Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kebangkitan Kembali Lembah Siluman II


__ADS_3

"Berikan kami dua kamar paman" Sabrang berdiri di depan salah satu meja penerima tamu, tampak beberapa pelayan mendekatinya. Mentari berdiri tak jauh darinya sedang memperhatikan beberapa pendekar di sudut ruangan.


Dia seperti mengenali pakaian yang mereka kenakan. tak lama pelayan tersebut memberinya kunci dan menawarkan diri mengantar mereka.


"Istirahat lah malam ini, besok pagi pagi sekali kita akan melanjutkan perjalanan" Sabrang menoleh kearah mentari.


"Baik tuan" Mentari mengangguk pelan.


"Sepertinya aku mengenali pakaian para pendekar itu namun di mana aku pernah melihatnya" Mentari berfikir sambil mengikuti Sabrang dibelakangnya.


"Selamat beristirahat tuan, nona" Pelayan tersebut menundukan kepalanya kemudian melangkah pergi.


Sabrang melangkah ke tempat tidurnya kemudian duduk bersila dan mulai memejamkan pikirannya. Dia masih harus menyempurnakan Cakra manggilingan agar dapat mengontrol tenaga dalamnya.


Sabrang menghentikan meditasinya sesaat setelah dia mendengar keributan di luar. Dia memutuskan melangkah keluar untuk melihat sumber keributan.


Beberapa pendekar terlihat mengepung seorang pendekar tua, tak lama Mentari keluar dari kamarnya.


"Ada keributan apa tuan?".


Sabrang menempelkan jari telunjuk di bibirnya sebagai tanda untuk berhenti bicara.


"Sepertinya keributan antar pendekar, kita tidak usah ikut campur".


Mentari menatap beberapa pendekar yang sedang bertarung, dia mengernyitkan dahinya. Pendekar yang tadi dia perhatikan saat pertama tiba dipenginapan sedang bertarung dengan seorang pendekar tua.


"Kau mengenali mereka?" Sabrang bertanya melihat reaksi Mentari saat melihat mereka bertarung.


"Aku tidak yakin tuan, namun pakaian yang mereka kenakan aku merasa pernah melihat disuatu tempat".


Sabrang kembali melihat pertarungan pendekar tersebut. Dia merasa walaupun pria tua itu diserang banyak pendekar namun dia berhasil mendesak mereka semua.


"Ilmunya tinggi" Sabrang berkata dalam hati.


Dan sesuai dengan perkiraan Sabrang tak lama kemudian para pendekar yang mengeroyoknya terpental mundur, mereka kemudian melarikan diri.


Pria tua tersebut menatap Sabrang yang sedang melihatnya bertarung dan tersenyum kecil.

__ADS_1


Sabrang membalasnya dengan menundukan kepala sebagai tanda hormat. Tak lama Pria tersebut melangkah keluar penginapan dan menghilang dikegelapan malam.


"Ah aku ingat tuan muda, pendekar yang menyerang kakek itu adalah pendekar dari Sekte Kelelawar hijau. dulu mereka melindungi beberapa desa termasuk desa ku dari serangan Aliran hitam".


Mentari mengingat jelas saat gerombolan Serigala hitam menyerang desanya, Sekte Kelelawar hijau yang selalu melindungi desanya.


"Tapi sepertinya ada yang aneh kali ini tuan, mereka seperti bukan berasal dari sekte Kelelawar hijau".


Sabrang mengangguk pelan, dia juga menyadari jika para pendekar tadi mengeluarkan hawa membunuh yang besar. Sorot mata mereka adalah sorot mata seorang pembunuh yang haus darah. Jika kakek tadi tidak berilmu tinggi mungkin dia sudah meregang nyawa.


Sabrang tidak memikirkannya lebih jauh, tubuhnya terasa lelah setelah seharian berjalan. dia melangkah masuk ke kamarnya dan merebahkan diri di tempat tidur.


***


"Tak kusangka seorang mantan Pendekar nomor satu dunia persilatan memilih hidup di tempat ini" Ki Gandana muncul bersama Wulan sari.


Suliwa tampak terkekeh melihat Gandana dan mempersilahkannya duduk.


"Ada angin apa yang membuat Pendekar pilih tanding bertandang dikediamanku".


"Aku hanya ingin menganang masa muda kita dulu" Ki Gandana tertawa keras.


Gandana menghentikan tawanya, dia tersenyum menatap Suliwa.


"Kau melepaskan Iblis berbahaya di dunia persilatan" Gandhana menggeleng pelan.


"Anda sudah bertemu dengannya?" Suliwa bertanya pelan.


Gandana mengangguk "Kau sudah mengetahui bakatnya? Kenapa kau masih menyerahkan pedang terkutuk itu padanya?".


Suliwa menoleh kearah Wulan sari yang dibalas anggukan wanita tersebut.


"Semua bermula saat aku bertarung dengan kalian di Gunung merapi enam belas tahun lalu. Sesaat setelah aku terlepas dari pengaruh Naga api aku menyadari sesuatu. Seorang pendekar muda yang ikut bertarung dengan kalian menggunakan jurus aneh yang mengingatkanku dengan jurus Lembah siluman".


Gandana tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya "Lembah siluman? bukankah sekte itu telah hancur ratusan tahun lalu?".


"Benar, Sekte paling berbahaya yang dihancurkan oleh Pendekar dalam legenda. Bahkan saking berbahayanya sekte tersebut maka dibuatlah sebuah cerita turun temurun tentang ciri ciri khusus jurus mereka agar menjadi peringatan bagi kita semua jika suatu saat Lembah siluman berusaha bangkit kembali".

__ADS_1


"Dan hari itu aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri dia menggunakan jurus yang mirip dengan cerita itu, Lembut dan sangat mematikan bahkan Naga api menyadarinya saat itu".


"Apakah tetua merasa tidak ada yang aneh akhir akhir ini? banyak sekali jurus aneh bermunculan" Wulan sari menambahkan.


"Namun apakah mungkin mereka dapat bertahan selama ratusan tahun? itu tidak masuk diakal". Gandana masih belum mempercayainya.


"Lembah siluman mempunyai jurus yang dapat meregenerasi sel tubuhnya dengan cepat ku rasa bukan hal sulit bagi mereka bertahan hidup sampai saat ini. Namun semua masih asumsiku pribadi tetua, Aku sudah berusaha menyelidikinya bersama nona Wulan namun terlalu sedikit informasi tentang Lembah siluman". Suliwa menatap Gandana.


"Aku rasa kemuculan Jurus Pedang langit dan jurus aneh lainnya bukan suatu kebetulan. Aku merasa harus mempersiapkannya jauh hari tetua".


"Dan kau memilih anak itu?".


Suliwa mengangguk pelan "Aku telah menyegel sebagian besar kekuatan Naga api dengan Segel kegelapan. Ku rasa itu akan sedikit menahannya sementara waktu sampai anak itu siap".


"Kau melupakan bakatnya, Bakat mengerikan yang mengingatkan ku akan orang itu. Dia kini menguasai Jurus Cakra Manggilingan dan secara tidak sengaja menarik kekuatan Naga api secara paksa. Segel mu kini sudah melemah".


Suliwa sangat terkejut mendengar perkataan Gandana, dia tidak memikirkan sampai sejauh itu.


"Bagaimana perkembangannya bisa begitu pesat" Gumam Suliwa dalam hati.


Wulan sari yang dari tadi hanya mendengarkan pembicaraan mereka pun terkejut dengan perkembangan Sabrang.


"Ku rasa kali ini kau tidak sepenuhnya salah" Gandana menatap suliwa.


"Aku membuang kesempatan membunuhnya saat itu, mungkin seperti yang kau katakan tadi jika takdirnya harus menanggung beban berat. Ku harap aku tidak menyesali keputusanku kelak".


***


"Apakah kita pernah bertemu?" Sabrang menghentikan langkahnya, dia memberikan tanda pada Mentari untuk mundur beberapa langkah.


Sabrang menatap ke atas dan beberapa saat kemudian seorang pendekar tua yang dilihat Sabrang dipenginapan menampakan diri dari balik pepohonan.


"Aku sudah mengira kau bukan pendekar sembarangan namun aku benar benar tak menyangka kau adalah pemilik pedang Naga Api".


***Dalam beberapa hari ini Pedang Naga Api (PNA) bertengger di Rangking 43 dan saya sangat berterima kasih atas dukungan dan votenya.


Saya sempat berfikir apakah bisa PNA masuk 20 besar? Semua ada di tangan teman teman semua.

__ADS_1


Sekali lagi saya mengharapkan dukungan teman teman semua baik dalam bentuk like maupun Vote 🙏***


__ADS_2