Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pendekar Langit Merah


__ADS_3

Arung berhenti didekat sebuah sungai yang cukup besar, dia kemudian duduk di bawah pohon rindang tak jauh dari sungai.


"Maaf aku belum mengetahui nama anda tuan". Ucap Arung sopan.


"Namaku Sabrang damar dan ini teman seperjalananku nona Mentari".


"Tuan Sabrang, jadi anda adalah pengguna Naga api, aku sudah lama ingin bertemu denganmu". Arung menundukan kepalanya.


"Jadi apa yang ingin kau bicarakan denganku?". Tanya Sabrang penasaran.


"Ini mengenai kitab paraton dan pusaka Megantara".


"Kau mengetahui kitab itu?". Sabrang terkejut Arung bisa tau mengenai kitab paraton.


Arung menganggukan kepalanya "Kitab itu berasal dari daratan Hujung tanah. Konon yang menulis kitab itu adalah para pendekar dari Langit merah setelah berhasil menemukan Telaga khayangan api. Tidak seperti Dieng yang dibangun oleh Iblis petarung setelah membaca kitab paraton, Telaga khayangan api konon adalah tempat semua ilmu pengetahuan maupun ilmu kanuragan berada. Para pendekar langit merah menulis sebagian kecil ilmu pengetahuan dan rahasia besar dunia di sebuah kitab yang mereka sebut Paraton termasuk letak telaga itu".


"Jadi tempat itu benar benar ada?". Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Aku tidak tau namun didalam kitab itu tertulis letak sebuah tempat yang mereka sebut Pusat dunia. Pendekar langit merah kabarnya membangun sebuah tempat rahasia di dalam hutan Meratus untuk tempat persembunyian karena dikejar seluruh pendekar dunia persilatan. Mereka semua ingin memiliki kitab paraton untuk tujuan menguasai dunia persilatan.


Hingga suatu saat para pendekar dunia persilatan mengetahui letak tempat persembunyian para pendekar langit. Mereka membantai semua pendekar langit tanpa sisa demi memiliki kitab itu namun masalah dimulai dari sana. Para pendekar langit merah ternyata menguasai kitab keabadian langit dan bumi. Mereka tidak benar benar mati saat itu, beberapa petunjuk yang mereka tulis memperingatkan akan kebangkitan mereka suatu saat untuk menuntut balas pada dunia persilatan". Arung menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Kebangkitan Energi banaspati adalah kunci kebangkitan mereka".


"Energi banaspati?".


"Saat ini aku yakin para pendekar langit berada disekitar kita sambil menunggu energi Banaspati". Ucap Arung pelan.


"Tunggu, jika mereka memang abadi dan ada disekitar kita kenapa mereka harus menunggu begitu lama? bukankah mereka bisa langsung membalas dendam pada dunia persilatan?". Tanya Mentari bingung.


"Selalu ada harga untuk setiap ilmu mengerikan, Menguasai ilmu langit dan bumi memang bisa membuat penggunannya abadi namun ilmu kanuragannya akan musnah tak bersisa. Mungkin itu alasan mereka sampai saat ini belum muncul kedunia persilatan".


"Lalu apa hubungannya denganku?".


"Para pendekar langit merah membutuhkan kibat ilmu kanuragan terkuat yang ada di telaga khayangan api untuk membalaskan dendam. Saat ini mereka tau dimana telat telaga itu tapi mereka tidak bisa masuk kesana. Gerbang utama telaga khayangan api disegel oleh segel api abadi dan hanya bisa dibuka oleh energi Banaspati. Saat ini tak ada yang bisa menyerap energi banaspati yang tersegel di 5 penjuru dunia. Guruku sudah memperhatikanmu sejak lama, bahkan saat kau baru terjun kedunia persilatan (Baca Chapter 48). Naga api adalah kunci membangkitkan energi Banaspati dan kau berhasil membangkitkannya saat di Dieng. Saat ini kau akan menjadi incaran seluruh pendekar dari berbagai daratan dunia persilatan karena kau adalah kunci membuka gerbang telaga khayangan api".


"Jadi kaupun mengincarku?". Tanya Sabrang sinis.


"Kau jangan salah paham, aku diutus guruku untuk membantumu".


"Membantuku? apa maksudmu?".


"Apa kau percaya jika yang mencipakan pusakamu pernah datang ke sekteku?".

__ADS_1


"Ken Panca pernah menginjakan kaki di daratan Celebes?".


"Kau pikir dari mana dia mendapatkan ilmu Rogo sukmo untuk memasukan roh Naga api kedalam pedangmu?".


"Jadi ilmu itu berasal dari daratan Celebes?".


Arung mengangguk pelan "Dia mencari jawaban atas mimpinya mengenai suku Iblis petarung sampai di daratan Celebes. Suku kami menerimanya dengan tangan terbuka karena dia sangat baik. Dan kau tau dialah yang pertama menyadari akan kebangkitan pendekar langit merah dan kitab paraton namun dia saat itu tidak terlalu tertarik tentang paraton karena fokus mencari Dieng. Saat ini menjadi sebuah ironi karena ternyata keturunannya menjadi kunci utama tempat yang dulu dianggapnya tidak begitu penting.


Tuan panca sudah menjadi bagian dari suku kami, itulah kenapa guru mengirimku untuk membantumu".


Arung mengeluarkan gulungan yang diambilnya dari saku pakaian Petta.


"Ini adalah petunjuk mengenai letak gua khayangan, yang merupakan pintu masuk ke Telaga itu. Ini tulisan tuan Panca saat dia menganalisa petunjuk petunjuk yang ada di daratan Celebes maupun Hujung tanah. Jika kita bisa lebih dulu menemukannya dan meruntuhkan seperti kau mengubur Dieng maka dunia persilatan akan aman dari ancaman pendekar langit merah ataupun pendekar lainnya yang mengincar tempat itu namun sampai saat ini aku dan semua pendekar dunia persilatan tidak bisa memecahkan petunjuk ini". Arung menunjuk gulungan yang berisi gambar gambar aneh dan beberapa aksara Palawa.


"Paman Wardhana". Gumam Sabrang dalam hati.


"Ada satu orang yang dapat membantu kita, aku akan mengenalkanmu setelah aku pulang dari pertemuan di Sekte Tapak es utara". Jawab Sabrang.


"Tapi ada yang harus kau tau, yang akan kita hadapi ini adalah pendekar yang membuat kitab paraton. Dia telah melihat rahasia dunia dan ilmu pengetahuan di Telaga khayangan api. Aku yakin yang akan kita hadapi bukan hanya adu ilmu kanuragan tingkat tinggi namun juga adu strategi dan kepintaran karena mereka menguasai ilmu pengetahuan telaga khayangan api".


"Percayalah padaku, jika saat ini ada yang bisa mengalahkan ilmu strategi mereka maka Paman Wardhana lah orangnya". Jawab Sabrang mantap.

__ADS_1


"Wardhana?". Arung mencoba mengingat ingat nama itu namun dia yakin belum pernah mendengar namanya. Jika dia adalah ahli strategi harusnya Arung pernah mendengarnya.


"Jika Dieng adalah tiruan Telaga khayangan api maka isi kepala paman Wardhana adalah tiruan ilmu pengetahuan yang ada di telaga itu". Sabrang tersenyum penuh makna.


__ADS_2