Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Bantuan dari tanah Jawata II


__ADS_3

Tungga dewi melesat bagaikan angin laut yang tak terlihat namun bisa dirasakan, dalam hitungan detik dia telah menjatuhkan belasa pendekar dengan pedangnya.


Tungga dewi menarik salah satu pendekar untuk melindungi tubuhnya dari serangan musuh.


"Bukankah kalian dari sekte Bintang langit? kenapa kalian berkhianat?" ucap pendekar yang ditariknya tadi.


"Bintang langit telah kuhancurkan, kini giliran kalian," Tungga dewi menarik pedang yang menempel dileher pendekar itu sambil terus bergerak menyerang.


Luapan energi murni dari tubuhnya membuat para pendekar disekitarnya kesulitan bergerak, hal ini memudahkan Tungga dewi untuk membunuh mereka.


Semakin lama gerakan nya semakin cepat, membuat semua lawannya bahkan tak mampu bereaksi terhadap serangannya.


"Dia berkembang dengan sangat cepat, ucap Wulan sari dari atas kapal.


"Energi murni dalam tubuhnya membuat dia cepat beradaptasi dengan jurus apapun, selain rasa setianya pada Sabrang yang menjadi pemicu utama dia bisa memaksimalkan potensinya. Aku pernah berharap dia dapat menyamai bakat ibunya namun melihatnya bertarung seperti itu dia sudah jauh melampaui ibunya. Malwageni akan memiliki seorang Ratu terhebat dalam sejarah mereka", balas Brajamusti kagum.


Namun bukan Tungga dewi saja yang menjadi pusat perhatian Brajamusti yang memang memiliki energi murni. Dia terus menatap seorang gadis yang diselimuti kobaran api merah.


Walau terlihat belum terlalu matang dalam hal penguasaan jurus namun Brajamusti merasa jurus Api abadi milik Sabrang sangat cocok dengan karakter Emmy yang cenderung meledak ledak.


Emmy menarik pedangnya sebelum bergerak maju, kecepatannya terus meningkat saat kobaran api yang menyelimuti tubuhnya semakin membesar.


"Api abadi tingkat II : Tarian api abadi", suhu udara meningkat pesat seiring dengan kecepatan gerakannya.


Lingga melompat menjauh karena tau sebentar lagi akan banyak yang terbakar.


"Bocah itu mengajarkan jurus yang berbahaya pada gadis ini" umpat Lingga.


Tak lama, apa yang ditakutkan Lingga benar benar terjadi. Emmy mengayunkan pedangnya dan membakar semua pendekar yang mencoba mendekat.


Emmy menancapkan pedangnya ditanah saat melihat belasan pendekar menjauh.


"Aku tidak akan kalah darinya," Emmy bergerak sambil menyeret pedangnya sebelum melepaskan energi api dari pedangnya.


"Api abadi tingkat III", sebuah api berbentuk Naga melesat keluar dari pedangnya dan membakar semua yang dilewatinya.


Walau tak sebesar milik Sabrang namun serangan Emmy mampu menciptakan ledakan ledakan yang cukup besar.


Lingga tersenyum kecut, berkat serangan dua wanita yang dekat dengan Sabrang itu dia tampak tak perlu terlalu berkeringat.


"Mereka terlalu terbawa suasana dalam persaingan dan akan membunuh tanpa menyisakan penunjuk jalan" ucap Lingga kesal sambil bergerak kearah salah satu pendekar yang hampir terkena serangan Tungga dewi.


Lingga menarik pendekar itu dan melepaskan tapak peregang sukma nya untuk melumpuhkan pendekar itu. Dia dengan cepat mengalungkan pedangnya dileher pemuda itu.


"Katakan kemana mereka pergi?" ancam Lingga.


"Danau warna warni didalam hutan dalam Hujung tanah" jawab pendekar itu terbata bata.


"Kau ingin menunjukkan jalan padaku atau aku sendiri yang mencarinya?".


"Aku akan mengantarkan kalian," jawab pendekar itu cepat karena jika pilihannya yang kedua maka dia yakin Lingga akan langsung membunuhnya.


Setelah mereka menghabisi pasukan alisansi Masalembo, mereka langsung bergerak cepat menuju danau warna warni karena takut terlambat.


Emmy yang memang memiliki kecerdasan mencoba menerapkan strategi yang diingatnya saat bertarung bersama Wardhana. Dia membagi menjadi tiga tim untuk menghindari penyergapan selama perjalanan, selain memang akan lebih mudah bergerak dalam kelompok kecil.


"Malwageni tak butuh ahli siasat karena memiliki sosok sehebat paman Wardhana," ucap Tungga dewi sedikit kesal.

__ADS_1


"Namun Yang mulia membutuhkan penasehat pribadi karena dia dikelilingi wanita yang hanya tau membunuh" ejek Emmy sambil bergerak pergi.


"Rubah betina itu akan ku bunuh suatu saat" umpat Tungga dewi sambil memimpin pasukanya pergi. Dia bergerak sebagai tim pendukung untuk melindungi tim utama yang dipimpin Lingga.


***


Sementara itu pertempuran di danau warna warni semakin sengit, setelah Wardhana mendapat laporan jika tim penjaga terkepung dan mengalami kesulitan akibat munculnya ratusan pendekar dibawah pimpinan Gendis, dia merubah sedikit rencananya.


Mereka tak lagi menunggu didalam namun bergerak keluar. Keputusan Wardhana kali ini sedikit terburu buru karena dia merasa ada ahli siasat yang bergerak dibelakang Masalembo.


Entah kenapa Wardhana merasa beberapa rencananya seperti terbaca oleh mereka, hal inilah yang membuatnya bingung.


Setelah membuat simulasi rencana cadangan dalam kepalanya, dia memutuskan mengikuti rencana musuh karena ingin melihat siapa yang berada dibalik rencana yang hampir sempurna milik Masalembo.


Wardhana sebenarnya sudah merasa ada yang janggal setelah pertarungan di Swarnadwipa karena dia merasa Umbara seperti mengetahui kebiasaan Wardhana, mulai dari penyerangan di suku Hutan dalam di danau embun sampai keputusan Umbara menampakkan diri dihadapannya saat dia berdiri di dek kapal.


Wardhana merasa semua kejadian itu dirangkai oleh seseorang untuk membuatnya bimbang.


Penyerangan Malwageni puluhan tahun lalu sangat membekas di kepala Wardhana ketika salah satu pendekar Iblis hitam hampir membunuhnya. Rasa takut yang diciptakan Iblis hitam membuatnya salah mengambil keputusan saat itu.


Kehebatan Iblis hitam saat itu membuatnya ragu mengambil keputusan karena takut membahayakan Arya dwipa, itulah yang membuat Malwageni saat itu hancur tanpa perlawanan karena rencana yang dia buat berantakan dan memiliki banyak celah.


Wardhana kembali teringat pesan Arya dwipa sebelum menyuruhnya pergi.


"Percaya pada kemampuanmu jika kau ingin menguasai dunia, kuharap lain kali kau membantu pangeran tanpa rasa ragu akan kemampuanmu".


Dan kali ini sisi lemah Wardhana yang terlalu setia pada Rajanya dan takut membuat kesalahan yang dapat membahayakan Sabrang seperti kembali digunakan Masalembo dengan beberapa kejadian di Swarnadwipa. Tujuannya jelas agar Wardhana mengulangi kesalahannya.


Namun kedewasaan yang dia dapatkan seiring dengan bertarung bersama Sabrang dan pengamatannya yang semakin tajam sepertinya diluar perkiraan Masalembo.


Wardhana kini memutuskan untuk mengikuti permainan sosok misterius dibalik Masalembo untuk membuka topengnya dan dia bertekad tak akan ada kesalahan yang diakibatkan keraguannya.


"Arung pertahankan formasi dan serang dari dua sisi" teriak Wardhana saat melihat ratusan pendekar aliansi Masalembo.


Tangannya memberi tanda untuk memecah menjadi beberapa tim yang sudah dia jelaskan diawal.


Wardhana merubah siasatnya menjadi formasi Wukir Sagara Wyuha (strategi perang dengan susunan pasukan berbentuk bukit dan samudera).


Wardhana memberi tanda pada pasukan Api dan angin untuk bergerak bagai ombak disamudra yang terus menekan dari segala arah dan menempatkan Arung, Krisna dan beberapa tetua sekte sebagai penyerang cepat yang bertugas memecah konsentrasi pendekar aliansi masalembo saat gelombang ombak tim utama terus menekan.


Keadaan sedikit berubah walau terlihat pasukannya masih kalah jumlah namun Wardhana tak punya pilihan lain dan harus memaksimalkan yang ada.


Sabrang yang muncul tiba tiba bergerak menyambar Mentari yang sudah terluka cukup parah, dia memutar tubuhnya dan menangkis pedang milik Gendis yang hampir mencabut nyawa Mentari dengan tangan yang sudah diselimuti bongkahan es, Sabrang menarik Mentari masuk ruang dan waktunya sebelum lengan kirinya dengan cepat melepaskan tapak peregang sukma untuk memukul mundur Gendis. Gerakan cepatnya membuat gendis terkejut dan tak siap menerima serangan tiba tiba itu.


Gendis berusaha menghindar sambil membentuk pelindung tenaga dalam namun walau menggunakan separuh tenaga dalamnya untuk mengurangi efek serangan Sabrang dia masih terdorong beberapa langkah.


"Trah Dwipa?" ucap Gendis terkejut.


Gendis dapat merasakan aura hitam khas Dwipa dalam tubuh Sabrang.


Sabrang menatap Gendis sambil melepaskan aura dari tubuhnya yang membuat semua orang merasa tertekan. Dia mengeluarkan Mentari ditempat yang aman dan meminta Mahawira memeriksanya.


"Hamba baik baik saja Yang mulia" jawab Mentari sambil mengatur nafasnya.


Sabrang mengangguk pelan "Pulihkan tenaga dalam mu terlebih dahulu, setelah itu bantu paman Wardhana".


***

__ADS_1


Wardhana terlihat melihat kesekelilingnya mencari sesuatu.


"Aku yakin kau ada disini dan bersembunyi disuatu tempat" gumam Wardhana sambil terus mencari keberadaan sosok yang menurut Wardhana sebagai ahli siasat Masalembo.


Pandangan matanya berhenti disebuah pohon rindang tak jauh dari area pertempuran. Sesosok tubuh tampak memperhatikan pertempuran dari atas pohon.


"Di Sana kau rupanya", Wardhana bergerak memutar dan mendekati sosok itu diam diam. Dia melompat keatas namun sebuah pedang hampir mengenai tubuhnya saat sosok itu tiba tiba muncul dan menyerangnya.


Emmy muncul tepat waktu dan mematahkan serangan pria misterius itu dengan jurus api abadinya.


Serangan cepatnya dan kobaran api ditubuh Emmy membuat pria misterius itu mundur beberapa langkah.


"Anda baik baik saja tuan?", tanya Emmy khawatir.


Wardhana diam mematung, dia bukan tidak mendengar pertanyaan Emmy namun dia terlalu terkejut untuk menjawab setelah melihat sosok pria misterius itu.


"Anda?" ucap Wardhana terbata bata sambil menatap tajam pria itu, Wardhana tidak menyangka pria dihadapannya bekerja untuk Masalembo.


Pria itu tersenyum sambil bersiap menyerang.


"Anda mengenal dia?" tanya Emmy heran.


Wardhana hanya mengangguk pelan dengan wajah pucat.


***


Sabrang yang telah memahami situasi berniat bergerak membantu Candarkurama yang menjadi bulan bulanan Umbara. Umbara terlihat mempermainkan Candrakurama sebelum membunuhnya.


Saat dia mulai bergerak, Gendis dengan cepat menghadangnya dengan serangan serangan cepatnya.


Bongkahan es diciptakan Sabrang untuk menangkis serangan cepat itu sambil mencari celah, namun dia tersentak kaget saat melihat seorang wanita muncul dari ruang dan waktu.


Wanita itu langsung menyerang Gendis dengan pedangnya, terjadi pertarungan beberapa saat sebelum keduanya saling mengambil jarak.


Mereka saling mengamati satu sama lain.


"Tak ku sangka ada pendekar wanita sehebat dirimu", ucap Gendis bersemangat.


Tungga dewi hanya terdiam sambil mengamati situasi, tak lama Brajamusti dan ratusan pasukannya muncul membantu.


"Kalian datang tepat waktu" ucap Sabrang sambil tersenyum.


"Maaf aku sedikit terlambat Yang mulia" Tungga dewi menundukkan kepalanya.


Sabrang mengangguk pelan.


"Kau bisa menghadapinya? aku akan mengurus Umbara" tanya Sabrang pelan.


"Akan ku pastikan dia tidak mengganggu pertarungan anda Yang mulia" balas Tungga dewi.


"Baik, berhati hatilah" ucap Sabrang sebelum bergerak kearah Umbara.


Sementara Wardhana masih tak percaya dengan sosok dihadapannya, dia benar benar tidak menyangka harus berhadapan dengannya dalam sebuah pertempuran terlebih sebagai musuh.


"Anda sudah terlalu tersesat" ucap Wardhana geram.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Mbang tangan gw ampe keriting pas nulis chapter ini dan tanpa sadar dua Chapter gw gabung jadi satu...


Vote jika merasa PNA semakin menarik dan sampai jumpa besok lagi.....


__ADS_2