Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Selir Terakhir Arya Dwipa


__ADS_3

Tantri terlihat menuruni lembah Sukma ilang yang berada tepat di belakang bangunan kelompok Teratai Merah. Dia bergerak lincah diantara bebatuan yang sepertinya sengaja di susun untuk menuruni lembah itu.


Tantri menghentikan gerakannya saat hampir terpeleset, dia mengatur nafasnya lebih dulu sebelum melompat kembali.


"Tidak biasanya guru berlatih di dasar lembah," ucapnya bingung.


Tantri mengernyitkan dahinya ketika kakinya menyentuh dasar lembah, ada aura besar yang menekannya berasal dari dalam gua di dasar lembah itu.


"Apakah ada orang lain di tempat ini? jangan jangan, guru?" Tantri panik dan langsung masuk dalam gua.


Wajahnya berubah seketika saat melihat dinding gua hancur.


"Guru," ucapnya cemas dalam hati.


Baru satu langkah Tantri melangkah, sesosok bayangan melesat kearahnya dan mengalungkan pedang dilehernya.


"Cepat sekali," tubuh Tantri tak dapat digerakkan karena seseorang menotok tubuhnya.


"Sudah kukatakan jangan pernah sekalipun masuk dasar lembah sukma ilang, apa kau tidak mendengarkan perintah gurumu hah?" bentak Wulan Sari kesal.


"Guru? bagaimana anda bisa memiliki ilmu kanuragan setinggi ini?" balas Tantri setelah mengenali suara yang mengancamnya. Dia benar benar terkejut melihat tenaga dalam yang meluap dari tubuh Wulan Sari.


"Ada hal yang tidak harus kau tau demi kebaikanmu!" ucap Wulan Sari.


"Maaf guru," jawab Tantri sambil mengambil sebuah gulungan dari dalam pakaiannya.


"Ada pesan dari keraton Malwageni untuk anda guru, aku diminta menyampaikannya hari ini juga," ucap Tantri melanjutkan.


"Pesan dari keraton?" Wulan sari terdiam sesaat, dia menarik pedangnya dan mengambil gulungan itu.


Wulan sari membuka gulungan itu dan membacanya.


"Dia sudah muncul, berarti mereka mulai bergerak," ucap Wulan sari pelan.


Wulan sari menoleh kearah Tantri, ada rasa bersalah dalam hatinya saat melihat wajah Tantri pucat.


"Maafkan aku nak, ada tugas besar yang sebenarnya diemban oleh Teratai merah. Sepertinya saat ini waktunya aku mengatakan pada kalian. Kumpulkan seluruh kakak seperguruanmu di aula utama, aku akan menyusul setelah persiapanku," ucap Wulan sari pelan.


"Baik guru," balas Tantri cepat sebelum pergi.


Wulan sari menarik nafas panjang sambil menatap murid kesayangannya pergi.


Dia kembali mengingat saat seorang pemuda muncul di hutan kematian dan menemuinya. Hal yang membuat Wulan sari terkejut adalah pemuda itu bisa melewati semua jebakan fi hutan kematian.


Wulan sari awalnya berniat mengusir pemuda itu karena Teratai merah tidak ingin berhubungan dengan siapapun, namun teriakkan pemuda itu membuatnya menghentikan langkahnya.


"Namaku Arya Dwipa, Raja dari Malwageni, aku datang untuk memintamu menjadi selir Malwageni," ucap Arya Dwipa tiba tiba.


"Menjadi selirmu?" Wulan sari hampir menghajar pria itu andai dia tidak melihat wajah serius Arya Dwipa.


"Dia serius dengan ucapannya?" Wulan Sari mengernyitkan dahinya, dia benar benar tidak habis pikir bagaimana seorang raja dari kerajaan kecil berani meminta ketua Teratai Merah menjadi selir.


"Mungkin saat ini anda menganggap ku gila, tapi aku benar benar ingin menjadikanmu selir," ucap Arya Dwipa melanjutkan.

__ADS_1


"Apa yang membuatmu berfikir aku tertarik dengan tawaranmu? jika kau merasa harta kerajaanmu membuatku tertarik, kau salah besar," balas Wulan Sari dingin.


"Aku tak mungkin menjanjikan mu semua itu karena mungkin tak lama lagi Malwageni akan hancur oleh Majasari tapi aku menawarkan keselamatan dan mencegah kehancuran Nuswantoro," jawab Arya Dwipa.


Wulan Sari tampak tertawa mengejek sebelum membalas ucapan Arya Dwipa.


"Untuk seorang raja yang tak bisa mempertahankan kerajaannya sendiri, kau menawarkan keselamatan padaku?"


"Aku mungkin bisa menghancurkan Majasari jika mengerahkan seluruh kekuatan yang kumiliki, tapi itu akan menarik perhatian Masalembo yang memang mengincar ku. Kadang ada hal yang harus dikorbankan untuk mencapai sesuatu," jawab Arya Dwipa sopan.


Wajah Wulan sari berubah seketika, dia menatap tajam Arya Dwipa.


"Apa yang kau ketahui tentang Masalembo?" tanya Wulan.


"Semua, jika kau pikir hanya Masalembo yang menjadi ancaman dunia persilatan, kau salah. Ada dua organisasi lainnya yang tidak kalah berbahaya dari Masalembo," jawab Arya Dwipa.


"Organisasi lain?" tanya Wulan Sari terkejut.


"Benar, walau mereka memiliki tujuan yang berbeda tapi jika bergerak bersama maka dunia akan hancur. Aku memiliki rencana untuk mencegah mereka bangkit bersamaan tapi aku butuh bantuanmu," jawab Arya Dwipa.


Wulan Sari tampak berfikir sejenak, dia memang sudah lama menyelidiki mengenai keberadaan Masalembo namun dia tidak menyangka jika masih ada dua organisasi lain yang tak kalah berbahayanya dengan Masalembo.


"Katakan," ucap Wulan Sari tiba tiba.


"Saat ini Cakra Tumapel dan Guntur Api belum bergerak karena mereka menganggap Lakeswara dan para pemimpin dunia masih hidup di suatu tempat. Jika kita mengejar Masalembo saat ini mereka akan tau jika kekuatan Masalembo melemah dan mereka akan bergerak.


Biarkan dulu rahasia Masalembo terkubur sampai Sekar selesai menyelidiki dua organisasi itu, jika saatnya tiba bergeraklah sesuai rencanaku," ucap Arya Dwipa.


"Jika Masalembo melemah bukankah ini waktunya kita menghancurkan mereka?" balas Wulan Sari cepat.


Wulan Sari terdiam, dia tidak menyangka jika masalah dunia persilatan akan serumit ini.


"Lalu apa rencanamu?" tanya Wulan Sari.


"Aku ingin kau melakukan sesuatu bersama Ratuku dan menjaga anakku dari jauh."


"Menjaga anakmu?" Wulan Sari mengernyitkan dahinya.


"Aku mungkin ayah terburuk di dunia ini, tapi inilah takdir yang harus ditanggung trah Dwipa. Aku akan menjadikan anakku dan Wardhana sebagai kunci dari semua rencanaku, jadi tolong jaga mereka dari jauh.


Simpan ilmu Kanuragan mu agar tidak menarik perhatian Masalembo karena saat ini mereka mulai menyusun kembali kekuatan yang sempat hancur oleh Naraya," balas Arya Dwipa.


"Apa harus dengan menjadi selir?"


"Aku hanya ingin memastikan orang yang terlibat dalam rencanaku adalah orang terdekatku, tapi aku minta maaf padamu, selain kau tak akan memiliki hak apapun atas gelar selirmu, aku juga ingin kau merahasiakannya sampai waktunya tiba."


Wulan Sari tersenyum lembut, dia benar benar tidak menyangka jika raja muda dihadapannya itu bisa menyusun rencana sedetail itu untuk puluhan tahun kedepan.


"Tak perlu sungkan Yang mulia, jika ini bisa menghentikan Masalembo maka aku akan dengan senang hati melakukannya," jawab Wulan sari pelan.


***


"Beberapa purnama sebelum Majasari menyerang, Ayahmu sudah menyadari jika Masalembo mulai bergerak. Wajahnya tampak gusar karena saat itu kau baru lahir, ayahmu sangat menyesal karena tidak bisa menciptakan lingkungan yang layak untuk kau tumbuh seperti anak lainnya.

__ADS_1


Setelah berfikir cukup lama, Ayahmu memutuskan untuk menjauhkan kita dari pusaran Masalembo, dia berencana menyembunyikan kita di suatu tempat. Namun semua rencana itu hancur karena beberapa hari sebelum ibu membawamu pergi, Majasari menyerang.


Dia adalah orang yang paling terpukul dengan situasi saat itu, dia akhirnya meminta ibu "menghilang" dan menitipkan anak kesayangannya pada Sekte Naga Api. Sejak saat itu ibu terus menyelidiki Cakra Tumapel dan Guntur Api.


Penyesalan terbesar seorang ibu adalah meninggalkan anaknya dan melewatkan setiap detik pertumbuhan buah hatinya, dan itu juga ibu rasakan. Tapi semua harus ibu lakukan karena ini sudah menjadi tanggung jawab kita demi menebus kesalahan leluhur kita nak, ibu harap kau tidak membenci ayahmu," ucap Sekar Pitaloka pelan.


Sabrang menggeleng pelan, "Tidak ibu, aku sangat bersyukur memiliki orang tua seperti kalian," balas Sabrang.


"Terima kasih nak," Sekar Pitaloka kembali memeluk tubuh Sabrang.


"Lalu bagaimana ibu bisa selamat?"


Sekar Pitaloka melepaskan pelukannya sebelum menarik nafas panjang.


"Ayahmu sudah merencanakan semuanya termasuk memalsukan kematian ibu, semua dilakukannya untuk memudahkan ibu menyelidiki dua organisasi itu.


Yang Mulia meminta bantuan selirnya untuk membangkitkan ibu dari kematian setelah ki Ageng mengubur jasad ibu," jawab Sekar Pitaloka.


"Selir ayah? bukankah ibu Anjani dibuang ke pengasingan karena berkhianat? dan bagaimana ibu bisa dibangkitkan dari kematian?" tanya Sabrang bingung.


"Kematian ibu harus benar benar terjadi karena ayahmu menyadari jika salah satu pendekar Masalembo berhasil menyusup ke Malwageni untuk menyelidiki siapa leluhur ibu sebenarnya. Mereka mulai mencurigai jika ibu adalah keturunan salah satu dari tiga trah Masalembo.


Yang mulia akhirnya mengatur agar penyusup itu ikut mengawal ibu melarikan diri dari Malwageni agar dia melihat sendiri ibu tewas dengan matanya sendiri.


Disaat terakhir hidup ibu di lereng merapi, ibu menggunakan segel keabadian untuk menyegel roh ibu. Setelah ki Ageng mengubur tubuh ibu, selir ayahmu menggali kuburan ibu dan membangkitkan kembali ibu dengan segel itu," jawab Sekar Pitaloka.


"Selir? ibu selalu bicara selir ayah, bukankah ayah hanya memiliki satu selir?"


"Tidak nak, selir ayahmu sebenarnya ada dua dan hanya ibu yang tau. Dia lah yang mengatur semua termasuk pertemuanmu dengan Suliwa dan Naga api. Dia juga yang menjagamu dari jauh," balas Sekar Pitaloka.


"Menjagaku? jangan jangan," Sabrang tampak menyadari sesuatu.


"Benar, ketua Teratai merah adalah selir terakhir ayahmu," jawab Sekar Pitaloka.


"Nenek Wulan adalah selir ayah?" Sabrang tampak tak percaya dengan apan yang didengarnya.


Sabrang mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Wulan Sari di gua kegelapan bersama suliwa dan bagaimana Wulan sari beberapa kali menyelamatkan nyawanya saat bertarung dengan pendekar sekte Lembah tengkorak (Chapter 21 Kekuatan Naga Api II ).


"Jadi Pedang Naga Api?" tanya Sabrang bingung.


"Ayahmu mengetahui mengenai pusaka pedang Naga Api saat mampu berkomunikasi dengan ruh Keris Penguasa Kegelapan. Sejak saat itulah ayahmu mencari keberadaan Naga Api untuk dipersiapkan sebagai pusakamu kelak. Namun tak mudah mencari Pedang Naga Api yang sudah lama hilang bersama Suliwa.


Saat mengangkat Wulan Sari menjadi selirnya itulah, Ayahmu akhirnya mengetahui jika Pedang Naga Api berada di Teratai merah bersama Suliwa. Dia kemudian meminta Wulan sari untuk mengatur pertemuan mu dengan Suliwa setelah semuanya siap," jawab Sekar.


Sekar Pitaloka bangkit dari duduknya dan bersiap keluar dari ruangan Sabrang.


"Temui Ibu di aula utama besok pagi, bawa Wardhana dan beberapa orang kepercayaanmu, ibu akan menjelaskan semua rencana besar ayahmu," ucap Sekar Pitaloka sebelum melangkah pergi.


"Baik bu," jawab Sabrang cepat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jika kalian sedikit lupa mengenai Segel Keabadian Masalembo, kalian bida baca chapter sebelumnya tentang segel buatan Arjuna yang digunakan oleh seluruh pendekar Masalembo dalam keadaan terdesak agar bisa dibangkitkan kembali.

__ADS_1


Sekar Pitaloka menggunakan segel itu untuk memalsukan kematiannya sebelum dibangkitkan kembali oleh Wulan Sari.


__ADS_2