
Kehadiran Sabrang benar benar merubah situasi, disaat dia mampu mengacaukan formasi musuh, Wardhana mampu membentuk formasi andalannya dengan cepat.
Strategi Kannaya Wyuha yang pernah dia gunakan di Dieng mampu mendesak mundur Masalembo.
Para pendekar yang berada dibawah komando Arung bergerak sesuai perintah Wardhana. Mereka membentuk lingkaran bersusun yang tak meninggalkan celah sama sekali.
Kunci keberhasilan Kannaya Wyuha terletak pada daya hancur pasukan paling depan dan Arung kali ini melakukan tugasnya dengan baik. Dia seolah tersulut setelah melihat kekuatan mengerikan Sabrang, Arung mengamuk dengan pedangnya.
Walau tak secepat Lingga namun efektivitas serangannya mampu mendesak musuh musuhnya.
Disisi lain Sabrang terus mengamuk, dua ketua sekte besar dari Swarnadwipa mencoba menghadapinya.
Boran, ketua sekte Lintang setalan dan Aryan ketua dari Angin timur terlihat kesulitan mengimbangi Sabrang.
"Siapa pemuda ini sebenarnya?" umpat Boran setelah puluhan serangannya mampu dihindari oleh Sabrang.
Lintang selatan bukan sekte biasa, di tanah Swarnadwipa dia termasuk sekte terkuat bersama Tengkorak merah yang menghilang beberapa waktu lalu.
Pedang pusaka iblis kembarnya seolah tak mampu menghadapi Naga api.
"Apa hanya ini kemampuan kalian?" ucap Sabrang mengejek.
"Bukankah kau terlalu percaya diri anak muda?", ucap Boran kesal sambil memberi tanda pada Aryan untuk menyerang bersamaan.
Boran merasa serangan Sabrang yang tiba tiba membuat mereka tidak siap hingga sedikit terdesak, dia yakin jika dia dan Aryan menghadapinya dengan sungguh sungguh maka mereka bisa mengimbangi Sabrang.
Mereka bergerak bersamaan dari beberapa sisi dan lanngsung menyerang. Pertarungan sengit pun kembali pecah, luapan aura Sabrang dan benturan tenaga dalam mereka membuat para pendekar lainnya terpaksa menjauh. mereka jelas tidak ingin terkena sasaran serangan Sabrang.
Sabrang mulai menggunakan ajian Cakra manggilingan untuk meningkatkan kecepatannya. Bagaimanapun lawannya kali ini adalah ketua sekte besar, jelas bukan hal mudah menghadapi mereka berdua sekaligus.
Boran terus menyerang dari sisi kiri saat Sabrang terlihat melambat, dia merasa inilah saatnya dia mengalahkannya.
Boran tidak mengetahui jika Sabrang sengaja memperlambat gerakannya agar Cakra manggilingan menyerap energi dengan sempurna.
"Sepertinya staminanya mulai habis".gumam Aryan saat melihat Boran mulai bisa menekan Sabrang.
Aryan mengikuti Boran menyerang, setelah selama ini merasa dipermainkan Sabrang, dia merasa kini saatnya melukai Sabrang.
Beberapa dinding es tercipta disekitar Sabrang saat mereka menyerang, dinding itu seolah berputar mengikuti gerakan serangan musuh.
Raut wajah Boran yang sempat tersenyum kini mulai memudar saat dia tak mampu menembus dinding es. Kombinasi serangannya bersama Aryan terus membentur es.
Sabrang menoleh kesekitarnya untuk memastikan tak ada kawan yang berada didekatnya sebelum memusatkan energi banaspati di mata bulannya.
Bersamaan dengan makin bersinarnya kedua bola mata birunya, dinding es yang melindunginya semakin tipis.
Hal ini tidak disiasiakan oleh kedua lawannya, mereka meningkatkan kecepatannya karena merasa Sabrang telah kehabisan tenaga dalam untuk menciptakan dinding es.
Tanpa sepengetahuan mereka, Sabrang memasukkan semua energi keris dalam ruang dan waktunya.
Beberapa saat kemudian dua buah pedang mengarah padanya dengan kecepatan tinggi, Boran dan Arya menyerang dari dua sisi dengan jurus andalannya.
Sabrang merendahkan sedikit tubuhnya untuk memancing mereka mendekat. Saat Boran dan Arya merasa pedangnya akan melukai Sabrang, tiba tiba mereka merasa gerakan tubuhnya semakin melambat seiring dengan kecepatan Sabrang yang hampir tidak terlihat oleh mata mereka.
__ADS_1
Tinju kilat hitam menghantam tubuh mereka dari segela arah membuat mereka terpental mundur.
"Bagaimana dia bisa bergerak secepat ini?" umpat Aryan sambil berusaha memperbaiki kuda kudanya namun belum selesai rasa terkejutnya puluhan energi keris yang entah dari mana munculnya menembus tubuhnya.
Sabrang mengarahkan lengan kiri kearah Aryan untuk menariknya mendekat menggunakan cakra manggilingan.
"Jurus pedang pemusnah raga". Sabrang memutar pedangnya dengan kecepatan tinggi sambil melepaskan aura yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
Tubuh Aryan terbelah jadi dua tanpa bisa menghindar sedikitpun.
Boran yang melihat Aryan tewas seketika mencoba menjauh namun Sabrang taj membiarkannya lepas.
Sabrang memunculkan energi keris disekitar Boran menggunakan energi ruang dan waktunya untuk menghambat gerakannya.
Saat boran berusaha menghindari serangan energi keris, Sabrang bergerak mendekat.
Puluhan murid sekte Lintang selatan mencoba melindungi Boran.
"Jurus Api abadi tingkat 15, Gelombang api Neraka," Sabrang bergerak cepat diantara puluhan pendekar yang menjaganya, setiap langkanya dia membakar belasan pendekar tanpa bisa bergerak sedikitpun.
Boran terus berusaha menjauh sambil menyaksikan Sabrang menghabisi para muridnya semudah membalikkan telapak tangannya.
Satu yang Boran baru sadari disaat terakhir hidupnya sebelum tiba tiba Sabrang muncul dibelakangnya menggunakan jurus ruang dan waktu, Sabrang bukan lawan yang bisa dihadapi bahkan oleh Masalembo sekalipun.
Kecepatan yang dimiliki dan Mata bulan yang bisa membaca semua gerakannya dari awal sangat jauh dari jangkauan ilmu kanuragan apapun.
Boran hanya bisa menyesali keputusannya menantang Sabrang, dia tersenyum kecut sambil melihat pedang Naga api yang menusuk punggungnya dan tembus kedepan.
Semua orang baik lawan maulun kawan menatapnya takjub melihat Sabrang bisa begitu mudahnya membunuh dua ketua yang namanya sangat ditakuti didunia persilatan.
Wardhana yang melihat keadaan sudah bisa dikendalikan sepenuhnya memerintahkan salah satu pendekar api dan angin untuk memberi tanda pasukan Candrakurama menarik Umbara masuk.
"Mulai dari sini pertempuran sesungguhnya dimulai" gumam Wardhana.
***
Sementara pertempuran di luar semakin tak seimbang, kedatangan ratusan pendekar membuat Candrakurama dan Mentari tak bisa berbuat banyak.
Kondisi Mentari tak lebih baik dari Candrakurama, tubuhnya dipenuhi luka sayatan pedang. Ilmu kanuragan salah satu dewa penjaga Masalembo jauh diatas Mentari dan Candrakurama.
Walau mereka berdua sudah menyerang bersamaan menggunakan seluruh kemampuan yang dimiliki namun tak pernah satu jurus pun mampu melukai Umbara.
Pukulan Umbara kembali menghantam tubuh Mentari dengan sangat keras, beruntung perisai es mampu sedikit meredam efek serangan sebelum hancur berkeping keping.
Candrakurama berusaha membantu namun hasilnya sama, mereka berdua terlihat terluka cukup parah.
"Kalian semua akan terkubur ditempat ini", ucap Umbara dingin.
"Perintah dari tuan Wardhana telah turun, kita diperintahkan mundur" bisik salah satu pendekar pada Candrakurama.
"Syukurlah, kita semua akan dibunuhnya jika terus seperti ini," gumam Candrakurama dalam hati.
"Wira, bawa pasukan mundur, kita akan susun ulang rencana dan laporkan pada guru situasi disini".
__ADS_1
Mahawira mengangguk pelan sambil memberi tanda pada pasukannya untuk masuk kedalam danau warna warni.
Saat para pendekar berusaha menyelam dan membuka gerbang menuju sekte Api dan angin, sebuah aura besar lainnya menyelimuti seluruh are hutan itu saat Gendis bersama pasukannya muncul.
"Kau masih belum bisa melewati mereka? kemampuanmu benar benar melemah Umbara" ejek Gendis sambil menatap tajam Mentari.
"Gadis itu sepertinya menarik," Gendis menjilat pedangnya sesaat sebelum dia bergerak menyerang.
"Dasar wanita bodoh" umpat Umbara yang juga ikut menyerang Candrakurama.
Rencana Mahawira untuk menarik mundur pasukannya kacau balau. Ratusan pendekar yang datang bersama Gendis tak membiarkan mereka lari.
Belasan pendekar Api dan Angin meregang nyawa saat mendekati danau itu.
Pasukan aliansi Masalembo menutup akses danau warna warni.
Candrakurama menggeleng pelan melihat Mahawira mulai terdesak, dia ingin membantu namun lawan yang dihadapinya tak membiarkannya. Umbara terus menyerang tubuh Candrakurama ditempat yang sama membuat lukanya semakin parah.
***
Amurti tampak berdiri menatap sebuah kapal yang mendekati sektenya. Dia memang diberi tugas oleh Gendis untuk menunggu rombongan dari sekte Bintang langit yang belum datang.
Puluhan pendekar dari berbagai sekte yang datang lebih dulu ikut menyambut kapal sekte Bintang langit.
"Akhirnya mereka sampai, saatnya kita membantu yang lainnya menghancurkan sekte Api dan angin" ucap Amurti yang merupakan wakil ketua sekte Kelelawar penghisap darah.
Amurti mengernyitkan dahinya saat melihat seorang wanita berdiri diatas dek kapal sambil menggenggam pedang.
"Ketua sekte Bintang langit seorang wanita?" gumamnya heran karena menurut Umbara ketua Bintang langit adalah Birawa, seorang pria setengah baya.
Amurti mendekati kapal yang sudah bersandar dan menundukkan kepalanya.
"Selamat datang di Hujung ta..." belum selesai dia bicara tiba tiba lehernya terasa sangat sakit sesaat sebelum kesadarannya menghilang.
Semua tersentak kaget melihat pendekar wanita itu dengan mudahnya membunuh Amurti.
"Sepertinya aku belum terlambat", ucap Tungga dewi sambil menyarungkan kembali pedangnya.
Sepuluh pendekar Hibata lainnya melesat cepat kendekatinya dan berjajar melindungi ketuanya.
Lingga, Emmy, Mantili, Wulan sari, Suliwa dan Brajamusti tampak menatap dari atas kapal bersama ratusan pendekar dari aliansi aliran putih.
"Bukankah dia terlalu kejam?" sindir Emmy setelah melihat tindakan Tungga dewi yang langsung memenggal kepala Amurti tanpa ampun.
"Kesetiaannya pada seseorang yang membuatnya ingin memastikan semua berjalan sesuai rencana. Sebaiknya kita segera membantunya" ucap Suliwa saat Tungga dewi tanpa basa basi menyerang puluhan pendekar aliansi Masalembo bersama sepuluh pendekar Hibata.
"Emmy, bukankah kau kini memiliki energi Naga api? aku ingin kau membakar mereka semua tanpa sisa" Lingga melesat cepat kearah pertarungan yang sudah dimulai oleh Tungga dewi.
"Pasti, aku tak akan kalah darinya kali ini" ucap Emmy sambil mengikuti Lingga.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Vote Mbang.....
__ADS_1