
Tanah di Telaga Khayangan Api tiba tiba bergetar sesaat sebelum sebuah energi hitam pekat tiba tiba muncul dan menghisap semua yang ada disekitarnya.
Dua sosok tubuh keluar dari energi hitam itu tepat sebelum lubang hitam itu kembali tertutup.
Lakeswara tampak mengernyitkan dahinya saat melihat puluhan bangunan emas dihadapannya.
"Tempat ini tak jauh berubah, sepertinya mereka berhasil menciptakan para pendekar pelindung Masalembo," ucap Lakeswara pelan.
Lakeswara memejamkan matanya sesaat, dia terlihat menikmati saat tubuhnya menghirup udara segar setelah lama berada di dimensi ruang dan waktu untuk menyembuhkan luka yang diakibatkan oleh segel Naraya sekaligus meneliti jamur emas yang menjadi kunci dalam rencana besarnya merubah tatanan dunia.
Dia kembali mengingat kejadian sesaat sebelum Naraya berkhianat. Saat itu sebelum tubuhnya dibekukan sebagai proses awal meminum ramuan Amrita dan Soma, Lakeswara memerintahkan untuk membentuk kembali pasukan pendekar setingkat dewa penjaga Masalembo yang diketuai Kuntala untuk memuluskan langkahnya menguasai dunia.
"Ada sekelompok suku Kumari Kandam yang mendiami hutan larangan, aku sudah memeriksanya. Mereka sepertinya masih satu garis keturunan dengan Rakin Aryasatya, kekuatan mereka akan berguna untuk membantu kita merubah tatanan dunia baru," perintah Lakeswara sesaat sebelum tubuhnya mulai dibekukan.
Namun rencana yang sudah di susun matang menjadi hancur karena pengkhianatan Naraya yang merupakan anaknya sendiri.
"Ayo kita kembali ke Masalembo dan lihat seberapa kuat para pendekar keturunan Rakin itu," ucap Lakeswara sambil berjalan menuju danau kecil di tengah pusat kota Telaga Khayangan Api.
Lakeswara melangkah dengan wajah penuh kemenangan, dia yakin kali ini rencananya akan berhasil tanpa tau jika Masalembo telah dihancurkan oleh keturunannya sendiri.
Wajah Lakeswara berubah seketika saat melihat danau yang berada ditengah pusat Telaga Khayangan api itu terkubur reruntuhan batu. Akses satu satunya menuju Masalembo itu telah berubah menjadi tumpukan batu.
"Apa terjadi sesuatu?" gumamnya dalam hati.
Lakeswara memejamkan matanya untuk mengaktifkan mata bulan, namun tepat sebelum matanya aktif, muncul sesosok bayangan yang mendekat dengan cepat dan menyerangnya.
"Keturunan Rakin?" Lakeswara hanya diam saat sebuah pedang menghujam tubuhnya. Bima yang bersiap menyerang terpaksa menghentikan langkahnya saat mata Lakeswara menatapnya tajam sebagai tanda untuk tidak ikut campur.
"Apa ini sambutan kalian pada pemimpin tertinggi Masalembo?" Lakeswara mencengkram pedang yang tertancap ditubuhnya, tak lama pendekar yang menyerangnya terpaksa melepaskan pedangnya dan terpental beberapa langkah kebelakang.
"Pemimpin tertinggi Masalembo? tudak mungkin, aku melihat jelas tubuhnya masih membeku di dimensi ruang dan waktu," ucap Adyatama bingung.
Lakeswara kemudian mengalirkan energinya kedalam pedang Adyatama yang membuat pusaka kebanggaan pemimpin dewa Kumari Kandam itu hancur berkeping keping.
Lubang ditubuh Lakeswara akibat tusukan Adyatama perlahan menutup.
"Apa kau salah satu pendekar yang dipersiapkan Kuntala?" tanya Lakeswara dingin.
Adyatama terdiam, dia sedang mengukur seberapa besar.kemampuan pendekar dihadapannya itu. Menghancurkan pedang dalam sekejap menggunakan tenaga dalam jelas bukan hal mudah.
"Apa kau tuli atau tidak bisa bicara?" Lakeswara tiba tiba sudah berada dihadapan Adyatama dan dengan cepat mencengkram lehernya.
"Kecepatannya benar benar mengerikan," Adyatama meronta dan berusaha melepaskan diri sesaat sebelum merasakan tenaga dalamnya terserap keluar.
Adyatama berusaha sekuat tenaga untuk menahan tenaga dalamnya keluar namun tak berhasil.
"Ham...hamba adalah ketua Dewa Kumari Kandam tuan, mohon maafkan ketidaktahuan hamba," ucap Adyatama terbata bata.
"Ilmu menghisap tenaga dalam itu sudah lama tidak kulihat. Setelah terkurung begitu lama di dimensi ruang dan waktu sepertinya ilmu kanuragan Yang mulia tidak berkurang sedikitpun," ucap Bima dalam hati.
"Harusnya kau menjawab lebih cepat pertanyaanku, aku hampir membunuhmu," Lakeswara melempar tubuh Adyatama yang sudah memutih akibat tenaga dalamnya habis terhisap.
"Maafkan hamba tuan, hamba tidak mengenali anda," jawab Adyatama sambil mengatur nafasnya.
__ADS_1
"Sekarang katakan, apa yang terjadi dengan daratan Maaalembo?" tanya Lakeswara pelan.
"Secara pastinya hamba tidak tau tuan karena saat itu tubuh hamba tersegel di dalam bongkahan es namun yang hamba dengar, Masalembo hancur oleh seorang raja Malwageni," jawab Adyatama.
"Raja Malwageni?" Lakeswara mengernyitkan dahinya.
"Seorang pemuda yang juga keturunan anda," balas Adyatama.
"Naraya? dia masih hidup?" tanya Lakeswara cepat.
Adyatama menggeleng pelan, "Namanya adalah Sabrang, keturunan Arya Dwipa."
"Arya Dwipa? sepertinya aku terlalu lama terkurung di dimensi ruang dan waktu hingga tak mengenali keturunanku," Lakeswara tampak menahan amarahnya.
"Lalu dimana Kuntala? bawa aku menemuinya," pinta Lakeswara.
"Maaf tuan, tak ada yang selamat dalam penyerangan itu," jawab Adyatama pelan.
Lakeswara tersentak kaget setelah mendengar ucapan Adyatama. Kuntala bukan pendekar sembarangan dan merupakan salah satu keturunan trah Ampleng yang paling berbakat.
"Apa keturunan Arya Dwipa itu yang membunuhnya?"
Adyatama mengangguk pelan, "Hamba mohon maaf karena tidak dapat membantu tuan Kuntala, saat itu tubuh hamba sedang terluka parah akibat segel Arjuna," jawabnya pelan.
"Bahkan Arjuna mengkhianati ku? apa yang sebenarnya ada dipikiran mereka?" ucap Lakeswara geram.
"Lalu dimana tubuh para pemimpin Masalembo lainnya?"
"Ada di dimensi ruang dan waktu tuan," jawab Adyatama cepat.
"Bawa aku kesana, sudah saatnya mereka bangkit dan memulai kembali semua yang seharunya sudah kami lakukan dulu."
"Baik tuan," Adyatama tersenyum kecut, niat dia menguasai Masalembo sirna setelah melihat kekuatan Lakeswara.
Melawan pemimpin tertinggi Masalembo itu sama saja mengantarkan nyawa.
"Bima, kumpulkan pasukan Masalembo kembali menggunakan segel keabadian, aku merasakan energi Rubah Putih. Sepertinya dia mampu meloloskan diri dari kurungan ruang dan waktuku.
Setelah itu bawa beberapa pasukan dan cari keturunan Arya Dwipa, aku ingin kau membawa mayatnya kehadapan ku," perintah Lakeswara.
"Hamba mengerti tuan," jawab Bima pelan sesaat sebelum melesat pergi.
***
Wardhana duduk di kursi kebesarannya dengan wajah lesu, permasalahan dengan Saung Galah benar benar menguras energinya.
Tekanan Saung Galah untuk membuka akses bagi pedagang yang melewati kadipaten Rogo Geni terus menguat, beberapa utusan Saung Galah terus berdatangan setelah Jaladara.
Kondisi Saung Galah yang limbung saat ini sebenarnya adalah waktu yang paling tepat untuk menyerang namun Sabrang masih belum mengeluarkan titahnya karena masih melihat keadaan beberapa waktu kedepan.
Wardhana memahami keputusan Sabrang karena dalam situasi saat ini semua harus dipertimbangkan dengan matang.
Wardhana yang sedang memijat keningnya sendiri terlihat menyambar pedangnya saat menyadari kehadiran seseorang.
__ADS_1
"Kau harus berhati hati menggunakan pedang ini, ketajamannya bisa melukai siapapun," Rubah Putih bergerak lebih dulu dan menjauhkan pedang itu dari tangan Wardhana.
"Tak bisakah kau masuk melalui pintu yang disediakan?" ucap Wardhana kesal.
"Menghadapi para pemimpin dunia yang memiliki ilmu kanuragan tinggi kau harus belajar bergerak dalam senyap tuan Patih," jawab Rubah Putih.
"Apa kau ingin membunuhku setelah membongkar identitas mu?"
Rubah Putih tertawa setelah mendengar sindiran Wardhana.
"Untuk saat ini aku tak akan membunuhmu walaupun ingin, aku sadar hanya kau yang dapat membantuku saat ini," jawab Rubah Putih.
"Membantumu?" Wardhana menoleh kearah Rubah Putih.
"Ini mengenai Dewa Api," balas Rubah Putih.
"Dewa Api? bagaimana kau tau mengenai legenda itu?" tanya Wardhana makin penasaran.
"Aku sudah lebih dulu tau sebelum kau mengetahuinya. Aku sempat berlatih di sisi gelap alam semesta sebelum melawan Lakeswara dan dikurung di dimensi ruang dan waktunya. Saat berlatih di gua itulah aku mengetahui tentang keberadaan Dewa Api.
Aku mendengar dari Wulan jika kalian ingin membangkitkan nya bukan? sepertinya sulit untuk saat ini," jawab Rubah Putih.
"Sulit? aku hanya perlu mencari cara untuk menariknya kedalam ruang dan waktu," balas Wardhana pelan.
"Bukan itu yang ku maksud, menarik ruh Dewa Api kedalam ruang dan waktu tidak terlalu sulit namun untuk menggunakan kekuatannya akan membutuhkan waktu.
Menyegel dewa api di sisi gelap alam semesta bukan tanpa alasan, tempat itu seolah dibuat oleh alam untuk menyegel ruh iblis terkuat. Apa kau pikir setelah dia keluar dari tempat itu akan bisa langsung digunakan?
Ketika Naga Api mampu menaklukkan sisi gelapnya maka dia akan tertidur sementara waktu akibat tekanan besar kekuatan Dewa api.
Saat Naga Api tertidur, Sabrang tak akan bisa menggunakan kekuatan apinya. Hanya energi murni dan keris pusaka itu yang tersisa, kekuatan rajamu akan berkurang separuhnya.
Kita harus memikirkan solusi saat Naga api tertidur, bagaimana jika Masalembo menyerang saat Sabrang kehilangan kekuatan Naga apinya?"
Wardhana terdiam seketika, dia tidak menyangka jika ada efek yang begitu besar saat membangkitkan dewa api.
"Berapa lama Naga api akan pulih kembali?"
"Sangat lama, jika perkiraanku tidak salah, butuh waktu seribu tahun untuk Naga Api sadar kembali," jawab Rubah Putih.
"Seribu tahun? tidak mungkin kita menunggu selama itu," jawab Wardhana terkejut.
"Itulah situasi yang kita hadapi saat ini, suka tidak suka semua pilihan yang kita miliki tidak menguntungkan. Jika kita bertaruh dengan kekuatan Naga Api yang ada saat ini juga ada resikonya, aku takut Naga Api tak mampu menghadapi pusaka Lakeswara.
Saat ini pusaka terkuat di dunia persilatan adalah golok milikku, dan kau tau apa yang terjadi saat dulu aku menghadapinya dengan golok ini? aku terkurung di dimensi ruang dan waktunya," jawab Rubah Putih.
"Lalu apa kau memiliki solusinya?"
Rubah Putih menggeleng pelan, "Sayangnya hanya dua pilihan itu dan semua keputusan ada ditangan Sabrang. Melawan dengan kekuatan Naga Api saat ini atau mencari solusi saat dia tertidur," jawab Rubah Putih.
"Bukankah saat ini para pemimpin dunia sedang tertidur? kita bisa mengambil kesempatan ini untuk membunuh mereka bukan?" tanya Wardhana.
"Awalnya aku berfikir begitu namun tadi malam aku merasakan energi yang sangat kukenal, energi yang mengurungku di dimensi ruang dan waktu.
__ADS_1
Aku tak ingin mengatakannya namun sepertinya mereka sudah bangkit," ucap Rubah Putih khawatir.