Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Mencari Jalan Keluar III


__ADS_3

"Tempat apa ini?". Ciha mengernyitkan dahinya memandang seluruh ruangan di dalam celah itu yang penuh dengan gambar dan tulisan aneh.


"Sepertinya beberapa guratan ini bekas sabetan pedang. Ada yang pernah berlatih ilmu pedang disini". Sabrang menyentuh beberapa guratan yang ada di dinding gua.


Sabrang mengernyitkan dahinya, dengan guratan yang cukup dalam di dinding batu dia yakin membutuhkan tenaga dalam yang sangat besar untuk membuatnya.


Sabrang mengeluarkan pedangnya dan tiba tiba mengayunkan pedangnya sekuat tenaga ke dinding batu. Terjadi percikan api saat pedang Naga api membentur dinding gua.


"Apa yang kau lakukan". Ciha berteriak pada Sabrang.


"Bahkan pedangku hanya mampu membuat guratan kecil". Sabrang menggeleng pelan. Dia benar benar penasaran sekuat apa orang yang membuat guratan itu.


"Siapa yang berlatih ilmu pedang disini? bukankah Bintang langit melarang penggunaan ilmu kanuragan?". Ciha menggelengkan kepalanya, masih berusaha memahami tulisan tulisan kuno di dinding gua.


"Siapapun orangnya, ini sudah sangat lama sekali. Kau lihat lumut yang terbentuk di guratan ini ku rasa sudah ratusan tahun guratan ini dibuat".


"Ini seperti aksara Palawa". Ciha mencoba membaca beberapa kata yang tertulis di dinding.


"Aksara palawa?". Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Aksara palawa digunakan oleh para leluhur kita ribuan tahun lalu. Konon Tuan Ken panca menemukan Dieng karena mengikuti petunjuk disebuah batu direruntuhan kuno yang ditulis menggunakan aksara Palawa".


"Kenapa setiap hal aneh selalu berhubungan dengan tempat itu". Sabrang menggelengkan kepalanya.


"Diamlah sebentar, aku sedang mencoba membacanya".


"Kau bisa membacanya?".


"Aku sangat tertarik dengan naskah naskah kuno seperti ini, kau jangan meremehkan kemampuanku".


"Untuk pemuda sepertimu hobimu sangat aneh". Sabrang tertawa mengejek.


"Aku jauh lebih tua dari kedua orang tuamu".


Sabrang mengernyitkan dahinya, tenaga dalam memang bisa membuat seseorang terlihat muda namun jika Ciha lebih tua dari kedua orang tuanya itu tidak mungkin. Belum pernah dia mendengar ada ilmu kanuragan yang dapat menunda penuaan seekstrim Ciha.


"Berapa umurmu?".


"Alu sudah lupa, seingatku sekitar 300 tahun". Ciha berkata pelan sambil terus mencoba membaca tulisan di dinding gua.


Sabrang hampir melompat saking terkejut mendengar jawaban Ciha.


"300 tahun?".


"Tidak ada yang aneh bagi Bintang langit bahkan ketua Birawa jauh lebih tua dariku". Ucap Ciha santai.


"Bagaimana bisa kalian hidup selama itu?". Sabrang menggelengkan kepalanya.


"Kau akan mendapatkan jawabannya jika berhasil masuk Dieng".

__ADS_1


"Bagaimana kau mengetahui jika tujuanku adalah Dieng?". Sabrang semakin penasaran dengan pemuda dihadapannya itu.


"Suatu saat kau akan mengetahuinya jika kita berhasil keluar dari lembah ini". Ciha tersenyum penuh makna.


"Tunggu sebentar aku bacakan beberapa kata yang berhasil kupahami". Ciha membacakan beberapa kata dengan terbata bata.


"(Membuka gerbang itu adalah sebuah kesalahan terbesarku). Bagian ini aku belum mengerti, tulisannya sedikit kabur karena tempat ini lembab. Namun yang bagian ini.... (Karena tempat itu aku dan muridku gelap mata dan menjadi Iblis. Semua karena tempat itu)".


Ciha kembali mencoba mengeja beberapa tulisan di dinding gua.


"Gambar gambar aneh ini sepertinya sebuah ilmu kanuragan. (Jika kau menemukan tempat ini itu artinya kita berjodoh. Gunakan dinding ini jika iblis bangkit)".


Ciha mengernyitkan dahinya "Gunakan dinding ini?. Mungkin maksud dari (Gunakan dinding ini) adalah gambar yang ada didinding ini. Siapapun yang menulis ini sepertinya dia mempersiapkan sesuatu jika iblis bangkit".


"Mempersiapkan apa? dan Iblis apa?". Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Aku tidak tau karena tulisan selanjutnya telah rusak. Yang pasti apa yang tergambar di dinding inilah yang membuat guratan pedang itu". Ciha menunjuk guratan di dinding.


"Siapapun yang menulis ini dia memperingatkan kita akan bangkitnya sesuatu kelak. Kau harus mempelajarinya untuk menghentikan kebangkitan Iblis". Raut wajah Ciha tiba tiba berubah. Aksara Palawa adalah aksara kuno yang hanya dikuasai oleh orang orang jaman dulu. Tidak mungkin orang yang menulis pesan ini hanya iseng, dia benar benar memperingatkan siapapun yang membacanya akan bahaya yang sangat besar. Ciha kemudian mengaitkan iblis yang tertulis di dinding dengan Lembah siluman.


"Hah? Kenapa harus aku?". Sabrang protes karena Ciha seenaknya menunjuknya.


"Pertama kau lihat tulisan ini (Jika kau menemukan tempat ini artinya kita berjodoh). Kau yang menemukan tempat ini artinya kau berjodoh dengan ilmu ini. Yang kedua aku tidak mungkin mempelajarinya karena sekteku melarang penggunaan ilmu kanuragan". Ciha terus meyakinkan Sabrang untuk mempelajarinya.


"Batu ini yang menemukannya". Sabrang mengambil batu yang dilemparnya tadi dari pakaiannya.


"Itu sama saja, sebaiknya kau cepat mempelajarinya sebelum kita keluar dari sini".


"Sekte kami terikat perjanjian dengan Naga api ratusan tahun lalu". Ciha berkata pelan.


Sabrang menghentikan langkahnya setelah mendengar ucapan Ciha.


"Perjanjian?".


Ciha menjelaskan perjanjian antara Sekte bintang langit ratusan tahun lalu termasuk janji Naga api untuk melindungi sekte Bintang langit pada Sabrang secara detail.


"Aku tidak tau ilmu apa yang dipelajari oleh tuan Daniswara namun aku melihat ilmu itu sangat mengerikan. Aku mohon padamu bantulah kami menghadapi masalah ini maka sesuai perjanjian aku akan mengantarmu ke Dieng. Sekte kami melarang penggunaan ilmu kanuragan dan jika benar tuan Daniswara diam diam mempelajari ilmu kanuragan maka kami akan dibunuh dengan mudah.


Aku pernah mendengar jika tuan panca sangat menyesal telah menemukan jalan ke Dieng, itulah kenapa dia berusaha sekuat tenaga menyembunyikan tempat itu. Jika kita tidak menghentikan Daniswara akan sangat berbahaya jika dia berhasil masuk Dieng".


Sabrang menggeleng pelan sambil menatap Ciha "Kau sangat menyusahkan, ku harap kita tidak terlambat naik keatas".


Wajah Ciha kembali bersemangat "Aku akan membantumu menerjemahkan beberapa tulisan di dekat gambar gambar itu". Ciha berjalan cepat menuju gambar di dinding dan mulai membacanya.


"Siapa sebenarnya yang menulis ini". Sabrang terus memperhatikan beberapa gerakan yang tergambar di dinding kemudian mencabut pedang dari sarungnya dan mulai mengikuti gerakannya.


"Kau merasakannya Anom?". Naga api berbicara pada Anom.


Anom mengangguk "Walaupun samar samar aku merasakan energi Ken Panca yang tertinggal di gua ini".

__ADS_1


"Disini tertulis (Penggabungan dua energi akan menghasilkan kekuatan besar. Musnahkan raga lenyapkan panca geni.........)". Ciha berhenti sejenak sambil berfikir.


"Apa maksud kata kata ini". Ciha terlihat menggosok beberapa tulisan yang sudah rusak terkena udara lembab gua.


"Ini seperti jurus api abadi, di beberapa gerakan terlihat hampir sama namun aku yakin ini bukan jurus api abadi". Sabrang kembali memperagakan jurus api abadinya, memang terlihat perbedaan antara jurusnya dengan gerakan yang ada didinding.


"Ahhhh, semakin aku berfikir kepalaku semakin sakit, aku akan beristirahat sebentar". Sabrang duduk bersila dan memejamkan matanya.


Menurutmu Ilmu Pancageni?". Naga api tiba tiba bicara dipikiran Sabrang.


Anom menggeleng pelan "Ilmu pancageni bukan ilmu pedang, Pancageni adalah ilmu tenaga dalam tertinggi yang diciptakan Ken Panca. Kehebatan Panca geni adalah bisa digunakan dalam ilmu apapun termasuk ilmu pedang.


Gerakan yang diperagakan anak ini murni ilmu pedang". Anom memperhatikan setiap gerakan yang diperlihatkan Sabrang saat mengikuti gambar di dinding.


"Lalu ilmu apa yang digambarkan di dinding gua itu". Sabrang bertanya pelan.


"Aku tidak tau namun yang pasti Ken Panca yang menciptakannya".


"Ah sial, aku masih tidak mengerti maksud kata kata ini, ada beberapa kata yang hancur ". Ciha menendang sebuah batu dihadapannya dengan kesal.


Ciha menjatuhkan tubuhnya ketanah saking kesalnya. Dia menutup matanya sesaat sambil terus berfikir.


Saat dia membuka matanya dia melihat sebuah gambar pedang dilangit gua. Ciha mengernyitkan dahinya dan menajamkan pandangannya, dia merasa pernah melihat pedang itu. Ciha menoleh kearah Sabrang yang sedang bermeditasi dan menatap pedang yang ada dipunggung Sabrang.


"Pedang Naga api". Ciha setengah berteriak membuat Sabrang membuka matanya.


"Bisakah kau pelankan suaramu? aku sedang bermeditasi".


Ciha tersenyum canggung "Maaf, aku terlalu semangat. Sepertinya aku tau kata kata dari tulisan yang rusak itu". Ciha berjalan cepat kearah dinding gua.


"Kabar yang kudengar tentang kepintaran yang dimiliki sekte bintang langit sepertinya memang benar". Sabrang tersenyum kecil sebelum kembali melanjutkan mesitasinya.


***


"Bagaimana kau dengan mudahnya mempercayai orang itu". Mentari mencoba mengejar Lingga yang berjalan cepat didepannya.


"Aku bukan mempercayainya namun kita harus mundur sebentar untuk menyusun rencana". Lingga terus berjalan tanpa menoleh kearah Mentari. Raut wajahnya benar benar buruk.


"Apa maksudmu?". Mentari mengernyitkan dahinya.


"Sekilas aku tadi merasakan tenaga dalam Panca geni dari tubuh Daniswara. Tak kusangka jurus kuno itu masih ada didunia persilatan. Kondisi tubuh ku belum begitu pulih akibat racun mu akan sangat merepotkan melawannya dengan kondisi tubuhku saat ini".


"Lalu apa rencanamu?".


"Aku perlu memulihkan kondisi tubuhku beberapa hari ini, setelah itu aku akan mencoba menyusup ke ruangan itu untuk mencari jalan masuk ke lembah itu. Sementara itu aku ingin kau menemui Astaguna dan mempelajari Segel bayangan".


"Segel bayangan?".


"Astaguna adalah ketua kelompok lintang gubuk sekaligus pengguna segel bayangan. Orang yang menyerang kita saat itu menggunakan segel bayangan untuk menghentikan bocah itu namun bukan Astaguna pelakunya, ada orang lain yang menguasai jurus itu. Aku ingin kau mempelajarinya untuk menghadapi kemungkinan mereka menggunakan segel bayangan".

__ADS_1


Mentari terlihat mengangguk, kedua tangannya mengepal menahan amarah.


"Aku akan membalaskan dendam tuan muda". Gumam Mentari dalam hati.


__ADS_2