Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Sabrang Turun Tahta


__ADS_3

Suasana Aula tempur Malwageni pagi itu terlihat sibuk, puluhan prajurit diperintahkan mengeluarkan semua senjata dari gudang senjata.


Mereka tampak bingung dengan perintah tiba tiba itu, tak ada yang tau maksud dari mengeluarkan semua senjata dari gudang penyimpanan.


Sementara itu ratusan prajurit dari resimen Api dan Angin selatan mulai berkumpul didepan aula tempur.


Lembu sora dan Wijaya datang lebih dulu, mereka langsung meminta semua prajurit berjajar rapih. Beberapa prajurit dibiarkan diluar barisan untuk menyusun tumpukan senjata mulai dari pedang, tombak sampai busur panah.


Tak lama Wardhana muncul bersama Arung dan Paksi, mereka tampak mengenakan jubah perang khas Malwageni.


Ratusan prajurit yang mulai mengerti situasinya berteriak menyebut nama Malwageni.


Wardhana hanya melambaikan tangannya sebelum masuk kedalam aula tempur diikuti yang lainnya.


"Duduklah," ucap Wardhana pelan, dia membuka gulungan yang ada dimeja dan melingkari beberapa titik yang ada didekat gunung padang.


"Aku akan mengambil dua jalur ini untuk mengecoh mereka," Wardhana membuka pertemuan.


"Tuan patih bukankah itu jalur menuju Lembah penghisap sukma? anda yakin kita akan melewati tempat itu? selain jalur yang sangat sulit, tempat itu terkenal dengan misteri yang menyelimutinya," tanya Lembu Sora bingung.


"Dengarkan aku, saat ini suka tidak suka kita telah tertinggal satu langkah dari mereka. Gunung padang adalah wilayah kekuasaan Saung Galah dan kali ini mereka lebih menguasai medan pertempuran, akan sulit bagi kita mengimbangi mereka kali ini jika tidak memiliki solusi lain.


Jika aku adalah Jaladara, aku akan berfikir seperti yang dikatakan Lembu sora, aku yakin kalian tidak akan mau melewati tempat itu. Mereka pasti berfikir hal yang sama dengan kita, oleh karena itu mereka akan menempatkan pasukannya di jalur yang kemungkinan besar kita lewati untuk menyergap kita. Seperti yang aku katakan kita akan langsung hancur jika bergerak melalui jalur ini.


Selain itu aku yakin Guntur Api juga akan melewati jalur ini karena jika mereka melalui jalur lembah penghisap sukma itu akan memutar dan memakan waktu," jawab Wardhana.


"Jadi kita akan membiarkan mereka saling bertempur terlebih dahulu?" tanya Wijaya.


"Benar kakang, seperti yang aku katakan kemarin, aku ingin memanfaatkan Saung Galah untuk mengacaukan situasi dan mengambil keuntungan dari kekacauan yang terjadi.


Aku ingin kakang Wijaya dan Arung bergerak senyap di belakang Guntur api dan menunggu mereka bertemu. Ketika situasi sudah memanas, muncullah dan serang Saung Galah, dengan begitu mereka akan menganggap Guntur Api adalah bagian dari Malwageni.


Saat mereka mulai bertempur, mundur dan bergerak memutar untuk menuju titik ini. Jika jalur utama ini ditarik lurus maka akan bertemu dengan jalur dari Lembah Penghisap sukma, kita akan bertemu di titik itu untuk memulai rencana selanjutnya. Aku tidak peduli siapa yang akan menang diantara mereka tapi satu yang pasti, siapapun pemenangnya kekuatan mereka akan melemah," ucap Wardhana pelan.


Wijaya terlihat mengangguk, dia terus mengingat jalur yang ditunjukkan Wardhana untuk melarikan diri.


"Kalian tak perlu khawatir, aku akan menempatkan pasukan pemanah di beberapa tempat andai rencanaku gagal, mereka akan melindungi kalian dan menunjukkan jalan untuk melarikan diri," ucap Wardhana melanjutkan.


"Bagaimana anda yakin Guntur api akan melewati tempat ini, bagaimana jika mereka juga berfikir hal yang sama dengan anda untuk bergerak senyap?" tanya Wijaya.


"Baca gerakan lawan maka kau akan memenangkan pertarungan, itulah kunci dalam pertempuran. Sifat manusia akan cenderung berubah dan tidak memperhatikan hal hal kecil saat memiliki kekuatan besar, rasa percaya diri itulah sebenarnya sisi lemah mereka.


Mereka menganggap tak akan ada yang mampu menghentikan mereka dengan apa yang mereka miliki jadi untuk apa mereka bersembunyi? itulah yang akan kita incar kali ini," ucap Wardhana.


"Baik tuan," balas Wijaya pelan.


"Berhati hatilah karena pertempuran kali ini akan berbeda dengan sebelumnya, musuh kita bukan hanya Saung Galah dan Guntur api tapi juga memastikan Pagebluk Lampor tidak keluar atau Nuswantoro akan musnah.


Mungkin sebagian sekte di Nuswantoro adalah musuh kita tapi bukan itu intinya. Suka tidak suka kita harus tetap menyelamatkan dunia persilatan terlepas dari semua masalah dunia persilatan. Ini bukan hanya soal permusuhan tapi menyangkut nyawa orang banyak.


Aku telah meminta tetua Wulan dan nyonya selir untuk memberitahukan masalah Pagebluk Lampor pada seluruh sekte yang kita kenal baik kawan maupun lawan. Sekarang kita hanya perlu menunggu hasil yang dibawa mereka. Jika mereka mau bergabung maka akan banyak keuntungan yang kita dapatkan selain tambahan pasukan melawan mereka.


Namun jika tak ada satupun yang ingin bergabung itu tidak mengubah apapun, kita akan tetap mencegah Pagebluk Lampor keluar dan melindungi Nuswantoro," ucap Wardhana tegas.

__ADS_1


Semua terdiam setelah mendengar ucapan Wardhana, mereka sadar jika pertempuran kali ini tidak hanya demi melindungi Malwageni tapi juga demi Nuswantoro. Apa yang dikatakan Wardhana benar, ini bukan lagi soal permusuhan tapi menyangkut banyak nyawa.


"Kau melewatkan satu hal kecil Wardana, tempatkan pasukan di sini," ucap Paksi tiba tiba.


"Itu? puncak Gunung Padang?" Wardhana tampak berfikir sejenak.


"Apa kau sudah paham sekarang?"


Wardhana mengangguk pelan sambil tersenyum lega, dia hampir saja melupakan hal penting dalam pertempuran kali ini.


"Terima kasih guru, aku akan meminta Lingga memimpin Hibata dan Cakra Tumapel untuk berada di puncak Gunung Padang," ucap Wardhana.


"Apa kau akan memimpin pasukan dari sisi satunya?" tanya Paksi pelan.


"Tidak, kali ini Yang mulia akan memimpin langsung bersama Ibu Ratu," jawab Wardhana pelan.


"Yang mulia memimpin langsung? apakah itu artinya..?" Paksi tak melanjutkan ucapannya.


Wardhana memejamkan matanya sesaat, dia seolah masih menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih penting dari perang kali ini.


"Benar guru, sebenarnya ada satu hal yang ingin aku katakan pada kalian. Setelah perang usai, Yang mulia akan turun tahta," ucap Wardhana pelan.


Semua yang mendengar ucapan Wardhana tersentak kaget bagai disambar petir, bagaimana mungkin raja yang masih muda dan saat ini adalah pendekar terkuat itu mundur tiba tiba.


"Anda sedang bercanda bukan?" tanya Lembu sora dengan suara bergetar.


"Sayangnya tidak, itulah yang dikatakan Yang mulia padaku. Untuk beberapa hal, Yang mulia akan menghilang dari dunia persilatan setelah pertempuran, beliau akan mempersiapkan sesuatu. Selama Yang mulia menghilang, tahta Malwageni sementara akan dipegang gusti ratu Tungga dewi sampai beliau kembali. Tolong jangan sampai kabar ini tersebar diantara prajurit untuk sementara waktu, semangat tempur mereka bisa menurun," jawab Wardhana.


"Jadi kabar tentang terbunuhnya empat pemimpin dunia di ruang dimensi itu benar?" tanya Paksi tak percaya.


Proses transisi kekuasaan dari Yang mulia ke Gusti ratu Tungga Dewi jelas akan menggegerkan dunia persilatan maupun kerajaan sahabat, aku ingin guru membatu gusti ratu memimpin Malwageni. Aku akan tetap berada di posisi Mahapatih tapi mungkin sebagian pikiranku akan terfokus pada masalah ini," jawab Wardhana.


***


Sabrang melangkah pelan menuju paviliun ratu, wajahnya tampak datar seolah sedang memikirkan sesuatu. Dia menarik nafas panjang seolah sedang mengumpulkan keberaniannya untuk bertemu ibunya.


Langkahnya terhenti di depan pintu kamar, dia terlihat mengepalkan tangannya sebelum mengetuk pintu.


"Ibu," ucap Sabrang pelan.


"Masuklah, apa seorang raja perlu meminta izin bertemu ibunya?" suara Sekar pitaloka terdengar dari dalam.


Sabrang tersenyum kecil, dia membuka pintu perlahan sebelum melihat ibunya sedang bersama Mentari.


"Tari?" Sabrang tampak terkejut saat melihat Mentari.


"Yang mulia," Mentari bangkit dari duduknya dan memberi hormat.


"Apa yang membuatmu ada di sini?" tanya Sabrang penasaran.


"Dia membantumu mengatakan hal yang tidak bisa kau katakan," jawab Sekar pelan.


Sabrang terdiam sesaat sebelum berjalan mendekat.

__ADS_1


"Jadi Tari sudah mengatakannya pada ibu," ucap Sabrang pelan.


"Maafkan hamba Yang mulia, anda seperti takut untuk bicara dengan ibu ratu," jawab Mentari.


"Tak perlu minta maaf, harusnya aku yang berima kasih padamu Tari," ucap Sabrang pelan.


"Jadi kau benar benar akan mundur sementara dari posisi raja?" tanya Sekar Pitaloka.


"Benar ibu, mohon maafkan aku, ada hal penting yang ingin aku pastikan," jawab Sabrang.


"Apa harus turun tahta? sampai saat ini kau masih bisa bergerak walau menjabat sebagai raja," balas Sekar Pitaloka.


"Masalah kali ini akan sedikit berbeda ibu, aku harus bergerak sendiri untuk memudahkan penyelidikan ku. Selain itu sudah saatnya Malwageni menuju kejayaannya.


Aku memutuskan mengangkat Dewi sementara waktu untuk menggantikanku, kuharap Ibu dan Tari mau menjaganya. Aku akan datang berkunjung saat purnama mencapai puncaknya," ucap Sabrang pelan.


"Apa ini menyangkut ruang dimensi?" tanya Sekar pelan.


Sabrang mengangguk pelan, "Apa ibu percaya jika ruang dimensi bisa rusak?"


"Aku bukan hanya percaya tapi sejak awal aku melarang ayahmu membangkitkan mata bulan. Ruang dimensi sebenarnya sama dengan dunia ini, yang berbeda hanya letaknya.


Sama seperti dunia nyata, ruang dimensi bisa rusak jika terus digunakan. Berbeda dengan dunia ini, kita tidak tau apa yang ada di dimensi ruang dan waktu. Ibu mulai menyadarinya saat meneliti ruang dimensi bersama ayahmu, aura aneh dan sobekan sobekan yang ada di dinding dimensi saat ayahmu menarik ibu masuk kedalam ruang dimensinya.


Dinding dimensi mulai rapuh, aura pelindung dinding itu perlahan menghilang seiring dengan banyaknya orang yang menguasai jurus itu. Satu yang ibu takutkan adalah apa fungsi dinding pelindung itu. Apakah hanya sebagai pelindung biasa atau ada sesuatu yang berusaha mereka segel dengan dinding itu? "


"Jadi ayah juga menguasai jurus ruang dan waktu?" tanya Sabrang terkejut.


"Benar, namun ayahmu memutuskan untuk tidak menggunakannya kembali setelah mengetahui dinding itu mulai rapuh. Jika memang apa yang ibu khawatirkan benar, kita harus memastikan dinding itu tersegel selamanya," jawab Sekar Pitaloka.


"Sebenarnya saat Ciha menyegel tempat itu, dia melihat para pemimpin dunia dibunuh oleh orang misterius di ruang dimensi. Apa mungkin dinding dimensi sudah hancur?"


"Para pemimpin dunia dibunuh? apa kau sedang bercanda?" tanya Sekar Pitaloka tak percaya.


"Itu yang dikatakan Ciha bu, dan dia keluar dari ruang dan waktu dalam keadaan terluka parah dengan sabetan pedang hampir di sekujur tubuhnya," jawab Sabrang.


"Sabetan pedang di sekujur tubuh?" Sekar terlihat mengambil sebuah kitab dari dalam sakunya.


"Ini adalah kitab Sabdo Loji yang ibu temukan di sebuah makam kuno saat aku dan ayahmu menyelidiki tentang Guntur api. Kitab ini sepertinya jauh lebih tua dari Gropak waton sekalipun," Sekar Pitaloka membuka kitab itu perlahan dan berhenti disalah satu halaman.


"Kilatan pedang cahaya akan menandakan munculnya Sabdo Loji, ratusan sabetan pedang menandakan dimulainya penghakiman. Seluruh tubuh akan terasa perih saat kilatan cahaya membentuk luka disekujur tubuh. Hujan darah dimalam purnama akan menjadi awal kehancuran dunia persilatan, alam akan menghukum semuanya tampa terkecuali. Cahaya akan datang menghentikan kekacauan dengan kekuatannya"


"Apa mungkin kitab ini berhubungan dengan rusaknya ruang dimensi? atau bahkan kitab Sabdo Loji adalah pengingat akan rusaknya ruang dimensi?" tanya Sekar Pitaloka pelan.


"Sepertinya kita harus memanggil paman Wardhana bu," ucap Sabrang cepat.


"Jangan nak, untuk sementara kita harus merahasiakan terlebih dahulu masalah ini pada Wardhana. Pertempuran besok juga jauh lebih penting dari masalah ini karena menyangkut nyawa orang banyak.


Kita akan menyelesaikan masalah Pagebluk Lampor terlebih dahulu dan memastikan Guntur Api hancur, setelah itu baru membahas Kitab Sabdo Loji.


Sepertinya untuk sementara waktu ruang dimensi itu akan aman jika kalian menutupnya dengan segel kegelapan abadi. Setelah semua masalah ini selesai kita akan mulai mencoba memecahkan misteri Sabdo Loji," ucap Sekar pelan.


Sabrang menganggukkan kepalanya, dia menoleh kearah Mentari sambil tersenyum.

__ADS_1


"Tak perlu khawatir, aku akan baik baik saja. Aku akan mengunjungimu saat purnama mencapai puncaknya," ucap Sabrang seolah tau kegelisahan Mentari.


__ADS_2