


Dayun terlihat murka dia menggebrak meja "Apa maksud anda tetua? Apa kau ingin berkhianat kepada Yang mulia?".


Damarsunu terlihat bingung melihat situasi yang terjadi. Orang yang merebut Kitab tersebut berada dibarisannya wajar jika Dayun menuduhnya berkhianat.


"Kembalikan Kitab itu atau aku akan membunuhmu" Suara Damarsunu meninggi.


"Maaf tetua aku tidak dapat mengabulkannya" Suara pria tersebut menggema di ruangan tersebut.


"Kau!! Siapa kau sebenarnya? Tangkap penyusup itu!!!"


Beberapa pendekar langsung menyerang Wijaya, dalam hitungan detik Wijaya sudah dikepung pendekar dari Kencana ungu maupun Lembah tengkorak.


"Jurus Pedang Elang Putih" Tiba tiba Wijaya menghilang dari kepungan pendekar Kencana ungu. Beberapa detik kemudian mereka roboh terkena sayatan pedang.


"Pendekar Elang putih, ada masalah apa kalian dengan Sekteku" Damarsunu menghardik Wijaya, dia sangat geram beberapa muridnya roboh di tangan Wijaya.


"Masalahnya bukan pada Kencana ungu tetua, tetapi pada anda dan Lembah tengkorak". Wijaya tetap tenang membaca situasi.


"Kau sudah keterlaluan anak muda! Akan ku ajari kau sopan santun pada orang tua" Damarsunu bangkit dan siap menyerang Wijaya.


Dayun masih terlihat tenang namun memandang Wijaya tajam.


"Kau kira dengan kemampuanmu seperti itu bisa mengalahkan aku" Damarsunu melesat cepat menyerang Gundala dengan Goloknya.


Wijaya menyambut serangan Damarsunu sekuat tenaga. Dia terpental beberapa meter sesaat setelah senjata mereka beradu diudara.


"Tenaga dalamnya sangat tinggi, aku harus berhati hati" terlihat tangan Wijaya gemetar setelah menangkis serangan tadi.

__ADS_1


"Sekali lagi ku katakan padamu serahkan kitab itu padaku" Aura pekat menyelimuti tubuh Damarsunu.


......................................


"Bagaimana anak itu menguasai jurus Segel Bayangan hanya dalam beberapa hari?". Nilam sari masih mengingat dia menyerahkan kitab Segel bayangan beberapa hari yang lalu. Ditambah Lasmini menyebutnya Pangeran.


"Siapa anak ini sebenarnya?" Nilam sari menatap Sabrang takjub.


"Baiklah saatnya menyerang" Sabrang seolah memegang benang dan mengendalikan pendekar yang tadi terkena Segel Bayangan.


"Tubuhku bergerak sendiri, sihir apa yang digunakan anak ini".


Tubuh pendekar tersebut melesat cepat menyerang teman temannya. Gerakan yang diperagakannya sama persis dengan gerakan yang Sabrang lakukan.


"Tarian Rajawali" Pendekar tersebut menyerang temannya tanpa memberi waktu menarik nafas. Beberapa pendekar terpental dan terluka parah.


Lasmini menatap Sabrang dengan perasaan takut. Dia bertemu Sabrang di sektenya tahun lalu dan kini kemampuannya jauh meningkat.


"Ilmu aneh apa yang digunakan Pangeran, dia bisa mengendalikan lawannya layaknya boneka".


Tiba tiba Lasmini menyadari pandangan Sintawati teralihkan ke pertarungan Sabrang. Dia mengambil kesempatan ini untuk menyerang.


Sintawati terlempar beberapa meter ke belakang, mulutnya mengeluarkan darah segar


Lasmini kembali menyerang dengan kecepatan tinggi, dia ingin segera menyudahi pertarungan ini karena mendengar didalam gedung pertemuan terdengar pertarungan.


"Mungkin Tuan patih sudah bertindak, aku harus cepat membantunya".


Lasmini kembali menyerang tanpa memberi celah sedikitpun untuk Sintawati bernafas. Pertahanan sintawati mulai goyah, sekuat tenaga dia menghindar setiap serangan Lasmini yang semakin lama semakin cepat.


"Gawat tenagaku sudah hampir habis, aku harus melakukan sesuatu sebelum terlambat".


Sintawati mengeluarkan beberapa jarum beracun dari tubuhnya. dia bersiap menyerang dengan sisa tenaganya.


"Hujan beracun" tiba tiba jarum beracun melesat dengan cepat. Lasmini mundur selangkah siap menyambut serangan Sintawati.


"Kesalahanmu dari dulu adalah bergantung dengan mainan ini" Lasmini menangkis semua jarum beracun dengan pedangnya dengan mudah.


"Tarian Rajawali tingkat V" Lasmini bergerak maju menyerang.


"TRANGGG" Pedang mereka beradu membuat Sintawati terpental mundur menghantam dinding bangunan. Pedang Sintawati patah menjadi dua.

__ADS_1


Lasmini melangkah mendekati Sintawati yang sudah tidak dapat bergerak.


"Kau sudah kalah, kali ini aku tak akan membunuhmu namun aku akan memusnahkan ilmu yang kau miliki".


Dilain pihak terlihat Sabrang pun telah mengalahkan musuhnya menggunakan Segel bayangan.


"Jurus ini tidak dapat digunakan terlalu lama karena membutuhkan tenaga dalam yang sangat besar". Sabrang merasakan tenaga dalamnya terkuras habis saat menggunakan jurus Segel Bayangan.


"Kita harus cepat Pangeran" Lasmini berlari menuju aula pertemuan diikuti Sabrang dibelakangnya.


.................................


Wijaya mengatur nafasnya, terlihat beberapa luka sayatan di tubuhnya.


"Ilmunya jauh di atasku, Jurus Golok terbang memang mengerikan".


Damarsunu kembali menyerang Wijaya dengan sekuat tenaga, Wijaya mencoba menghindar namun gerakan Damarsunu terlalu cepat untuk dihindari.


"Kau pikir bisa menghindari seranganku? Akan ku buat kau menyesal mencari masalah denganku".


"Golok terbang tingkat II : Golok membelah raga".


tubuh Wijaya terpental jauh, dia mencoba bangkit namun tubuhnya kembali ambruk di tanah. Nafasnya mulai tak beraturan.


Damarsunu melangkah mendekati Wijaya, dia mengalirkan tenaga dalamnya kedalam pedang.


"Kau dan Elang putih akan membayar atas semua yamg terjadi hari ini".


"Tarian Rajawali tingkat IV" Lasmini menyerang tiba tiba namun serangannya dengan mudah dapat dipatahkan oleh Damarsunu. Lasmini terpental mundur beberapa langkah.


"Bertambah jumlah tak akan merubah keadaan". Damarsunu menatap tajam Lasmini.


"Bagaimana dia dapat menangkis serangan Tarian Rajawali dengan mudah". Lasmini melihat ke arah Wijaya yang terluka parah.


Tak lama Sabrang muncul dihadapan Wijaya dan memeriksa lukanya.


"Pangeran bagaimana anda bisa ada disini?". Wijaya terkejut melihat Sabrang berada di hadapannya.


"Ceritanya panjang paman, melihat kondisi paman saat ini sepertinya dia lawan yang susah dihadapi".


"Kau harus segera pergi Pangeran, keselamatanmu adalah yang utama saat ini demi Malwageni"

__ADS_1


Sabrang menggelengkan kepalanya " Tidak paman aku bisa menjaga diriku".


Raut wajah Wijaya berubah seketika, sekilas dia melihat bayangan Arya Dwipa dalam diri Sabrang.


__ADS_2